14 Desember 2015

Kawan Lama

Bertemu kawan lama itu seperti peristiwa yang anti sejarah. Apalagi tak banyak kenangan yang tersimpan. Tapi, ketika kita duduk bersama dan membincang hal yang tak dipikirkan sebelumnya, kita dipaksa untuk ditawan kenangan yang tibatiba muncul bagai matahari dan tenggelam sebelum sinarnya hilang di balik punggung lautan.

Kawan lama ketika bertemu begitu saja, akan sulit untuk mengambil satu topik yang menyenangkan untuk dibicarakan. Apalagi ingin mendahului pertanyaan seperti dilakukan kepada kekasih. Terpaksa yang dibicarakan adalah masamasa ketika pernah bersama, saat sepulang sekolah berpanaspanas ria jalan kaki menuju rumah. Atau saat di tiap sore menghampar di tanah lapang bermain sepak bola sampai magrib tiba.

Tapi yang paling mengejutkan adalah cerita tentang orangorang di masa lalu, yang tak tahu lagi bagaimana ukuran badannya sekarang, seperti apa bentuk mukanya, sudah seperti apa pekerjaannya sekarang, menjadi orang asing yang kita tanyakan. Di saat itu, tibatiba masa lalu jadi begitu singkat. Dan orangorang yang pernah ada di masa lalu sudah menjadi orangorang kebanyakan; yang terlupakan.

Walaupun begitu, saya merasa sedih jika orangorang terdekat mereka sudah mati. Di saat itulah betapa jauhnya saya dari kehidupan masa kecil, mendengar banyak hal yang sudah larut jadi silam. Orangorang yang pernah kita temui, mereka tumbuh tua, dan kemudian sudah mati. Anehnya, mereka adalah orangorang yang dulu hampir tiap siang sering kita lihat, dan sekarang mereka jadi bagian alam tak terbatas.

Yang menjadi lucu adalah ketika cerita kawan lama itu sampai pada bagian bahwa ia sudah beristri dan juga sudah cerai. Seperti menonton sebuah film yang kadangkadang tanpa emosi, ia juga bercerita ia bisa bercerai karena hanya masalah suka tidak suka kepada mertuanya. Akan jadi masalah bagi saya jika itu menimpa kehidupan saya. Mendengarnya, dunia menjadi bola yang bergerak seratus kali lebih cepat dari sebelumnya. Apalagi ia  meninggalkan seorang anak yang masih kecil. Ketika ia bercerita, saya merasa betapa gampangnya orangorang semacam itu bertindak nekad. Mengambil sikap atas suka tidak suka. Apalagi sekarang ia sudah tidak memiliki pekerjaan tetap.

Ia juga bercerita tentang kakaknya yang kebetulan teman saya di waktu sekolah menengah pertama. Kehidupannya jauh lebih baik dibanding kabar terakhir saat mendengarnya. Tapi itupun jadi lelucon karena ia juga bernasib sama seperti adiknya itu. Ia sudah bercerai dua kali, dan sekarang ia sudah beristri untuk ketiga kalinya. Mendengar itu, dunia betulbetul bergerak cepat.

Namun saya merasa, memang perlu mendengar ceritacerita yang tak biasa ketika saya susah bertemu kembali kawankawan seperti dia. Dulu kami menghabiskan waktu sampai tengah malam dengan mengotori udara kampung kami. Berlagak menjadi penyiar profesional padahal itu hanya kedok untuk mencari perempuan untuk dipacari. Di masamasa itu, memang kampung kami penuh dengan radio liar, dan juga otomatis banyak penyiarpenyiar yang sok gagah.

Pekerjaan itu tidak bertahan lama, sebab fm kami kalah saing dengan radio yang tidak terlalu jauh dari menara kami berdiri. Harihari itu saatsaat ketika saya harus meninggalkan kampung untuk melanjutkan pendidikan jauh di kota. Di saat itulah say a terputus total dengan tak pernah sekalipun mendengar kabar dari mereka.

Bertemu kawan lama tidak seperti sahabat lama. Tapi mereka juga pernah menjadi bagian dari episode yang tak kita dugaduga. Juga duduk untuk mendengar ceritacerita yang kita tak tahu harus diakhiri seperi apa. Namun, tiada salahnya jika apa yang pernah mereka ceritakan juga jadi hal yang pelanpelan membangkitkan kembali ingatan yang sulit untuk tidak disebut kenangan. Di situ, bertemu kawan lama memang suatu peristiwa yang anti sejarah.


13 Desember 2015

waktu kolektif

Modernisme memang mengubah banyak hal. Salah satunya adalah waktu kolektif. Dewasa ini, betapa langkanya waktu bersama yang dipunyai. Hilangnya waktu bersama adalah penanda bagaimana kejamnya modernisme mencuri yang “intim” dari ikatan sosial. Akibatnya, manusia jadi orangorang yang antisosial dan pelit kasih sayang. Selanjutnya, kita lupa bahwa ada yang disebut teman, sahabat, karib, dan sanak keluarga, tempat kita berbagi perhatian dan kasih sayang.

Waktu kolektif menjadi langka terutama karena makin beragamnya kesibukan dan kepentingan, sementara itu waktu begitu terbatas. Anthony Giddens mendaku modernitas telah membelah ruang dan waktu, sehingga orangorang sangat sulit berada pada satu momen yang sama. Sementara itu, semakin canggihnya alat informasi membuat orangorang semakin terpecah satu sama lain.

Di kehidupan rumah tangga, misalnya, tak menjamin kedekatan fisik berarti juga terjalin keintiman emosional di dalamnya . Berkumpulnya sanak keluarga dalam satu ruang, akibat kemajuan dunia teknologi dan informasi, membuat garis pemisah yang ditimbulkan melalui layar gadget. Melalui layar mesin canggih, ruang terbelah berdasarkan dunia yang berbeda atas kepentingan masingmasing.


Waktu bersama, akhirnya kehilangan intensitas walaupun dalam pengalaman yang sama. Ketiadaan agenda kolektif adalah sebab suatu komunitas mengalami desakralisasi atas waktu bersama. Hilangnya agenda bersama, juga mengakibatkan tidak adanya makna bersama untuk memaknai waktu yang dialami. Absennya pengalaman bersama atas waktu, juga dengan sendirinya akan merusak hubunganhubungan yang pada dasarnya menjadi tujuan waktu bersama itu sendiri.

Waktu di alam berpikir modern berdasarkan semangat progresif yang dikandungnya, selalu diartikan sebagai medan rasional yang memiliki kriterium tersendiri. Waktu akhirnya dipandang sebagaimana atom yang dapat dipilahpilah, dibagibagi, dan diklasifikasi berdasarkan efisiensi yang paralel dengan keberadaan kapital. Semakin banyak kapital yang dipunyai dengan waktu yang efektif, akan jauh lebih baik dibanding minimnya modal atas pemanfaatan waktu yang lama.

Waktu yang sudah dibagibagi itu akhirnya disusun berdasarkan muatan kapital yang terkandung di dalamnya. Maka ada yang disebut waktu kerja, waktu produktif, waktu libur, waktu senggang, waktu lembur dan pembagian lain sebagainya, berdasarkan seberapa jauh unsur kapital di dalamnya dapat dioperasikan.

Waktu dengan model pembagiannya itu juga paralel dengan ruang yang menjadi medan bertemunya kepentingan atas penggunaan waktu dan ruang itu sendiri. Waktu kerja akan disinonimkan berdasarkan tempat kerja ketika waktu itu digunakan. Waktu libur akan dihabiskan di lokasilokasi semisal mall, tempat bermain, rumah bernyanyi atau restoran, waktu belajar akan di manfaatkan di sekolah ataupun diperpustakaan, begitu seterusnya dengan mengikuti proses produksi kapital di dalamnya. Semakin banyak kapital diberlangsungkan di dalamnya, maka akan semakin tinggi nilai waktu itu sendiri.

Pemilahan waktu yang demikian akhirnya berdampak terhadap penggunaan waktu yang sebisa mungkin efisien. Adagium waktu adalah uang, adalah bahasa sosial yang terbangun dari etika kultural yang selama ini bersandar terhadap waktu yang bernilai kapital. Sehingga pendasaran atas waktu yang dipunyai, menjadi barang yang bernilai tinggi ketika dikaitkan dengan kapital yang dapat diproduksi di setiap momennya.

Di kotakota besar, pertimbangan atas dasar efesiensi waktu akhirnya juga turut mempengaruhi tata ruang kota untuk membangun fasilitasfasilitas publik. Sedapat mungkin infrastruktur perkotaan mampu melipat ruang dengan meminimalisir penggunaan waktu. Berubahnya infrastruktur perkotaan yang mengalami kepadatan dan kerapatan, selain berdampak hilangnya ruang, juga membuat waktu yang dikonsumsi kehilangan dimensi penghayantannya akibat keinginan untuk mengunakan waktu secepat mungkin.

Tak bisa juga ditolak, walupun kota mengalami kepadatan atas ruang, dengan sendirinya tercipta ruang baru yang memfasilitasi masyarakat yang terdorong dengan pemetaan ruang yang baru. Kehadiran ruang baru mau tak mau mengubah penghayatan masyarakat terhadap ruang yang sebelumnya dihancurkan untuk menghadirkan ruang yang lebih modern. Hanya saja, ruang baru yang tercipta di atas puingpuing kehancuran ruang sebelumnya, harus disesuaikan dengan logika waktu modern yang mengikutkan kekuatan kapital di dalamnya.

Untuk itu penting mendasarkan penghayatan atas waktu dengan mengikutkan semangat kolektif. Asumsi ini penting akibat pembelahan ruang dan waktu yang juga mencabik habis ikatan kolektif. Individualisme sebagai akibat dari tekanan terhadap waktu yang harus dikonsumsi dengan ringkas, dapat diminimalisir dengan menghadirkan kembali waktu kolektif sebagai daya pendorong untuk memugar waktu yang terbebani semangat kapital.

Betapa pentingnya waktu kolektif sehingga perlu ada ekstensifikasi untuk membangun keintiman di dalamnya. Tidak mudah untuk menggandakan waktu kolektif dari banyaknya spesialisai atas waktu. Diharapkan dari semakin banyaknya  waktu kolektif bagi masyarakat, dapat menunjang semakin banyaknya dimensi kebersamaan yang dimanfaatkan.

Pemanfaatan waktu kolektif adalah usaha untuk kembali merekatkan waktu dan ruang yang tercabikcabik oleh modernitas. Jika selama ini di dalam suatu komunitas anggotanya mengalami penjarakan akibat ruang,  maka dengan maksimalisasi waktu kolektif dapat menyembuhkan kembali ikatan kultural yang selama ini hilang.

Waktu kolektif juga akan merevitalisasi ikatan pertemanan, persahabatan, kolega, ataupun sanak keluarga yang direduksi maknanya atas ikatan yang rasional menjadi emosional. Di harihari perayaan misalnya, di situ waktu kolektif juga bisa menjadi waktu publik yang diartikan sebagai waktu bersama dengan mengedepankan asasasas kebersamaan. Hari tahun baru, misalnya, yang selama ini diformat dengan kegiatan seremonial, dengan waktu publik yang tersedia bisa memaksimalkan intensi kebersamaan dengan kegiatankegiatan yang positif.

Akhirnya, waktu kolektif juga bisa digandakan dengan menciptakan momenmomen bersama yang di dalamnya ada kemerdekaan atas waktu yang murni. Bukan waktu yang telah terspesialisai atas agenda kerja yang memenjarakan. Sebab, waktu kolektif sesungguhnya waktu ketika orangorang berkumpul bersama untuk menemukan ikatan yang hilang akibat kemapatan waktu yang terkapitalkan. Waktu kolektif memang juga perlu agenda, tapi disitu lebih kepada perayaan atas kebersamaan yang memanusiakan, karena waktu kolektif memang ingin mengingatkan kembali bahwa manusia sebenarnya adalah orangorang yang butuh empati, orangorang yang butuh kebersamaan.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...