12 Januari 2017

Tujuh Literasi yang Bertahan dan Hanya Berakhir Menjadi Bukan Apa-Apa

Sepanjang 2016 kita banyak menemukan esai, artikel, cerpen, opini, puisi, dlsb., dari penulis-penulis hebat yang betebaran melalui media cetak maupun online. Dalam bentuk majalah, buku, koran, dan makalah, tulisan apik itu banyak membuka wawasan kita tentang apa saja. Dari mereka (sebut nama penulis yang Anda sukai di sini), kita banyak belajar mulai dari gagasan, cara pandang, sikap, perasaan, bahkan sampai cara mereka menuliskan itu semua.

Saya meyakini di belakang karya tulis mereka, banyak draf tulisan berupa catatan, ide lepas, daftar ide, atau gagasan sederhana yang masih mentah yang belum sempat disempurnakan menjadi karya utuh. Terkadang catatan itu disimpan dan dituliskan kembali di kemudian hari, atau malah sebaliknya hilang tertumpuk di antara rancangan tulisan-tulisan lainnya.

Di bawah ini tujuh daftar draf tulisan saya sepanjang 2016 yang bertahan dan tersimpan begitu saja tanpa pernah diselesaikan seperti karya tulis lainnya.

Pertama, Aku dan Tubuh yang Tua. Karya ini tidak setua judulnya. Frase tubuh yang tua mungkin saja menyiratkan waktu penanggalan yang cukup panjang, sampai akhirnya hilang di lipatan-lipatan ingatan. Ibarat seorang kakek renta yang kehilangan ingatan tentang usianya. Aku dan Tubuh yang Tua pertama kali dituliskan sekitar tanggal 13 November 2015.

Pertama kali karya ini dikerjakan, dimulai dari ide sederhana tentang organ vital yang kehilangan fungsi-fungsi biologisnya.  Seiring dengan tubuh seseorang yang beranjak uzur, organ vital ini juga ikut mengalami ancaman berupa kematian yang semakin dekat. Akibat semakin tua, organ ini pelan-pelan mati bersama tubuh seseorang tempatnya berada. Begitulah, tulisan ini diniatkan.

Dengan mengambil sudut pandang orang pertama, cerpen ini ingin menarasikan perasaan dan segala peristiwa yang dialami “sang organ” ketika menghadapi hari-hari akhir dan pasca kematian. Dengan meminjam tekhnik stream of consciousness-nya Fyodor Dostoyevsky, cerpen ini dimulai dari “sang organ” yang bercerita tentang dirinya sebagai bagian awal penceritaan.

Tapi apa boleh buat, karya ini tidak bernasib baik. Takdirnya tidak pernah selesai sebelum paragraf kedua. Sekarang saya baru menyadari, tehknik arus kesadaran bukan praktik penulisan yang sama dengan cara menulis pada umumnya.

Seperti bahasa umumnya, di dalam teknik arus kesadaran tergolong dua jenis bahasa. Pertama, bahasa sebelum percakapan (prespeech level). Bahasa ini kesadaran di dalam benak seseorang berupa perasaan, pikiran, prasangka, motivasi dlsb., sebelum diucapkan. Karena sebelum diucapkan, bahasa praucapan bersifat tidak terstruktur, meloncat-loncat, spontanik, dan tidak berdasarkan hukum logis rasional dan dasar-dasar berkomunikasi. Ini seperti celotehan sebelum hukum pikiran berkerja.

Sementara kedua, disebut bahasa saat pengucapan (speech level) yang diatur logika, direncanakan, dan berdasarkan dasar-dasar berkomunikasi. Berkebalikan dari bahasa sebelum percakapan, bahasa level pengucapan merupakan bahasa yang mampu membangun dialog dengan lawan bicara akibat sifatnya yang terbahasakan.

Saya meyakini tehnik penulisan arus kesadaran harus melibatkan kesadaran yang intens. Mentautkan kesadaran kepada seluruh situasi yang melingkupinya. Bahkan bukan saja objek-objek atau pengalaman yang sedang dirasakan, tapi juga peristiwa masa lalu yang dapat membangkitkan kenangan, sensasi, perasaan, dan memori. Melalui semua itu, narasi akhirnya diceritakan dengan berpusat pada “sang aku” sebagai tokoh utamanya.

Akibat sifatnya yang cenderung psikologis dan eksistensialis, dan sifatnya yang spontanik, cerpen saya ini berakhir begitu saja. Tanpa bisa diteruskan sampai paragraf terakhir.

Menyibak yang Akrab dari Obrolan Sederhana Puthut EA, adalah karya kedua yang sebenarnya tinggal ditutup dengan paragraf pamungkas di bagian akhir. Namun akibat dikerjakan bersamaan dengan “keributan” kawan-kawan PB saat itu, tulisan ini berhenti tanpa menyisakan semangat melanjutkannya kembali.

Motivasi tulisan ini diambil dari buku kumpulan cerpen Puthut EA, “Melihat Bebek Mati di Pinggir Kali”, terkhusus mengenai cerpen yang menceritakan dua orang tetangga penghuni vila yang tidak saling mengenal. Akibat hujan yang tiba-tiba jatuh, membuat mereka dapat mengobrol di teras vila setelah salah satu di antaranya terjebak hujan pasca membeli rokok. Kira-kira begitu yang saya ingat narasi cerpen berjudul Obrolan Sederhana itu.


Esai ini sekadar ingin memberikan dan mencatat pandangan saya  tentang ide –yang menurut saya—individualisme, karakter orang kota, kerja, dan sifat khas manusia abad 21 yang dikandung di dalam cerpen Puthut EA itu.

Namun, sampai sekarang Menyibak yang Akrab dari Obrolan Sederhana Puthut EA,  tergeletak begitu saja, seiring dengan jalan cerita cerpen itu yang pelan-pelan hilang dari ingatan saya.

Menulis ide-ide filosif dalam format esai pendek memiliki tantangan tersendiri. Selain harus menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, penggunaan istilah-istilah teknis juga harus diminimalisir. Dan yang paling penting, setiap asumsi-asumsi dari ide tertentu harus runut dan logis sebagaimana sistem pemikiran filsafat itu sendiri.

Ketiga, Keadilan Ilahi: merupakan tema besar filsafat yang harus saya urai seperti aturan di atas. Namun tulisan ini sulit saya tuliskan. Selain pikiran yang kalang kabut, tema ini memang tidak mudah diuraikan. Saya bukan seperti misalnya, Budi F. Hardiman, Mulyadi Kartanegara, Haedar Bagir, Bambang Sugiharto, Yasraf Amir Piliang, atau penulis-penulis filsafat hebat lainnya yang mampu membuat pembahasan filsafat nampak sederhana melalui bahasa yang mereka pakai. Apalagi tulisan ini dibuat untuk menjadi bahan diskusi pada format pelatihan dasar yang notabene masih berat menangkap pemikiran yang menuntut analisis dan kedalaman.  

Ketika tulisan ini dibuat, saya mengalami krisis bacaan berbau filsafat, terutama filsafat Islam. Keadaan semakin parah akibat tidak ditunjang buku-buku referensi yang ketika itu berada jauh di kamar tempat tinggal saya. Hanya bermodal referensi online, semangat saya tiba-tiba semakin lama menjadi kendur. Guyah, kemudian hilang.

Akhirnya, sampai detik ini, draf esai ini saya biarkan begitu saja.

FTV dan Selera Imajinasi yang Buruk merupakan esai keempat tahun 2016 yang juga berimajinasi buruk. Berakhir tragis tanpa tahu kemana ia akan berakhir sempurna. Esai ini dibuat ketika saya merasa sedikit jengkel dengan jalan cerita FTV yang beberapa hari itu sering saya saksikan. Akibat kekurangan tontonan yang bergizi, setiap pagi saya dipaksa menonton karya kreatif yang tidak benar-benar kreatif. Selain semua jalan ceritanya sama, saya merasa orang-orang di balik setiap FTV yang saya saksikan adalah orang yang sama pula dengan selera yang buruk pula. Esai ini dibuat di akhir 2016.  

Yang kelima, Kota dan Cagar Ilmu Pengetahuan. Sepanjang 2016 saya banyak melihat pemberitaan di beberapa daerah tentang pengusiran dan penggusuran paksa komunitas mahasiswa dan literasi yang dilakukan entah pemerintah, militer, dan birokrasi kampus. Peristiwa ini juga berbarengan dengan maraknya larangan pembuatan forum-forum diskusi yang diinisiasi komunitas-komunitas gerakan kiri. Atas beberapa peristiwa itu saya menulis judul di atas.

Kota dan Cagar Ilmu Pengetahuan juga dibayang-bayangi latar peristiwa yang dialami komunitas Pasar Sabtu Makassar yang diusir paksa pemerintah kota dengan dalih keamanan dan keindahan kota. Begitu juga yang dirasakan adik-adik almater saya di UNM yang dilarang berjualan buku di dalam kampus.

Inti dari karya ini ingin menguji pertanyaan-pernyataan kritis tentang kota sebagai ruang publik yang terbuka bagi semua warga dalam mengekspresikan akitvitas perkotaannya. Aktivitas perkotaan salah satunya tentu berupa kegiatan-kegiatan produktif yang berkaitan dengan dimensi edukasi.

Dilihat dari dimensinya, orang-orang yang terlibat terutama adalah kalangan cerdik cendikia yang diwakili kalangan mahasiswa dan ilmuwan, ataupun seniman, penyair, dlsb. Berkaitan dengan aktivitas yang ditemukan dari profesi kaum cerdik cendikia, pertanyaan utamanya, yakni, bagaimanakah kota memberlakukan golongan cerdik cendikia sebagai orang-orang yang bertugas dekat dengan ilmu pengetahuan? Apakah ada ruang perkotaan yang menunjang pekerjaan mereka? Jika ada, seberapa jauhkah kota menyediakan sarana prasarana demi menunjang aktivitas edukasi warganya? Mengapa kota cenderung represif dengan akitivitas mahasiswa walaupun itu berkaitan dengan gerakan literasi? Dlsb.

Tapi ketika tulisan ini dibuat, saya malah mencurahkan energi kepada esai saya yang lain. Imbasnya, esai ini hanya tinggal berupa pertanyaan-pertanyaan yang belum sempat dituliskan jawabannya.

Kota dan Publik Space. Akhir tahun 2016 saya sering berniat ingin menulis esai dengan tema-tema perkotaan.  Tapi keinginan ini belum mampu saya realisasikan. Selalu ada tema-tema lain yang membuat saya “kegatelan” agar dituliskan. Akhirnya seperti nasib rencana tulisan yang lain, karya keenam ini hanya bisa saya tunaikan sampai di judulnya saja.

Yang ketujuh, serial Madah. Ini adalah proyek literasi pribadi saya yang paling ambisius. Saya mulai mengerjakannya tahun 2015. Esai ini diinspirasi dari Catatan Pinggir-nya Goenawan Mohamad. Tapi, jika GM menulis Caping seminggu sekali, saya justru satu esai satu hari. Itulah sebabnya mengapa saya sebut ambisius.

Esai ini membawa satu gaya menulis yang tidak biasa, yakni tidak diperuntukkan memakan berlembar-lembar halaman kertas. Cukup selembar saja selagi bisa mewadahi perasaan, keresehan, sudut pandang, atau sikap saya atas beragam fenomena yang saya saksikan sehari-hari. Karena tidak mematok tema tertentu, serial Madah bisa menyasar pokok soal apa saja. Bahkan, pernah saya menyoal suara azan yang kerap biasa kita dengarkan. Inti dari serial Madah sebenarnya berusaha membuka persolaan walaupun dimulai dari tema-tema sederhana.

Namun, di sisi lain, Serial Madah membawa beban tersendiri bagi saya. Kesulitan serial Madah ini adalah saya harus memiliki banyak ide agar mampu menyelesaikan satu esai setiap malam. Ditambah beragamnya aktivitas dari pagi hingga sore, terkadang membuat saya kewalahan menulisnya tiap malam. Saya sering kehabisan energi. Kadang juga kepala saya kosong tanpa ide satupun untuk dituliskan.

Akhirnya, cara mentaktisi kesulitan saya itu hanya dengan membaca buku. Maka hampir di tiap malam saya harus membuka lembaran-lembaran kertas buku hanya untuk mencari ide di dalamnya.  

Selain itu, saya sering kali sengaja mengajak seseorang untuk berdiskusi di siang harinya hanya untuk menemukan satu proposisi sederhana yang bisa saya bawa pulang dan dijadikan ide menulis di saat malam kelak. Dengan dua cara itu, saya sering kali terseok-seok menulis tanpa henti tiap harinya. Tapi apa boleh buat, ini proyek ambisius saya.

Sekarang, proyek literasi yang hanya bisa saya lakukan kurang dari dua bulan itu, berhenti di serial Madah 54. Ketika menulis serial terakhir Madah, saya hanya berniat: suatu saat saya harus melanjutkannya kembali.

Syahdan, sampai sekarang saya hanya menunggu semacam perspektif baru untuk dapat melanjutkan kembali ketujuh draf yang sekarang berakhir bukan seperti apa-apa.

11 Januari 2017

Agama Layar Kaca dan Kebimbangan Massal Abad 21


Jean Baudrillard. 
Pakar teori kebudayaan, filsuf cum sosiolog asal Prancis. 
Karya Baudrillard seringkali dikaitkan dengan pascamodernisme dan pascastrukturialisme. 
Salah satu konsepnya yang terkenal: Simulakrum.

Era kiwari, hampir semua kenyataan yang ditangkap diperantai layar kaca. Fenomena ini merupakan perjalanan panjang cara masyarakat mencandrai realitas sekitarnya. Dimulai dengan pancaindera, teleskop, mikroskop, kertas, dan akhirnya layar kaca, perangkat-perangkat yang memperpanjang “tubuh-indera” masyarakat memahami kehidupan. Bahkan mutakhir, layar kaca berubah jauh lebih efektif dan efisien dalam wujudnya yang paling baru: screen smartphone.

Berubahnya wujud layar kaca juga menandai peralihan cara masyarakat berinteraksi. Melalui layar kaca televisi, model interaksi masyarakat hanya bersifat satu arah, monoton, dan pasif. Namun, melalui screen smartphone (dengan basis internet), interaksi terjadi bersifat dua arah, kompleks, dan aktif.

Perubahan ini pada akhirnya membuat cara interaksi masyarakat menjadi jauh lebih revolusioner. Akibat bersifat dua arah, masyarakat tidak lagi sekadar konsumen, melainkan turut ikut menjadi produsen informasi. Posisi masyarakat demikian membuat komunikasi jauh lebih interaktif. Belakangan, screen smartphone berubah bukan sekadar layar kaca yang merepresentasekan segala informasi, tapi dunia itu sendiri.

Dunia layar kaca

Yasraf Amir Pilliang dalam Dunia yang Dilipat, menandai peralihan masyarakat industri menuju masyarakat pascaindustri dengan tumbuhnya generasi masyarakat yang berinteraksi atas basis screen. Kemajuan teknologi yang begitu cepat telah mengambil fungsi masyarakat sebagai entitas pertukaran interaksi dan komunikasi menjadi hubungan yang dimediasi layar.

Artinya, di dalam menunjang aktivitas sehari-hari, layar menjadi penting. Tanpa layar, kehidupan interaktif masyarakat akan berhenti total. Apalagi, di saat yang bersamaan layar tidak mandiri menjadi alat yang terpisah dari jaringan network berbasis virtual. Kebutuhan terhadap dua hal ini secara organik telah aplikatif di dalam kerja-kerja produktif masyarakat.

Dalam konteks masyarakat informatif, layar ikut menunjang bergesernya paradigma masyarakat terhadap kebutuhannya dalam menemukan informasi. Kemampuan adaptatif layar yang lebih portabel dibanding kertas koran ataupun majalah (dan juga televisi dan radio), membuat layar satu-satunya pilihan utama untuk merepresentasikan beragam kejadian di sekitar kita.

Melalui layar sebagai kekuatan besar perwakilan dunia, membuat segala hal harus diwakilkan melalui layar kaca. Ini akhirnya membuat kenyataan nampak jauh lebih mudah sekaligus rumit. Salah satu penyebab hal ini karena layar kaca bukan lagi sekadar screen yang membingkai kenyataan, tapi ikut mengubah, bahkan membuat dunia baru yang jauh berbeda dan lebih kompleks.

Akibatnya, pengambilalihan realitas oleh layar kaca, membalikkan persepsi layar kaca sebagai dunia. Peralihan realiti kongkrit menjadi dunia layar kaca adalah ciri-ciri pergeseran makna ontologis yang menempatkan layar kaca sebagai satu-satunya realiti dunia itu sendiri.

Manipulasi layar kaca

Layar dalam media komunikasi telah menjadi realitas yang mengamputasi dunia sebenarnya. Reality (gambar, foto, sinema, bahasa, meme, logo) yang direpresentasikan dalam layar merupakan jalinan penandaan dan simbol-simbol yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Melalui jalinan simbol inilah dunia direpresentasikan yang mengubah basis kenyataan. Dengan cara ini pula, hubungan ekonomi, konsumsi, politik, kebudayaan, dan pengetahuan dibangun dan direpresentasikan.

Kompleksnya jaringan penandaan dan simbol di dalam layar kaca, tidak serta merta membuat pemahaman jauh lebih mudah. Terkadang tidak ada hubungan pemaknaan antara penanda dan yang ditandakan, antara simbol dan yang disimbolkan, sehingga membuat relasi keduanya nampak membingungkan. Ibarat penandaan yang dinyatakan dalam simbol dunia sinema yang terkadang tidak dapat dirujuk di dalam alam kenyataan sesungguhnya.

Kebingungan terhadap sistem penandaan dan simbol, dinyatakan Baudrillard sebagai biang dari simulakrum. Simulakrum dalam pernyataan Baudrillard ibarat dunia fantasi yang kehilangan hubungan pemaknaan dari dunia sebenarnya. Kemampuan simulakrum yang dapat memfantasikan kenyataan, juga sekaligus mampu menghilangkan representasi dunia dengan menghadirkan dunia baru berupa dunia imajinatif dan maya.  

Bentuk kongkrit simulakrum seperti ditunjukkan maraknya iklan yang mereprentasikan dunia imajinatif dan fantasi melalui keberadaan produk. Simbol produk iklan beserta dengan jalinan cerita di dalamnya, hanyalah penampakan simbolikum yang memalsukan kenyataan. Sistem simbol dan jalinan penandaan di dalam iklan akhirnya bukan merujuk kepada dunia di luarnya, melainkan dunia fantasi dan imajinasi yang diciptakannya sendiri.

Terputusnya jalinan pemaknaan dari dunia di luar simulakrum, berimplikasi terhadap nihilnya pemaknaan yang dapat ditangkap sebagai pesan. Selain fantasi dan imajinasi, makna hanyalah kekosongan yang dibuat-buat oleh keduanya. Imbasnya, krisis ini dinyatakan Baudrillard sebagai kebimbangan realitas.

Irisan simulakrum

Agama merupakan pesan yang diwahyukan kepada nabi-nabi untuk mengangkat harkat manusia. Secara kolektif, agama diperuntukkan untuk membangun peradaban. Membuat masyarakat beradab yang terdiri dari komunitas bermartabat.

Sepanjang sejarah, nabi menjadi representasi tuhan di muka bumi. Menjadi pemimpin menjadi pengayom. Dengan cinta kasih, disiplin, dan sejumlah kualifikasi paripurna, nabi menjadi sokoguru peradaban. Melaluinya kenyataan menjadi terang.

Sekarang kedaan dunia pasca masa kenabian dunia yang jauh berbeda. Dalam agama, segala sumber informasi “ditampung” di atas lauf mahfus, dan nabi sebagai penyampai dan pembawa pesannya. Era mutakhir, saat agama bukan lagi satu-satunya sumber informasi, lahir satu sumber baru yang tidak kalah dahsyatnya: internet.

Keberadaan internet yang diperantai layar kaca memang banyak mengubah dunia. Melalui mesin-mesin pencari, dunia jauh lebih dekat, mini, dan mungil. Hambatan-hambatan yang sebelumnya ditemukan akibat jarak geografis, melalui internet berubah jauh lebih mudah, efektif, dan efisien.  

Sudah disebutkan sebelumnya, akibat sentral dan pentingnya layar kaca dan jaringan internet, membuat semuanya harus dinyatakan dalam perwujudan layar kaca. Apalagi segala informasi yang memenuhi lalu lintas interaksi masyarakat hanya bisa massif dan komunikatif melalui screen berbasis internet.

Konteks kekinian, agama sudah banyak beririsan dengan dunia layar kaca. Di dalam layar kaca, agama menjadi realitas baru yang berbeda dari paras asli agama itu sendiri. Melalui representasi simbol-simbol (gambar, sinema, suara, foto, bahasa, meme, logo) dan jaringan pemaknaan yang kompleks, agama mengalami penyusutan atau bahkan pendangkalan nilai agama.

Agama dengan parasnya yang direpresentasekan layar kaca, selain mengalami modifikasi melalui simbol-simbol, juga mengalami irisan langsung simulakrum. Irisan ini sedikit banyaknya mengubah status ontologis agama dari agama yang bernilai sakral berubah bernilai fantasi. Transformasi ini otomatis ikut mendangkalkan nilai agama menjadi hanya sekadar imajinasi belaka.

Agama layar kaca

Imbas irisan simulakrum, paras agama yang ditunjukkan melalui simbol-simbol, bahasa, dan penandaan sistem tanda tidak berbeda jauh dengan simbol-simbol lainnya. Simbol-simbol agama dengan makna yang dirujuk melalui sistem penandaan, bisa mengalami bias, atau bahkan hilang sama sekali. Biasnya penanda dan makna yang dirujuk dari suatu simbol agama, berimplikasi kepada hilangnya makna asli agama.

Hilangnya makna asli agama, pada akhirnya membuat paras agama seperti lapisan gelas kaca. Tiada apapun yang mampu dirujuk di dalamnya selain kebeningan kaca itu sendiri. Makna apapun yang akan disematkan di dalamnya hanyalah cahaya bias yang dibelokkan dinding bening kaca.

Di dalam layar, paras agama yang tidak merujuk kepada makna apapun, akhirnya termodifikasi berdasarkan kepentingan ideologi tertentu. Melalui konteks ini, agama mengalami pelucutan dua kali secara bertahap. Pertama, agama menjadi realitas simulakrum yang mencipatakan paras agama fantasi, kedua, agama menjadi perwujudan dari kepentingan ideologi itu sendiri.

Melalui dua level inilah sehingga agama menjadi komoditi yang harus mengikuti pasar sebagai ideologi yang berada di balik layar. Di level kedua, ideologi bukan saja bisa melakukan representasi atas kenyataan tertentu, bahkan melakukan pembalikan dengan cara misrepresentasi. Artinya, agama dalam hal ini mengalami perubahan berdasarkan cara kerja ideologi pasar.

Empat model misrepresentasi agama

Empat model misrepresentasi ini diambil dari praktik media massa yang kerap memodifikasi pemberitaan berdasaarkan ideologi yang dianutnya. Dalam kaitannya dengan agama sebagai bagian dari komoditas, maka wajah agama juga tidak terlepas dari empat model misrepresentasi.

Pertama, ekskomunikasi.  Istilah ini mengacu ke dalam situasi ketika agama atau bagian-bagian agama dijauhkan dari komunikasi publik. Dalam hal ini, subtansi agama yang asli dikeluarkan dari lalu lintas interaktif media di layar kaca dengan hanya menyisakan tampakan-tampakan luarnya saja. Simbol-simbol eksoteris agama yang mengalami modifikasi ekskomunikasi, di saat yang bersamaan menghilangkan simbol esoteris agama yang menjadi inti dari agama itu sendiri. Proses ekskomunikasi juga berarti membuat simbol inti agama menjadi “the other” yang tidak layak diperhatikan.

Kedua, eksklusi. Yang diandaikan melalui eksklusi adalah penyingkiran secara bertahap simbol-simbol inti agama dari layar sebagai mediasi realitas. Dalam konteks agama layar kaca, penyingkiran paras subtansi agama menjadi simbol-simbol yang dikucilkan karena sifatnya yang bertentangan dengan ideologi pasar.  

Marginalisasi adalah model misrepresentasi yang ketiga. Pengertian ini mengacu kepada penggambaran buruk simbol-simbol agama melalui manipulasi gambar, foto, ataupun bahasa. Di model ini, simbol agama layar kaca lebih menyerupai penampakan-penampakan yang berlawanan dengan agama itu sendiri.

Marginalisasi juga beroperasi dengan menggunakan bahasa eufimisme atau disfemisme untuk menghaluskan makna-makna inti agama, atau sebaliknya, membuat bahasa-bahasa agama menjadi terdengar kasar.

Keempat merupakan delegitimasi, berupa penghapusan legitimasi simbol, gambar, dan bahasa agama yang menjadi inti ajaran agama menjadi tidak sahih dan absah. Melalui ideologi pasar, delegitimasi agama bertujuan untuk menghilangkan perintah-perintah, makna, atau simbol agama yang bertentangan dengan ideologi pasar itu sendiri.

Agama layar kaca yang telah mengalami pelucutan dari semangat, motivasi, konteks, dan ajaran aslinya, dengan sendirinya mengalami kekosongan yang akan memberikan ruang besar kepada simbol-simbol agama fantasi yang menggantikan makna dan simbol agama sesungguhnya. Agama fantasi yang diandaikan di sini seperti yang sudah diutarakan sebelumnya, yakni agama yang menjadi realitas simulakrum itu sendiri.

Kebimbangan massal abad 21

Sudah disebutkan sebelumnya, hilangnya hubungan pemaknaan antara kesadaran manusia dengan realitas asli imbas fantasi dan imajinasi simulakrum mengakibatkan kebimbangan makna. Malangnya, akibat layar begitu massif digunakan masyarakat sebagai satu-satunya dunia kehidupan, mengakibatkan kebimbangan semakin eskalatif menghinggapi komunitas masyarakat luas.

Massalnya kebimbangan pemaknaan juga dianut oleh penganut agama itu sendiri. Agama layar kaca yang hanya memberikan pencitraan simulakrum dan realitas palsu menjadi sebab utama fenomena ini terjadi. Ibarat kehilangan pegangan normatif yang dipreteli kepentingan ideologi di balik layar, mengakibatkan krisis berkepanjangan yang bersifat patologis.

Patologi abad dua satu ini dapat disimak dari banyaknya pemahaman keagamaan yang salah kaprah. Akibat agama fantasi simulakrum, banyak praktik-praktik keagamaan yang berujung kepada histeria akut berupa fundamentalisme agama. Keinginan jalan pintas meraih kehidupan layak melalui kekerasan agama, adalah salah satu contoh betapa pemahaman keagamaan saat ini telah dikooptasi agama layar kaca.

Syahdan, kebimbangan massal abad dua satu akibat hilangnya relasi pemaknaan terhadap agama yang asli, merupakan akibat tidak langsung minimnya peran literasi media dalam mengupayakan perbaikan pemahaman atas sifat dan karakter realitas berbasis layar. Dan, yang paling utama adalah masih minimnya peran agamawan dalam menyikapi agama layar kaca yang banyak mempreteli spirit dan nilai agama yang sebenarnya. Sampai di sini, salah satu cara melawan kebohongan dan kepalsuan agama layar kaca, tentu dengan menyiapkan perangkat-perangkat kritis berupa, salah satu misalnya, akal sehat.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...