06 Agustus 2017

Memperjuangkan Kemerdekaan Literasi


Soekarno muda

Bangsa Indonesia sudah memulai kemerdekaannya dengan cara heroik. Dengan tenaga, darah, dan air mata. Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan mudah, dengan caranya sendiri.

Itulah sebabnya Bung Karno pernah mengatakan dalam pidatonya di sidang BPUPKI, tidak ada perjuangan bangsa yang sama sekali mirip satu sama lain. Indonesia memulai hari-hari merdekanya melalui jalan bersiasat dengan nasib masa depannya. Melalui taktik dan pikiran yang cemerlang, memanfaatkan “kelengahan” Jepang—yang sebelumnya Belanda—dari janji historis perdana menterinya kala itu.

Syahdan, buah kemerdekaan itu sampai hari ini akan terus kita gelorakan. Melalui ingatan atas sejarah, nyanyi-nyanyian, forum-forum akbar, upacara-upacara hikmat, dan doa-doa yang terus diangkat ke atas langit-langit persada. Agustus barangkali adalah bulan paling bersejarah. Di bulan inilah, kemerdekaan Indonesia diapresiasi dan akhirnya dirayakan kembali.

Namun, mesti diingat, 17 Agustus 1945 hanyalah satu momen politis. Suatu peristiwa yang menandai suatu awal hari-hari yang masih akan dan terus diperjuangkan. Dengan kata lain, kala proklamasi diucapkan secara publik, peristiwa itu hanyalah kemerdekaan yang diistilahkan Bung Karno sendiri sebagai ”jembatan emas”, yakni hanya suatu ”mukaddimah”, suatu pengantar. Setelah itu, perjuangan yang sebenarnya adalah kemerdakaan sosial, ekonomi, dan budaya.

Mengingat konteks sosial budaya abad 21, kemerdekaan Indonesia modern juga mesti memerdekan diri dari jerat alienasi yang mengasingkan dirinya sendiri. Salah satunya adalah ketertinggalan dalam bidang literasi.

Empat tahun di belakang

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendi, pernah mengungkapkan di akhir Maret lalu, kiwari kemampuan literasi masyarakat Indonesia jauh tertinggal empat tahun dari negara-negara maju. Salah satu indikator yang dikemukakannya kemampuan membaca siswa kelas 3 SMA hanya setara dengan peserta didik kelas 2 SMP di negara maju. Bahkan masih banyak siswa hingga mahasiswa di daerah terpencil belum mampu membaca secara lancar dan memahami maknanya.

Ironi ini melengkapi fenomena yang terekam melalui data-data bahwa Indonesia adalah negara buncit se-Asia terkait budaya membaca. Lebih miris lagi jika dikatakan budaya membaca di kalangan pelajar, guru, mahasiswa, maupun akademisi rata-rata tidak lebih dari satu jam perhari. Menurut studi International Association for the Evaluation of Education Achicievement ( IEA) mengungkapkan, di Asia Timur, tingkat terendah membaca dipegang oleh negara Indonesia dengan skor 51,7, di bawah Filipina (skor 52,6), Thailand ( skor 65,1), Singapura (skor 74,0), dan Hongkong  (skor 75,5).

Bukan itu saja, kemampuan orang Indonesia dalam menguasai bahan bacaan juga rendah, hanya 30 persen. Dalam Human Report 2000 (UNDP), bahwa angka melek huruf orang dewasa Indonesia hanya 65,5 persen. Malaysia sudah mencapai 86,4 persen, dan negara-negara maju seperti Jepang, Inggris, Jerman, dan Amerika Serikat umunya sudah mencapai 99,0 persen.

Di sisi lain, UNESCO melaporkan kemampuan membaca anak-anak Indonesia mencapai titik terendah yaitu 0 persen, tepatnya 0,001 persen. Bandingkan dengan anak-anak di Eropa dalam setahun rata-rata menghabiskan 25 buku. Di Jepang, bahkan tradisi membacanya dapat diukur dari umumnya tiap rumah membaca 2 koran selama sehari.

Dari segi publikasi, Indonesia hanya mampu menerbitkan buku pertahun sebanyak 8.000 judul. Dari negeri tetangga Malaysia dan Vietnam masing-masing mencapai 15.000 dan 45.000 judul per tahunnya. Sedangkan di Eropa, Inggris misalnya, malah bisa mencapai 100.000 judul per tahun.

Dalam perspektif sosiologis, kenyataan di atas menunjukkan masyarakat Indonesia masih mengedepankan budaya lisan tinimbang budaya membaca.  Secara kultural, situasi ini menunjukkan posisi awal (rendah) dari perkembangan budaya manusia. Itu artinya secara peradaban, bukan saja empat tahun, Indonesia justru masih tertinggal berabad-abad dari peradaban maju dunia.

Fenomena di atas juga mengindikasikan suatu kewajiban bagi setiap warga negara untuk ikut dan meneruskan kemerdekaan Indonesia bukan saja dalam tahap ”kemerdekaan dari”, melainkan juga suatu perjuangan dalam konteks ”kemerdekaan untuk”. 

Kemerdekaan tahap kedua

”Kemerdekaan dari” menandai era kemerdekaan yang sudah diperjuangkan pejuang Indonesia di masa pendudukan penjajah bertahun-tahun silam. Sementara era kiwari, manusia Indonesia mesti mempertahankan setiap jengkal tanahnya dalam tahap ”kemerdekaan untuk” agar mampu bersaing dan menjadi bangsa besar.

Kemerdekaan literasi adalah perjuangan yang genting untuk digalakkan. Sebagai suatu bangsa, data-data yang sudah dikemukakan di atas merupakan fenomena yang harus ditransformasikan. Membaca, menganalisis, mengkritisi, menulis, berdiskusi, dan meneliti, harus menjadi perjuangan kultural untuk membangkitkan Indonesia melalui perjuangan literasinya. Dengan kata lain, literasi harus menjadi tradisi, perilaku sehari-hari manusia Indonesia.

Satu hal yang juga tidak kalah utama, yakni perlunya fasilitas yang menunjang perjuangan literasi berupa peredaran buku-buku bagi warganya melalui misal pembangunan perpustakaan, maksimalisasi komunitas-komunitas literasi, ajang-ajang perlombaan literasi, di samping pendampingan secara institusional oleh negara berupa kebijakan yang berpihak kepada kebutuhan melek literasi anak-anak negerinya. Last but not least, kemerdekaan abad 21, salah satunya adalah kemerdekaan literasi.

---

*dimuat di Harian Fajar edisi Sabtu, 5 Agustus 2017

04 Agustus 2017

Karl Marx di Dean Street Soho

"Penulis boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya." Karl Marx
 
Salah satu olok-olok, atau bahkan ironi bagi Karl Marx barangkali datang dari suatu nama jalan; Dean Street. Panjangnya kurang lebih 400 yard. Di peta, letaknya di antara Oxford Street dengan  Shaftesbury Avenue. Di situ tidak berbeda dengan jalan-jalan di Soho, London: banyak toko-toko mentereng, klub-klub malam, bar, restoran, penjual-penjual kembang, toko pernak-pernik dlsb. Singkatnya bilangan itu adalah salah satu pusat keramaian di London. Tempat kelas borjuis, kelas yang menjadi sasaran kritik Marx, berbelanja.

Di jalan itulah Marx pernah tinggal. Menghabiskan kurang lebih waktu enam tahun hidup dengan miskin.

Sekarang, sebaliknya, Dean Street adalah salah satu jalan paling konsumtif di London. Sebagai salah satu pusat perbelanjaan, Soho adalah salah satu destinasi kaum borjuis era kiwari.

Tapi, sebelum Soho menjadi seperti sekarang, di situlah Marx menulis catatan awal Das Capital yang menginspirasi itu. Di rumah yang sekarang ditilap gedung-gedung mentereng.

Di kala Marx hidup, di Dean Street yang kumuh itu, tidak ada satupun orang borjuis yang bakal menginjakkan kakinya di sana.

Begitulah, setelah diusir dari Jerman, Marx pergi  ke pemukiman buruh di Brussels, namun Marx ditangkap polisi dan dibuang ke Prancis. Semenjak diusir dari Prancis, Marx akhirnya tiba di London, yang akhirnya kehabisan uang dan diusir dari kediaman sebelumnya di Camberwell.

Akhirnya Marx tiba di gang yang kala itu banyak ditinggali kelas pekerja. Ketika itu sekira tahun 1850an, kali pertama  Marx menempati rumah tempat yang disebutnya banyak mengalami kemalangan.

Di rumah itulah Marx kehilangan anak bungsu dan seorang putrinya akibat kelaparan dan diterpa penyakit. Di rumah itu pula barang-barang Marx termasuk pakaian, sepatu, dan mantelnya disita karena utang yang menumpuk.
  
“Aku telah mengalami segala jenis permusuhan,” tulisnya pada Engels suatu waktu, “tapi kini, untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Hidup miskin suatu soal lain, tapi di saat kehilangan buah hati tercinta? Bukankah itu lebih daripada penderitaan?

Tapi kemalangan Marx juga barangkali adalah kemalangan kelas pekerja yang selalu disuarakannya. Di rumah itu, selain menulis catatan-catatan perdana Das Capital, lahir The Class Struggle in France, serta Der 18te Brumaire des Louis Bonaparte.

Di rumah ketika Marx bukan saja nampak sebagai seorang pemikir, tapi juga sebagai seorang ayah yang senang menuliskan karangan cerita untuk anak-anaknya. Menjadi seorang kepala keluarga yang bisa berperan selayaknya teman bagi anak-anaknya.

Pekerjaan yang mungkin agak berbeda ketika masih tinggal di tempat sebelumnya, ketika pertama kali datang ke London; membelikan  dan membacakan novel kepada anaknya di usia yang masih sangat muda.

Bukan saja membacakan karangan sastra, ketika masih tinggal di Grafton Terrace, Mohr, begitu panggilan anak-anaknya terhadap Marx, kadang bermain “kuda-kudaan” seperti yang dikatakan Eleanor, anaknya, “Dengan duduk di pundaknya, memegangi rambutnya yang lebat, hitam dan beberapa yang sudah menguban”.

Namun, Marx yang diliputi kemiskinan –seperti yang sudah menjadi profilnya—adalah pemikir yang disiplin secara intelektual. Mengenal Marx berarti mengenal seseorang yang dari muda memiliki gairah terhadap hampir seluruh disiplin keilmuan; filsafat, politik, hukum, sejarah, seni, musik, sastra. Itu termasuk banyak membaca dan menerjemahkan buku-buku.

Saat muda, Marx sempat menulis tentang perasaannya ketika tiba di Berlin, “begitu tiba di Berlin, aku memutuskan segala ikatan yang ada dengan handai taulan, jarang berkunjung dan mencoba menenggelamkan diriku ke dalam ilmu pengetahuan dan kesenian”. Betapa Marx menjadi orang yang soliter.

Di sini Marx mau bilang betapa konsentrasinya hanya untuk ilmu pengetahuan dan seni, sampai-sampai harus menjadi orang yang menarik diri dari hiruk pikuk.

Sebagai seorang penulis, energi Marx bisa jadi lahir dari suatu niat yang jarang ditemukan dari penulis yang melihat hubungan antara karya dengan dirinya sebagai jaringan yang menguntungkan. Selama delapan jam, di London, Marx menghabiskan waktunya di British Museum, menulis berbagai bahan yang akan dirampungkannya dalam karya-karya monumentalnya. Pergi di saat pagi belum begitu panas, dan pulang di pukul sembilan malam dengan ditambah mengurung diri di kamarnya selama hampir lima jam hanya untuk menulis.

“Penulis”, kata Marx, “boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karyanya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya."

Sulit membayangkan suatu ikhtiar yang begitu mendalam terhadap pemahamannya atas penghargaannya terhadap suatu karya pemikiran. Suatu keyakinan yang ditulisnya ketika masih menjadi mahasiswa, ketika Hegel menjadi salah satu bacaan dan tokoh yang diikutinya, dan ketika surat-surat romantisnya masih dia tuliskan kepada Jenny, kekasihnya.

Pemahaman literasi semacam ini tidak mungkin lahir jika Marx tidak memahami hakikat kerja itu sendiri. Kerja, seperti yang diterangkannya, adalah suatu rangkaian usaha perealisasian diri menjadi mahluk yang  bebas. Kerja hanya mungkin terjadi jika manusia memiliki kebebasan. Tanpa kebebasan, kerja disebutnya hanya alat yang mengalienasi manusia.

Karya adalah manifes ide manusia. Hasil realisasi dirinya sendiri. Sesuatu yang disebutnya mesti dikorbankan segala hal daripadanya.

Itulah sebabnya,  berkarya—dalam hal ini menulis—merupakan suatu pekerjaan yang mengutamakan tingkat lebih daripada hasrat rendah manusiawi. Sesuatu yang tak mungkin mampu diperkirakan harganya.

Di titik ini Marx lebih dari sebuah nama. Marx adalah suatu model. Bahkan suatu pemahaman.

Tapi, jika di Soho degup kapitalisme yang bagai olok-olok itu tak pernah berhenti, dengan itu Marx sebagai pemahaman, akan juga senantiasa hadir bersamaan menjadi semacam antitesa. Selama ketika dua buah ruangan di jalan Dean Street dihiliri turis-turis dari berbagai penjuru.

---

*Sebagian besar kutipan disadur dan diambil dari sastraalibi.blogspot.co.id., dari blog pribadi Ronny Agustinus (penerjemah buku-buku dari penerbit alternatif Marjin Kiri)

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...