24 Desember 2016

Kala Mamak di Bulan Desember dan Remah-Remah Ingatan

Baru saja mamak menelepon. Belakangan dia memang sering ke Makassar. Sudah kebiasaannya jika di Makassar mamak pasti memberi kabar. Kali ini seperti yang mamak bilang, bersama sepupu-sepupunya berkunjung dari rumah keluarga satu ke keluarga lainnya untuk mappaisseng. 

Mappaisseng merupakan tradisi Bugis-Makassar saling mengabarkan sanak keluarga jika ingin melangsungkan pernikahan.

Belakangan ini saya ingin menulis sesuatu tentang mamak. Sering kali jika berkendara di atas motor, pikiran saya berkelabat berusaha menembus masa silam mengenang beragam kejadian bersama mamak.

Mulai dari saat mamak mengantar saya ke sekolah untuk pertama kalinya, saat saya dimandikan di kala pagi hari yang dingin. Ketika mamak membuat bubur kacang hijau, atau ketika saya mengingat suatu malam kemarahan mamak yang meledak-ledak sembari menangis akibat seringnya saya keluyuran hingga dini hari.

Kala itu saya hanya ikut menangis akibat kemarahan mamak yang tak biasa. Sembari memukul-mukul dada merasakan kekhawatiran sambil memendam rasa amarah, raut mukanya justru meneteskan air mata.  Malam itu, kala semua orang tengah tertidur pulas, saya malah membuat mamak tak mampu menutup mata akibat menunggu anaknya yang tak kunjung pulang.

Saya sudah tak ingat seperti saya sulit menghitung jumlah uang yang sering kali saya curi diam-diam dari dompet mamak,  berapa kali membuat mamak harus marah-marah dan membuat tidurnya tidak tenang.

Di saat berkendara belakangan ini niat menulis sesuatu tentang mamak lebih sering menghinggapi benak saya akibat Desember bulan mamak berulang tahun.

Kadang saya berpikir kado apa yang paling pantas untuk diberikan selain doa yang hanya bisa saya panjatkan diam-diam. Apalagi, saya ingat persis selama ini tak pernah memberikan ucapan kepada mamak secara langsung ketika dia berulang tahun.

Saling memberikan ucapan perayaan ulang tahun memang tidak lazim kami lakukan. Jika tiba hari ulang tahun satu di antara kami, maka yang sering kali dilakukan hanyalah saling mengingat bahwa hari ini fulan bin fulan berulang tahun.

Kami memang sedikit kikuk jika harus melakukan hal-hal yang tidak biasa diperbuat. Bagi kami ucapan hanyalah ucapan. Di luar dari itu, yang terpenting semua berjalan sebagaiamana biasanya.

Desember bagi mamak berarti juga Desember yang sama bagi kedua saudara saya. Selain dirinya, kakak dan adik saya lahir di bulan yang sama dengan mamak. Secara berturut-turut selama dua minggu, mamak dan kedua saudara saya bergantian merayakan hari ulang tahunnya.

Sementara jika Maret dan Desember kami merayakan ulang tahun, saya tidak pernah tahu kapan tanggal bapak berulang tahun. Bapak sudah tidak mengingat bulan dan tanggal pasti kapan ia dilahirkan. Jika harus mengingat, bapak hanya bisa menyebut tahun untuk menandai hitungan usianya.

Saya menduga, bapak seperti orang-orang tua lainnya lahir di dalam situasi ketika suatu keluarga tidak menganggap penting catatan kelahiran. Saya tidak tahu apakah di masa itu akte kelahiran sudah mulai digunakan. Atau, apakah pencatatan macam demikian memang dianggap penting di masa itu. Toh apabila penting, lantas untuk apa?

Sekarang, memori seseorang sangat tergantung kepada angka-angka yang dijadikan tanda peristiwa penting. Bagi orang yang dulu mengabadikan kejadian-kejadian penting  dengan menggunakan kamera rol film, di balik foto yang telah dicuci diterakan tanggal kapan kejadian itu dibuatkan fotonya. Cara seperti ini masih saya temukan saat orang-orang mengoleksi buku-buku album foto yang disimpan rapi-rapi di almari mereka.

Di rumah mamak juga melakukan hal yang sama. Ketika saya masih di sekolah dasar, saya sering membongkar-bongkar album foto keluarga. Bahkan, seringkali satu tas berwarna abu-abu yang berisi tumpukan foto. Di situ saya sering mencari gambar-gambar yang tidak pernah saya alami.  Atau, ketika penasaran ingin melihat diri saya yang masih bayi.


23 Desember 2016

Guy Fawkes dan Simbol

Saya senang jika harus menonton kembali film V For Vendetta. Film itu seperti mewakili apa yang saya yakini. Revolusi, di mana pun itu, hanya bisa terjadi jika dibangun dari orang banyak. Film itu memang bicara kolektifitas, sesuatu yang jarang ditemukan belakangan ini.  

Tapi, era kiwari siapa yang mau berbicara tentang revolusi? Atau bahkan melakukannya? Ada keyakinan tak terucapkan, revolusi telah lewat. Ideologi, pikiran yang berada di belakang setiap revolusi sudah mati. The end of ideology, begitu pendakuan sebagian ilmuwan sosial. 

Revolusi kadang hanya bisa diyakini jika itu memang betul-betul diperlukan. Keyakinan ini tentu berbeda dari setiap orang. Di setiap ceruk keyakinan orang-orang, iman atas perubahan sangat ditentukan dari lingkungan di mana dia hidup. 

Dalam film V for Vendetta, V, tokoh yang selalu mengenakan topeng Guy Fawkes itu, menganggap orang-orang yang dirundung ketakutan merupakan ihwal kehidupan yang  menjemukan. Pemerintah yang banyak bicara melalui layar kaca adalah teror yang harus dilawan. 

Karena itu V bertindak. Dengan mimiknya yang khas dia merekrut seorang "kader" perempuan. Di susunnya suatu rencana menghancurkan gedung parlemen. 5 november rencananya itu kabul setelah satu tahun menyusun rencananya. 

***

V sebenarnya hanyalah simbol. Itulah mengapa dia menggunakan topeng Guy Fawkes, tokoh sejarah perlawanan di Inggris. Sebagai simbol berarti itu bisa mewakili apa saja. Suara orang-orang banyak, misalnya.

Saya menyadari, topeng yang bermimik pria berkumis senyum itu dipakai V untuk menunda ambisi pribadinya. Topeng dipakainya untuk menutupi motif-motif di balik dirinya.

Saya mengira, V menyadari, untuk merencanakan perubahan besar tidak boleh melibatkan egosentrisme pribadi. Topeng hanyalah topeng sejauh dia menutupi yang persona dari seseorang.

Itulah sebabnya, ketika tiba di tanggal 5 November, orang ramai turun ke jalan menggunakan topeng Guy Fawkes. Satu simbol satu keyakinan tanpa tendensi pribadi ikut terlibat di dalam rencana V: meruntuhkan gedung parlemen Inggris.

***

Belakangan ini isu simbol menguat di permukaan. Masyarakat dibikin sensitif terhadap simbol-simbol, juga atribut.

Simbol memang penting sejauh  itu mempertautkan makna apa di belakangnya. Juga, simbol hanyalah penampakan belaka jika tak memiliki arti apa-apa.

Kadang kita dibuat tolol dari orang-orang yang sibuk menyoal simbol. Simbol, apapun model dan jenisnya hanyalah sign, tanda, bukan “substansi”. Simbol hanyalah label, bukan isi.

Antara “isi” dan “label”, “tanda” dan “makna”, tidak selamanya koheren. Apa yang nampak belum tentu mewakili apa yang ingin ditampakkan. Di antara “simbol” dan “arti” terdapat ruang yang begitu rentan dibelokkan, atau bahkan tidak mewakili apa-apa.

Jadi apa soal sebenarnya? Jika simbol hanya dibiarkan sebagai tanda kosong tanpa pemaknaan. Atau, makna itu, apa yang kita katakan “arti,” ternyata sesuatu yang sudah kita bentuk sebelumnya di dalam kesadaran.  Sehingga simbol hanya bermakna karena bukan karena simbol itu sendiri, melainkan arti yang kita sematkan kepadanya.

Di sinilah soal sebenarnya, ketika simbol dibawa-bawa dalam pengertian yang dibentuk sebelumnya sesuai keinginan seseorang. Itu berarti suatu simbol dianggap bermakna karena seseorang yang “mendesakkan” arti terhadapnya.

Akhirnya, seakan-akan simbol-simbol penting dipersoalkan. Padahal itu tergantung dari mana seseorang melihatnya. Bagaimana simbol itu diartikan dimulai dari persepsi seseorang.

Bahkan makna pada hakikatnya persis seperti seseorang menggenggam air. Tak ada yang mampu ditetapkan sebagai pesan di sana. Arti, atau makna atas sesuatu  simbol sesungguhnya bukan entitas yang dapat diraih. Sepenuhnya hanyalah “jejak” makna, bukan makna itu sendiri. Begitu kira-kira menurut Derrida.

Jadi apa yang hendak dirujuk dari simbol sesungguhnya hanyalah mirip kata-kata dalam kamus. Ketika kita mencari arti maka setiap kata akan merujuk kepada kata yang lain, dan kata yang lain itu akan merujuk kepada kata yang lain lagi. Begitu seterusnya, sehingga makna sesungguhnya hanyalah arti yang di dapatkan dari “bekas-bekas” makna yang dirujuk dari setiap kata yang saling menunjuk.

Lalu apa yang dipersoalkan sesungguhnya?

***

Seperti disebutkan sebelumnya, V hanyalah simbol. Lantas untuk siapakah V bersuara dalam V For Vendetta?

Saya kira simbol topeng Guy Fawkes bukan mewakili apa yang sudah mapan. Justru, melalui Guy Fawkes, V hendak bersuara atas orang-orang yang tidak pernah diperhitungkan. Orang-orang yang tidak pernah ditetapkan sebagai bagian yang penting. Orang-orang yang disisihkan. Atau orang-orang yang tidak pernah terwakili suara dan harapan-harapannya.

Saya kira, di luar sana banyak orang yang belum terwakili apa-apa. Sementara di waktu bersamaan, simbol-simbol banyak tidak mewakili apa-apa.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...