07 November 2017

Nietzsche dan Suatu Pagi Seketika Mendung

Jika engkau haus akan kedamaian jiwa dan kebahagiaan, percayalah. Jika engkau ingin menjadi murid kebenaran, carilah.
Konon sembari berurai air mata, Nietzsche banyak meliterasikan peradaban melalui punggung tragedi. Pendakuannya tentang tragedi, pada dasarnya adalah kritik terhadap situasi sejarah abad 19 (dan abad 20) yang kehilangan dasar pemaknaannya setelah sains, kebudayaan, agama, dan filsafat hanyalah menjadi aksesoris kehidupan tanpa mampu mendudukkan manusia sebagai mahluk yang berkepribadian. Manusia, kebanyakan adalah mahluk yang tidak mau mendengarkan kebenaran, karena mereka tidak ingin ilusi mereka hancur, begitu pendakuan Nietzsche.

Manusia yang berkepribadian, dinyatakan Nietzsche adalah manusia yang sudah melampaui segala sendi nilai moralitas dengan menggerakkan kehendak pribadinya yang khas sebagai dasar perilakunya.

Dengan kata lain, manusia yang berpribadi adalah mahluk yang tahu harus berbuat apa, dengan mengandalkan kekuatannya sendiri tanpa bersandar kepada nilai-nilai yang berasal dari luar pemahamannya.

Ketika manusia menjadi asing atas pemahamannya, dan sulit bertindak atas dasar apa ia melakukan sesuatu, maka itulah yang disebut Nietzsche sebagai nihilisme. Nihilisme juga didakukan Nietzsche sebagai hilangnya dasar pemahaman manusia sebagai basis penilaiannya terhadap dunia, dan hilangnya makna hidup itu sendiri. 

Nihilisme di zaman kita

Tragedi dan nihilisme adalah dua narasi peradaban yang banyak dikritik Nietzsche. Gaung kritik ini bahkan semakin terbukti peririsannya jika pengamatan kita ditujukan kepada konteks masyarakat sekarang.

Fenomena masyarakat modern yang ditandai dengan “ledakan masyarakat kapitalis”, “totalitarianisme pasar bebas”, “kehancuran lingkungan alam”, “radikalisasi agama”, dan “melubernya arus informasi”, merupakan gejala-gejala makro yang disebabkan hilangnya makna kehidupan.

Pencarian makna manusia itu sendiri ternyata hanyalah berhenti pada wilayah permukaan yang diarahkan oleh penalaran rasional tanpa menelisik lebih jauh ke dalam wilayah sublimitas yang dimiliki manusia.

Mazhab Frankfurt, misalnya, sangat apik mendemonstrasikan bagaimana cita-cita masyarakat modern yang digerakkan sains justru berkebalikan dari cita-cita awalnya untuk membebaskan manusia dari zaman mitos. Rasio sebagai penemuan mutakhir peradaban manusia, justru menjadi faktor utamanya. Nalar tidak lagi didudukkan sebagai alat pembebasan masyarakat, melainkan menjadi apa yang disebut mazhab ini sebagai rasio instrumentalistik. Rasio jenis inilah yang belakangan mengarahkan kehidupan masyarakat modern mengalami alienasi dari keberadaan rasionya sendiri.

Padahal, sisi sublimitas manusia adalah dimensi kejiwaan yang memberikan dasar pemaknaan eksistensial (berbeda dari sisi rasional yang hanya menghubungkan manusia dari segi hubungan konseptual) terhadap pencapaian-pencapaian yang dimiliki peradaban manusia.

Itulah sebabnya, Nietzsche sendiri pernah mengatakan kehidupan tanpa musik adalah kesalahan. Mengapa musik? Di sinilah pertama-tama Nietzsche dari segi pemikirannya banyak mendudukkan kritikannya ke dalam konteks masyarakat modern yang percaya sepenuhnya hanya kepada sains sebagai satu-satunya patokan pemaknaan hidup.

Musik biar bagaimana pun adalah genre dari ekspresi estetika yang berlawanan dengan sains. Musik sebagaimana sastra, memiliki perbedaan dengan sains yang digerakkan semata-mata oleh sisi rasional manusia. Sains dengan karakternya yang demikian membentuk pemaknaan hidup hanya berdasarkan hukum-hukum logis empirik, teratur, linear, ajeg, dan fixed sehingga dunia dipandang ibarat mesin mekanik yang beku dan kaku.

Sementara musik, dalam cakrawala dunia Nietzsche adalah metafora yang digambarkannya untuk menarasikan suatu model kehidupan yang penuh gairah, semangat, pesona, dialektis, dan dinamis yang menggerakkan jiwa manusia untuk menerima hidup dengan sikap yang terbuka dan bergerak.

Manusia jika diidealisasikan menurut pemikiran Nietzsche, adalah orang-orang yang bergerak dengan sikap terbuka dengan segala kemungkinan hidup yang dimilikinya, tanpa khawatir dengan beragam hambatan dan godaan, apalagi hanya berhenti kepada satu titik yang sudah dianggap final dan fixed. Manusia dengan begitu adalah mahluk pengembara, berjalan dari satu titik pengembaraan menuju titik pengembaraan lainnya.

Di suatu pagi yang seketika mendung…

Nihilisme bisa saja datang menelusup ibarat cuaca yang seketika mendung kala pagi baru saja datang menyapa. Ketika seseorang bangun dan menemukan semuanya nampak tak berarti apa-apa. Dalam titik kesadaran tertentu, semua dan hal ihwal yang selama ini sudah dilakukan tidak memiiliki maksud dan tujuan sama sekali. Sama sekali tak berimbas apa-apa. Tidak berefek apa-apa. Tujuan hidup, nampaknya suatu hal yang sama sekali bukan titik yang memberikan arah kepastian sama sekali.

Lalu, segala dasar nampak goyah. Ibarat gerakan awan putih yang terseret topan tak terlihat. Bergerak dan hilang menipis seiring tiupan udara.

Syahdan, tidak semuanya harus diartikulasikan melalui medium rasio, seperti bahwa apa yang selama ini dipikirkan hanyalah wujud-wujud artfisial tanpa bobot. Pendasaran yang hanya menggunakan rasio sebagai intrumen tanpa mengetahui maksud terdalam dari sesuatu. Bukankah semua ini mesti dijalani? Walaupun pagi seketika berubah gelap.

05 November 2017

PILIHANAtau alunan musik yang kasip di pagi yang seketika mendung, sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam begitu saja. Atau kisah orang-orang yang merangkak naik bersamaan dengan matahari di pagi yang entah. Atau ingatan terhadap pemahaman yang silap, tak diketahui rimbanya. Bunyi desir angin atau sentuhannya yang seolah-olah seperti benang-benang tipis yang bergerak dari ujung kakimu naik hingga ke pundak dan telingamu. Atau kehidupan yang terulang, terulang dan terulang. Atau bunyi deru mobil. Suara dentuman yang tersisa di atas langit, atau pecahan bintang yang tertinggal berjuta-juta tahun lamanya. Atau ini hanya sekadar usaha menangkap maksud di balik beragam kemungkinan. Atau bukan apa-apa. Seorang bapak tanpa menggunakan baju berdiri atau berpikir tentang sudut rumahnya yang digerayangi rumput-rumput hijau. Atau akan dia biarkan tumbuh sama halnya dia melihat anaknya yang sudah melebihi tinggi badannya. Atau memang waktu adalah sisi terbelakang dari apa yang kita ketahui. Atau memang dia tidak mungkin atau akan diketahui. Waktu atau entah apa, pada akhirnya membuat siapa pun menyadari betapa dunia sudah melebihi umurnya. Atau pernahkah kau menyadari saat melihat bebek-bebek mengecipak air selokan yang terbelah mengaliri rerumputan. Atau Rumput yang basah diterpa sinar kuning mentari. Atau Seorang ibu dan anaknya yang menuruni setapak pergi ke sekolah. Atau di atas nun jauh, rumah-rumah bersusun-susun dari bawah ke atas. Di belakangnya punggung gunung tertutupi kabut bagai kapas-kapas basah. Atau keadaan yang jauh lebih susut, tentang bukan saja air, melainkan partikel-partikel kecil di dalamnya yang bergerak tak beraturan, atau kutu-kutu yang bergerak di balik helain bulu bebek yang terkena air, dan menggelembungkan oksigen di dalam bulatan-bulatan kecil air. Atau menelusuri jauh di dalam tanah yang di atasnya tumbuh rumput-rumput, atau di sana ada kehidupan beribu binatang-binatang yang dimakan cacing tanah, rayap-rayap, beserta kerajaan semut-semut yang setiap hari menggerayangi permukaan tanah tanpa disadari siapa pun. Atau di balik anak-anak yang sedang berpergian sekolah, ada kisah sedih sejak semalam lantaran suatu sistem pendidikan membetot otot-otot sang bapak menggali lebih dalam lagi petak-petak sawah di pelosok entah di mana. Atau keluh kesah ibunya yang tak mampu mengerjakan tugas sekolah anaknya akibat disibukkan dengan pekerjaan rumah atau sudah tidak mengerti sama sekali apa sesungguhnya maksud dari mata pelajaran anaknya. Atau hal-hal di luar itu, semisal mengapa rumah-rumah di atas bukit itu disusun menyerupai anak tangga. Atau apakah persamaan antara awan basah dengan kapas, ataukah awan sebenarnya memang terbuat dari kapas. Atau sesungguhnya kapas ternyata adalah sisa-sisa awan yang jatuh sejak semalam. Atau mungkin mengenai cemara menjulang tinggi di bawah mentari meninggi. Atau jalan yang menapak di bawahnya tersisa tanah yang longsor. Warnanya kecokelatan, mengering disapu kilatan cahaya mentari. Atau pagi yang masih diiringi kabut. Tipis melayang-layang berarak kemudian pergi di balik pepohonan. Bunyi ayam-ayam sedari tadi berkokok, atau bersahutan sambung menyambung dari barat sampai selatan. Atau pohon jambu habis dipanjati anak-anak. Buahnya kemarin sore dibawa pergi. Anak-anak berkopiah sepulang mengaji, bergerombolan. Menginjaki pagar bambu mengangkat tangan di sela-sela ranting yang tak rimbun. Atau di satu rumah kulit sapi dijemur berhari-hari. Kulitnya diikat tali berwarna hijau, ditelentangkan kuat-kuat di dinding sebelah selatan. Menghadap matahari. Atau hari ini yang kasip yang seketika mendung, sementara di hampir bersamaan segeletak buku hanya tersimpan diam begitu saja.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...