07 Desember 2016

Kampus Tubuh yang Gemuk dan Sebagian Polemik di Dalamnya

Kadang saya merasa kampus sulit membaca denyut intelektual mahasiswa. Yang ada, kampus lebih peka menyemai kepatuhan. Membuat mahasiswa menjadi objek pasif.

Imbasnya, kampus ibarat kerangkeng besi. Aktifitas belajar hanya bagian dari apa yang sering disebut transaksi ekonomi. Bahkan, kebanyakan menyerupai relasi politik. Tidak imbang. Hirarkis.

Ketika di satu sisi kampus diyakini tempat kecendekiawanan, malah "menara gading," predikat pesimistik yang identik dengan ketinggian itu, makin menguat menjadi sifat yang sulit lepas dari dirinya.

Kampus ibarat tubuh gemuk yang khawatir dirinya sulit bergerak, tapi jiwanya sudah lama mati.

Banyak kampus membenahi dirinya. Merenovasi kembali gedung, mempercantik taman, memperluas lahan parkir. Tapi, jarang ada yang mau memperbaiki atmosfernya. Sesuatu yang menyangkut suasana belajar-mengajar.

Itulah sebab, belajar di kampus hanya seperti seorang pegawai negeri yang menjalani rutinitas pekerjaannya. Masuk dalam kelas hanya memenuhi kewajiban. Bukan karena passion ilmu pengetahuan.

Malang ketika itu dianggap keadaan yang normal. Padahal, jika mau berpikir saja sedikit, tidak ada normalitas dalam kampus.

Kampus harus menjadi kawasan berpolemik. Pro dan kontra gagasan. Tentu itu dengan cara demokratis. Diatur dan dilaksanakan dalam arti mengakui hak-hak menyatakan pendapat.

Namun, tidak semua dapat diputuskan demikian. Dosen, orang yang harus menjadi rekan mahasiswa, malah menjadi momok intimidatif. Tidak ada gagasan yang harus didiskusikan. Pokoknya, apa yang dikonfirmasi teks book, itulah kebenarannya.

Tidak semua dosen demikian intimidatif. Apalagi hegemonik. Banyak dosen yang memiliki minat membangun dialog berkelanjutan dengan mahasiswa. Yang prihatin dengan lingkungan kerjanya. Tapi, semua itu harus dikompromikan kembali dengan masa depannya sendiri di dalam kampus.

Akhirnya, ketika ada mahasiswa yang memiliki minat berlebih, menjadi sia-sia. Lembaga kemahasiswaan yang sudah mirip event organizer itu, malah mandul menjemput bakat-bakat kecendekiawanan.

Itulah sebabnya sebagian banyak komunitas alternatif mengambil inisiatif. Mereproduksi kemandegkan kecendekiawanan kampus. Membuat kelas-kelasnya sendiri. Menjadi pengajar dan belajar mandiri.

Dari cara itu, mahasiswa berbasis komunitas mendewasakan diri. Mengasah otaknya. Membuat diri menjadi makin bijaksana.

Sembari mereka tumbuh menjadi mahasiswa kritis, kampus menganggap itu adalah dosa. Perbuatan yang haram dilakukan.

Makanya kecerdasan yang lahir dari komunitas tidak dianggap berpendidikan. Hanya karena tidak sesuai aturan main akademik kampus. Tapi apalah arti sekolah tanpa batas, gali ilmu sampai liang lahat.

Saya kira denyut itu yang harus ditangkap kampus saat ini. Sebagaimana komunitas kreatif mengenali perkembangan kebutuhan mahasiswa di lapangan. Bukan menjadi dalam arti birokratis, jajaran yang mengandaikan jarak dengan mahasiswa.

03 Desember 2016

Iman

Ketika sedang di rumah sakit, tiba-tiba dari arah sebelah selatan jalan Veteran Utara terdengar pekik suara kerumunan orang. Tiba-tiba dari kejauhan, bersama raungan panjang suara truk, teriakan "Allahu Akbar" membelah jalan lenggang yang panjang. Mereka berbaju putih-putih, seperti berpakaian mau ihram.

Tapi, itu bukan barisan panjang calon jemaah haji. Itu peserta aksi bela Islam. Makassar, seperti ribuan orang-orang berkumpul di Bundaran HI, Jakarta, ikut menyatakan iman. Al Qur'an kritis. Bagaimanapun, ulumul kitab mesti dibela.

Dari jalan Veteran Utara, tempat saya takjub melihat peristiwa itu, barisan truk merayap beriringan menuju satu titik: masjid Al Markas Al Islami. Dari sana, seperti yang sudah diagendakan, bakal bergerak ke lapangan Karebosi. Dari sana, seperti yang sudah diketahui, satu nama bakal banyak disebut-sebut.

Rasa-rasanya, sepanjang pasca reformasi, tidak pernah ada kerumunan orang sebanyak di bundaran HI belakangan ini. Bahkan, tiga kali peristiwa itu membuat kita harus tahu, ini perkara serius. Itu sebabnya, gaungnya merebak ke berbagai daerah.

Di Makassar sendiri, dari subuh, masjid dekat tempat saya domisili sudah menghimpun perhatian. Dari toa di atas menara setengah jadi, suara paruh baya menggema: hari ini, tanggal 2 Desember, akan ada aksi damai. Bela Islam. Saya tak tahu itu ajakan atau sekadar penyampaian. Pendengaran sayup-sayup.

Nampaknya agama memang kekuatan sosial yang masih ampuh. Di zaman ketika iman menjadi ikhtiar pribadi, apa yang terjadi di Bundaran HI, bukan isapan jempol belaka. Kiwari, ada sesuatu dari agama masih bisa merangkul solidaritas. Masih kuat menyimpul umat yang terserak.

Tapi, apakah itu? Imankah? Atau, sesuatu yang lain? Sesuatu dari luar iman?

Saya tak tahu, apa kekuatan tersembunyi yang mampu menyatukan beribu umat Islam Indonesia akhir-akhir ini. Tapi, kita tak bisa mengelak, itu semua bermula dari ucapan yang dianggap teledor.

Ucapan boleh saja teledor, tapi iman tidak boleh salah. Iman, ketika itu menyangkut banyak orang, akibat ucapan teledor, maka itu penghinaan. Satu orang boleh legowo, atau sampai akhirnya ikhlas memafkan. Tapi, siapa bisa membujuk ribuan orang yang terlanjur dibakar emosi?

Api bisa cepat padam, namun mungkin, amarah?

Karena itulah, iman dan amarah mesti dibuat terang. Apa itu iman, apa itu amarah? Iman sudah pasti pernyataan keyakinan yang diperantai ilmu. Namun amarah? Semua orang juga tahu, itu hanya soal dada yang sesak. Suatu ruang yang gelap akibat ditinggal terang cahaya.

Maka, jika beragama hanya sebatang tiang keyakinan yang dikabut asap kegelapan, itu berarti segaris titik panjang yang redup dari kejauhan. Agama adalah cahaya yang mengusir kabut kegelapan. Seberkas terang yang membuat rimbun pohon tumbuh menjulang.

Adakah agama yang demikian? Iman yang membuat terang pohon-pohon tumbuh ke angkasa? Bukan tiang pancang yang tinggi tapi hanya sebilah guyah diterpa angin?

Itulah barangkali, iman kita belakangan ini sering kali dipertanyakan. Apakah iman kita adalah pohon-pohon yang tumbuhnya subur? Atau bisa jadi malah tiang besi yang menolak tumbuh? Di manapun itu, orang-orang yang mendaku beriman, adalah orang yang imannya mirip pohon. Berkembang. Tidak fix.

Beriman berarti mengikuti perkembangan zaman. Iman seluas apa yang dihadapi keadaan. Tak ada iman yang kuat jika keadaannya hanya mirip gulungan buih ombak. Iman yang baik, iman yang tumbuh di antara dalamnya lautan, bukan di tepi pantai.

Barangkali, ada maksudnya perkataan Rasulullah, tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Yakni, berilmu, ketika ucapan itu di sampaikan saat Rasul di tanah Arab, harus sampai di negeri jauh dari tempat kabilah-kabilah Arab tinggal. Suatu negeri tempat kertas ditemukan.

Atau mencari ilmu, jangan bagai katak dalam tempurung. Ilmu adalah melampui garis kukuh yang dipancang dalam keyakinan. Berilmu, berarti melintasi batas yang engkau tempati. Tak ada iman tanpa ilmu, tak ada ilmu tanpa perbandingan.

Juga, galilah ilmu hingga ke liang lahat. Itu berarti tak ada ilmu yang berhenti di permukaan. Barangsiapa berilmu, dia pasti memiliki liang yang dalam. Dari sana, dia jauh berpikir. Menarik kebenaran dari dalam hati. Bukan dari bibir kata-kata.

Hari ini, mungkin saja iman itu bermula dari kata-kata. Tiba-tiba rasa persatuan menyeruak di jalan-jalan. Dari ucapan seorang yang dianggap menghina, perkataan seorang berdarah Tionghoa.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...