25 Februari 2017

Menulis Pahlawan

Mesti dipahami menulis itu bukan tindakan heroik. Atau suatu usaha untuk menunjukan sikap kepahlawanan.

Pahlawan atau hero, memang penokohan yang dicitrakan tanpa cela, atau kesalahan. Dengan begitu pahlawan adalah sosok ideal yang mengatasi segala kecacatan. Dalam segala kisah heroik, pahlawan kadang merumuskan dirinya sebagai sosok yang mengatasi masalah dengan cara "sekali pukul", sebab itulah hero selalu dielu-elukan. Selalu dibangga-banggakan.

Menulis, akibat bukan tindakan heroik, maka dia juga bukan tindakan "sekali pukul". Menulis itu berbeda, dia berproses, dilatih, dan dilatih. Karena itulah wajar jika tidak ada tulisan yang "lengkap", "utuh", dan "universal". Menulis dengan itu adalah tindakan merevisi ide, dan menyusun gagasan. Lagi, lagi, dan lagi.

Atas semua itu, selalu ada tulisan pertama, tulisan kedua, tulisan ketiga, dan begitu seterusnya, hingga sedikit demi sedikit otot kepenulisan terbentuk secara alamiah dan menyempurna. Sampai akhirnya seseorang mahir menyusun gagasan dalam seluruh karya tulis selanjutnya.

Mengapa banyak yang susah menciptakan gagasannya dalam bentuk karya tulis? Itu karena sebagian besar orang-orang selalu mengangap menulis adalah tindakan kepahlawanan. Padahal, menulis itu sederhana, yakni mau berlatih diri, terus dan terus. Menciptakan tulisan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya.

Akhirnya, menulis sebagai suatu aktivitas hanya soal komitmen dan kemauan yang keras. Selama kita masih memiliki gagasan, sesederhana apa pun itu, yakin dan percaya, menulis bukan pekerjaan yang susah dan rumit.


24 Februari 2017

Literasi Kenangan Melawan Pusara Waktu

---terinspirasi dari gagasan Alwy Rachman dalam Anging Mammiri karya Abdul Rasyid Idris.

Bagi penyair, kenangan memudahkan “pekerjaan” kesusastraannya menjadi lebih dinamik. Bahkan kenangan menjadi senyawa aktif untuk menghidupkan bahasa.

Penyair, dan pekerjaan sejenisnya adalah orang-orang yang teguh meriwayatkan kenangan sebagai bagian dari kehidupan eksistensialnya. Masa sekarang kenangan mesti direbut dari “memori buatan” alat-alat canggih, semisal gadget.

Agar kenangan dapat terus mengabadi, maka tiada jalan lain dengan mengangkatnya sebagai literasi kenangan.

Juga, musuh abadi kenangan kadang muncul menjadi berupa sosok-sosok iliterasi. Sosok-sosok iliterasi adalah siapa pun yang hari ini selalu antipati terhadap segala upaya literasi agar dapat terus bergerak dan bekerja sebagaimana fitrahnya.

Sosok iliterasi yang paling nyata di era sekarang, selain teknologi memori buatan adalah negara. Kadang negara menjadi tokoh antagonis untuk memberangus aktivitas anak-anak bangsa demi mengabadikan kenangannya.

Kenangan yang tak lain adalah saudara kembar sejarah, dianggap berbahaya jika itu diparaskan dalam bentuk literasi. Sejarah barangkali memang medan yang selalu dapat dikontrol negara, tapi literasi yang bersifat spontan dan otentik adalah geliat yang sulit diringkus negara demi penertiban ingatan.

Negara yang memusuhi kenangan bisa melakukan apa saja. Apabila dikembalikan kepada perangkat kerja negara berupa aparatus ideologi, maka negara dalam wujudnya yang paling terang adalah totalitarianisme.

Pengalaman Indonesia setengah abad merupakan ilustrasi kongkrit bagaimana kenangan diberangus dan diberlakukan secara diametrial dengan sejarah (ingat sejarah 65). Sejarah yang bersifat derivatif dan analitik, membuat dirinya menjadi kisah yang mudah ditekuk berdasarkan suatu sistem pemikiran tertentu.

Sementara kenangan yang diliterasikan, akibat sifatnya yang spontanik dan otentik memudahkan dirinya bebas bergeliat di antara tenunan sejarah yang dibuat negara.

Itulah sebabnya, sejarah versi negara dan kenangan versi penyair (sastrawan dlsb) merupakan dua ekstrim yang sulit dipertemukan dalam meja dialog. Imbas totalitarianisme negara, meja dialog disingkirkan demi memusuhi kenangan yang transparan menjadi cermin pengingat peristiwa masa lalu.

Literasi kenangan bagi saya pribadi adalah suatu upaya sederhana untuk menyandingkan partikularitas-subjektif berhadap-hadapan dengan segala sistem yang berusaha mengkerangkeng ingatan, negara misalnya. Itu artinya, literasi kenangan yang memerdekakan ingatan mesti mengetahui satu-satunya cara untuk melawan hanya dengan meriwayatkan ingatan menjadi periwayat kenangan.

Akhirnya ini akan kembali kepada suatu kalimat dahsyat: ikatlah ilmu hanya dengan cara menulisnya. Hanya denga menulis, seseorang bakal mengabadi, ucap Pramoedya Ananta Toer.

Literasi kenangan apabila diacu berdasarkan garis waktu, merupakan kerja literatif yang menengahi tegangan masa lalu dengan masa depan. Dengan kenangan, seseorang dapat menghidupi kembali masa lalu dan menerangi masa depan di waktu kekiniannya. Itulah sebabnya mengapa kenangan sangat mudah membuat seseorang mengalami “perasaan mengabadi”, suatu perasaan yang sulit ditampik.

Kenangan memang urusan masa lalu, tapi secara eksistensial dia sulit diantisipasi. Apalagi jika itu kemudian ditangkap menjadi literasi kenangan. Maka dengan sendirinya itu merupakan cara seseorang menghidupi diri dan membesarkan masa depannya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...