17 Maret 2017

Misykat

Di setiap peradaban, baik Timur maupun Barat, ketika membangun suatu kota, misalnya, bangunan seperti masjid, merupakan tautan tempat semua bermula. Itu sebabnya, di situ ditetapkan sebagai pusat. Segala hal ditentukan dari sana; nilai, pandangan dunia, moral, tradisi, dan bahkan agama. 

Masjid, atau pusat spiritualitas seperti gereja, di masa itu memang menjadi tempat di mana mata tuhan melihat dan menyapa realitas. Dari kubah-kubah masjid, atau menara-menara gereja, tuhan berswastika di hati orang-orang yang beribadah di bawahnya. 

Dalam Islam, kubah masjid ibarat misykat, simbol mangkuk terbalik yang dimiliki jiwa setiap insan. Di dalam mangkuk itulah sumber cahaya ilahi memancar. Al quran menyebutnya seolah-olah pantulan cahayanya menembusi minyak di bawahnya, melampaui dinding-dindingnya di barat dan di timur. 

Misykat inilah yang kadang bergetar-getir ketika nama tuhan bersentuhan dengan indera pendengar. Di dalam hati, bagian tubuh yang bergetar itu, adalah tanda berimannya seseorang. 

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka..." Begitulah literasi yang diabadikan al quran. 

Tapi kata ahli-ahli suluk, misykat yang kotor mustahil cepat dibuat bergetar. Ibarat kaca keramik yang tertutup debu, cahaya yang berpendar-pendar di dalamnya, hanyalah temaram yang luput menembusi hati. Jiwa yang terbengkalai, apa daya tak mampu dibuat bergetar. 

Barangkali karena itu kubah masjid dibuat mirip misykat jiwa manusia. Untuk mengingatkan, dan atau bahkan menggugat, kita yang mudah lupa. 

Tapi, ketika masjid bukan lagi pusat, atau gereja bukan lagi titik Tuhan bermanifes, hati yang bergetar bukan akibat suara tuhan yang dipancar melalui cahaya di hati orang-orang. 

Kini, hati orang-orang lebih mudah bergerak ketika pusat itu berbentuk mal, gym, swalayan, tokoh politik, atau bahkan dunia maya.

Sudah banyak yang bilang, zaman yang bergerak di atas layar media, adalah zaman yang memangkas segala hal. Dunia makin kecil, tak bersekat hingga yang digital menggantikan realitas yang sebenarnya. Juga, Tuhan, yang menjadi pusat di tempat-tempat semisal masjid, akhirnya hanya suara lirih yang tertatih-tatih di antara dering gadget. 

Kini bahkan Tuhan juga mesti tunduk di dalam imajinitas dunia digital. Tuhan, realitas yang ultim itu, juga harus bersaing dengan munculnya tuhan-tuhan digital, realitas-realitas maya yang memenuhi ruang sadar manusia modern. 

Sementara di luar dunia maya, yang pusat mudah ditemukan di tempat-tempat ketika uang berputar dengan cepatnya. Ketika masjid sudah kehilangan pesona, dan hanya jadi tempat bersinggah sementara, kini orang-orang sulit dibuat bergetar hatinya akibat dentumannya lebih kukuh bergaung di sela-sela etalase produk-produk pasar di pusat perbelanjaan.

Di situ, akhirnya,Tuhan berlahan-lahan mengecil di hati yang semakin sulit berpaling. 

Bahkan, Tuhan yang kecil, menjadi lebih berbahaya ketika itu diucapkan dengan motif-motif kekuasaan. Atau bahkan Tuhan dimodifikasi dengan ambisi-ambisi yang lebih rendah: politik. 

Itu sebabnya, di ibu kota negara, pusat yang sering membuat daerah-daerah sekitarnya lebih panas dari biasanya, politik menjadi titik singgung dan titik temu segala kepentingan. Di saat itu, Tuhan ibarat kata-kata yang lebih mirip slogan dan jargon. 

Tuhan yang dibungkus politik pada akhirnya hanya bisa membangun sekat, bahkan sekam di dalam rumah yang sama, keluarga yang sama, atau bangsa yang sama. Tuhan dengan nada yang politis sebenarnya bukan Tuhan yang sebenarnya, tuhan yang welas asih.

Sekarang, masjid-masjid hanyalah bangunan yang dilimpahi bebatuan mahal tanpa dihinggapi suatu pesan sejarah. Ketika masjid adalah titik tolak peradaban digagas, bagaimana kebudayaan dibangun, dan saat kehidupan begitu harmonis dan hanif.

Bahkan, di timur tengah, tempat pusat spiritualitas ditautkan dari seluruh penjuru, Ka’bah nampak polos dikepung ambisi kerdil yang mengitarinya: pusat perbelanjaan, hotel-hotel mewah, kantor-kantor mentereng, dengan gedung yang super canggih.

Itu berarti, konsep tentang pusat, sekarang, hanyalah tempat segala hasrat, ambisi, nafsu serakah, bertemu dan saling silang. Membuat yang peradaban nampak koyak dan boyak.


Makanya nampak wajar, sekarang jika menyebut sesuatu adalah pusat, jika itu adalah kota, ibu kota negara, atau ataupun daerah-daerah yang dianggap titik nol, adalah tiada lain silang sengkarut yang nampak tak bersahaja, semuanya tidak lebih dari wadah kepentingan rendah peradaban dipertautkan.

16 Maret 2017

Saga di Balik Athena

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus. Senja begitu merah
begitu saga. Seumur hidup belum pernah
kusaksikan senja secemerlang itu...”

Petikan puisi Mochtar Pabottingi di atas, barangkali adalah puisi yang muram. Di balik Olympus, Krito, di balik Olympus, adalah gelagat lema yang ditangkap bahasa, tentang Socrates, filsuf yang akhirnya mati –memanggul kebenaran-- tanpa guyah sedikit pun terhadap maut.

Puisi Krito, Senja Saga Di Athena, memang puisi atas rekaman sejarah, tapi dialog Krito dan Socrates, sebenarnya, adalah dialog yang dibutuhkan bagi orang-orang yang merindukan kebenaran seperti Socrates.

Begitulah kebenaran, ikhwal yang akhir-akhir ini lebih banyak membuat polemik daripada suatu ikhtiar yang menyenangkan. Di masa Socrates hidup, kebenaran sesuatu yang musykil ditanggung seseorang daripada akhirnya menyerah untuk menemukannya. Kebenaran, sejauh diandaikan sebagai pencapaian epistemik, atau bahkan ontologis, adalah “sesuatu” yang memang diraih inci demi inci, hasta demi hasta, setapak demi setapak. Dengan kata lain, kebenaran adalah kebenaran, sesuatu yang harus diperjuangkan.

Olympus, kita tahu adalah puncak gunung tempat dewa-dewa Yunani bersemayam. Di sana selain merepresentesekan alam berpikir masyararakat Yunani tentang dunia yang dihuni mahluk-mahluk berkekuatan luar biasa, juga merupakan puncak kebenaran segala pencapaian manusia: keindahan, moral, pengetahuan, nasib…

Ibarat Platon menyebut dunia idea sebagai presentase segala ikhwal, gunung Olympus adalah kulminasi semuanya, termasuk kebenaran.

Itulah sebabnya, di masa-masa Socrates hidup, dunia akan begitu boyak ketika tidak melibatkan kehadiran dewa-dewa sebagai tolok ukurnya. Hidup tanpa bergantung sepenuhnya kepada dewa-dewa bagaikan hidup yang diombang ambingkan gelombang di tengah samudra.

Tapi, pelaut mana yang bisa lahir dari laut yang tenang? Socrates, singkatnya, adalah filsuf yang mengajak “pelaut-pelaut” agar mau menentang arus. Menghadapi gelombang demi gelombang, samudra demi samudra, demi meraih kebenaran.

Di puisi Mochtar, Socrates mengajak sahabatnya Crito –tapi juga sebenarnya semua orang Athena, atau semua manusia—untuk menengok saga, langit orange di balik gunung Olympus. Sesuatu yang sering kali hanya dipahami sebagai background, dari pada suatu pokok dasar.

Dengan kata lain, metafora langit saga, yang ada di balik Olympus adalah “sesuatu” yang sebenarnya harus dicari, diperjuangkan. Bukan apa yang tampak sebagai puncak gunung Olympus, atau berhenti begitu saja di atas bukitnya.

Kebenaran memang tak mudah, ia awalnya samar-samar, dan bersembunyi di balik hijab yang merintanginya.

Rintangan kebenaran di masa Socrates adalah kekuasaan dewa-dewa yang tak lagi adil dan bijaksana. Di sini, atau di mana pun itu, kebenaran merupakan ikhwal yang kadang selalu ditawan kekuasaan.

***

Berbeda dari puisi Mochtar Pabottingi, yang muram, belakangan, seringkali tampak dalam kehidupan berdemokrasi di sekitar kita. Kebenaran yang harus tampak sebagai simbolitas masih bekerjanya nalar kemanusiaan, justru disekat-sekat, bahkan ditawan oleh ambisi-ambisi rendah kekuasaan.

Masih menguatnya isu-isu rasialis, merebaknya hoax, mengerasnya gerakan radikalis keagamaan, diabaikan hak asasi manusia dan perampasan lahan hidup masyarakat Papua, Kasus Munir, Syiah Sampang, Ahmadiyah, 65, dan yang menyedot perhatian waktu dekat belakangan, aksi masyarakat Rembang dan Pati di depan Istana Negara, adalah peristiwa betapa susahnya kebenaran berdiri tegak. Bahkan kebenaran itu mesti diperjuangkan, sebagaimana di hadapan gunung Olympus, di Indonesia, puncak terakhir itu adalah Istana Negara.

Istana Negara, yang menjadi puncak tertinggi hirarki kekuasaan, mesti tahu, kebenaran yang disendat-sendat pada akhirnya akan datang kepadanya. Biarpun itu adalah ikhwal yang awalnya nampak sederhana, tapi seperti yang sudah seringkali terjadi, ikhwal yang sederhana nampak runyam akibat bias kepentingan di dalamnya.

Walaupun demikian, di satu sisi selalu ada harapan, seperti langit saga, --yang dalam puisi Mochtar, Socrates nampak bahagia menatapnya—kebenaran tidak akan pernah mampu dikelabui.

“…Ketahuilah, Krito
Bagiku menjalani hukuman mati
Takkan pernah, seperti katamu, memenangkan
Mereka yang menghendaki kematianku
Maka seumur hidup tak sekali pun kucemaskan
Kematian. Cemasku selalu hanya jika
Aku tak lagi bisa menyimak
Dan berbagi cahaya

Kepalsuan, Krito, takkan pernah mengalahkan
Kebenaran, Sekalipun ia dibelenggu
Berkali-kali kematian

Dan aku bukanlah Oedipus yang terpahat
Kutuk labuda

Aku bukan mainan para dewa…”

Socrates bukanlah Oedipus, yang menjalani takdir panjang nasib yang sudah ditentukan jauh sebelum ia ada. “Aku bukan mainan para dewa”, adalah ikhtisar suatu ikhtiar bahwa apa pun itu segalanya mesti diperjuangkan dimulai dari manusia itu sendiri.

Begitu juga orang-orang yang teguh memperjuangkan nasibnya, ketika kebenaran nampak sumir akibat dipangkas hirarki kekuasaan, mesti memulai bukan dari mana-mana melainkan dari dirinya sendiri.

***

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus.

Hatta, kebenaran memang bukan hal yang lumrah dikatakan jika semuanya nampak biasa mengucapkannya. Kisah Socrates sebenarnya sebaliknya, ketika yang lain dijebak kehidupan yang nampak normal, dia mengutarakan apa yang tak pernah diucapkan di bawah tirani, dengan sungguh-sungguh, dengan berterus terang.

Kini, apa yang tampak benar begitu mudah ditemukan, tapi belum tentu kebenaran itu sendiri.  

“...Di balik Olympus, Krito
di balik Olympus . Senja begitu merah
begitu saga…”

---

*Puisi Mochtar Pabottingi dalam bukunya Konsierto di Tokyo, 2016.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...