28 Juni 2016

Rumah

Pada akhirnya rumah menjadi hal yang penting. Jelang tutup ramadan orangorang mulai menautkan segalanya pada tempat asal usul bermula. Dari tempat di mana pelbagai cerita dimulai.

Di titik ini rumah menjadi ikatan yang primordial. Rumah dengan sendirinya adalah kampung halaman, rumah adalah tradisi, dan rumah adalah tempat segala identitas azali dibentuk.

Urbanisasasi yang begitu mencolok membuat rumah kian terasing. Dengan sendirinya asal usul jadi kenangan. Orangorang pergi mencari mukim baru. Membangun kehidupan. Membentuk diri baru. Kemudian pelanpelan akhirnya kota jadi sarang segalanya.

Di kota segalanya jadi mungkin. Orangorang bekerja. Orangorang bersekolah. Orangorang jadi lebih lebih manusiawi.

Tapi tidak semua yang manusiawi menjadi betulbetul manusia. Di kota, orangorang disulap berbagai hal. Imajinasi manusia santun seketika menjelma manusia kota yang soliteris; sendiri dalam keramaian masingmasing. Menjadi mahluk yang menyukai diri sendiri.

Saat itulah gugusan kota mengambil alih. Memproyeksikan suatu tujuan yang progressif. Kota, dengan segala jejaring kepentingannya tak menyisakan sedikit pun apa yang pernah hidup menjadi memori kolektif orangorang berkampung halaman; solidaritas.

Solidaritas memang berparas ganda. Durkheim memilahnya jadi dua. Sosiolog Prancis ini menamsil, di kota tempat di mana terma modern begitu menggugah, orang perorang jadi terbelah. Yang ada hanyalah ikatan atas dasar spesialisasi. Orang berinteraksi bukan karena dasar atas usul yang sama, tapi sejauh apa suatu identitas profesional dibangun.

Kala itulah kebersamaan jadi suatu ikatan yang formal. Masyarakat hanya bisa menjalin suatu ikatan kolektif atas suatu tema pekerjaan; suatu modalitas yang selama ini dibentuk atas dasar unsurunsur kapital.

Akibatnya interaksi hanya berumur jika itu bertahan atas dasar profesionalisme. Durkheim menyebut ikatan ini sebagai solidaritas organik. Hubungan yang hanya mungkin berlangsung karena didorong atas suatu imbalan.

Itu sebab, kota hanya jadi tempat yang rentan. Orangorang hanya terkoneksi dari ikatan yang guyah. Pekerjaan, pendidikan, profesi, hubungan komunitas, dan jejaring interaksi yang lain mudah bergeser, gampang berubah. Di kota, berlaku rumusan tak ada yang abadi, segalanya berubah.

Barangkali, karena itu tak ada kenangan bisa bertahan di kota. Di kota orangorang hanya mengejar satu hal; masa depan.

Yang malang, masa depan berarti memilah suatu bulatan yang gampang pecah. Yakni suatu identitas yang dibentuk dari rumah. Di rumah, suatu medan orangorang dibentuk tradisi, berubah modern yang memotong nilainilai kolektif.

Dari rumah, suatu tempat keluarga menjalin kekerabatan dipangkas menjadi manusia yang lupa dari mana manusia-rumah akan berpulang. Di kota, rumah yang bagi orangorang berkampung halaman menjadi tempat segala simpul berawal, dicacah habis dengan silet masa depan.

Karena itu kota selalu dilihat sebagai tempat anti masa silam. Membelahnya jadi bagianbagian yang sulit disembuhkan. Semakin orangorang beraktivitas di dalamnya, semakin manusia-berkampung halaman lupa siapa dia sejatinya.

20 Juni 2016

mercon

Petasan meletus di manamana. Tidak di sekitar masjid, tidak di pinggir jalan. Hampir semua tempat bunyi letusan bekejaran.

Bila magrib tiba anakanak sudah siap berhamburan di pekarangan masjid. Turut meramaikan malammalam ramadan. Bergerombolan membunyikan petasan. Sekali bakar bikin kaget siapa saja.

Sebelumnya mereka berbaris di saf paling belakang. Ikut sholat sembari mengerjai kawannya yang lain. Jika imam berkata amin, koor panjang pasti ikut: aaamiiiin.

Sebelum imam tuntas mengucap salam, mereka sudah berlari mirip semut disiram minyak tanah. Bikin ramai masjid. Sandal jamaah dinjak. Bikin berhamburan. Berlari menuju jalan raya.

Petasan sudah di tangan. Korek tinggal setengah. Tapi lumayan masih bisa dipakai satu malam. Bila habis besok tinggal beli. Jalan sudah ramai. Cari waktu yang tepat. Butuh momen yang pas. Korek dinyalakan. Duaar! Satu petasan menggema. Bunyinya bikin jengkel satu masjid.

Yang menarik jika petasan punya bunyi yang dahsyat. Kalau bunyinya kecil dianggap belum pas. Apalagi bikin puas. Karena itu butuh petasan yang besar. Bunyinya juga pasti besar.

Bagi anakanak, petasan wajib dipunyai kala ramadan tiba. Pasalnya tidak semarak tanpa petasan. Tempat yang paling sering dibikin arena bermain, ya di pekarangan masjid. Kalau bosan, ya di pinggirpinggir jalan.

Bagi ibuibu, petasan bikin kempis dompet. Anakanak merengek minta dibelikan petasan. Jika tidak bakal ngambek. Karena itu mau tak mau harus dibelikan. Namanya juga anakanak.

Anakanak yang lebih besar tak perlu minta uang. Banyak cara mendapatkan uang buat beli petasan. Kerja paru waktu di pasarpasar, malamnya sudah sekantung petasan. Kalau belum cukup jadi tukang parkir. Sepuluh duapuluh motor, petasan sudah pasti dibawa pulang.

Di atas mimbar tukang khotbah megapmegap. Nafasnya memburu. Suaranya kalah saing. Di luar satu petasan meledak. Satu gang di buat jantungan.

Jamaah kurang fokus. Pikiran jadi kacau. Antara suara petasan dengan khotbah katib. Sayupsayup satu hadis sudah dikutip. Tapi apa lacur sudah gagal fokus. Lewat lagi satu pesan mulia.

Jelang khotbah mengucap tutup, sebagaian yang lain sudah memacu motor. Mondarmandir dari satu gang ke gang lain. Bunyi knalpot meraungraung. Bikin bensin habis. Yang penting bisa cari muka sama gadisgadis gang sebelah.

Dalam masjid ibuibu paruh baya, juga bapakbapak dibuat kaget. Bikin sholat tidak tenang. Tibatiba, satu lagi petasan meledak. Bikin jantung tinggal setengah. Hampir mati berdiri.

Pengendara terlebih lagi. Di buat kesal. Belum lama berbuka puasa, petasan sudah seperti perang, bunyi sana bunyi sini. Kadang bikin tidak fokus berkendara. Letusannya buat degdegan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...