09 Oktober 2017

PB Syndicate
PB Syndicate
Momen seperti inilah yang eike kira mesti dipertahankan. Kelak, yakin dan percaya, momen-momen seperti ini yang bakal memberikan dan menjadi fondasi intelektual ketika je sekalian sudah melakoni beragam pengalaman kemanusiaan. Mau apalagi, eike harus berterus terang, kampus hari ini tidak banyak memberikan kemungkinan pengalaman yang lebih diskursif. Kebanyakan pengalaman belajar dalam kampus ibarat panggung sirkus yang berisi pawang singa dan gerombolan singa jinak yang mangut di ujung tongkat sang pawang. Sementara pengetahuan ibarat instruksi kepolisian yang tidak memberikan pilihan lain selain menjadi tersangka. Pendidikan a la kampus sekarang menurut eike lebih menyerupai apa yang dinyatakan Bourdieu sebagai penjajahan dengan gaya halus. Penyelenggaraan pendidikan di kampus umumnya bukan hal yang merangsang jiwa ingin tahu mahasiswa, melainkan menjadi ancaman yang menyiutkan nyali kritis mereka. Akibatnya, pendidikan kampus seperti pabrik pencetak kue. Bentuk dan macamnya mirip seratus persen. Berkenaan pengetahuan dengan motif ideologis di balik paham pendidikan, tak perlu eike jelaskan di sini. Je sudah pasti banyak mendengar tentang analisis Michele Foucault, Ivan Illich, atau Paulo Freire yang banyak menelaah secara kritis penyelenggaraan pendidikan beserta paham di belakangnya dalam setting masyarakat kapitalis. Kalau je belum banyak tahu, gugling saja sekalian. Lebih praktis, seperti gaya belajar mahasiswa masa kini. Sementara organisasi-organisasi kemahasiswaan sekarang memang dari kulitnya tampak kelihatan garang, tapi sebenarnya garing. Tak banyak harapan muncul dari sana. Kolektifitas organisasi di tangan generasi milenial akhir tidak tampak memperlihatkan organisasi yang mampu meng-cover kebutuhan mahasiswa generasi Z yang jauh sangat berbeda dari mereka. Itulah sebabnya, kesenjangan dari sisi pilihan-pilihan ideologis nampak benderang dalam dua generasi berbeda yang berbagi medan pengalaman sehari-hari yang sama. Kebutaan dalam merumuskan pengalaman bersama atas generasi milenial bagi senior-senior mereka adalah kegagalan pertama mengubah tradisi kemahasiswaan menjadi adaptabel dengan semangat zaman. Yang miris, pola-pola lama dari segi pengalaman, praktik berlembaga, visi pengetahuan, dan pilihan-pilihan ideologis masih menggunakan tradisi 90an yang sudah tidak cocok dengan minat mahasiswa generasi mutakhir. Sudah tentu idealisme mahasiswa generasi Z sangat bertolak belakang dengan generasi Y atau bahkan generasi X. Pengalaman hidup mereka sangat berbeda. Apa yang hari ini disebut idealisme sudah memiliki pemaknaan yang lebih baru dan variatif di tangan generasi Z. Idealisme di tangan mahasiswa generasi Y dan Z di waktu silam ibarat air kelapa yang mesti dijaga kemurniannya. Kini, apa arti idealisme bagi mahasiswa generasi Z? Tapi, memang idealisme itu masih ada. Ia tidak bisa diartikulasikan dari lisan dan gaya berpikir mahasiswa-mahasiswa produk zaman tua. Juga, bukan yang berasal dari dunia pengalaman senior-senior mereka. Melainkan idealisme itu harus dirumuskan sendiri oleh mahaiswa-generasi Z itu sendiri. Karena itulah model dan gaya, sampai bentuk organisasi harus segera dirumuskan sendiri oleh generasi Z. Jika keputusan penting organisasional masih dipegang generasi tua sudah seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa masa kini. Itu pun dengan syarat generasi tua harus legowo membuka barisan baru. Menghilangkan superioritas egonya atas mahasiswa-mahasiswa kekinian yang lebih maju dan fresh. (Sudahlah, eike mesti katakan masa-masa je sebagai senior tanggung sudah mulai habis dan bahkan bukan zamannya lagi. Lapangan je jauh lebih luas hanya sekadar teritori kampus. Je sebagai senior harus keluar pagar. Tempat je di dunia yang lebih luas hanya dari pada kampus. Berkarya-lah di dunia yang lebih "nyata"). Harus ada organisasi yang bisa menyerap aspirasi, semangat, dan gaya berpikir mahasiswa zaman sekarang yang nampak cuek bebek, individualis, hedonis, dan pragmatis. Juga, eike kira ini juga penting, adalah perlunya dosen-dosen memahami selera dan kecenderungan belajar mahasiswa mutakhir. Generasi Z adalah generasi yang khas abad kontemporer, mereka cenderung terbuka, dan lebih peka dengan geliat zaman milenial. Itulah sebabnya, jika je adalah dosen, penting untuk mengubah gaya belajar mengajar di dalam kelas. Mahasiswa generasi Z adalah mahasiswa yang sulit dirumuskan dengan etika lama. Mereka mesti diberikan pendekatan baru, gaya yang lebih adaptabel dan kreatif. Terakhir, ini yang sebenarnya eike ingin katakan, komunitas kreatif itu penting. Sepenting je merasakan jatuh cinta. Karena itu pandai-pandailah mengelola perkumpulan macam begini. Apalagi melihat kecenderungan mahasiswa generasi Z yang jauh berbeda dari karakter dan selera je sekalian. Mesti ada yang berubah.

06 Oktober 2017

Individualisme-metodologis
Max Weber-lah yang pertama mengembalikan posisi individu menjadi inti teori sosiologi. Pembalikan ini bagi eike adalah cara Weber meninggalkan secara radikal karakter teori-teori sosiologi yang bertumpu pada sistem. Sejarah, sistem ekonomi, kebudayaan, dan kesatuan holistik yang mengandaikan totalitasi atas individu dirombak Weber menjadi hanya sebatas implikasi dari keberadaan individu. Individulah pusatnya, begitu kira-kira pendakuan Weber. Artinya, peralihan perspektif historisisme, atau misalnya developmentalisme menuju orientasi individual adalah upaya Weber mengembalikan individu sebagai agen aktif yang memiliki motif-motif ketika membentuk kehidupannya. Pendakuan Weber ini menurut eike memberikan model pemahaman yang bersandar pada pelacakan tindakan individu, makna di balik gagasan-gagasannya, motif psikisnya, maupun nilai dan norma apa yang dikandung dalam batin individu sehingga memberikannya peluang keluar dari kerangkeng totalitasi masyarakat. Belakangan cara pandang yang ditempuh Weber ini dikenal sebagai pendekatan individualisme-metodologis. Yakni, seperti yang sudah dijelaskan di atas, adalah model pemahaman yang menilai masyarakat berdasarkan orientasi individualnya. Jika dalam perspektif evolusionisme, historisisme, maupun developmentalisme, ide adalah sampingan, sebaliknya berdasarkan pendekatan individualisme-metodologis, ide adalah faktor yang paling menentukan dalam perubahan masyarakat. Ide melalui pendekatan ini adalah kekuatan yang mengatasi dan mendorong bergeraknya sejarah. Ide dengan begitu, bagi pandangan ini didudukkan sebagai kekuatan sentral. Itulah sebabnya, Weber sendiri menyebut teorinya adalah "kritik positif" bagi materialisme-historis Marx yang telah dahulu melihat masyarakat dari segi-segi ekonominya. Kritik Weber sendiri dapat dinyatakan dari pembalikkan atas piramida supra-dan-basis struktur-nya Marx. Bagi Weber bukan basis struktur (faktor ekonomi) yang menjadi elemen dasar perubahan, melainkan supra-struktur-lah (gagasan) yang lebih menentukan daripada perubahan. Melalui mode pemikiran demikian, belakangan banyak bermunculan komentator kontemporer menyatakan tema utama dari seluruh pemikiran atau pun karya Weber adalah pengakuan atas fungsi ideologi sebagai faktor independen dalam perkembangan sosial. Jadi eike berkesimpulan, akibat pendekatan individualisme-metodologis yang diajukan Weber-lah, yang mendorongnya kenapa lahir karyanya yang masyhur dan banyak dipakai untuk menilik asal usul kelahiran kapitalisme dari segi moral individualnya: The Protestan Ethic and the Spirit of Capitalism.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...