05 Juni 2016

cukur

Belakangan ini saya ingin bercukur. Rasarasanya rambut saya harus dibuat rapi. Ini akibat Jumat kemarin saya harus menghadapi ujian Tesis. Memang bukan kewajiban saat ujian akhir harus bercukur, tapi dengan rambut yang tertata rapi saat ujian meja bisa bikin rasa percaya diri jadi tumbuh. Tapi apa boleh dibilang, niat itu sampai sekarang tidak kesampaian. Rambut saya masih utuh belum dipotong. Masih seperti biasanya.

Omongomong soal cukur rambut, dulu, kala ingin memotong rambut, yang sering jadi “tukangnya” adalah Bapak saya sendiri. Kebiasaan ini sudah dimulai sejak sekolah dasar hingga masa SMA. Saat mencukur Bapak hanya punya satu gaya, yakni model potongan tentara. Saya tak tahu kenapa model itu yang sering dipilih Bapak, mungkin model seperti itu yang paling gampang dilakukan. Apalagi anak sekecil saya waktu itu tahu apa soal gaya rambut.

Kadang saya curiga, model yang bertahuntahun saya alami itu disebabkan dua hal. Pertama model belah samping itu akibat bentuk gaya sisir yang sering dilakukan Mamak kala sehabis memandikan saya sewaktu kecil.

Atau yang kedua bisa jadi ukuran kerapihan termasuk soal gaya rambut kala itu harus disesuaikan dengan etika militer yang kuat mendominasi hampir di semua dimensi kehidupan masyarakat. Yang terakhir ini malah kuat dugaan saya ada benarnya. Atau mungkin memang sebaliknya yang pertama. Entahlah.

Ingatan saya masih kuat minyak apa yang sering dipakaikan Mamak kala merapikan rambut saya. Warnanya mirip minyak goreng kehijauhijaun. Cair seperti air. Namanya minyak Orang Aring yang berwadah kaca. Minyak ini kalau dipakai bisa tahan seharian penuh. Bikin kilap dan licin. Kadang kalau pagi saya bangun, di bantal tidur saya masih tertera bekas minyak rambut ini. Minyak ini cara pakainya bisa bertahan lama akibat memang sangat irit pakainya. Cukup sekali duakali tuang sudah bisa menggenapi kepala saya kala itu.

Saat sekolah menengah pertama ada keinginan untuk memanjangkan rambut. Berbeda saat sekolah dasar, masa SMP adalah masa ajang diri, terutama soal rambut. Akibatnya, rambut saya biarkan tumbuh panjang. Ini saya lakukan agar bisa mengubah model yang semenjak SD terkesan monoton. Karena niat ingin bergaya, maka akhirnya saya harus meninggalkan minyak Orang Aring. Maklum minyak ini membuat rambut jadi mudah lunglai susah dibentuk.

Ada istilah rambut saya adalah jenis rambut air. Istilah ini kala itu merujuk kepada rambut yang lurus dan mudah jatuh terurai. Kelebihan rambut jenis ini mudah dibentuk sesuai dengan kemauan dengan syarat sedikit menambah minyak rambut yang agak kaku. Jadi biar sepanjang apapun jika ditambah minyak semacam Tancho, rambut jenis ini akan memberikan bentuk sesuai selera yang dimaui.

Semenjak menyadari bahwa minyak rambut merk Brisk bukan minyak yang tepat, maka untuk mendapatkan rambut yang tidak mudah berubah akibat angin, saya mulai mencari jenis minyak rambut yang super kaku. Pencarian ini berlangsung lama akibat riset kecilkecilan yang saya lakukan.

Tentu riset ini adalah percobaan minyak rambut sebagai bahannya, mana yang bisa membuat rambut tak mudah bergeser seinci pun. Kala itu Brisk yang sering kali meleleh jika terkena hujan sudah saya keluarkan dari percobaan. Merk ini jika terkena hujan malah luntur seperti cat yang berwarna putih. Merk ini saya blacklist sesegera mungkin.

Percobaan saya ini selain melakukannya sendiri juga melibatkan kawankawan yang berniat sama dengan saya. Kadang jika melihat rambut kawan saya yang tak berubah dari pagi hingga sepulang sekolah maka pertanyaan saya adalah apa merk minyak rambut yang dipakai.

Dari berbagai macam informan maka ditemukanlah beberapa merk saat itu: Casablanca, Tancho, Casanova, dan juga Brisk. Yang terakhir ini saya maklum. Kawankawan saya memakainya bukan untuk membuat rambut tampak kaku, jutru hanya mau mendapatkan efek mengkilat kala memakainya.

Makanya pasca riset sederhana yang dilakukan, hampir semua merk yang disebutkan sudah semuanya saya uji secara langsung. Namun aneh, semuanya siasia tidak membuat rambut saya tampak “tegar” diterpa angin. Karena belum menemukan hasil, akhirnya riset buat membuat rambut jadi kaku terus saya lakukan.

Hingga suatu waktu jawaban yang saya nantinantikan datang dari sobat saya: Amir Barata. Perlu diketahui hobi kami sepulang sekolah sering kali dihabiskan di permandian umum bernama Oeba. Di sana ada kolam mata air dua petak berukuran panjang sekira sepuluh meter. Permandian ini selain tempat anakanak seusia kami berenang ria juga ditempati ibuibu mencuci pakaian. Oeba adalah kolam mata air yang betulbetul menyenangkan.


mempuasakan tulisan

Di bulan Ramadan nanti, sesiapa pun umat muslim harus menjaga hati, lisan, dan perbuatannya. Ini adalah tuntutan agama. Puasa, ritual yang digelar penuh selama sebulan itu memang bermaksud sebagai momen penyucian.

Dari situ manusia diharapkan mengambil suatu kesadaran baru, bahwa yang namanya jiwa perlu dibebaskan dari seluruh sampah yang menghambat perkembangannya. Tuhan tahu, mahluk kecil bernama manusia itu butuh surga kecil, butuh jedah, suatu masa waktu segala niat dan sikap harus dibersihkan ulang dan dilipatgandakan  rewardnya. Dan puasa adalah medianya.

Puasa jika itu cara agar manusia hatihati, juga harus bekerja dari cara manusia berkomunikasi. Apalagi di masa sekarang tak semua informasi yang dikonsumsi adalah bahan obrolan yang bersih. Kadang akibat motifmotif tertentu suatu informasi malah hanya berisi rasa sentimen dan kecurigaan berlebihan terhadap sesuatu, juga tidak sedikit dari informasi yang lahir dengan cara itu tak lebih dari kebohongan belaka.

Ditinjau dari massifnya informasi yang beredar, bisa dibilang informasi yang berisi kebohongan malah jauh lebih banyak dikonsumsi orangorang dari pada informasi yang benar. Di sini bukan malah amal jariah yang terjadi, justru dosa jariah.

Makanya, bagi seorang yang sering menyebarkan informasi lewat tulisan punya sedikit tantangan lebih besar dibanding orangorang. Seorang penulis di kasus ini, selain tubuh dan jiwanya yang harus berpuasa, juga harus lebih berhatihati dalam menyatakan pikirannya. Bagi seorang penulis, tulisannya harus sedikit diperhatikan. Adakah tulisannya bukan issu semata? bukan gonjangganjing belaka? Atau kebohongan itu sendiri? Syahdan apapun informasinya seorang penulis juga harus meramadhankan buah pikir karya tulisnya. Tulisannya juga harus berpuasa.

Lalu bagaimanakah tulisan yang berpuasa itu? Pertama, caranya tentu harus dimulai dari bacaan yang harus seselektif mungkin. Yang pertama ini lumayan susahsusah gampang, soalnya tidak semua bacaan itu bersih dari kontenkonten vulgar. Apalagi bacaan  terutama sastra, tidak sedikit prosaprosa mutakhir malah mengeksplore tema seksualitas sebagai pabrik wacananya. Bahkan di dalamnya kadang digambarkan suatu peristiwa yang “anehaneh” soal persetubuhan dua mahluk biologis.

Walaupun itu bisa dimaknai sebagai metafora, namun tetap saja bacaan demikian selalu mengambil reka peristiwa yang melibatkan tubuh manusia sebagai medium pemaknaannya. Di titik ini kadang dua lapis pemaknaan berlaku sekaligus: makna harfiah dan metaforis. Jika kesadaran itu bersifat transfiguratif, maka itu malah akan membuat sang pengimajinasi bisa “liar” menggambarkan peristiwa yang dimaksud. Dari pada itu terjadi, maka lebih baik bacaan demikian harus ditunda sementara. Puasa bukan saja soal tubuh dan sikap, tapi juga imajinasi.

Kedua soal motif. Seorang penulis bisa melahirkan beragam motif di balik proses kreatif  tulisannya. Kadang waham kebesaran adalah motif yang kuat yang sering kali mendorong seorang penulis menuliskan karyanya. Motif ini juga kerap hadir bersamaan dengan motif kepahlawanan.

Dua motif ini walaupun agak berbeda tapi memiliki tujuan yang sama, yakni dari tulisan yang dibuatnya bisa mendatangkan citra kebesaran. Dari kacamata sufistik, motif ini disebut bisa mendatangkan riya’. Tentu tulisan yang riya’ adalah tulisan yang tak berharga apaapa selain makna kesombongan itu sendiri. Di saat puasa dengan tulisan macam demikian tentu akan mengurangi pahala dari ibadah yang sedang dijalankan. Makanya, karena itu, berhatilahhatilah membangun motif dibalik tulisan Anda. Niatkanlah hanya untuk ibadah semata.

Informasi yang baik adalah kabar yang menyertakan fakta. Dengan kata lain apa yang disampaikan merupakan apa yang terjadi itu sendiri. Itulah sebabnya kebenaran begitu krusial dalam konteks pekerja informasi. Bahkan kebenaran adalah sentral yang harus ada dalam setiap pengetahuan yang ingin disampaikan.

Bagi seorang sastrawan, yang kadang menulis dengan bentukbentuk kebenaran yang disamarkan barangkali bisa berkelit soal informasi yang ditulisnya. Seorang sastrawan memang punya semacam kekuasaan dalam memberlakukan informasi agar terkesan ambigu.

Tapi, bagi orangorang semisal wartawan, atau orangorang yang sering menyampaikan kebenaran lewat artikel, kebenaran adalah kebenaran. Tak peduli informasi apa yang sampaikannya selain itu memang pengetahuan yang berbasis kenyataan atau akal sehat. Yang terakhir ini malah penting dalam konteks kiwari di mana banyak informasi hoax yang kerap beredar. Dengan kata lain, tulisan yang diramadankan adalah karya yang ditulis atas asas kejujuran.

Terakhir adalah soal tujuan karya itu ditulis. Apabila dunia maya jadi medan penilaian, maka kadang banyak ditemukan informasiinformasi yang bertujuan untuk membangun sentimentalisme kelompok dengan menyulut nuansa emosi pembacanya. 

Tulisan semacam ini seringkali ditemukan dari situssitus berbasis keagamaan dan kesukuan yang menghujani pembacanya dengan informasiinformasi yang tidak bertanggung jawab. Padahal jika suatu karya berita ditulis berdasarkan kaidah jurnalisme, maka hampir sebagian besar informasi yang disebut ini adalah berita yang tidak memiliki sumber yang valid.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...