17 Februari 2018

Melihat dari Jauh



Aristoteles, Murid Platon
dikenal dengan konsep Hylemorpisnya



Melihat dari Jauh. Mungkin, cikal bakal intelektualisme adalah pengasingan.

Di masa-masa Platon hidup, intelektualisme dinyatakan dengan cara mendirikan komunitas-komunitas belajar yang jauh dari pemukiman kota Athena. Sang filsuf, dinarasikan dalam sejarah, sering kali pergi mengasingkan diri dengan mengumpulkan murid-muridnya di suatu tempat agar menemukan suasana belajar yang bebas dan steril dari segala kepentingan. Toh jika ada kepentingan, Platon mungkin bilang, yang ada hanyalah demi kepentingan ilmu pengetahuan.

Di tempat itu, yang sering disebut academia, Platon mendudukkan murid-muridnya sebagai teman dialog. Melalui percakapan melingkar, Platon dan murid-muridnya menjadikan cara itu untuk mendiskusikan segala ihwal. Suatu cara berdialog yang disinyalir pernah dipraktekkan Socrates dengan nama "metode bidan".

Barangkali, pengasingan Platon adalah suatu strategi belajar untuk mengafirmasi gagasannya tentang suatu dunia yang ia sebut sebagai dunia idea. Dunia idea, bagi Platon adalah dunia sebelum jasad yang tanpa cela dan tanpa cacat. Kata Platon, dunia idea adalah dunia tempat jiwa bersemayam dan bebas bergerak dengan ide-ide universal.

Barangkali dengan arti itu pula perlu ada ruang ideal yang mencerminkan dunia tanpa gangguan sebagai tempat mengasah pikiran. Suatu dunia seperti yang mampu mewakili dunia idea: tempat yang lowong, tanpa beban dan bebas memungkinkan pikiran bergerak dialektis tanpa dikerdilkan kepentingan sesaat.

Singkatnya, pengasingan dengan begitu adalah suatu mekanisme sosial yang mengambil jarak dari beban pikiran sehari-hari yang tidak substansial.

Suatu cara membebaskan jiwa agar dapat berkembang dengan sehat.

Orang-orang Yunani menyebut ini sebagai katarsis.

Kelak Aristoteles murid Platon, akan meneruskan model ini dan akan menjadi batu pertama bagi berdirinya institusi-institusi belajar modern semisal perguruan tinggi.

***

Orang-orang kota, di tiap akhir pekan seringkali pergi jauh dari mukimnya untuk menikmati waktu lowong. Pantai atau daerah pegunungan seringkali menjadi pilihan utama dari aktifitas semacam ini. Di tempat-tempat itu mereka mengasingkan diri sejenak dari rutinitas harian. Mencari energi baru dan inspirasi. Menyegarkan kembali pikiran selama dijejali tanggung jawab pekerjaan.

Orang-orang menyebut ini sebagai rekreasi. Cara mengasingkan diri yang menyenangkan.

Sementara masyarakat terdidik terutama mahasiswa sampai sekarang masih menerapkan "pengasingan Platon" sebagai bagian dari rutinitas intelektualismenya.

Di tiap akhir pekan, tempat-tempat yang jauh dari pemukiman kota dipilih sebagai lokasi kegiatan-kegiatan pelatihan. Di tempat-tempat itulah suasana belajar yang jauh lebih bebas mereka temukan. Tempat yang jauh berbeda dari kampus yang kerap masih berlaku hirarki tuan-hamba.

Di Makassar, tidak jauh dari pusat kota, umumnya ada dua tempat sering digunakan masyarakat terdidik untuk menciptakan "pengasingan Platon". Pertama adalah situs peninggalan Benteng Somba Opu yang berisikan replika rumah-rumah adat dari pelbagai kabupaten di Sulawesi Selatan. Yang kedua, agak jauh dari pusat kota yakni di sekitar pesisir pantai yang menghadap selat Makassar: Tanjung Bayang. Dua tempat ini selain Malino, cukup mewakili karakter suasana yang cenderung bebas dan tanpa tekanan, dua prasyarat agar pikiran bekerja maksimal.

Di dua tempat inilah, dua pengasingan sekaligus dilakukan. Jika pengasingan sepadan dengan penjarakan, maka pengasingan yang pertama adalah metodelogi belajar yang mirip dan yang pernah diupayakan Platon dan murid-muridnya. Yakni, metode menempa pikiran dengan cara mencari tempat-tempat jauh dari kesibukan masyarakat urban yang mampu mensterilkan akal sehat.

Pengasingan yang kedua dapat dipahami melalui konsepsi "abstraksi" Aristoteles. Metode abstraksi dari filsafat Aristoteles adalah kualitas pikiran manusia yang mampu menarik kesamaan-kesamaan dari perbedaan objek dengan mengambil ide-idenya sebagai konsep universalnya. Kemampuan ini sering dilakukan manusia dengan cara mengeneralkan sesuatu dari perbedaan yang dimiliki objek-objek tertentu.

Ibarat satuan pasir, pikiran mampu menyaring pasir perbedaan demi menemukan pasir halus yang jauh lebih mewakili harapan sang manusia. Atau, seperti metode penyulingan ketika ingin menemukan zat cair yang jauh lebih jernih.

Dua pengasingan ini, sadar tidak sadar adalah proses penyubliman pikiran yang sampai sekarang menjadi cara paling ampuh untuk menjaga pikiran dapat terus sehat.

Melalui dua mekanisme ini, bukan saja masyarakat terdidik, melainkan kelompok masyarakat lainnya, menemukan waktu dan ruang yang lebih memadai untuk melihat dan menilai dari sudut tertentu tentang apa yang sudah ada selama ini. Bahkan, di sisi tertentu mempertanyakan kembali apa-apa manfaat dari sesuatu terhadap keberlangsungan diri selama ini.

Dengan proses inilah refleksi dimungkinkan.

Syahdan, walaupun demikian di satu sisi "pengasingan Platon" sering kali diejek sebagai model belajar yang mengedepankan kontemplasi dari pada aksi. Kontemplasi bahkan dinilai sebagai bentuk eskapisme terselubung. Cara orang-orang lari dari kenyataan dengan memasuki dunia "khayalan".

Akibatnya konon katanya, dunia tidak akan berubah hanya dengan cara berkontemplasi. Kontemplasi ditengarai menjadi sebab mengapa banyak orang memilih hidup menjauh dari kehidupan ril itu sendiri. Bahkan kontemplasi membuat siapa pun yang melakukannya menjadi pasif. Tidak punya greget dan semangat dalam hidup.

Itulah sebabnya, kata aksi bagi sebagian mahasiswa masih lebih mulia daripada terma kontemplasi. Kata aksi lebih mewakili jiwa muda mahasiswa, tinimbang kontemplasi yang dianggap lebih mewakili semangat kaum tua.

07 Februari 2018

Kontradiktif. Menurut eike gambar iklan dari film Silariang ini nampak ganjil. Secara semiotik gambar yang diwakili dua tokoh film ini tidak mewakili keadaan sosio-psikis yang sering dialami orang-orang yang melakukan silariang. Bagaimana mungkin dua tokoh ini masih bisa tersenyum berlari ketika mengalami peristiwa yang dinilai terlarang. Sulit membayangkan dua sosok pemuda-pemudi masih senyam senyum ketika silariang.

Silariang, kita tahu adalah tindakan terlarang dalam tradisi Bugis-Makassar. Silariang bukan mekanisme sosial dari tradisi nenek moyang yang dianjurkan untuk memediasi dua sejoli yang sedang jatuh cinta dan akan melabuhkan perasaannya ke dalam perkawinan. Tidak ada pemuda pemudi silariang yang bergembira melakukannya. Lalu apa pesan moril dari gambar yang kontradiktif ini?

Secara sosiologis, tradisi dinyatakan sebagai kategori sosial yang imperatif, yang memaksa. Tapi, dikatakan ahli ilmu masyarakat, saking imperarifnya, masyarakat mau tidak mau mesti mentaatinya agar terjadi keselarasan dalam praktik hidup bermasyarakat. Dalam kehidupan modern seperti sekarang banyak tradisi yang mengalami tegangan dengan semangat kebebasan manusia. Di satu sisi manusia disebut mahluk bebas, tapi di sisi lain ada tradisi yang ibarat penjara membatasi gerak gerik sang manusia. Silariang, eike kira adalah film yang juga mengangkat kisah semacam itu. Antara kebebasan menentukan pilihan pribadi atau "terpaksa" mengikuti kebiasaan tradisi.

Tapi, melihat kembali gambar iklan film ini, nampaknya dua sejoli ini seolah-olah tidak memberi kesan yang normal di hadapan tradisi masyarakatnya. Buktinya, lihat saja gambar iklannya. Dua sejoli yang tidak getar getir ketika melawan adat istiadatnya.

Ditinjau dari sudut penyiaran, fenomena iklan ini kontradiktif dengan pesan yang ingin disampaikannya. Secara semiotik penandaan senyuman dari dua tokoh ini tidak sama sekali terkait dengan makna budaya dari kata silariang itu sendiri.

Tapi, tentu tulisan ini akan jauh berbeda artinya jika melihat secara keseluruhan isi filmnya. Eike yakin dua tokoh ini tidak sedang ketawa ketiwi ketika sedang silariang.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...