11 Januari 2016

awas, kamar mandimu!!


Kau tahu kawan, tempat yang paling mengerikan itu ternyata kamar mandi. Ya, kamar mandi. Sudut kecil yang jarang terurus. Karena sering diabaikan, makanya jadi tempat paling membahayakan. Itu saya tahu ketika baru saja menurunkan jangkar di kamar mandi teman saya. Sorry, bukan punya teman saya, tepatnya kamar mandi sejuta umat; rumah kos.

Seperti Descartes, di tempat kutu kumpret itu, saya menemukan terang kesadaran yang jelassejelasnya, yakni nyawa bisa hilang tibatiba di dalam kamar mandi. Kenapa bisa? Kawan, sini saya beri tahu. Di kamar mandi, terutama kamar mandi sejuta umat, bekas sabun bisa menjadi sebab dominan kematian seseorang. Efeknya hampir sama dengan racun yang dimasukkan ke dalam tubuh Munir oleh Pollycarpus. Musababnya sederhana, yakni karena dia licin. Maksudnya?

Oke. Baiklah sepertinya saya harus menjelaskan secara kronologis. Perhatikan baikbaik kawan. Siap. Mari mulai. Kapan kalian sering mengunjungi lubang abadi di closet itu? Di waktu pagi? Saat kalian bangun setelah bermimpi bertemu bidadari? Atau saat menghabiskan satu aliran air sungai gangga? Atau saat menjelang tidur malam? Ketika mata sudah beratberatnya? Atau.. Akh saya pikir hampir di tiap saat kita masuk berziarah ke dalam kamar mandi. Nah kalian tahu kawan, di saat itulah nyawa kalian jadi taruhannya. Sudah mulai paham?

Begini. Kita pelanpelan membahasnya. Nah ketika kamu masuk di dalam kamar mandi, entah karena ingin berak atau mandi besar, sabun adalah benda paling penting di dalam kamar mandi. Sabun, kamu tahu, benda yang hampir semuanya berbahan lilin itu sangat peka dengan air. Bahkan penggunaannya diwajibkan menggunakan air. Jadi bukan sunnah. Artinya kamu tidak bisa memilih untuk tidak menggunakan air di saat memakai sabun. Orang gila namanya itu, menggosokan sabun tanpa air. Nah, karena air inilah sabun menjadi berbahaya. Sudah paham?

Sepertinya saya harus bersabar. Tidak apaapa saya masih punya banyak waktu. Jadi sabun yang habis terpakai sudah takdirnya meninggalkan bekas yang mendalam di lantai kamar mandi. Ini terjadi karena sabun memang memiliki zat kimia yang tidak mudah hilang begitu saja. Zat kimia inilah unsurunsur yang setiap saat menjadi ancaman bagi kamu pengguna kamar mandi. Apalagi kalau kamar mandi yang digunakan sangat jarang dibersihkan. Sudah berapa banyak timbunan lilin yang melekat begitu saja di atas lantai.

Bagaimana sudah mulai jelas kan? Ya, betul sekali. Kamu bisa terpeleset jika tak kokoh menginjakkan kaki di atas lantai. Parahnya kalau itu tidak dibarengi dengan daya cengkram yang kuat kepada sesuatu. Maksud saya tangan anda yang tidak memiliki pegangan hidup. Perlu dipahami, ini pegangan hidup yang berarti sebenarbenarnya pegangan hidup. Arti harfiahnya kawan. Kalau sudah begitu banyak kemungkinan yang akan terjadi. Kamu bisa terpeleset dan langsung jatuh, atau jatuh terpeleset langsung mati. Kalian tahu kan bedanya. Yang kedua itu nyawa langsung terbang melalui atap bocor di atas kamar mandi anda.

Itu baru sabun kawan. Kamu tahu kan kalau di kamar mandi sabun bukanlah satusatunya benda penting. Maksud saya sabun itu mirip konsep nilai tukar dalam ekopol marxisme. Dia memiliki hubungan dalam satu proses jejaring. Sabun memiliki hubungan bendabenda yang terkait di dalam kamar mandi. Di situ ada shampo, pasta gigi, pencuci muka, deodorant, bahkan sabun cuci juga ada. Dengan bendabenda lainnya, terjadi kontadiksi internal secara dialektis yang menyebabkan lantai menjadi licin.

Kalau sudah begitu, lantai tempat semua dialektika itu terjadi akan menjadi super licin. Lantai akan semakin beresiko menyabung nyawa kamu kawan. Karena itu hatihatilah melangkah di dalam kamar mandi. Paling banter akan nginap tiga hari di rumah sakit akibat kepala yang bocor. Kan lucu kalau ada dua hal yang bocor. Cukup atap seng kamu saja kawan. Tapi kalau teledor, justru bukan rumah sakit, malah kamu akan berhenti di dalam peti mati. Sial kan.

Banyak orangorang menyelamatkan nyawanya di kamar mandi dengan menggunakan sendal jepit. Bagi mereka selain menghindarkan dari terpeleset, juga dipandang bersih. Saya tidak tahu peradaban mana yang memulai menggunakan sendal di kamar mandi. Hanya saja sepertinya itu efektif menyelamatkan populasi penduduk akibat kematian siasia di dalam kamar mandi.

Tapi harus diingat. Sendal justru juga bisa menjadi benda yang mematikan setelah pelbagai bendabenda seperti sabun dan keluarganya. Sederhana belaka musababnya, yakni bagian bawah sendal yang sudah aus. Kamu tahu kan yang saya maksud? Itu loh bagian bawah sendal yang bergerigi. Kalau bagian itu sudah semulus pipi Dian Sastro, saran saya gantilah dengan yang baru. Jangan sampai karena Dian Sastro kamu jadi mati kejedot sudut bak mandi. Mengerikan.

Makanya rajinrajinlah membersihkan kamar mandimu bung! Kalau perlu sikat sampai kerakkeraknya terangkat. Jangan sampai mirip kamar mandi teman kos saya itu. Masya allah, lantainya itu, bahkan sudah berlumut. Licinnya bukan main. Saya selalu diingatkan kematian kalau masuk di dalamnya. Salah sedikit bisa gawat, nyawa tebusannya. Makanya di situ perjuangan saya kalau masuk hanya untuk berdiri dengan sigap susahnya bukan main. Betulbetul perjuangan.

Itulah mengapa kalau di rumah, mamak panglima besar tak bosanbosan memberikan instruksi kenegaraan; jangan lupa kamar mandi seringsering dibersihkan. Kalau tidak, kamu tahu kan kawan, bagaimana seorang panglima besar marah. Ahok saja yang mukanya oriental begitu bukan main kejam kalau marah, apalagi muka mamak yang asli orang bugis itu. Jangan sampai deh.

Kemudian yang terakhir, orang bisa saja mati begitu saja di kamar mandi karena memang sudah suratan takdir. Kalau yang ini biar bagaimana pun cara untuk menghindarinya tetap saja akan terjadi. Yang namanya takdir ya begitu. Yang penting jangan sampai itu terjadi di saat kamu lagi jongkok buang air besar, kan tidak lucu? Makanya berdoalah jika masuk ke dalam kamar mandi. Mudahmudahan takdirnya berubah. Begitu.

Bagaimana kawan, kamu masih disitu? Kamu tidak sedang di dalam kamar mandi kan? Sudah paham? Alhamdulillah. Saya kira belum pahampaham juga. Baiklah kalau begitu. Oh iya, tadi kan saya bilang kalau barusan dari kamar mandi sejuta umat, melihatnya saya teringat nasib kamar mandi di rumah saya sekarang. Apalagi panglima besar mamak, tidak mungkin dia yang jongkok membersihkan kamar mandi di rumah sekarang. Bisa kualat saya. Makanya sayangi mamakmu kawan. Minimal kamar mandimu Bung! I love you mom.


10 Januari 2016

Derita di Rahim Kepala Penulis yang Sakit; Cinta dan Benci

Saya punya pikiran aneh bahwa seorang penulis itu sebenarnya adalah orang yang sakit. Pikirannya selalu menjadi musuh terbesarnya untuk ditaklukkan. Musababnya, di dalam kepala seorang penulis, dia selalu memelihara dua hal: benci sekaligus cinta. Dengan benci dia menulis. Melalui cinta dia bertahan dengan katakata yang minim.

Jadi sebenarnya seorang penulis itu adalah orang yang malang. Kepalanya penuh dengan bibit penyakit yang dibawanya tiap saat. Penyakit itulah musuhnya, sekaligus di dalamnya mengandung obat penawarnya; cinta itu tadi.

Makanya seorang penulis dengan sendirinya adalah orang yang kuat sekaligus lemah. Dia mudah tersentuh, itulah kelemahannya. Dia kuat karena selalu menanggung beban derita.

Saya juga menduga, sang penulis sejatinya adalah seorang yang sepi. Bahkan dari ini saya berkeyakinan bahwa karakter penulis yang sebenarnya adalah orang yang introvert. Dia selalu menyenangi sudut sempit kesepian. Atau senang merayakan kesunyian. Makanya itu kenapa menurut saya, seorang penulis memiliki teman yang sedikit, tapi mempunyai sahabat yang setia.

Orhan Pamuk setidaknya contoh yang paling jujur bagaimana penulis menjadi orang yang bisa hidup berlamalama di dalam pojok kesunyian. Selama delapan tahun ia mengurung diri di perpustakaan keluarganya hanya untuk menemukan ilham seorang penulis. Dan kita tahu, dari titik gelap bergelut dengan bukubuku, Orhan Pamuk menjadi salah satu sastrawan besar.

Orhan Pamuk, saya pikir betulbetul mengerti apa arti kesunyian bagi terang ilham seorang penulis.

Untuk itu, dari sudut ini, saya berani menimbangnimbang bahwa seorang penulis memiliki kelebihan di bawah satu tingkat seorang rasul. Musababnya sederhana belaka, selayaknya rasul, sang penulis mau bersetia di dalam peristiwa kesunyian. Dia mau berkawan dengan kesunyian dan menjadi nabi bagi karya tulisnya.

Ali Syariati juga saya pikir adalah contoh yang bisa diajukan bagi kasus ini. Terutama ketika dia mengalami keterasingan dari dirinya sendiri. Ali Syariati bukan seperti yang diduga Marx yang mengalami penjarakan antara dirinya dengan barangbarang produksi dan masyarakatnya, melainkan dia terasing justru dari sesuatu yang intim bahkan dari dirinya itu sendiri; kesadarannya.

Keterasingan Ali Syariati saya yakin adalah keterasingan yang juga banyak dialami oleh hampir sebagian penulis. Bahkan apa yang dialami Ali Syariati masih kurang dibandingkan dengan penulispenulis yang memilih bunuh diri akibat keterasingan yang menganga di dalam batinnya.

Ernest Hemingway adalah nama besar yang kita ketahui mengalami peristiwa yang sulit diterima akal sehat. Ia menderita dan kemudian mati dengan cara mengedor kepalanya. Dia meninggal dan karyanya menjadi umur panjang bagi usia Hemingway yang harus berhenti.

Ali Syariati dan Ernest Hemingway adalah tipikal penulis yang mengandung keresahannya dengan dua cara yang berbeda. Ali Syariati menemukannya di dalam cinta, tetapi Hemingway saya tak tahu.

Cinta memang kekuatan yang mendesak. Itulah yang menyebabkan Ali Syariati dapat keluar dari kerisauan akutnya. Melalui sajaksajak Jalaluddin Rumi, Ali Syariati menemukan kekuatan cinta yang dimaksud. Saya tak tahu apa yang bersemayam di kepala dan pusat batin ideolog Iran itu saat membaca teksteks Rumi. Yang saya duga, saat itu Ali Syariati tidak sedang membaca teks, justru dia membaca kenyataan.

Itulah yang membuat Ali Syariati selamat dari rongrongan kegalauan batinnya. Dari kenyataan yang vulgar dari teksteks Rumi, dia bisa jadi menemukan kekuatan yang paling purba dimiliki manusia; pasrah menerima dan mau membaca kenyataan.

Kemampuan inilah yang kuat dimiliki seorang penulis. Pasrah dan mau membaca kenyataan. Bukan teks. Itulah kenapa seorang penulis saya percayai sebagai seorang yang sakit. Sebab kenyataan itu adalah derita. Bahkan penderiaan adalah hakikat kenyataan itu sendiri. Dari sini saya bisa tahu, betapa bahagianya seorang penulis ketika menyungging senyum pasca aksaranya lahir. Tapi banyak yang tak tahu, bahwa di belakang itu ada hati dan pikiran yang menanggung kesakitan bertubitubi. Dia rela menampung dan mengerami kesakitannya demi melahirkan anakanak idenya.

Sebab itulah saya heran bila ada penulis yang membenci aksaranya. Pasalnya yang ia benci sejatinya adalah anak rahim pikirannya. Walaupun itu bukan disebut sebagai anak jadah, karena tulisan yang lahir dari rahim pikiran tak mengenal haram atau tidak. Toh kalau kita mau menyebut itu anakanak pikiran, yang bisa berlaku adalah sempurna tidakkah ia mengalami perkembangan. Baik tidakkah kita merawatnya.

Seorang penulis pasti tahu aktivitas yang mirip ibu itu. Setelah ia mengalami kesakitan, mengandung, dan melahirkan anak idenya, sebagaimana di dalam rahim, seorang penulis tidak berhenti merawat tulisannya. Dia harus menjaga tumbuh berkembanga tulisannya. Termasuk dalam hal ini adalah usaha editing yang dilakukan pasca penulisan. Aktivitas literasi semacam ini akhirnya membuat saya paham bahwa anak tulisan tidak dengan sendirinya sempurna, melainkan bertahap setingkat demi tingkat.

Makanya saya mulai berpikir kembali bahwa kematian seorang penulis adalah konsekuensi inheren ketika suatu karya selesai dituliskan, bisa diterima. Bahkan mau menyebut eksistensi penulis mati ketika tulisan telah menjadi kabar di hadapan publik. Asal usulnya jelas, penulis harus mengambil peran ibu untuk mendampingi tulisannya. Dia tidak layak melepaskan anaknya tumbuh berkembang dengan sendirinya. Untuk itulah sang penulis hadir secara berdampingan dengan tulisannya. Sampai kapanpun.

Melihat penulis harus berkerja dengan demikian, maka saya semakin yakin bahwa penulis adalah kutukan abadi bagi penderitanya. Pertama dia akan menjadi seorang pesakitan lantaran mengandung bibit benci dan cinta. Kedua dia harus rela terus menerus menjaga anakanaknya tumbuh besar. Ya!! Seorang penulis adalah sorang sakit yang mengandung anakanaknya lahir.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...