24 Januari 2016

Sulhan Yusuf: "Ini Mirip-Mirip Komunis"

Kemampuan menulis selalu ditopang dengan kemampuan membaca. Begitu pesan pembuka yang disampaikan Sulhan Yusuf ketika memberikan kuliah umum di Inaugural Class Sekolah Literasi Paradigma Institute, 24 Januari, berlokasi di TB Paradigma Ilmu, Pabbentengan, Makassar.

Tidak ada penulis yang baik, sebelum menjadi pembaca yang baik, dijelaskan Sulhan adalah rumusan paten bagi siapa pun yang ingin menjadi penulis. Hubungan ini sifatnya komplementer, yang satu hanya bisa bekerja kalau yang lain diandaikan secara bersamaan.

Di pertemuan perdana ini, Sulhan juga menjelaskan tentang maqammaqam literasi. Maqam pertama adalah tingkatan baca dan tulis. Tingkatan baca tulis adalah kemampuan elementer tiap orang. Di tingkatan kedua, menulis karena kewajiban. Orang menulis sering karena tuntutan profesi. Orang menulis hanya memenuhi tuntutan kerja. Kedua maqam ini disebutkan Sulhan terjadi hanya karena ada tekanan eksternal. Terkadang katanya, mahasiswa menulis karena didorong oleh dosen yang memerintahkannya. Di tingkatan ini seseorang belum seperti di maqam ketiga, maqam ruhani. Maqam ruhani diungkapkan Sulhan, karena tulismenulis sudah merupakan panggilan ruhani.

Setiap maqam menurut pria berkepala plontos ini, harus diikat dengan apa yang disebutnya asas kejujuran. Baginya banyak penulispenulis yang sering tidak jujur dalam menulis. Banyak penulis yang memiliki kemampuan literasi yang baik, malah kadang tidak jujur. "Bahkan dari pengalaman saya, ada beberapa tulisan saya yang sering dimanfaatkan pihak tertentu dengan cara copy paste. Bahkan mau diikutkan lomba," bebernya.

Di maqam ruhani, ungkap Sulhan, tulisan menjadi sidik jari bagi penulisnya. "Kata kak Alwy Rahman, melalui sidik jari, seseorang dapat mengekalkan identitasnya." "Makanya kalau menulis, seseorang mudah dikenali dari tulisannya," lanjutnya.

Internalisasi, kata Sulhan mirip dengan aktifitas makan yang dibutuhkan oleh seorang penulis pemula. Namun, sebagai konsep, ruhani membutuhkan makanan ruhani pula untuk dikelola qalbu. Ruhani, disebutkan banyak membutuhkan asupanasupan gizi lebih dari sekedar makanan biasa. Hal ini karena qalbu akan menjadi powerfull lebih dari kualitas sebelumnya. Kaitannya dengan bacaan, diharapkan pagi penulispenulis muda harus banyak melahap habis bacaanbacaan berkualitas. Tujuannya, tambah Sulhan, itu akan mendorong lahirnya tulisantulisan yang berkelas.

Kelas literasi kali ini tidak jauh berbeda dengan kelas angkatan pertama. Semua yang terlibat bisa menyetor tulisannya berupa cerpen, novel, puisi, berita, esai, kritik sastra, drama, atau opini. Semua bisa memilih beragam genre tulisan yang dibagi menurut fisksi atau non fiksi. "Sebenarnya kalau dibilang kelas baru bukan juga, karena peserta kelas lama juga bisa nimbrung di kelas yang baru. Lagian tidak ada yang namanya penulis hebat di sini. Semuanya sama," jelas Ceo Paradigma Insitute ini.

Di pertemuan perdana ini juga dijelaskan mekanisme teknis kelas literasi. "Kelas dibuka tiap pekan pukul 14.00. Syarat utamanya setiap anggotanya wajib membawa tulisan sebagai bahan omongan di saat kelas berlangsung. Jadi, barang siapa yang ingin datang dengan hanya membawa gagasan tanpa tulisan maka dengan sendirinya akan ditolak," tegas Sulhan.

Di tengah penyampaiannya, Rezky, salah satu peserta baru mempertanyakan soal bagaimana caranya menghilangkan rasa kurang percaya diri ketika mem-publish karya tulis sementara akan ada orang yang mengklaim bahwa itu bukan karya kita sebenarnya. "Itu karena kita tidak jujur dalam menulis, kalau kita menulis dengan jujur mustahil kita akan takut. Kalau memang ada bagian tulisan kita yang mengutip, maka jujurlah sertakan dari mana Anda mengutip," tangkas Sulhan.

Sementara itu salah satu peserta baru, Jahir, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kelas literasi Paradigma Institute. "Di sini ternyata ada tiga hal yang dieksplore, pertama tindakan menulis, kedua tindakan membaca, dan ketiga yakni kemampuan mempersentase. Jadi sekali ikut bisa tiga kualitas yang diasah," ungkapnya setelah mengikuti kuliah umum.

Bukan Ajang Tanding

Ditemui pasca kelas perdana, bersama pesertapeserta baru, Sulhan, kembali membeberkan bahwa di kelas literasi tidak ada ajang tanding. "Kelas literasi bukan ajang tanding. Setiap peserta memiliki pertofolio yang akan dijadikan sebagai bahan evaluasi. Prinsipnya setiap pekan, peserta menabung tulisannya untuk dijadikan naskah evaluasi. Sehingga setiap minggu kita bisa melihat sejauh apa perkembangannya. Cara kerja seperti ini dianggap efektif untuk menghilangkan suasana persaingan antara peserta." Katanya diselasela perbincangan.

Output dari mekanisme yang diterapkan, Sulhan katakan akan ditandai dengan publikasipublikasi yang ditujukan ke korankoran lokal. Publikasi adalah salah satu capaiancapaian yang memang menjadi tujuan dari kelas literasi. Bahkan Sulhan menabalkan, setiap tulisan yang dikumpulkan bisa diterbitkan menjadi suatu karya tulis berupa buku.

Paradigma Institute, dijelaskan Sulhan selama ini sudah banyak menginisiasi penerbitan beberapa karya tulis buku. Untuk menyebut diantaranya adalah Airmatadarah, Dari Rumah Untuk Dunia, Ziarah Cinta dari beberapa penulis. Bahkan, bocornya, tahun ini Paradigma Institute sedang menyiapkan beberapa naskah untuk diterbitkan.

Di kelas literasi sikap solidaritas dan altruis merupakan semangat bersama yang sampai hari ini menjadi ikatan bersama. Bahkan kelas literasi tidak sama sekali dibebankan biaya pendaftaran dan administrasi. "Tidak ada uang apapun yang dipungut. Ini miripmirip komunis" canda Sulhan. "Intinya cara kami menjalankan kelas literasi menggunakan prinsip kerjasama," tambahnya.

Dari bocoran yang didapatkan melalui sumber yang tak ingin disebutkan namannya, kelas tahun ini "berani" menerbitkan semacam buletin yang terbit perdana di bulan Januari. "Kala nama selebarannya, ini mengingatkan bahwa dulu perjuangan literasi ditopang dengan selebaranselabaran macam begini. Bahkan koran dimulai dari selebaranselebaran" jelasnya sambil memperlihatkan selembar kertas copyan putih. Disebutkan pula, Kala akan terbit tiap pekan dengan memuat tulisantulisan kelas literasi Paradigma Insitute. "Iya, rencananya Kala akan terbit tiap pekan, kalau mau bisa digandakan," pungkasnya.

23 Januari 2016

Buku, Tuhan dan Kucing-kucing Kesepian

Untuk urusan membeli buku, kadang saya jadi irasional. Apalagi kalau membeli buku yang lama dicaricari. Tanpa banyak perhitungan walaupun uang sekadarnya, hasrat memiliki buku jauh lebih besar dibandingkan urusan bertahan hidup. 

Saya pikir beberapa hari kurang makanan tidak akan membuat saya menjadi pengemis, apalagi mati kelaparan. Sejak dulu saya punya prinsip, orang gila  yang tidak memiliki apaapa bisa bertahan hidup, apalagi orang yang punya akal sehat. Di manamana, akal sehat kalau digunakan dengan baik pasti akan memberikan jalan keluar. Makanya saya berani berkorban membeli buku.

Berani berkorban inilah yang saya sebut irasional. Anda boleh sepakat atau justru memiliki pendapat  berbeda tentang rasional tidakkah sikap berkorban itu sebenarnya. Tapi saya memiliki pendapat orang yang melakukan bom bunuh diri, rela mati demi meninggalkan orangorang yang dicintainya karena suatu alasan di luar akal sehat. Kalau dia berpikir rasional mana mungkin dia mau mengambil sikap yang destruktif seperti itu. Rela berkorban dalam kasus bunuh diri, bisa panjang urusannya kalau kita mempersoalkan dahulu apa itu tindakan rasional, apakah melakukan sesuatu demi tujuan yang jauh lebih besarlah yang disebut rasional. Atau karena tindakan yang diambil telah ditimang dengan ukuranukuran tertentulah suatu tindakan disebut rasional?

Yang pastinya, akal sehat saya hanya bekerja pasca membeli buku. Terutama bagian ketika bagaimana memperpanjang hidup dengan kekurangan uang. Saat inilah saya harus memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Memutar otak yang saya bilang tentu bukan arti harfiahnya, malah saya kira anda tahu maksud yang dirujuk istilah itu. Di pikiran saya, salah satu cara untuk bertahan ialah memanfaatkan relasi pertemanan. Ini cara yang selalu berhasil saya lakukan. Terutama saat hidup kere di kampus.

Biasanya, lapar secara berjamaah jauh lebih baik dibandingkan sendirisendiri. Di saat itulah akal bersama akan bekerja lebih canggih ketika itu dibandingkan tanpa ikatan kebersamaan. Hidup bersama kawanan memiliki dampak buruk, sikapsikap manja akan terbersit jika ada halhal yang sebenarnya bisa dilakukan secara sendiri, malah meminta bantuan kepada kawan yang ada. Hidup kawanan tidak bisa menjadikan Anda seperti elang, tapi malah membuat Anda jadi seperti seekor kucing.

Namun, di saat lapar, kucing bisa menjadi hewan yang baik. Dia rela memberikan pertolongan bagi sejumlah kawanannya. Ketika memiliki sedikit makanan, pasti dia menyisihkan seperempatnya biarpun itu hanya berupa tulang ikan. Kesetiakawanan kucing, sering saya temukan di dalam hati temanteman di saat waktu makan siang atau malam. Di saat pagi malah jarang karena memang di waktu itulah kami bertahan tanpa makanan.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kucingkucing juga terkadang egois. Apalagi jika menyangkut musim kawin. Terkadang di masamasa itu kucingkucing jadi sensitif. Hingga itu berefek kepada saat berbagi rezeki. Jangankan berbagi, untuk mengajak makan bersama saja batang hidungnya tidak bakalan kelihatan. Toh kalau muncul, perutnya sudah besar akibat makan bersama kucing jenis hello kitty. Saya yang sudah kepalang lapar, harus mencari kucingkucing kesepian yang bernasib sama.

Ada artikel yang sempat saya baca mengenai bagaimana sikapsikap orang berhubungan dengan buku. Bahkan sikap bagimana manusia memberlakukan buku dibaginya bertingkattingkat berdasarkan kesenangan dan kecintaan. Disebutkan bahkan ada orang yang membeli rumah hanya untuk menampung jutaan buku yang dipunyai. Juga, banyak orang yang mempunyai ribuan buku, dituliskan justru tak satupun pernah dibacanya. Orangorang macam ini, disebutnya dengan suatu istilah yang saya lupa namanya. Semacam istilah dalam ilmu psikologi.

Menggilai buku juga disebut sebagai suatu sikap yang mendua. Ada orangorang yang senang melihat keindahan bukubuku dijejer di rakrak buku. Ada orang yang memang memiliki buku atas dorongan ilmu pengetahuan. Juga, banyak orang yang mengoleksi buku atas kesenangan semata. Sikap ini miripmirip kolektor prangko. Yang dilihatnya bukan isi bukunya itu sendiri, melainkan malah berupa gambargambar yang nampak dari cover atau halamanhalamannya.

Bahkan, perlakuan negatif terhadap buku juga sempat disebut dalam artikel yang saya sudah lupa di mana menemukannya. Perlakuan negatif ini berupa aksiaksi kekerasan yang ditunjukkan dengan cara merampas bahkan sampai membakar. Motivasinya bisa saja karena kebencian terhadap ilmu pengetahuan, atau memang ingin menghilangkan ilmu pengetahuan dari peredaran peradaban. Yang terakhir ini, banyak ditemukan di negerinegeri yang belum menyadari arti penting bukubuku. Bahkan ada negeri yang sudah berperadaban, justru menghilangkan bukubuku karena khawatir kekuasaan pemerintahannya terganggu.

Untuk tingkatan tertentu, memang ada orang yang seperti kesurupan kalau ingin memiliki buku. Mereka bisa jadi orang gila kalau melihat paginapagina tersusun rapi. Kesadarannya bahkan langsung lenyap seketika. Yang ada hanya b-u-k-u di dalam kepalanya. Tiada yang lain. Mungkin Tuhan juga hilang. Bahkan buku itu sendirilah Tuhannya. Orang jenis ini sangat jarang ditemui. Tapi yakin dan percaya, mereka bisa jadi berada di sekitar Anda.

Saya belum sampai ke tingkat yang demikian. Buku belum menjadi Tuhan bagi diri saya. Ilmu tauhid masih bekerja dengan baik di kepala saya, mana Tuhan sesungguhnya, mana buku ciptaan Tuhan. Walaupun terkadang yang terjadi lewat buku saya mengenal Tuhan. Begitu pula saya masih bisa tahu lewat buku, orang bisa menjaga kesadarannya. 

Itulah sebabnya, semalam saya rela membeli buku walaupun harihari ke depan saya harus mencari kucingkucing yang senasib. Karena saya tahu, bersama kucingkucing lapar, Tuhan kerap datang untuk bilang "sembunyikan cakarmu, walau belangmu berbeda." Di situ saya jadi sadar, lewat kelaparan bersama kucing senasib, kita bisa bersamasama duduk dengan Tuhan sembari bincangbincang tentang buku baru yang sempat dibeli.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...