18 Januari 2016

es krim idaman


Di waktu kecil saya sering berjalan kaki hampir setengah kilo ketika turun dari bemo menuju ke sekolah. Jadi setelah naik bemo dari rumah sesekira tujuh sampai delapan kilo, saya harus turun untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Maklum karena saat itu jalur bemo tidak lewat pas di depan sekolah. Tidak apaapalah, hitunghitung olahraga. Oh iya, saat itu saya masih duduk manis di sekolah dasar.

Jadi mudah ditebak, selain menjadi murid yang taat akibat pelajaran PMP (pendidikan moral pancasila) di sekolah, saya merangkap jadi olahragawan cilik yang kuat. Bagaimana tidak, bayangkan jarak rumah yang jauh dari sekolah, pasti akan banyak memakan waktu selama di perjalanan. Apalagi kalau sebagai murid teladan mamak, masuk tepat waktu adalah idaman mamakmamak seluruh Indonesia. Nah karena inilah, Bahrul kecil sekaligus imutimut harus melangkahkan kakinya dengan gaya berjalan jalan cepat. Bung, setiap pagi saya seperti olahragawan Olimpiade.

Sering kali saya merasa kasihan dan jengkel di setiap pagi lantaran sering diacuhkan sopir bemo. Tentu saja saya jengkel dengan sopir bemo yang enggan mengangkut anak kecil seperti saya. Dipikiran mereka apa untungnya mengangkut anak kecil seperti saya, mengetahui nama menterimenteri saja tidak. Sudah pasti akan membuat sesak berdiri di belakang sopir, dan ketika turun, cepatcepat mengambil langkah seribu tanpa membayar. Dasar anakanak tak tahu diuntung. Puki mak!!

Dan kamu tahu kan kepada siapa saya kasihan? Benar, ya diri saya sendiri ini, ketika berdiri sendirian di pinggir jalan menunggu bemo sialan. Sampai seragam basah akibat keringat sementara banyak bemo yang lewat begitu saja di hadapan Bahrul kecil yang lugu anak kesayangan mamak. Betulbetul miris nasib anak ini. Pasti akan telat setiba di sekolah.

Saat itu di ibu kota Kupang, bemonya tidak seperti bemobemo di tempat lain. Berbeda dari Makassar, di Kupang bemobemonya dipermak jadi bemo yang gaul. Cat bemonya warnawarni mulus mengkilap. Setiap bemo punya namanama khusus yang tertera di samping badan bemo. Di depannya tidak lengkap kalau tidak memasang semacam bamper khusus. Belum dengan macammacam lampu hiasan yang disematkan. Stikerstiker aksesoris yang membuat indah bagianbagian tertentu bemo. Dan ini yang paling khas, setiap bemo berlombalomba memiliki soundsystem paling canggih seantero semesta untuk menghibur penumpangnya dengan lagulagu super kencang. Kalau sudah begitu, jika kalian ingin melihat diskotik berjalan, tengoklah bemobemo di kota Kupang. Dahsyat benar.

Bemobemo seperti itu sangat tidak disukai ibuibu yang sudah beranak pinak berjutajuta anak hingga menambah kepadatan penduduk, tapi sangat disenangi anakanak muda sekolah dan kuliahan. Perlu dicatat, Bahrul kecil juga (ingin) suka naik bemo yang gaulnya bukan main itu, tapi bagi sopirsopir bemo yang ratarata masih muda lebih tertarik mengangkut cewekcewek sekolahan yang sudah mulai bermekaran buah dadanya. Jadi hanya dua warna yang disukai sopirsopir bemo bangsat itu; biru dan abuabu. Merah jangan ditanya, seperti pemerintah orba, itu sudah jelas tidak diangkut.

Tapi keadilan tuhan tidak akan kemanamana. Masih ada yang ingin mengangkut Bahrul kecil beserta anakanak SD yang terlanjur dimusuhi pemerintahan bemobemo gaul. Mereka adalaha sopirsopir dengan kumis tebal di atas mulutnya yang hitam akibat banyak menghisap rokok Bentoel biru. Mereka inilah dewa penyelamat kami yang masih kuat memegang perintah agama, bahwa angkutlah anakanak kecil itu, sesungguhnya rejeki bersama mereka. Maka dengan iman yang mengendap bersama asap rokok di dalam dada, diangkutlah kami anakanak Adam yang malang ditinggal bemobemo yang dikutuk oleh seluruh ibuibu tua bangka.

Bemobemo kesayangan neneknenek yang sering pergi ke gereja di hari minggu ini, merupakan antitesa dari bemobemo gaul pengangkut cewekcewek biru abuabu. Kalian tahu kan apa itu antitesa? Tidak tahu!? Masak harus saya jelaskan berjamberjam tentang antitesa yang banyak ditemukan di filsafat itu? Persetan!! Kalian cari saja sendiri di kamus Ilmi yah? Sorry maksud saya bukan kamus kepunyaan Ilmi, tapi ilmiah.

Oke. Yang saya mau bilang bemobemo semacam ini selain keberadaannya sudah hampir punah, di masa itu mereka kalah telak dengan bemobemo yang sungguh mengkilat catnya itu. Mereka kalah pada dua hal; tampilan fisik mobil, dan banyak tidaknya penumpang. Kekalahan ini implikasi dari bemo mereka yang memang lebih mirip besi tua belaka. Tapi mereka masih punya kekuatan yang menjadikan mereka pemenang. Bemobemo tua ini masih punya kesetiaan mengangkut ibuibu tua atau anakanak kecil yang terlantar di tengah jalan. Nah, bemo macam inilah yang sering menyelamatkan saya ketika berangkat ke sekolah.

Hari ini saya mendugaduga apakah dulu bemo karatan itu memang ikhlas mengangkut penumpang seperti saya. Barangkali mereka sedang berjudi dengan diri sendiri. Jadi hitunghitungannya mirip pembuktian tuhan Blaise Pascal (Pascal’s Wager), kalau diangkut kemudian penumpang turun dengan membayar maka sopir itu beruntung. Toh kalau pada akhirnya penumpang sialan tak tahu berterimakasih tibatiba langsung kabur tanpa membayar, maka sang sopir tetap mendapatkan keuntungan berupa amal kebaikan. Sehingga tak ada ruginya mengangkut anakanak ingusan yang belum mengerti apa itu pancasila. Oh iya, mesti diingat situasi ini hanya berlaku ketika sopirsopir berkumis itu memang sudah tak punya banyak pilihan hanya karena kekurangan angkutan.

Sampai sekarang jika melihat pete’pete’, yang saya kenang adalah bemobemo gaul nan aduhai itu. Mereka sudah jadi angkutan umum yang super memikat. Kalian harus tahu kata memikat di sini hanya berlaku bagi anakanak muda sekolahan. Bagi orangorang tua, mereka punya idola sendiri; bemobemo yang reyot dimakan karatan. Makanya ketika SMP, sering kali saya melampiaskan balas dendam kepada bemobemo yang dulu mengacuhkan saya di pinggir jalan. Caranya ketika turun, saya langsung berlari begitu saja tanpa membayar. Orang Makassar punya istilah untuk menyebut peristiwa semacam ini: Masih Mauko!!

Tapi sayang, aksi balas dendam itu pernah jadi boomerang. Untuk bemobemo yang pernah saya kerjai, akhirnya kapok mengangkut saya. Malangnya karena itu, saya jarang bisa naik bemo yang gaul, malah saya harus kembali turun kasta menaiki bemobemo kelas dua. Mensiasati agar hal ini tidak lagi terjadi, saya akhirnya ikut dalam gerombolan anakanak cewek ketika naik ke atas bemo. Dengan cara ini saya seperti ikan remora di mulut ikan hiu. Berdempetdempetan di sekitar cewekcewek penggila Spice Girl’s.

Kalian juga mesti tahu, bemobemo di Kupang juga memiliki asisten pembantu. Di Kupang mereka disebut Konjak. Konjak sering kali menggelantung begitu saja di bibir pintu bemo. Tugas mereka selain berteriak mencari penumpang, juga bertugas sebagai mesin kasir. Sumpah, dulu ketika melihat konjak, saya seperti melihat orang yang hebat luar biasa. Bayangkan kalau bemo sudah berlari kencang di jalanan, mereka dengan santainya bergelantungan dengan rambut terurai gondrong diterpa angin. Apalagi dengan kaus junkies seadanya dengan setelan celana jeans yang sobeksobek karena keseringan disikat. Pikiran saya langsug terbang kepada artisartis rock n roll tahun 90an.

Di saat saya bergerombol bersama cewekcewek jerawatan dengan baju seragam bercampur bau keringat dan parfum, konjakkonjak macam inilah yang seringkali menyortir penumpang macam saya ini. Dasar mata keranjang!! Konjakkonjak ini lebih senang mengangkut perempuanperempuan yang belum mengenal apa arti memakai kawat gigi di abad 20. Kalau angkutannya sudah penuh, baru konjak dan sopirnya menyungging senyum kemenangan. Tak lama setelah itu, baru musik Aqua diputar keraskeras…Come on Barbie, let's go party! Ah ah ah yeah, Come on Barbie, let's go party!Ooh wow, ooh wow…

Sebenarnya saya ingin bercerita tentang keinginan tersembunyi saya ketika lewat di depan toko milik seorang Cina. Satu toko yang terletak tepat di depan pintu masuk gereja tempat saya berjalan kaki. Ketika berjalan menuju sekolah, mata saya pasti tidak lepas dari kotak besar yang disebut slinding flat glass freezer. Itu loh kotak penyimpan es krim. Ke dalam kotak itulah pikiran saya tertuju. Bersemayam bersama es krim es krim yang saya tak tahu rasanya. Semenjak saya tahu ada yang disebut es krim, ingin rasanya saya membelinya. Satu saja. Itu sudah cukup. Lidah kecil Bahrul sangat ingin mencicipinya. Tapi sayang, saat itu hanya jadi anganangan belaka. Apa daya uang jajan tidak mencukupi. Itupun kalau ada. Kasihan.

Coba kamu bayangkan ketika berjalan di siang bolong dengan terik matahari yang seakanakan tinggal sejengkal. Panasnya bukan main. Dugaan saya sebelas duabelas gurun pasir di Afrika sana. Apalagi kalau itu terjadi di musim kemarau. Masya allah, panasnya minta ampun. Ingin rasanya masuk ke dalam gereja mencari air minum. Air ledeng juga tak masalah, yang penting kerongkongan tidak seperti di tusuk jarum. Ingin membeli es lilin apa daya, uang yang ada akan digunakan hanya untuk membayar konjak mata keranjang sialan. Saya kapok diteriaki makimakian khas ibu kota Kupang kalau langsung lari tanpa membayar. Maka membayangkan es krim yang tergeletak adem di dalam kotak penyimpann itu adalah fatamorgana yang memberikan semangat untuk hidup. Cukup membayangkan saja. Membelinya adalah mimpi di siang bolong saja. Malang betul nasib.

Makanya melalui tulisan ini, saya ingin meminta, kepada kamu, iya kamu. Jangan purapura tidak tahu. Kamu yang saya maksud, bukan orang di belakangmu itu!! Saya hanya ingin meminta, maaf, tepatnya memohon, itu pun kalau kamu berniat membantu saya. Tentang keinginan masa kecil yang tak kesampaian. Saya mohon yaa…Bisa tidak kamu membelikan saya satu es krim saja. Iya satu saja es krim. Hanya es krim belaka. Bisa kan? Pliss..


13 Januari 2016

pliss..jangan menggonggong anjing!!


Kawan, mari dengarkan cerita saya. Tolong diperhatikan ya. Jangan gawai terus yang diurus. Barangkali kalian punya masalah yang sama. Baiklah. Jujur saya sangat khawatir dengan gonggongan anjing. Bisa dibilang sebenarnya saya takut terhadap anjing. Jadi bukan saja suara gonggongannya, tapi anjingnya kawan. Kalau dibandingkan, saya lebih takut anjing daripada gonggongannya. Apalagi kalau anjingnya yang menggonggong. Bukan main dua kali lipat takutnya saya. Biarpun kafilah sudah berlalu, ketakutan saya masih saja saya rasakan sampai sekarang.

Ceritanya begini. Dahulu kala, pada suatu waktu hiduplah seekor anjing dari negeri antah berantah. Dia hidup di perkampungan penduduk yang gemar memelihara anjing. Kebiasaan perkampungan itu memelihara anjing tiada lain untuk menjaga pekarangan rumah penduduk tetap steril dari para penyamun. Alhasil untuk membuat tetap bugar sehat wal afiat, anjinganjing yang tumbuh dibiarkan berkeliaran untuk menjaga agar peka terhadap setiap sudut kampung. anjinganjing yang dibiarkan tumbuh dengan alami, akhirnya menjadi anjing yang super cepat dan tangkas. Mereka tumbuh dengan luar biasa sempurna.

Celakanya, di sebelahnya, hiduplah kakak beradik yang selalu melewati perkampungan penuh anjing hanya untuk menunaikan sebagian dari agamanya; belajar mengaji. Malangnya, selain mesjid tempat mengaji jauh, kakak beradik ini harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Ini bukan karena pertimbangan setiap langkah kaki menuju mesjid akan dihitung sebagai pahala, melainkan hanya memang lewat kampung itulah jalan pintas yang paling dekat menuju mesjid.

Nah, perlu dijelaskan di sini, kakak beradik yang belum akil balik itu harus ke mesjid tiga kali selama seminggu. Jadi bayangkan selama tiga hari mereka harus menjaga kesucian badaniahnya dari gerayangan anjinganjing. Bagi anakanak seumuran mereka, menjaga kesucian badaniah adalah prinsip utama beragama. Masak kalau mendirikan sholat,  baju harus penuh dengan bulubulu kucing. Kan kata ustadz itu najis. Apalagi kalau itu bulubulu anjing. Wah bisa runyam di akhirat nanti.

Juga kakak beradik itu sering menghabiskan waktu bermain tanah. Masak ketika pergi mengaji tubuh masih penuh dengan tanah. Nanti di saat pergi mengaji, nanti dikiranya belum mandi. Seharusnya tubuh harus bersih kan? Biarpun manusia berasal dari tanah, bukan berarti badan harus penuh tanah saat menghadap Tuhan maha pencipta tanah bukan? Makanya itu tubuh harus dijaga sesucisucinya.

Maka godaan apalagi yang paling berat selain melewati perkampungan penuh anjing tanpa mengalami hadas. Bayangkan betapa beratnya ujian yang harus dilewati kakak beradik ini. Mereka harus berjalan dengan cara pelan sepelanpelannya. Seperti sudah terbiasa melewati pekarangan rumah yang memiliki anjing. Bersabar mengayunkan kaki mereka tanpa mengundang kecurigaan anjinganjing yang tidur bermalasmalasan.

Begitulah yang dialami kakak beradik ini sampai akhirnya tiba waktu suatu kejadian yang banyak mengubah segala hal. Termasuk trauma mendalam yang di alami oleh salah satu di antaranya.

Singkat cerita, ketika hobi berlari menjadi semacam kesenangan baru bagi kakak adik ini, di saat pulang mengaji ada inisiatif aneh untuk menguji kecepatan berlari  di antara mereka. Caranya sederhana, mengganggu anjinganjing yang sedang tidur bermalasmalasan.  Mekanisme kerjanya setelah beberapa meter  jauhnya dari anjing yang ditarget, kakak beradik ini memulai aksi nekadnya; membangunkan anjing yang pulas tertidur.  Caranya sederhana, hanya menirukan suara nyalak anjing dan sedikit memperlihatkan ancangancang berlari. Tak butuh berapa lama, umpan akhirnya di makan target.

Kawan, ini bukan mancing mania, yang ketika umpan telah dimakan maka tugas pemancing hanya diam ditempat sambil menarik ikan tangkapannya. Ini anjing kawan. Yang harus kamu lakukan setelah membuat gusar anjing yang sedang asikasiknya tidur siang adalah berlari sekencangkencangnya. Apalagi ini sebenarnya adalah uji kecepatan berlari. Karena itulah siapa yang paling cepat sampai di seberang jalan maka dialah juaranya. Jadi tak ada yang disebut, mancing mania, mantap!!!

Sial, tunggu dulu, sepertinya ada yang aneh. Bukankah kalau hanya untuk menguji siapa yang paling cepat berlari tidak harus mengikutkan anjing sebagai ujiannya bukan? Kalian hanya cukup menyepakati suatu titik sebagai tujuan akhir  yang mana siapa yang paling cepat sampai maka dialah juaranya kan? Bangsat. Ide siapa sebenarnya ini. Terlanjutr nasi sudah jadi bubur. Anjing itu sudah terlanjur berlari. Sudah tidak ada waktu lagi. Maka kakak beradik itu hanya bisa berlari sekuatkuatnya agar selamat dari rahang anjing kampung dewasa.

Dasar anakanak, dikepalanya belum bisa membandingkan kecepatan berlari anjing dewasa dengan kecepatan berlari anak kecil berusia dua belas tahun. Tamat SMP saja belum. Paling banter baru saja menuntaskan hapalan kalikalian sembilan sambil terseokseok dikalikalian delapan. Itupun setelah dipaksa oleh kepala sekolah yang senang mengagetkan muridnya dengan todongan pertanyaan kalikalian secara tibatiba. Jadi kalau tidak bisa menjawab akibat kaget mendapat pertanyaan ketika kepala sekolah masuk tibatiba, maka tunggu saja sampai terlambat pulang.

Sehingga modal utama kakak beradik itu hanya kesombongan dari keyakinan bahwa mereka  mampu mengalahkan kecepatan anjing berlari. Tapi ternyata itu hanyalah keyakinan di dalam kepala anak ingusan yang tak tahu diuntung.  Kejadian sebenarnya tidak sampai lima menit, posisi anjing yang semula masih terlihat jauh sudah berada beberapa meter dibelakang pantat tepos kakak beradik itu. Siapa sangka tuhan menciptakan mahluknya dengan kelebihan masingmasing. Ternyata anjing itu punya kecepatan berlari yang super cepat. Dan pantat dua anak ingusan yang jadi sasaran empuk anjing yang sedang gusar.

Entah dari mana anjing itu mendapatkan kekuatannya. Caranya berlari bukan seperti anjing panuan yang pincang akibat dihajar warga kampung. Yang ini sungguh anjing yang sehat. Entah vitamin apa yang diberikan pemiliknya. Hanya dengan perbandingan lima langkah berbanding satu, suara gonggongan anjing ini mirip sirine yang meraungraung di jalan raya yang padat. Dari caranya menyalak, jelas sekali anjing ini begitu bergairah melompati dua tubuh ceking anak ingusan yang menjadi targetnya. Ehm..keadaan nampaknya menjadi terbalik. Semula anjing ini yang dijadikan umpan berlari, tapi sekarang justru..akh kau tahulah siapa kawan.

Maka tak lama, ketika jarak bukan lagi penghalang antara dua mahluk tuhan yang berjauhan, dengan ijin yang di ataslah dua mahluk tuhan akhirnya dipersatukan. Kun faya kun, terjadi maka terjadilah, salah satu pantat dari dua anak manusia itu mau tak mau harus ikhlas disantap moncong anjing sialan tak tahu belas kasihan. Entah pantat siapa. Yang jelas bukan sang kakak yang menemukan takdirnya. Justru di sore itu, erangan sang adik membuat perlombaan itu menjadi nasib yang sial.

Ya, perlombaan itu nyatanya berubah menjadi bencana. Pantat sang adik akhirnya harus jadi ajang amukan moncong anjing. Celananya langsung sobek dicium mulut anjing. Sementara di pantatnya ada bekas gigitan anjing. Sampai di sini, kita tak tahu apakah saat itu sang anjing sudah menggosok giginya. Yang pasti, namanya anjing, giginya bukan main tajam kawan. Beruntung saat itu belum ada anjing stres akibat virus rabies. Kalau saja saat itu yang menggigit adalah anjing rabies, bisa jadi sudah banyak bekas suntikan di perutnya.

Setelah peristiwa itu terjadi, sang adik harus lama berdiam di atas tempat tidur menjaga pantatnya tetap steril. Dan kemudian, mereka berdua akhirnya kapok melewati perkampungan horor itu. Tidak lama dari kejadian itu, aktivitas mengaji jadi terhenti. Sementara sang kakak tibabtiba langsung kehilangan nyali saat melihat anjing. Apalagi mendengar suara anjing yang menyalak. Diamdiam sang kakak mengalami trauma berat pasca bencana. Ya, itu bencana kawan. Siapa yang mau pantatnya jadi santapan gratis anjing kudisan. Jadi ini bukan luka sederhana. Ini trauma yang super berat.

Kamu sudah paham kan siapa yang mengalami gangguan psikologis berat karena anjing. Sayalah orang yang kehilangan nyali kalau berhadapan langsung dengan hewan paling menakutkan sedunia itu. Bahkan saya pernah terjatuh dari motor akibat suara gonggongan anjing. Apa lacur maksud hati ingin menambah gas, justru berakhir mencium aspal jalanan. Karena itulah sampai sekarang saya trauma kalau mendengar orang menyalak, maka akan saya kira anjing. Apalagi kalau memang yang menyalak adalah anjing yang sebenarnya.

Fajar sudah besar, dan saya juga sudah besar. Yang saya sesali adalah trauma dan ketakutan saya yang semakin akut. Musababnya akhirakhir ini kalau malam, semakin banyak anjing berkeliaran di rute jalan yang sering saya lalui. Jadi pliss.. kalau kamu bertemu saya di jalan jangan sampai berteriak, apalagi menyalak, seperti yang saya bilang, kamu akan saya kira anjing. Cukuplah gerombolan berjubah saja yang sering menyalak. Mereka sebelas duabelas seperti anjing. Omongomong apakah kamu tahu cara menyembuhkan penyakit saya?


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...