23 Desember 2016

Guy Fawkes dan Simbol

Saya senang jika harus menonton kembali film V For Vendetta. Film itu seperti mewakili apa yang saya yakini. Revolusi, di mana pun itu, hanya bisa terjadi jika dibangun dari orang banyak. Film itu memang bicara kolektifitas, sesuatu yang jarang ditemukan belakangan ini.  

Tapi, era kiwari siapa yang mau berbicara tentang revolusi? Atau bahkan melakukannya? Ada keyakinan tak terucapkan, revolusi telah lewat. Ideologi, pikiran yang berada di belakang setiap revolusi sudah mati. The end of ideology, begitu pendakuan sebagian ilmuwan sosial. 

Revolusi kadang hanya bisa diyakini jika itu memang betul-betul diperlukan. Keyakinan ini tentu berbeda dari setiap orang. Di setiap ceruk keyakinan orang-orang, iman atas perubahan sangat ditentukan dari lingkungan di mana dia hidup. 

Dalam film V for Vendetta, V, tokoh yang selalu mengenakan topeng Guy Fawkes itu, menganggap orang-orang yang dirundung ketakutan merupakan ihwal kehidupan yang  menjemukan. Pemerintah yang banyak bicara melalui layar kaca adalah teror yang harus dilawan. 

Karena itu V bertindak. Dengan mimiknya yang khas dia merekrut seorang "kader" perempuan. Di susunnya suatu rencana menghancurkan gedung parlemen. 5 november rencananya itu kabul setelah satu tahun menyusun rencananya. 

***

V sebenarnya hanyalah simbol. Itulah mengapa dia menggunakan topeng Guy Fawkes, tokoh sejarah perlawanan di Inggris. Sebagai simbol berarti itu bisa mewakili apa saja. Suara orang-orang banyak, misalnya.

Saya menyadari, topeng yang bermimik pria berkumis senyum itu dipakai V untuk menunda ambisi pribadinya. Topeng dipakainya untuk menutupi motif-motif di balik dirinya.

Saya mengira, V menyadari, untuk merencanakan perubahan besar tidak boleh melibatkan egosentrisme pribadi. Topeng hanyalah topeng sejauh dia menutupi yang persona dari seseorang.

Itulah sebabnya, ketika tiba di tanggal 5 November, orang ramai turun ke jalan menggunakan topeng Guy Fawkes. Satu simbol satu keyakinan tanpa tendensi pribadi ikut terlibat di dalam rencana V: meruntuhkan gedung parlemen Inggris.

***

Belakangan ini isu simbol menguat di permukaan. Masyarakat dibikin sensitif terhadap simbol-simbol, juga atribut.

Simbol memang penting sejauh  itu mempertautkan makna apa di belakangnya. Juga, simbol hanyalah penampakan belaka jika tak memiliki arti apa-apa.

Kadang kita dibuat tolol dari orang-orang yang sibuk menyoal simbol. Simbol, apapun model dan jenisnya hanyalah sign, tanda, bukan “substansi”. Simbol hanyalah label, bukan isi.

Antara “isi” dan “label”, “tanda” dan “makna”, tidak selamanya koheren. Apa yang nampak belum tentu mewakili apa yang ingin ditampakkan. Di antara “simbol” dan “arti” terdapat ruang yang begitu rentan dibelokkan, atau bahkan tidak mewakili apa-apa.

Jadi apa soal sebenarnya? Jika simbol hanya dibiarkan sebagai tanda kosong tanpa pemaknaan. Atau, makna itu, apa yang kita katakan “arti,” ternyata sesuatu yang sudah kita bentuk sebelumnya di dalam kesadaran.  Sehingga simbol hanya bermakna karena bukan karena simbol itu sendiri, melainkan arti yang kita sematkan kepadanya.

Di sinilah soal sebenarnya, ketika simbol dibawa-bawa dalam pengertian yang dibentuk sebelumnya sesuai keinginan seseorang. Itu berarti suatu simbol dianggap bermakna karena seseorang yang “mendesakkan” arti terhadapnya.

Akhirnya, seakan-akan simbol-simbol penting dipersoalkan. Padahal itu tergantung dari mana seseorang melihatnya. Bagaimana simbol itu diartikan dimulai dari persepsi seseorang.

Bahkan makna pada hakikatnya persis seperti seseorang menggenggam air. Tak ada yang mampu ditetapkan sebagai pesan di sana. Arti, atau makna atas sesuatu  simbol sesungguhnya bukan entitas yang dapat diraih. Sepenuhnya hanyalah “jejak” makna, bukan makna itu sendiri. Begitu kira-kira menurut Derrida.

Jadi apa yang hendak dirujuk dari simbol sesungguhnya hanyalah mirip kata-kata dalam kamus. Ketika kita mencari arti maka setiap kata akan merujuk kepada kata yang lain, dan kata yang lain itu akan merujuk kepada kata yang lain lagi. Begitu seterusnya, sehingga makna sesungguhnya hanyalah arti yang di dapatkan dari “bekas-bekas” makna yang dirujuk dari setiap kata yang saling menunjuk.

Lalu apa yang dipersoalkan sesungguhnya?

***

Seperti disebutkan sebelumnya, V hanyalah simbol. Lantas untuk siapakah V bersuara dalam V For Vendetta?

Saya kira simbol topeng Guy Fawkes bukan mewakili apa yang sudah mapan. Justru, melalui Guy Fawkes, V hendak bersuara atas orang-orang yang tidak pernah diperhitungkan. Orang-orang yang tidak pernah ditetapkan sebagai bagian yang penting. Orang-orang yang disisihkan. Atau orang-orang yang tidak pernah terwakili suara dan harapan-harapannya.

Saya kira, di luar sana banyak orang yang belum terwakili apa-apa. Sementara di waktu bersamaan, simbol-simbol banyak tidak mewakili apa-apa.

21 Desember 2016

Ketika Natal Tiba

Ketika hujan masih lebat, kami tidak menyangka, bermain air dapat membuat lupa segalanya. Berlari di jalan lenggang, bergumul di genangan air, sambil bermain lumpur.

Saat rumah-rumah menutup pintunya, kami memilih keluar mandi hujan. Hujan bagi kami anak-anak lanang, memang harus dirayakan.

Bahkan, hujan waktu itu membuat tubuh kecil kami bebas kencing tanpa harus bersembunyi di sela-sela pohon pisang. Sering kami melakukannya saat berlari. Atau ketika menggigil di bawah pohon kapuk.

Yang paling aneh kami rasakan ketika air hujan bercampur air seni yang mengucur di belahan paha. Rasanya tidak bisa dibilang hangat. Tapi, kami tahu itu juga tidak bisa disebut dingin.

Dari semua itu, bermain sepak bola adalah permainan yang paling menyenangkan. Di depan rumah, lapangan sepak bola menjadi licin kalau hujan. Akibatnya, sleding yang tidak mungkin kami lakukan ketika lapangan kering, malah begitu mengasyikkan dilakukan.

Tapi hampir mustahil menggiring bola di genangan air. Satu-satunya cara membuat bola bisa bergerak ketika itu hanya harus menggunakan teknik cungkil.

Waktu itu berarti kami harus menendang bola seperti cara cangkul digunakan. Kaki kami harus menendang sedalam seperti cangkul menghujam tanah. Semakin dalam semakin bagus.

Lapangan sepak bola merupakan tanda bagaimana kami sering bergotong royong melakukan sesuatu. Jika musim penghujan tiba, rumput ilalang yang panjang harus segera dicabut dan dibakar.

Karena itu kami memotong rumput bersama-sama. Mengumpulnya bersama-sama, dan menunggunya kering bersama-sama pula. Jika suatu sore tanpa hujan, rumput yang kering segera kami bakar.

Sesekali dua kali kami sering bertanding melawan anak-anak dari kompleks perumnas. Kadang pula pertandingan kami dimaksudkan untuk berjudi. Kala itu satu gol lima ratus rupiah. Uang hasil kemenangan dipakai membeli es lilin.

Saya masih ingat pemimpin anak-anak perumnas ketika itu bernama Roy. Saya mengenal Roy karena kami satu sekolah tingkat menengah pertama. Saya kala itu kelas satu empat, Roy kelas satu tiga. Kelas kami bersebelahan.

Sering kali kesepakatan bertanding antara kami sudah disusun kala di sekolah. Roy biasanya menyatakan niatnya itu ketika kelas sedang istirahat. Jam empat sore waktu yang kami sepakati. Lapangan tempat pertandingan tentu sepetak tanah di depan rumah saya.

Ketika Roy sering membesar-besarkan Inter Milan, saya sering menyebut-nyebut Zvonimir Boban sebagai pemain ideal kala itu. Boban pemain tengah AC Milan asal Kroasia. Pemenang ketiga piala dunia 1998.

Kebiasan saat harus bermain bola, kami sering menggunakan nama pemain-pemain kesukaan sebagai nama samaran. Tentu Boban menjadi nama samaran saya. Semenjak saat itu saya sering dipanggil Boban.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...