12 Maret 2016

Pojok Bunker

Dua gambar di bawah menunjuk dua hal; harapan dan kenyataan. Di sebelah kiri harapan, yang lainnya kenyataan.

Begitulah, dua hari belakangan penghuni bunker sibuk. Semua berjibaku, bekerja. Hari pertama, semaksemak dibabat. Rerumputan liar dipotong. Juga,tanaman liar lainnya dicabut. Digerakkan harapan.

Hari kedua, sisa sepojok halaman belakang. Sore kemarin ramairamai kerja bakti. Mengaduk, mengangkat, membuang sampah. Hampir dua jam sampah tak habishabis. Keringat cucur. Sore jelang. Lama kemudian sampah pupus. Digerakkan kenyataan.

Begitulah, dua frame antara harapan dan kenyataan berkelindaan di benak. Bergerak dan berubah jadi otot yang tegang. Juga, tubuh yang basah. Akhirnya, yang tersisa tinggal halaman tak terpakai, ruang sekira 3×5 meter, dinding bata kecoklatan, dan ide yang harus bekerja.

Dulu tempat ini nyaris tak terurus. Dibiarkan begitu saja. Tak berguna. Jika dimanfaatkan, faedahnya hanya satu: tempat sampah. Bertahuntahun itu terjadi. Segala musim datang, juga tikus, juga berbagai serangga liar.

Lama tempat ini ditinggal berbarengan tumbuhnya tanaman entah. Hari ke hari merambati tembok yang dibiarkan berdiri tanpa atap. Menjalar sanasini dengan serabut akar halus menembusi celahcelah tembok. Di situ, juga tumbuh lelumutan, hijau. Sampah, yang ditinggal pergi, jadi lahan subur kembang biak cacing.

Tapi, tempat ini sempat punya fungsi lain. Akibat tak ada atap bergantung, di bawahnya jadi tempat jemuran. Di sini sinar matahari mulus turun. Tak ada penghalang sekalipun. Angin, yang kerap menyisir atapatap dengan bunyinya, juga bebas keluar masuk. Jemuran, apapun itu, tak bakal lama tetiba kering segera.

Pernah juga, dibuat semacam balebale di situ. Sekira dua tahun kemarin. Rencananya jadi tempat alternatif akibat hawa panas bunker. Jadi tempat diskusi.

Saya tak tahu siapa pernah berjibaku membangunnya. Saat itu, saya sempat lama meninggalkan bunker. Ketika datang, sudah berdiri empat tiang beratap spanduk bekas.

Jadi, struktur tiang dibuat dari kayu balok. Lantainya juga kayu yang disusun. Kemudian dua tiang lain disandarkan di atas bubungan atap. Di atasnya, dihampar spanduk bekas. Yang terakhir mudah didapat, tapi balok tiang berkualitas bagus itu saya tak tahu siapa membawanya.

Cuman, kebiasaan berkumpul di bawahnya tak sempat lama. Biasanya di situ ditempati ngopi, berdiskusi, sesekali ketawaketiwi. Balebale berbentuk kotak itu bisa muat empat sampai lima orang. Lamalama, satusatu pergi. Balebale akhirnya ditinggalkan.

Kejadian itu bersamaan musim penghujan. Kala air deras menyapu, tak ada mau duduk di bawahnya. Karpet yang jadi pengalas ikut basah. Orang akhirnya ogah mau berdiskusi di situ. Basah. Becek.

Bila malam jelang, tempat ini beralih jadi lahan parkir. Akibat tempatnya tertutup, motormotor aman ditaruh di situ. Jika dihitung, tempat ini muat menampung sampai sepuluh motor. Itu jika diparkir kayak model rapat pusatpusat belanjaan.

Sekarang tempat ini kosong menganga. Kalau mau dibilang agak lumayan bersih. Rambatan tetumbuhan di temboktembok juga sudah tercabut. Satusatunya yang masih tertinggal di sana hanyalah ide yang mau dibuat jadi kenyataan.


09 Maret 2016

internasional women's day

Bukan siapasiapa selain perempuan, hanya perempuan, yang bisa bikin maju kaumnya. Kiwari, perempuan harus maju di depan dengan sikap percaya diri, dengan keberaniannya. Perempuan bisa jadi apa saja; guru, direktur perusahaan, pebalap, ilmuwan, supir angkutan, penyair dsb.

Sejarah sudah banyak sebut contoh soal perempuanperempuan hebat. Mulai dari ujung Sumatera hingga ujung timur Indonesia. Dari masa lalu sampai hari ini. Di situ banyak sosok, juga pokok.

Perempuanperempuan yang berjuang di masa lalu bukan saja bergerak atas nama kaumnya, tapi karena rasa keadilan. Mereka punya kesadaran bahwa semua punya hak diperlakukan sama. Perempuan, sama halnya lakilaki adalah bagian dari umat yang sama, karena itu tidak bisa dibedakabedakan.

Makanya pokok itu yang penting, bahwa perempuan juga sama dengan lakilaki. Tidak ada perbedaan mencolok antara perempuan dengan lakilaki selain struktur anatomisnya. Perempuan dan lakilaki hanya beda biologis, selebihnya sama saja.

Yang malang, kadang masih banyak orangorang menempatkan perempuan sebagai kaum nomor dua. Mendeskripsikan perempuan sebagai manusia yang tidak sempurna, yang semuanya berasal dari perbedaan biologis. Akibatnya, di dalam tatanan sosial, perempuan jadi bulanbulanan objek penindasan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...