07 November 2016

pemandangan

Kalau kau melihat bebek-bebek mengecipak air selokan yang terbelah mengaliri rerumputan. Rumput yang basah diterpa sinar kuning mentari. Seorang ibu dan anaknya yang menuruni setapak pergi ke sekolah. Di atas nun jauh, rumah-rumah bersusun-susun dari bawah ke atas. Di belakangnya punggung gunung tertutupi kabut bagai kapas basah.

Suara truk-truk meraung-raung memintasi jalan berbukit. Masih tersisa suaranya bertalu bagai badai petir. Angin bergerak di antara lereng bukit dan berbalik berkelok-kelok hilang di ujung mata.

Cemara menjulang tinggi di bawah mentari meninggi. Jalan yang menapak di bawahnya tersisa tanah yang longsor. Warnanya kecokelatan, mengering disapu kilatan cahaya mentari.

Pagi yang masih diiringi kabut. Tipis melayang-layang berarak kemudian pergi di balik pepohonan. Ayam-ayam sedari tadi berkokok, bersahutan sambung menyambung dari barat sampai selatan.

Pohon jambu habis dipanjati anak-anak. Buahnya kemarin sore dibawa pergi. Anak-anak berkopiah sepulang mengaji, bergerombolan. Menginjaki pagar bambu mengangkat tangan di sela-sela ranting yang tak rimbun.

Di satu rumah kulit sapi dijemur berhari-hari. Kulitnya diikat tali berwarna hijau, ditelentangkan kuat-kuat di dinding sebelah selatan. Menghadap matahari.

Sapi kemarin sore tidak nampak di sebelah rumah. Padang rumput luas sekarang hanya diisi ayam-ayam yang berkeliaran. Berputar-putar mencari makan. Di balik rerumputan dibuat basah embun.

Matahari sudah meninggi. Pakaian yang basah digantung menyerupai bendera-bendera, berwarna warni. Ada celana berwarna merah, di sebelahnya pakaian daster berbintik cokelat, ada baju berwarna hitam, sarung kotak-kotak, baju berwarna hijau, biru, macam-macam. Seperti umbul-umbul di hari kemerdekaan.

Seorang anak muda mendorong gerobak. Seorang bapak mengais sampah. Di dekatnya tumpukan kayu balok ditutupi terpal biru. Rumah yang setengah jadi. Batu merahnya membentuk sepetak ruangan beratap seng.

Pohon kelapa berdiri mirip kuas lebat. Buahnya hijau muda. Tapi di ujung daunnya sudah berwarna sedikit abu-abu kecokelatan. Nyiur melambai-lambai ditiup dingin angin.

Pohon pisang berkumpul tumbuh bersama. Hijau seperti tersembunyi di depan bukit di belakangnya. Dua tandang pisang bergantung diterpa sinar matahari. Warnanya antara kuning kehijauan. Sementara di bawahnya daun kering cokelat pucat bergelantung lunglai setengah kokoh.

Semakin lama suara-suara semakin ramai. Suara motor menderu berkejaran. Sesekali truk-truk datang membalas dengan suara yang tak kalah nyaring. Di lereng-lereng bebukitan memecah lorong dari bidang tanah kemerahan.

Tak kalah suara burung-burung bekicau. Tanpa terlihat suaranya balas membalas, mengisi jedah suara-suara mesin yang berputar. Kadang sesekali muncul bertebangan melewati segaris lurus di bawah atap masjid. Melompati satu tali ke temali lainnya.

05 November 2016

Kiat Menjadi Aktivis Setengah Hati

Jika kamu mahasiswa atau pernah menjadi mahasiswa, “aktivis” merupakan kata yang sedap-sedap geli di telinga. Kedengarannya bikin keder. Aktivis jika dilihat, bikin orang jadi was-was. Perkataannya banyak mengandung ilmu-ilmu, tindakannya, masya Allah, dahsyat betul. Ucapannya kritis, tapi kadang tidak untuk sikapnya. Nah, ini yang bikin geli.

Di kampus, aktivis tidak seperti kutukan Ibunda Malin Kundang, bisa jadi batu sekedipan mata. Jika ditelusuri, aktivis hakikatnya rangkaian proses panjang mahasiswa unyu-unyu menjadi mahasiswa serba tanggung. Mulai dari nilai akademik pas-pasan sampai urusan percintaan yang ditinggal selingkuhan. Semuanya bagai kue cucur dibelah dua. Setengah-setengah.

Aktivis mahasiswa tidak semuanya idealis. Ada juga yang sok-sok jadi pahlawan. Kadang mulutnya serba hakiki, tapi di kantor-kantor pemerintahan, hatinya berubah hello kitty. Kadang di ruang kuliah dosen jadi bulan-bulanan teori yang njelimet-njelimet, namun sayang di jalan raya tahunya hanya minta-minta sumbangan.

Bisa dibilang di zaman sekarang aktivis tulen bin idealis hanya bisa dihitung jari. Ibaratnya bagai mencari perawan di rumah-rumah bordir. Dapat satu hilang seribu orang.

Baiklah. Jika kamu sekarang masih lalu-lalang di koridor kampus, pulang pergi dari kos-kosan menuju rumah dosen mengurus nilai susulan. Masih dipusingkan tugas tanpa tahu apa artinya? Berikut sejarah singkat bagaimana rangkaian proses mahasiswa yang baru lepas masa puber bisa menjadi aktivis mahasiswa harapan bapak-bapak di parlemen itu.

Pertama, kampus adalah tempat berlangsungnya diskursus. Segala macam cabang keilmuan diolah di dalamnya. Mulai dari ilmu copet hingga ilmu teologi. Semuanya ada. Nah, bagai lampu neon buat laron-laron di musim hujan, dinamika keilmuan macam demikian bikin mahasiswa-mahasiswa haus ilmu langsung menemukan sumber mata airnya. Bagai oase di tengah gurun sahara. Mereka berkumpul dan bepikir. Mereka kemudian berdiskusi dengan seorang super senior sebagai pusat diskusinya.

Aktivis, biasanya muncul dari proses seperti ini. Dia sejatinya bukan orang yang paling getol mencari ilmu. Sebenarnya dia ikut berdiskusi hanya karena ingin menemani sahabatnya yang memang senang ikut diskusi kelompok. Hitung-hitung karena tidak ada kerjaan sekalian dia ikut nimbrung. Mumpung ada rokok gratis.

Kedua, semakin dia menemani sahabatnya mengikuti kajian, sang calon aktivis ini mulai mengenal istilah-istilah asing. Suatu waktu dia mendengar nama-nama asing yang sering disebut-sebut melebihi dari nama presidennya sendiri. Bahkan nama yang kerap disebut bikin dosen bingung tujuh keliling. Tak tahu dari bangsa mana nama-nama yang seringkali disebutnya.

Semakin lama banyak forum diskusi yang dia jumpai. Makin tahu pula sang calon aktivis mengetahui kampus bukan sekadar tempat kuliah belaka. Ternyata di kampus, isi kepala bukan hak birokrasi semata, namun juga tugas diri pribadi untuk mau membuatnya makin cemerlang.

Setelah itu di waktu lain, kalau lagi kongkow dengan teman-temannya, terutama ketika dengan cewek-cewek kece saat menunggu antrian di studio film, dari mulutnya sambil ngobrol diselipkan istilah ilmiah dari buku-buku yang tak pernah ditemui dosen yang bikin jidat berkerut. Semula, ngerumpi asyik masyuk soal artis-artis yang ditinggal pergi idola, tetiba berubah jadi khotbah kuliah enam es ka es.

Dari seringnya calon aktivis ikut diskusi, dia mulai mengenal orang-orang “besar” yang sering nongkrong di kampusnya. Seringkali kalau lagi asyik bolos kuliah, dia malah ditemukan di kantin bersama orang-orang “besar” pura-pura berdiskusi sambil menyeruput kopi gratis. Tentu kali ini masih ikut-ikutan.

Di kantin, akibat sering ngopi bersama senior-senior aktivis, pengetahuan sang calon aktivis mulai terbuka. Wawasannya melebar, pengetahuannya sedikit demi sedikit semakin dalam. Dia mulai tahu kalau dunia ternyata tidak seperti yang dia saksikan.

Tak disangka, dunia tempat dia hidup, atau bahkan kampus tempat dia belajar, tanpa disadarinya penuh dengan benang kusut. Segalanya dibuat berdasarkan kepentingan segolongan orang atau apalah-apalah. Yang dia tahu dunia sekarang harus diselamatkan dari entah apa dan siapa. Pokoknya harus diselamatkan lahir batin.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...