28 Agustus 2016

Flow di Era Socmed

Buku ini baru saja saya membelinya. Belum cukup dua tiga halaman membacanya, saya merasa buku ini cocok untuk sesiapa saja yang ingin belajar menulis. Rekomended buat penulis pemula. 

Di bab pertama, sudah ada kalimat dari Jalaluddin Rakhmat, seorang scholar ilmu komunikasi, yang mengatakan tidak semua komunikasi ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian. Maksudnya tiada lain, menulis --sebagai media komunikasi, juga bermanfaat sebagai sejenis terapi melatih diri agar tertib berbahasa.

Menulis tanpa bermaksud menyampaikan dan membentuk pengertian, dimaksudkan agar orang mampu menulis dengan suasana yang riang. Menulis dengan model seperti ini berbeda dengan suasana menulis yang dibatasi deadline, atau demi tugas profesional akademik, yang kadang menuntut intensi konsentrasi yang tinggi. Akibatnya, dengan tekanan sedemikian rupa, membuat orang gagal menyalurkan idenya ketika menulis.

Menulis dengan riang, saya menduga adalah suasana menulis tanpa tekanan. Dalam keadaan gembira. Atau dengan kata lain, keadaan menulis tanpa ramburambu, tiada aturan sama sekali.

Pengalaman demikian sering saya lakukan, menulis ala kadarnya, tanpa tujuan. Pengalaman ini sering saya bandingkan kala menjadi wartawan, di saat menulis karena diburu deadline penulisan berita. Menulis karena tekanan deadline waktu seperti ada beban berat di pundak setiap harinya.

Menulis dengan riang, atau dengan istilah Hernowo adalah menulis
 flow (mengalir) saya kira bukan penemuan tanpa berbasis pengalaman. Seperti penuturan si penulis sendiri, menulis mengalir adalah hasil riset pribadi yang telah dijalani selama bertahuntahun. Artinya, apa yang dimaksud menulis flow bukan sekadar pepesan kosong belaka.

Satu hal penting yang dituliskan dalam buku ini adalah dengan melatih menulis dengan cara flow, seperti yang ditulis Hernowo sendiri, kita dengan sendirinya akan melatih juga kemampuan berbicara dengan teratur. Suatu kemampuan yang belakangan ini hanya dimiliki sedikit orang.

Syahdan, buku ini begitu bermanfaat bagi siapa saja, bukan saja orangorang yang telah terbiasa dengan aktifitas tulis menulis, melainkan orangorang yang ingin berikrar menjadi penulis.


11 Agustus 2016

Nasionalisme Harga Mati?

Nasionalisme harga mati. Frasa ini tidak selamanya mendenotasikan suatu ikhtiar yang baik. Setidaknya ada ciri utama yang dikemukakan Prof. M. Dawam Rahardjo bahwa nasionalisme itu justru menandai suatu gejala yang mengerikan.

Nasionalisme di arti yang lain adalah justru suatu usaha penyeragaman. Manusia Indonesia dengan slogan "nasionalisme harga mati" akan dibuat sama mulai dari cara berpikir, kebudayaan, tradisi, kehidupan ekonomi maupun aktifitas politik. Yang parah selama ini "nasionalisme harga mati" bukanlah suatu pernyataan yang tumbuh dari aktifitas kebudayaan-politik masyarakat Indonesia, melainkan suatu pernyataan yang dimaknai berulangulang melalui aktifitas politik elit-jenderaljenderal.

Dalam konteks pemahaman warga negara, nasionalisme sebagai suatu konsep sudah selalu merupakan barang jadi yang diproduksi negara. Melalui aktifitas edukatif, jejaring kekuasaan negara mengerahkan sejauhjauhnya pemahaman nasionalisme tanpa mempertimbangkan betapa pemahaman nasionalisme adalah suatu konsep yang terus berkembang.

Karena itulah mengapa nasionalisme selama ini juga berarti kekuasaan yang terpusat di satu poros tunggal negara-jenderaljenderal. Dengan negara sebagai pusat pemahaman, warga negara dilarang memberikan arti lain dalam merekontruksi kembali pemahaman nasionalisme yang bisa saja memiliki arti lain dari apa yang sudah diartikan negara.

Seharusnya seperti yang dibilang Alwy Rachman, seorang budayawan Sulsel, nasionalisme itu bukan frase yang mesti diakhiri dengan terma "mati", nasionalisme itu kata kerja, suatu yang dinamis. Sebab itulah “nasionalisme”  seyognya merupakan pemahaman yang datang dari sumbersumber pengetahuan masyarakat. Bagaimana dia dibentuk, ditransformasikan, dan dilestarikan di tengah tumbuhkembangnya masyarakat itu sendiri. Dengan itu, maka ke depan akan kita temukan suatu rasa cinta tanah air yang keluar dari kerangka tafsiran yang sudah diberikan negara selama ini. 

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...