20 Oktober 2017

Pribumi

Tidak ada pengetahuan yang bebas nilai. Demikianlah yang didakukan aliran sosiologi mazhab Frankfurt. Setiap pengetahuan mencerminkan kebutuhan sosialnya. Kebutuhan praktisnya. Dalil ini sekaligus kritik mendasar terhadap positivisme logis, suatu aliran pemikiran yang berkeyakinan bahwa pengetahuan itu mesti bebas nilai. Harus objektif. Seperti apa yang ditampakkan di dalam kenyataan. Tapi, adakah kenyataan yang sebenarnya-benarnya bebas dari infiltrasi pengetahuan manusia. Dengan kata lain kenyataan yang murni tanpa bias pandangan manusia. Kenyataan objektif yang didamba-dambakan dalam sains modern? Tepat melalui pertanyaan inilah, eike kira pemahaman kita terhadap suatu segala adalah medan yang sarat kepentingan. Ketika kita mempersepsi sesuatu, menilai sesuatu, pengetahuan bukanlah kapas putih tanpa muatan noda. Setiap fakta yang kita terima, sudah dari awal dibentuk oleh keyakinan kita. Kitalah yang menghendaki fakta itu berdasarkan apa yang ingin kita terima. Manusialah yang menarasikan kenyataannya. Dengan kata lain tidak ada kenyataan yang benar-benar das ding an sich. Yang nyata tanpa persentuhannya dengan pikiran manusia. Di titik itulah eike berkeyakinan, setiap aktifitas berpikir sudah selalu mengandung motif bawaan manusia. Ibarat teori kesadaran Sigmun Freud, di belakang kesadaran, bersembunyi kepentingan hasrat libidinal. Suatu hasrat untuk memuaskan dirinya. Itulah sebabnya, menurut eike setiap pengetahuan dengan sendirinya adalah sesuatu yang bersifat ideologis. Kolonialisme eike kira adalah contoh bagaimana pengetahuan malah justru menjadi kedok untuk menjajah suatu negeri. Kita pernah mendengar dikotomi Barat yang superior dan Timur yang inferior. Masyarakat Barat yang tercerahkan dan kehidupan orang-orang Timur yang tidak berkebudayaan. Atas dasar kebudayaan, pengetahuan berkepentingan untuk menyesuaikan yang Timur mesti menjadi Barat. Yang pribumi harus menjadi masyarakat sebagaimana idealitas nilai-nilai Barat. Nampaknya kolonialisme lebih pas kedengarannya dengan apa yang diistilahkan sebagai westernisasi. Suatu terma yang pernah banyak disebut-sebut dalam ilmu-ilmu sosial untuk menandai berubahnya apa-apa yang berbau pribumi menjadi Barat. Apa-apa yang masih asing menjadi modern. Belakangan kata pribumi menjadi kesohor. Pribumi menjadi salah satu kata teknis sekaligus magis dalam pidato politik Anies Baswedan pasca dilantik sebagai gubernur baru Jakarta. Setelah itu publik gempar, pribumi menjadi gonjang-ganjing. Eike kira, kata pribumi di situ bisa ditafsirkan dengan bebas. Segala kemungkinan tindakan hermeneutika dari itu sah-sah saja diterima. Kita bisa memulainya dari keseluruhan konteks pidato Anies dan melihat apa pesan keseluruhan dari pidatonya. Atau memperlebar konteks kata itu kepada setting situasi yang jauh lebih besar, sejarah kolonialisme di bangsa ini misalnya. Atau bisa juga dilihat dari sisi konteks pertarungan politik sebelum pidato itu dibacakan. Dan, mungkin saja maknanya juga akan berbeda jika kata itu ditafsirkan seperti Anies memaknai kata itu. Dengan cara demikian, eike kira semua motif yang digunakan untuk menafsirkan diksi itu mau tidak mau dipengaruhi oleh beragam sudut penafsiran. Dan, dari tindakan itu sudah barang tentu secara moral etik berlaku kepentingan sang penafsir. Dengan kata lain, di balik kegiatan berpikir, atau usaha untuk mengartikan suatu teks, sang penafsir akan membawa kepentingan teoritik dan kebutuhan praktisnya itu sendiri. Orang-orang eike kira banyak lupa. Sekarang Anies diterima atau tidak diterima adalah juga seorang politikus. Kata-katanya serba licin. Mudah rubuh oleh bahkan kata-katanya sendiri. Artinya tidak ada yang bisa dipegang dari itu. Kata-kata dari mulut politikus ibarat gerakan akrobat: bergerak dan berubah terus menerus. Tidak stabil. Itulah mengapa jangan mudah percaya apa-apa yang diutarakan seorang politikus. Di balik setiap kata politikus senantiasa digerakkan arus pemikiran tertentu. Dan, tiada pemikiran yang tidak berpihak. Tidak berkepentingan. Hatta, seluruh pengetahuan mewakili kecenderungan dunia di mana dia lahir, dibentuk, dan dikemukakan. Tiada pengetahuan yang tidak berimplikasi secara politis. Dengan kata lain, untuk apa dan siapa pengetahuan itu diwakili?

19 Oktober 2017

5 Lagu Mahasiswa-Perjuangan yang Tidak Lagi Akrab di Telinga Generasi Mahasiswa Zaman Now

Tidak bisa dimungkiri, karakter, kecenderungan, dan cara pandang mahasiswa era kiwari jauh berbeda dari dua generasi sebelumnya. Perbedaan ini sangat terasa dari perubahan kehidupan kultural yang mereka lakonkan.

Terutama generasi Z, cara mereka menjalani hidup jauh lebih variatif dan unik. Seperti hasil riset dari Tirto.id, jika ditilik, dari segi fesyen, mahasiswa-generasi Z lebih menyukai membeli produk di mal-mal atau pusat-pusat perbelanjaan yang dirasa lebih mewakili selera berbusana mereka. Sehari generasi ini bisa menghabiskan tiga sampai lima jam mengakses internet melalui gawai canggih mereka. Jika hendak memenuhi hajat perut, generasi Z gampag ditemui di tempat makan siap saji semisal KFC, Pizza Hut, atau pun McD.

Pilihan liburan dan hiburan generasi Z juga mengalami perubahan. Generasi Z banyak menghabiskan uangnya di tempat-tempat wisata alam semisal gunung atau pun pantai. Mengenai hiburan di bidang musik, generasi Z senang mendengarkan musik-musik pop dari mancanegara atau dari tanah air sendiri. Bahkan, untuk urusan film, streaming adalah salah satu cara mereka menikmati film-film yang sedang naik daun. Dan yang paling mencolok, generasi Z senang menghabiskan waktu mereka dengan game  online atau berbasis aplikasi melalui gawai kece mereka.

Eike punya pengalaman subjektif berkaitan dengan tradisi intelektualisme yang generasi Z perankan di dalam kampus. Terkhusus pengalaman atas lagu-lagu mahasiswa-perjuangan yang di zaman eike masih saban hari terdengar di sekretariat-sekretariat kemahasiswaan, kini sudah sangat jarang eike temu-dengarkan.

Memang jika diperhatikan, 5 lima daftar lagu mahasiswa perjuangan di bawah ini sudah tidak lagi menjadi bagian dari idealisme, pengalaman, dan kebudayaan intelektualisme mahasiswa zaman now.

1. Apa Guna- Wiji Thukul/Sanggar Satu Bumi/Jaker

Lagu ini diambil dari puisi Wiji Thukul yang berjudul Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu. Di masa-masa eike menjadi mahasiswa, lagu ini kerap dipakai untuk menyindir-nyindir golongan mahasiswa yang masuk kategori “pembelajar tanpa aksi”. Yang menarik dan sekaligus asyik dari lagu ini ketika dinyanyikan adalah pesannya yang lugas tanpa bersembunyi dibalik kata-kata yang bersayap. Kemungkinan ini karena sifat puisi Wiji Thukul yang memang lugas membahasakan pesan puisinya itu sendiri.

Belakangan lagu ini diaransemen ulang oleh anak Wiji Thukul yang tergabung dalam band indi Merah Bercerita.

2. Darah Juang- Aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD)

Saat Pramoedya Ananta Toer dikebumikan, sejumlah mahasiswa mengiringi jazad sastrawan yang dimusuhi Orba dengan lagu ini. Ada juga versi yang mengatakan di saat dikebumikan malah lagu Internasionale-lah yang mengiringinya.

Di tahun 1991, John Tobing, Dadang Juliantara, dan Boediman Sudjatmiko adalah nama-nama yang melahirkan lagu ini yang saat itu adalah anggota dari Partai Rakyat Demokratik, organisasi mahasiswa kiri yang bercita-cita melawan rezim represif Orde Baru.

Berdasarkan pengalaman eike, Darah Juang adalah lagu yang paling sering menjadi pilihan utama ketika musim ospek dilakukan. Lagu ini juga kerap dikumandangkan jika mahasiswa “turun aksi” di jalanan. Bagi sebagaian mahasiswa lagu ini bahkan punya arti tersendiri, tapi bukan untuk dipakai memikat mahasiswi baru yang “unyu-unyu” itu, loh…

3. Kesaksian- Kantata Takwa

Lagu  yang liriknya ditulis oleh W.S Rendra ini menurut eike adalah lagu perjuangan yang besar pengaruhnya terhadap emosi pendengarnya. Walaupun bukan sepenuhnya bercerita tetang kematian, jika lagu ini dinyanyikan dalam momen-momen mengenang mahasiswa, aktivis, maupun orang-orang semisal pejuang kemanusiaan yang mati secara tidak adil di bawah kekuasaan yang tiranik,  mampu membuat pendengarnya berlinang air mata. Melalui suara Iwan Fals, walaupun bukan diciptakan oleh kelompok mahasiswa tertentu, lagu ini kudu wajib dihapal bagi Je yang mendaku sebagai agen perubahan.

4. Pembebasan a.k.a “Buruh Tani” – Syafi’I Kemamang aktivis PRD

Inilah salah satu lagu mahasiswa-perjuangan yang lahir dan ikut dinyanyikan sebelum dan sesudah reformasi. Lagu ini diciptakan Safi’i Kemamang, seorang aktivis dari Partai Rakyat Demokratik (PRD) Jawa Timur.

Seperti dinyatakan penulisnya, lagu ini memiliki semangat untuk menyatukan elemen pergerakan dari pihak mahasiswa, buruh, kaum tani, dan golongan miskin kota, yang menjadi pihak paling tertindas dari kebijakan rezim Orba saat itu.

Seperti halnya lagu Darah Juang, lagu ini diciptakan dalam rangka untuk menyemangati perjuangan rakyat dan mahasiswa.

5. Internasionale- Eugene Pottier

Jika ada lagu yang mewakili kelas tertindas nan papa, Internasionale-lah lagunya. Bagi kawan-kawan berhaluan pemikiran kiri, lagu ini bukan sekadar lagu, melainkan suatu paradigma kelas yang dinotasikan melalui musik. Lagu ini diciptakan Eugene Pottier, seorang penyair proletariat, tukang kayu dan sekaligus anggota Komune Perancis di tahun 1871. Eugene menciptakan sajaknya  untuk menyemangati perjuangan kelas pekerja di masa-masa Eropa, terkhusus Perancis mengalami pergolakan sosial. Uni Soviet pernah menjadikan lagu ini sebagai lagu kebangsaannya dari tahun 1922-1940.

Yang menarik dari lagu ini adalah beragamnya versi setelah diterjemahkan melalui bermacam-macam bahasa. Di Indonesia lagu ini diterjemahkan Ki Hajar Dewantara melalui bahasa Belanda. Walaupun demikian, terjemahan Ki Hajar Dewantara banyak menuai kritik dari kaum komunis internasional lantaran menghilangkan semangat proletariat yang sangat kental dari bahasa aslinya.

Itulah lima lagu mahasiswa-perjuangan yang secara organik menjadi penyemangat dan ikut mewarnai perjuangan mahasiswa dan golongan masyarakat yang selama ini terpinggirkan. Sekarang apa boleh buat, PDI perjuangan memang sudah berubah!

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...