Baru saja mamak menelepon.
Belakangan dia memang sering ke Makassar. Sudah kebiasaannya jika di Makassar
mamak pasti memberi kabar. Kali ini seperti yang mamak bilang, bersama
sepupu-sepupunya berkunjung dari rumah keluarga satu ke keluarga lainnya untuk
mappaisseng.
Mappaisseng merupakan tradisi Bugis-Makassar saling mengabarkan
sanak keluarga jika ingin melangsungkan pernikahan.
Belakangan ini saya ingin
menulis sesuatu tentang mamak. Sering kali jika berkendara di atas motor,
pikiran saya berkelabat berusaha menembus masa silam mengenang beragam kejadian
bersama mamak.
Mulai dari saat mamak mengantar
saya ke sekolah untuk pertama kalinya, saat saya dimandikan di kala pagi hari
yang dingin. Ketika mamak membuat bubur kacang hijau, atau ketika saya
mengingat suatu malam kemarahan mamak yang meledak-ledak sembari menangis
akibat seringnya saya keluyuran hingga dini hari.
Kala itu saya hanya ikut
menangis akibat kemarahan mamak yang tak biasa. Sembari memukul-mukul dada
merasakan kekhawatiran sambil memendam rasa amarah, raut mukanya justru
meneteskan air mata. Malam itu, kala semua orang tengah tertidur pulas,
saya malah membuat mamak tak mampu menutup mata akibat menunggu anaknya yang
tak kunjung pulang.
Saya sudah tak ingat seperti
saya sulit menghitung jumlah uang yang sering kali saya curi diam-diam dari
dompet mamak, berapa kali membuat mamak harus marah-marah dan membuat tidurnya
tidak tenang.
Di saat berkendara belakangan
ini niat menulis sesuatu tentang mamak lebih sering menghinggapi benak saya
akibat Desember bulan mamak berulang tahun.
Kadang saya berpikir kado apa
yang paling pantas untuk diberikan selain doa yang hanya bisa saya panjatkan
diam-diam. Apalagi, saya ingat persis selama ini tak pernah memberikan ucapan
kepada mamak secara langsung ketika dia berulang tahun.
Saling memberikan ucapan
perayaan ulang tahun memang tidak lazim kami lakukan. Jika tiba hari ulang
tahun satu di antara kami, maka yang sering kali dilakukan hanyalah saling
mengingat bahwa hari ini fulan bin fulan berulang tahun.
Kami memang sedikit kikuk jika
harus melakukan hal-hal yang tidak biasa diperbuat. Bagi kami ucapan hanyalah
ucapan. Di luar dari itu, yang terpenting semua berjalan sebagaiamana biasanya.
Desember bagi mamak berarti juga Desember yang sama bagi kedua saudara saya. Selain dirinya, kakak dan adik saya lahir di bulan yang sama dengan mamak. Secara berturut-turut selama dua minggu, mamak dan kedua saudara saya bergantian merayakan hari ulang tahunnya.
Sementara jika Maret dan
Desember kami merayakan ulang tahun, saya tidak pernah tahu kapan tanggal bapak
berulang tahun. Bapak sudah tidak mengingat bulan dan tanggal pasti kapan ia
dilahirkan. Jika harus mengingat, bapak hanya bisa menyebut tahun untuk
menandai hitungan usianya.
Saya menduga, bapak seperti
orang-orang tua lainnya lahir di dalam situasi ketika suatu keluarga tidak
menganggap penting catatan kelahiran. Saya tidak tahu apakah di masa itu akte
kelahiran sudah mulai digunakan. Atau, apakah pencatatan macam demikian memang
dianggap penting di masa itu. Toh apabila penting, lantas untuk apa?
Sekarang, memori seseorang
sangat tergantung kepada angka-angka yang dijadikan tanda peristiwa penting.
Bagi orang yang dulu mengabadikan kejadian-kejadian penting dengan
menggunakan kamera rol film, di balik foto yang telah dicuci diterakan tanggal
kapan kejadian itu dibuatkan fotonya. Cara seperti ini masih saya temukan saat
orang-orang mengoleksi buku-buku album foto yang disimpan rapi-rapi di almari
mereka.
Di rumah mamak juga melakukan
hal yang sama. Ketika saya masih di sekolah dasar, saya sering
membongkar-bongkar album foto keluarga. Bahkan, seringkali satu tas berwarna
abu-abu yang berisi tumpukan foto. Di situ saya sering mencari gambar-gambar
yang tidak pernah saya alami. Atau, ketika penasaran ingin melihat diri
saya yang masih bayi.