17 Januari 2018

Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang


Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gus Dur 
Tokoh Muslim Indonesia dan pemimpin politik yang menjadi Presiden Indonesia yang keempat dari tahun 1999 hingga 2001
Populer dengan humornya: "Gitu Aja Kok Repot"

KONON orang Rusia pelit tersenyum apalagi tertawa. Tertawa bagi orang-orang Rusia tidak diperuntukkan bagi sembarangan orang, apalagi bagi orang tidak dikenal. Bahkan ada penelitian dari seorang professor di Universitas Voronesh, orang-orang Eropa umumnya mengenal orang Rusia sebagai orang-orang pemurung, suka cemberut, dan mudah marah.

Berbeda dari masyarakat kita gampang tersenyum. Bahkan kita mudah menggumbar senyuman kepada orang yang masih asing. Ingatan bangsa kita mengenal orang paling mudah memberikan senyuman di saat kapan pun sudah tentu adalah Soeharto. Tidak tanggung-tanggung di saat memerintah dan menindas  pun ia masih bisa melakukannya

Itu tanda bahwa secara umum orang-orang Indonesia ramah-ramah, baik hati. Piye kabare, gimana wuenak zamanku, to?

Melalui pendekatan psikologi, seorang scholar ilmu jiwa Pavel Ponomaryof mengemukakan sulitnya orang Rusia mengumbar senyum atau tertawa akibat latar belakang  sejarah mereka yang lama menghadapi agresi bangsa lain. Akibatnya, masyarakat Rusia memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadap orang-orang asing. Itulah sebabnya, tertawa atau tersenyum bagi bangsa Rusia mahal harganya. Dia tidak diperuntukkan bagi banyak orang.

Yang menarik, agak berbeda dari bangsa Rusia, bangsa Indonesia biarpun sudah mengalami banyak peristiwa sejarah kelam, masih suka melempar senyum dan tertawa sebagai tanda keakraban. Kurang afdol bagi masyarakat kita ketika pertama kali bertemu orang lain tanpa memberikan senyuman. Bahkan bagi pelaku kejahatan tingkat tinggi, koruptor misalnya, masih bisa tersenyum manis ketika di meja hijau.

Di Jepang, sulit menemukan seorang koruptor mengumbar senyuman setelah kedapatan melakukan kejahatan konstitusional. Di sini, saking ramahnya kita, sulit menemukan wajah menyesal bagi kasus yang sama seperti pejabat-pejabat publik di Jepang.

Memang sudah budaya kita ramah kepada orang lain. Kadang sikap itu diwujudkan melalui senyuman atau bahkan tertawa sebagai tanda saling menghormati.

Tapi walaupun tertawa merupakan hak seluruh manusia, bahkan disebutkan oleh seorang ahli jiwa merupakan bagian dari enam emosi dasar manusia, secara kultural setiap kebiasaan masyarakat nyatanya memiliki ekspresi yang berbeda-beda saat melakukannya. Bahkan ada bangsa-bangsa yang dikenal humoris akibat seringnya masyarakat mereka tertawa.

Kaum perempuan di masyarakar Barat misalnya, cenderung tertawa lepas tanpa segan menjadi sorotan banyak orang. Di ruang publik perempuan-perempuan Barat tertawa riang tanpa terbebani tabu-tabu masyarakat. Ini tentu berkaitan dengan  kemajuan bangsa Barat di dalam mengakomodir kebebasan individu di ruang publik.

Sedangkan di masyarakat Timur, perempuan masih kesusahan menyalurkan kebahagiaannya di depan umum. Tertawa riang bagi perempuan di keramaian sulit dilakukan akibat tradisi masyarakat yang masih kuat. Dikaitkan dengan budaya patriarki, tertawa lepas bagi perempuan masih dianggap tidak layak dilakukan.

Itulah sebabnya, bagi perempuan hanya untuk tertawa saja membutuhkan ruang khusus seperti di belakang dapur, di dalam kamar, atau perkumpulan di antara mereka agar dapat tertawa lepas. Bisa jadi, tindakan membicarakan orang melalui gosip yang umumnya dilakukan perempuan akibat dari domestifikasi yang mereka alami. Dengan kata lain, gosip yang seringkali diselingi tertawa lepas, bisa jadi imbas dari sempitnya ruang gerak mereka di masyarakat.

Dalam dunia seni peran, bahkan perempuan juga mengalami hal yang sama. Film-fim horor misalnya, adalah ilustrasi yang bisa mewakili bagaimana perempuan hanya bisa tertawa apabila ia telah mangkir dari kehidupannya. Dia hanya bisa tertawa pasca kehidupannya. Itulah sebabnya, hantu-hantu perempuan selalu identik dengan tertawanya yang khas melengking. Cara tertawa yang mengekspresikan kurang leluasanya ia di masa hidup, mungkin.

Terlepas dari rumitnya perempuan mengakses ruang publik untuk tertawa, dalam dunia humor tanah air, kita sering mendengar frasa “tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.” Warkop DKI adalah ikon yang mempopulerkan frasa ini melalui film-film yang mereka bintangi. Dilihat dari konteks frasa ini, Warkop DKI menjadikan humornya sebagai jangkar ingatan atas rezim otoriter yang memasung kebebasan berekspresi dan kebebasan  berpendapat. Tertawa sekalipun.

Hubungan tertawa dan kekuasaan kadang tidak seimbang, dan sering kali malah bertentangan. Literasi sufistik mengenal Nasruddin Khoja sebagai sosok bahlul yang pernah hidup dengan tingkah laku gilanya. Nasruddin Khoja sering ditempatkan sebagai antitesa dari rezim yang sering menjadi sasaran kritik leluconnya. Melalui kecerdikannya yang kerap mengundang tawa tersemat daya dorong yang memberikan suatu pengertian kritis mengenai situasi yang dialami .

Sosok yang kadang diasosiasikan dengan Abu Nawas ini juga muncul dalam kisah sastra klasik Seribu Satu Malam. Dikisahkan Abu Nawas cum penyair menggunakan lelucon menjadi orang gila untuk menolak wasiat ayahnya bekerja sebagai hakim di bawah pemerintahan Khalifah Harun Ar Rasyid yang otoriter.

Di tanah air, melalui kisah pewayangan kita mengenal sosok Semar. Semar diriwayatkan adalah jelmaan dewa yang menyamar sebagai rakyat jelata dengan rupa jelek sekaligus bertubuh pendek dan gemuk. Sebagai orang biasa Semar memiliki perkataan dan tingkah laku di luar dari kebiasaan umum. Walaupun dia adalah rakyat jelata, di kisah Mahabrata maupun Ramayana, Semar sebenarnya adalah pengasuh dan penasehat para ksatria. Yang unik, ketika ia memberikan petuah kepada para ksatria, seluruh nasehat dikemasnya melalui bahasa humor.

Yang lebih dekat dari ingatan, kita mengenal juga Gus Dur sebagai sosok yang sering menggunakan guyonan untuk menyampaikan buah pikirannya. Seperti sosok Semar atau Abu Nawas dalam dunia tasawuf, Gus Dur menggunakan strategi bahasa melalui humor untuk memobilasi daya kritis masyarakat Indonesia. Walaupun sering kali bernada sarkastik, guyonan Gus Dur kadang membuat panas telinga orang-orang yang tidak mampu menangkapi inti pesannya.

Jika dalam kekuasaan tertawa malah dianggap perilaku yang menyebalkan, seperti yang diharapkan dari kisah-kisah Nasruddin Khoja atau Abu Nawas, tertawa justru adalah tanda sehatnya jiwa. Tentu tertawa di sini adalah jenis tertawa yang lahir dari lapang dan terbukanya jiwa. Dengan kata lain selain menangis, tertawa dalam hal ini menjadi mekanisme jiwa untuk merestart ulang keadaannya agar kembali ke keadaannya yang semula.

Di titik ini sebenarnya kita perlu memahami pentingnya tertawa. Menurut penelitian selain mampu menurunkan kalori, tertawa juga dapat menjaga sistem pikiran agar tidak mudah stres dan meningkatkan kekebalan tubuh dari penyakit. Apalagi, di masa sekarang, begitu banyak masalah yang bisa membuat orang mengalami stres berkepanjangan.


Syahdan, konon dalam dunia tasawuf, orang-orang yang sering kali banyak guyon, atau mudah tertawa adalah tanda-tanda dari tingginya makam spriritualnya. Di sini kita bisa mengerti kenapa para sufi sering dikatakan gila akibat guyonannya yang mengundang tertawaan.

---

Telah dimuat sebelumnya di Kalaliterasi.com

04 Januari 2018

Membendakan Gagasan


Bagus Takwin
Psikolog, penulis dan akademikus berkebangsaan Indonesia 
Namanya dikenal sebagai pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Penulis buku ”Akar-Akar Ideologi”

PARA seniman memiliki kemampuan mengkonkritkan gagasan menjadi benda-benda. Seorang pematung misalnya, melalui keahlian khusus dapat membuat patung-patung berdasarkan gagasan dalam benaknya. Melalui  benaknya sudah ada ide-ide siap direalisasikan dengan mengolah bahan mentah berupa batu atau kayu menjadi benda yang bernilai tertentu.

Dalam hal ini patung adalah benda kultural. Dan kayu atau batu sebagai bahannya adalah benda natural. Dengan kata lain, kemampuan membendakan gagasan sang pematung adalah kerja transformatif mengubah “yang natural” menjadi “yang kultural”.

Tidak sekadar mengubah ide menjadi benda belaka, atau mengubah yang natural menjadi kultural. Para seniman juga mampu mengubah benda yang semula tidak bernilai apa-apa menjadi barang yang bernilai estetik. Dalam hal ini, sang seniman memiliki kemampuan serta kepekaan membendakan ide-ide estetis ke dalam karya tangannya.

Dengan kata lain, tidak sekedar mengubah gagasan menjadi benda-benda, tapi para seniman mampu menyulap sesuatu menjadi indah melalui kerja kreatifnya.

Di sini yang kultural bernilai setingkat dari sebelumnya; dia menjadi benda-benda estetik.

Di medan bahasa, para sastrawan juga memiliki kemampuan yang hampir mirip para pematung. Hanya saja seorang sastrawan menggunakan medium bahasa untuk membendakan gagasannya. Ide-idenya adalah bahannya itu sendiri. Seperti sang pematung, sang sastrawan juga memiliki akses kepada alam natural untuk diolahnya. Artinya dengan kata lain, melalui bahasa, sang sastrawan juga menciptakan benda kultural menjadi karya sastra yang dapat dinikmati banyak orang.

Nampaknya, dua contoh di atas adalah “pekerjaan” abadi yang secara kebudayaan ditanggung manusia semenjak pertama kali ia ada. Perjumpaan awal sang manusia terhadap alam adalah perjumpaan bagaimana dia “membudayakan” kehidupannya. Dalam hal ini, seperti yang ditemukan dari peninggalan kehidupan manusia awal di dalam gua-gua berupa gambar dan simbol-simbol, adalah “pekerjaan pertama” manusia menarasikan kisahnya untuk membangun kebudayaannya. Dari sisi ini dapat dikatakan kebudayaan adalah cara manusia mengisahkan hidupnya.

Manusia adalah mahluk pembuat kisah. Begitulah yang dinyatakan Bagus Takwin, seorang psikolog UI. Yang unik dari pendakuan Bagus Takwin, manusia sang pembuat kisah selalu berpusat kepada “diri” (self) sebagai peran utamanya. “Diri” dalam hal ini adalah pusat kesadaran, tidak saja menjadi fondasi identitas manusia, melainkan juga menjadi “jaringan” yang bertautan dengan “diri” yang lain untuk melengkapi kisah yang berpangkal darinya.

Melalui pertautan inilah “diri” sebagai kisah dikembangkan manusia dengan cara mendialogkan dirinya dengan daya-daya yang ditemukan di luar darinya. Selain dari pada itu, melalui cara ini, “diri” akhirnya menjadi jauh lebih berkembang bergantung dari di mana dan dengan apa ia bertaut.

Dalam konteks komunikasi, “diri” adalah medan terbuka dari praktik-praktik pemaknaan. Sang “diri” melalui proses pemahaman senantiasa menangkap makna melalui simbol-simbol yang dihadapinya. Melalui cara ini manusia sekaligus mengukuhkan dirinya sebagai mahluk simbolik; mahluk yang berinterakis dengan perantara makna-makna yang ditangkapnya.

Paul Ricoeur seorang filsuf abad 20 dalam hal ini memiliki pendapat, identitas diri manusia dapat dikenalinya seperti dia mengenali kisah-kisah yang tertuang dalam cerita-cerita kebudayaan. Melalui kedudukan semacam ini, kebudayaan adalah kisah berupa teks-teks yang dibendakan dari kebiasaan-kebiasaan, tradisi, norma-norma, dan atau pandangan dunia. Dengan kata lain, bagaimana sang manusia membaca “dirinya” sama halnya berarti dia membaca kebudayaannya.

Itulah sebabnya, kebudayaan adalah salah satu tatanan epistemik yang memungkinkan “diri” manusia dapat berkembang. Melalui kisah-kisah dalam budaya (Tu manurung dalam masyarakat Sul-sel, kisah Mahabrata bagi masyarakat Jawa, misalnya) manusia mempertautkan kisahnya untuk menggenapi “dirinya.”  

Tapi, nampaknya era kiwari manusia seolah-olah berhenti menciptakan kisah. Atau dengan kata lain –meminjam ungkapan Radhar Panca Dahana—manusia berhenti memproduksi kebudayaannya.

Zaman mutakhir adalah zaman tanpa kisah. Hal ini ditandai dari guncangnya identitas masyarakat jika mengalami pergesekan dengan simbol atau “diri” yang lain. Gejala ini juga menandai terjadinya disorientasi dan dislokasi atas apa yang sedang dihadapi. Kesalahan membaca kisah kebudayaannya, berarti juga dengan sendirinya kesalahan ketika membaca “dirinya.”

Zaman tanpa kisah juga adalah zaman ketika manusia kehilangan kemampuan membendakan gagasan. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi seperti saat ini akhirnya hanya menjadi situasi tanpa arti apa-apa selain menjadi ajang untuk mengkonsumsi gagasan tinimbang membudayakannya. Wahana komunikasi melalui pelbagai media canggih juga hanyalah menjadi artefak yang tidak memiliki signifikansi apa-apa tanpa mampu memproduksi gagasan dan membendakannya.

Di titik ini, praktik-praktik pemaknaan terhadap budaya yang hanya sebatas level konsumsi, mesti didorong seperti kerja-kerja seorang seniman di atas. Suatu kemampuan untuk mengolah segala sumber daya yang dimiliki untuk menunjang kehidupannya sendiri. Secara komunikatif, “sang diri” manusia harus terbuka kepada pertautan-pertautan simbol, tradisi dan nilai yang mengepungnya. Manusia harus mulai membaca “kisah.”     

Dengan kata lain, praktik membendakan gagasan adalah dimulai dari praktik membaca kisah untuk kemudian membendakannya kembali. Suatu praktik dialektis yang terwujud dari tindakan membaca dan memproduksi kebudayaan.

Itu artinya hal yang paling pertama untuk membendakan gagasan adalah membaca “diri” sebagai pangkal kebudayaan itu sendiri. Tanpa itu mustahil ada yang bisa dikisahkan, mustahil ada yang bisa diliterasikan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...