15 Maret 2018

Perempuan

PEREMPUAN. Eike sampai sekarang seringkali takjub dengan perempuan. Secara biologis, dia mampu menanggung "dua nyawa" sekaligus di masa-masa yang sangat khas. Suatu masa yang sangat feminin. Masa waktu yang tak dipunyai oleh mahluk selain sepertinya. Pengalaman yang tidak mungkin dimiliki laki-laki sekalipun.

Di masa itu, seorang perempuan bertaruh nyawa detik demi detik untuk menahan sakit demi "setengah" jiwa yang ditanggungnya. Dari sisi ini, kata perempuan lebih bermakna dari kata wanita. Terma perempuan, lebih jelas menggambarkan kualitas khusus yang hanya dimilikinya. Empu, seperti ditemukan dalam nama Empu Tantular, dengan kata lain lebih pantas disematkan kepada mahluk yang sering kali direndahkan itu.

Perempuan sering kali dilecehkan, didiskriminasikan, dan bahkan mengalami kekerasan akibat cara pandang yang tidak adil. Secara ideologis, pandangan dunia patriarki masih kuat menempatkan perempuan ke titik subordinat. Secara simbolik, bahasa lebih banyak diucapkan menurut artikulasi laki-laki, sehingga bahasa percakapan lebih beraroma maskulin tinimbang feminin. Dan, secara biologis, perempuan kadang mendapatkan perlakuan kasar secara fisik maupun psikis.

Dengan kata lain, baik ideologis, simbolik, dan biologis, perempuan secara berlapis mengalami penindasan. Di bidang ekonomi, dia dinarasikan sebagai orang yang mesti didomestifikasikan di dalam dapur. Di bidang sosial budaya, kehidupan sosialita perempuan tidak jauh dari "dunia sumur" sebagai ruang pengalamannya yang paling jauh. Dan, yang paling miris, secara seksual, dia hanya dilihat sebagai mahluk yang harus ditundukkan di atas "kasur."

Pertanyaannya, jika hampir semua medan pengalaman perempuan mengalami penindasan sehingga tidak dapat menunjukkan jati dirinya, maka dari manakah perempuan mesti menempatkan pijakannya agar dapat setara dengan laki-laki? Bukankah semua ruang pengalaman manusia sudah dari awal dinarasikan melalui cara pandang laki-laki?

Belakangan, ideologi gender banyak menuai kritik melalui perspektif feminisme yang kadang secara global tidak mampu menerjemahkan permasalahan lokal para perempuan. Di tingkat yang paling kecil, kadang feminisme global mengalami kebuntuan. Perspektif yang terlampau barat, malah justru menjadi soal tersendiri. Feminisme barat, dalam hal ini dengan kata lain terlampau eropasentris. Terlalu kebarat-baratan.

Itulah sebabnya, perjuangan perempuan di manapun mesti mengambil pijakannya bukan dari panggung yang sudah diciptakan barat. Pijakannya, dengan kata lain, mesti bertolak dari "tanahnya" sendiri, tempat perempuan-perempuan menjalani kehidupannya.

Narasi feminisme selama ini yang terlampau eropasentris, mau tidak mau mesti didudukkan dengan hati-hati. Imajinasi feminisme barat adalah imajinasi yang lahir tidak jauh dari hubungan kolonialisme barat dengan negeri-negeri koloninya. Dia, ibarat "suara pembebasan" yang terdengar asing. Di sana-sini apa yang dibangun secara konseptual, di banyak hal tidak cocok dengan kebudayaan masyarakat timur yang tipikal dan khas.

Itulah sebabnya, kesadaran perempuan mesti digali dari tempatnya hidup itu sendiri. Bahasa perjuangannya mesti diucapkan melalui "lidahnya" sendiri. Diambil dari "perutnya" itu sendiri. Dari kehidupannya yang paling intim sekalipun.

Atas dasar itulah, eike menyarankan, mulai saat ini perjuangan perempuan mesti menggunakan bahasa lokalnya, bahasa yang dipakai sehari-hari sebagai bahasa kesadarannya, di mana dari itu kehidupan kultural perempuan bermula.

Sampai di sini, perjuangan perempuan bukanlah mau menyasar kehidupan sehari-hari yang nampak alami. Seolah-olah natural dan tanpa bias gender walaupun di balik semua itu ada ideologi dominan yang berperan besar menciptakannya. Perjuangan perempuan, singkat kata, hingga saat ini adalah perjuangan kultural, bukan menerima kehidupan natural yang selama ini mengelilinginya.

Dengan kata lain, dari semua itu perempuan mesti menciptakan budayanya sendiri. Kehidupan yang bersih dari cara pandang laki-laki yang mensubtitusinya.


04 Maret 2018

Sakit


SAKIT. Baik Socrates maupun Platon, mendudukkan pengetahuan sebagai suatu proses. Bahkan, melalui bahasa metafora, Socrates menyinonimkan pengetahuan sebagai kelahiran seorang bayi. Pendapat ini ia sandarkan kepada keyakinan bahwa setiap manusia "sudah" memiliki pengetahuan berupa "sesuatu" yang ia kandung sendiri.

Melalui proses kelahiranlah, pengertian ini dimaksudkan Socrates bahwa pengetahuan itu tidak lahir dari proses selain dari pada "rahim" kita sendiri. Dengan kata lain, pengetahuan adalah "bayi-bayi" alami kandungan diri sendiri, bukan "bayi kloning" dari perut orang lain.

Socrates menyebut itu dengan istilah "maieutike".

Itulah sebabnya, Socrates menyebutkan pekerjaannya sebagai seorang filsuf ibarat seorang bidan. Dia hanya membantu orang-orang melahirkan sendiri pengetahuannya.

Sampai di sini eike berpikir, jika pengetahuan ibarat kelahiran seorang bayi, maka di situ ada rasa sakit yang menyertai. "Kesakitan" dengan kata lain adalah konsekuensi tak terhindarkan dari kelahiran itu sendiri.

Itu artinya, pengandaian berpengetahuan, atau dengan kata lain, berpikir, meniscayakan rasa sakit yang menjadi satu kesatuan di dalamnya.

Dari sisi ini, berpengetahuan melalui berpikir mendalam mau tidak mau memiliki risiko. Kesakitannya tiada lain adalah hasil dari kegiatan berpikir. Semakin berpikir semakin "sakit" ia. Atau sebaliknya, semakin sakit semakin dalam ia berpikir.

Tentu di sini kesakitan yang dimaksud bukanlah rasa perih yang diartikulasikan melalui pengertian medik. Melainkan kesakitan yang dilihat dari pengertian epistemik.

Rasa sakit epistemik berbeda dari rasa sakit medik yang berciri fisik dan biologis. Kesakitan epistemik jenis rasa sakit yang lebih "eksistensial". Jenis kesakitan yang melanda akal sekaligus jiwa manusia.

Bahkan, sebelum pengetahuan itu lahir, ada proses yang jauh lebih krusial lagi dan juga mengandung rasa sakit yang khas, yakni ketika pengetahuan itu menjalani masa-masa "pembatinan". Masa-masa ini adalah waktu yang paling menentukan. Ibarat bayi yang kelak akan lahir, "janin" pengetahuan pertama kali mesti "dikandung" dalam beberapa waktu. Di masa inilah, "embrio" pengetahuan mengakibatkan jenis kesakitan yang spesifik. Rasa sakit yang khas.

Rasa khas dari kesakitan hasil pembatinan inilah yang kerap mengubah kebiasaan-kebiasaan lama menjadi kebiasaan-baru. Di titik ini, pikiran banyak mengalami persesuaian dengan pengetahuan yang belum akrab dengannya. Pikiran banyak mengalami perubahan drastis hingga mengubah "caranya" beraktifitas.

Di sini-lah "pertentangan-pertentangan" muncul akibat formula-formula pengetahuan baru yang "tidak biasa". Di sinilah, rasa sakit, kepedihan, dan keperihan menjadi satu. Suatu masa yang berisiko: gugur atau tumbuh berkembang.

Dari sini, akhirnya mafhum, pengetahuan itu berakar alami dengan diri manusia. Kaki-kakinya berserabut sampai di dalam kesadaran yang paling dalam. Dia dikandung dan dilahirkan sendiri. Dari perut masing-masing.

Pengetahuan, dengan kata lain, adalah "embrio" yang sudah ada sebelumnya dimiliki masing-masing setiap orang. Dan, itu juga berarti setiap orang mesti menanggung rasa sakit jika ingin melahirkannya.

Sampai di sini mengertilah eike lebih jauh, Imam al Ghazali, sang Hujjatul Islam, yang sempat sakit keras selang beberapa lama, mesti menanggung beratnya guncangan jiwa akibat peralihan pengetahuan sebelum sampai ke medan tasawuf. Rasa sakit yang hampir membawanya ke mulut sang maut. Tapi, dia menemukan obatnya sekaligus melahirkan karya dahsyat yang sampai hari ini dibaca oleh setiap pengagum pemikirannya.

Di Eropa, Rene Descartes, barangkali adalah figur yang hampir sama dengan al Ghazali. Dia pun mengalami rasa sakit sampai harus menolak dirinya sebagai sesuatu pribadi. Tapi, dari rasa sakitnya, melalui kandungan "rahimnya," suatu zaman baru lahir di Eropa dan ikut membentuk tatanan dunia modern.

Tapi, baik Descartes maupun Imam al Ghazali, barangkali belum sampai menyerupai rasa sakit yang dirasakan Muhammad, sang nabi terakhir. Beliau, sebagai sang rasul, memiliki jenis pengetahuan yang spesifik dan khas. Bahkan pengetahuannya "ditemukan" melalui aktifitas "berpikir" yang sama sekali lain. Bahkan konsep berpikir tidak cukup untuk menjelaskan proses pencapaian epistemik (pengetahuan) yang dialaminya.

Dalam sejarah, narasi itu diliterasikan melalui penceritaan di suatu gua. Bukit-bukit tinggi tidak jauh dari Mekkah. Dan, "iqra" adalah "pengetahuan pertama" yang menjadi "pintu masuk" bagi aktifitas kenabian Rasululullah.

Di sini, suatu masa dimulai. Dan, Rasulullah menanggung dua jenis kesakitan sekaligus. Secara fisik dia menanggung sakitnya dikucilkan dari keluarga dan masyarakatnya. Serta, dari sisi kejiwaan suatu "sakit" yang hanya identik dirasakan oleh dirinya seorang (dikisahkan, Rasulullah sampai mengalami sakit fisik berupa badan yang menggigil berkeringat pasca "diturunkannya" wahyu pertama kalinya).

Melalui ini suatu pemahaman terbit. Sementara akhirnya dari risiko yang dibawanya, suatu agama "lahir" dan menginspirasi terbentuknya tatanan dunia yang teologis dan humanis

Menurut eike, ditilik dari sudut ini, sejarah hidup Rasulullah adalah sejarah bagaimana seorang manusia yang berhasil menduduki pengetahuan tertinggi dengan menanggung dan melampaui rasa sakit yang inheren di dalamnya. Sejarah tentang betapa "sakitnya" Rasulullah "membawa" apa yang "dikandungnya". Rasa "sakit" yang sungguh dahsyat dan tidak akan pernah dialami satu manusia sekalipun.

Tapi, begitulah. Tiada pengetahuan tanpa kesakitan. Bahkan, itulah jalannya.

Syahdan, di era kiwari, untuk memulai suatu pemahaman, orang-orang nyaris tidak ingin mengambil risiko berpengetahuan. Mereka khawatir menanggung kesakitan dan kepedihan, sekaligus mencari cara untuk menghindarinya dengan mencari "paket-paket" pengetahuan yang sudah fix. Orang-orang macam begini, enggan merawat bayi pengetahuannya. Bahkan, ogah mengandung dan melahirkannya.

Dengan kata lain, pengetahuan di masa sekarang hanyalah hasil fabrikasi "kekuatan-kekuatan" eksternal di luar rahim manusia. Manusia hanya menjadi pengkloning pengetahuan tanpa mengetahui proses dan ikut terlibat di dalamnya. Hanya mau menerima "kotak instan" yang sudah dikemas dan distandarnisasi.

Lalu, jika demikian, siapa lagi saat ini yang dengan rela mau memikul sakitnya berpengetahuan? Proses luar biasa yang menghujam pikiran dan jiwa, bahkan berisiko maut.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...