06 Juni 2015

Orangorang Dengan Dosa Kecil

Hikayat menceritakan, manusia terlahir dari dosa. Tanpa dosa manusia hanyalah keberadaan tanpa bentuk. Akibat dosa, bumi terisi. Sebab dari dosa, manusia beranak pinak.

Dari perspektif demikian, dosa bisa menjadi awal mula. Bila tuhan memulai dirinya dengan sabda, maka manusia memulai dirinya dari dosa.

Dalam sejarah Ibrahimik misalnya, dosa adalah suatu permulaan untuk membangun kehidupan yang baru. Yesus dengan keutamaan pribadinya adalah sejarah di mana dirinya menjadi nampan seluruh dosa bagi umat manusia. Melalui penebusannya, tragedi yang menghentak kesadaran itu membuat manusia harus membangun kehidupannya lewat narasi yang telah di mulai Yesus.

Tapi jauh di masa itu, ketika sejarah belum bermula, justru penciptaan di mulai dari dialog tentang dosa.

Di islam, peristiwa itu direkam dalam teks suci. Bahkan salah satu malaikat memulainya dengan kesangsian terhadap perbuatan tuhan tentang Adam. Keraguan yang ditunjukan oleh malaikat di dalam peristiwa itu  seharusnya adalah ungkapan yang tak layak di ajukan, sebab itu penanda awal mula penolakan. Dari dialog malaikat dengan tuhan dalam peristiwa itu, apa yang di alami malaikat adalah dosa yang terselubung, sebab keraguan adalah asal muasal penolakan. Di peristiwa itu malaikat bisa saja meragukan, tapi ia tak mengambil suatu sikap untuk mengingkari.

Namun, dosa paling purba dan dikenal dari sejarah penciptaan adalah seperti yang diperankan sang Iblis. Kesangsian yang diperlihatkannya tidak sama seperti yang ditunjukkan malaikat. Kesangsian sang iblis adalah kesangsian pasca penciptaan. Dari peristiwa itu, seperti yang ditulis teks, sang Iblis menyangsikan dua hal; penciptaan manusia dan keunggulan Adam. Pertama sang iblis mengingkari peristiwa penciptaan yang telah terjadi, dan kedua adalah prosesi penghormatan kepada mahluk yang bernama Adam.

Ditingkatan pertama, yang menyebabkan dosa Iblis menjadi berbeda dari malaikat, adalah kesangsian dari peristiwa yang telah terjadi. Dosa Iblis berarti dosa terhadap kemampuan tuhan yang telah fixed. Suatu dosa dari apa yang telah betulbetul tampak. Barangkali karena inilah mengapa kesombongan adalah dosa yang paling besar, sebab kesombongan kerap dialami tepat ketika penolakan terhadap suatu ihwal benarbenar tampak benderang dihadapan kesadaran manusia.

Yang ke dua adalah penghormatan kepada keunggulan Adam. Di peristiwa ini sang Iblis punya kesan yang dilematis. Dilema yang pertama dari ukuran waktu, Iblis sebelumnya adalah mahluk yang beriburibu tahun menyembah tuhan tanpa pernah sekalipun mangkir. Dilema yang kedua yakni, perintah tuhan untuk tunduk kepada Adam adalah suatu tindakan yang merendahkan, atas dasar Adam adalah mahluk yang tidak ada apaapanya dari ukuran penyembahan Iblis terhadap tuhan selama beriburibu tahun. Atas dilema ini, sang Iblis memilih menolak perintah tunduk kepada Adam. Baginya hanya satu yang layak mendapat penghormatan, yakni tuhan itu sendiri.

Akhirnya dari  dilema itulah lahir dosa pertama pasca penciptaan. Dan bermula dari dialog Iblis dan tuhan yang di rekam dalam teks, manusia diciptakan.

Selain sejarah manusia yang memulai dari dosa, barangkali dosa selalu bermula dari dilema. Melalui dilema, manusia memasuki ruang kesadaran yang samarsamar terhadap suatu keputusan. Tanpa dilema suatu keputusan kehilangan suatu  bobot. Artinya pasca dilema, suatu keputusan adalah suatu tindakan yang telah jernih ditimbang. Suatu pilihan yang telah melewati berbagai macam perhitungan. Tapi suatu timbangan yang tak matanglah asal mula dari suatu dosa.

Tapi memang manusia adalah mahluk dengan dilema. Atau berarti manusia adalah mahluk yang dekat dari dosa. Sebagaimana betapa dekatnya narasi tentang dosa di awal penciptaan manusia. Itu berarti betapa akrabnya manusia dengan dosa, sampai akhirnya dosa merupakan takdir yang sedari awal dipunyai manusia.

Dan keakraban dosa dengan manusia biasa ditunjukkan salah satunya, di tempattempat dilema besar berada. Misalnya, di kantor tuantuan pejabat mengambil keputusan; di sana banyak dilema dan keputusan menyangkut orang banyak diputuskan, dan seringkali berubah jadi dosa atau seringkali aib. Dan dosa yang lahir dari dilema yang tak matang seringkali adalah korupsi; mencuri, mengkhianati dan melencengi amanah. Sebab itulah barangkali korupsi adalah dosa yang besar, sebab pertama menyangkut pencurian hak orang banyak dan kedua adalah dampaknya yang sistemik.

Namun di luar dari tempattempat semacam itu, dilema tak saja berpusat di tempat kekuasaan berada. Dilema juga banyak bersarang  pada orangorang dengan dosa kecil, yakni orangorang di luar kekuasaan itu sendiri; mereka yang tak pernah mengambil keputusan tentang banyak orang, tapi kebanyakan dari orangorang semacam ini adalah mereka yang sombong membiarkan suatu keputusan berlangsung tanpa diintrupsi. Barangkali!


20 Mei 2015

Membaca Eka Kurniawan



Perempuan Patah Hati yang Kembali
Menemukan Cinta Melalui Mimp
i


NAMA Eka Kurniawan kali pertama saya temukan melalui salah satu blog di dunia maya. Bisa dibilang, dari blog itu pertama kali saya mengenal sastrawan yang berkacamata ini. Dari blog itu juga saya bisa tahu ternyata Eka Kurniawan seorang satrawan yang sedang naik daun.  

Saya melihat dari blog yang sama, salah satu bukunya; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Saat itu, disertai tulisan yang mengulas karyanya ini, blog itu berhasil membuat saya penasaran untuk membaca karya-karyanya.

Sebenarnya, nama Eka Kurniawan tak begitu saya ketahui. Selain saya bukan pembaca karangan sastra yang baik, saya juga tidak banyak bersentuhan dengan perkembangan diskursus sastra. Tapi melalui blog yang saya baca, akhirnya saya bisa mengetahui bahwa Eka ternyata punya situs pribadi. Dari website itulah saya berusaha berkenalan dengan Eka melalui tulisan-tulisannya.

Perkenalan saya yang berkesan terhadap Eka sejatinya melalui buku kumcernya. Tentu buku yang diposting di dalam blog yang saya katakan tadi; Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. Melalui buku itulah saya bersentuhan langsung dengan kepengarangan Eka. Dan dari kumpulan ceritanya di buku itu, saya merasa harus memiliki buku-bukunya yang lain.

Maka mulailah saya mencari tahu buku-buku karangan Eka. Ternyata sebelum Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, sudah ada beberapa buku diterbitkan Eka. Dari situ mulailah saya mengoleksi karangan-karangannya, dimulai dari Cantik Itu Luka hingga novel terakhirnya; Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, dengan juga buku kumcernya yang lain; Corat-Coret di Toilet

Akhirnya mulai saat itu, ada dua sumber saya untuk membaca tulisan-tulisan Eka; Journalnya dan karangan-karangan kumcer dan novelnya.

Bisa dibilang saya terlambat mengetahui sastrawan ini, tapi dengan membaca hampir semua terbitannya; dimulai dari Perempuan Patah Hati Yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi dst., saya seperti kecanduan terhadap tulisan-tulisannya, terutama cerpen dan novelnya, sebab cerita-cerita yang disuguhkannya adalah suatu teks yang menolak sempurna, dalam arti suatu cerita yang dibangunnya tak selamanya ingin mengafirmasi suatu dunia yang bersih dari cacat. Melalui kesan inilah saya selalu senang membaca karangan sastranya.

Kesan semacam itu saya rasakan di saat pertama kali membaca novel pertamanya; Cantik Itu Luka. Novel yang hampir 500 halaman itu tak sekalipun menampilkan suatu figur yang sempurna. Begitu juga dari penceritaan latar belakang tokoh-tokoh utamanya, dari orang semisal Ayu Dewi, Sudancho maupun lainnya, merupakan simbol bagaimana suatu nasib manusia begitu jauh dari kesan lengkap dan ideal. Nampaknya penggambaran figur-figur dalam Cantik Itu Luka memang dikesankan Eka bermain antara dua ekstrim baik dan buruk, di mana suatu saat ada tokoh yang begitu dipuja tetapi di lain waktu dengan masa yang berganti, suatu tokoh bisa menjadi figur yang berkarakter cacat.

Dan novel terakhir Eka yang saya baca adalah Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Di novel itu ada Ajo Kawir, yang bisa dibilang tokoh utama yang melaluinya Eka berbicara bagaimana suatu  tatanan moral (perhatikan dua polisi dalam cerita itu) didekati melalui penyakit impoten. Dari penyakit impoten, Eka ingin membuka selubung kesadaran kita bahwa suatu penyakit tak selamanya “penyakit.” Dengan cara lain, melalui penyakit yang di derita Ajo Kawir, manusia dengan segala persoalannya dan kekurangannya merupakan mahluk yang punya dua bibir; bibir yang selalu berbicara kebaikan dan bibir yang mengambil kebaikan melalui cacat yang dialami. Dengan ungkapan lain, Eka ingin berbicara dengan tanpa menghimbau dan berkhotbah, melainkan dari aspek yang paling manusiawi, ia ingin berangkat dari cacat untuk memahami apa yang bisa diambil dari peristiwa itu.

Kesan yang sama adalah juga unsur yang tak hilang dari dua novelnya yang lain; Cantik Itu Luka dan Lelaki Harimau. Di sana selalu ada penggambaran watak dan sifat manusia yang tak utuh. Bahkan manusia adalah mahluk yang  selalu berada pada dua peririsan baik dan buruk. Yakni mahluk yang mengalami beragam peristiwa yang ideal dan sial. Dengan gagasan semacam itulah, saya melihat karakter tokoh-tokohnya selalu digambarkan sebagai manusia yang tak utuh, yang tak ideal. 

Dengan cara inilah saya kira, Eka ingin merepresentasikan dunia manusia yang sebenar-benarnya. Dan itu sangat terasa dalam Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, seperti misalnya Eka berbicara tentang seks sekaligus laku sufi dari Ajo Kawir. Dua kontras yang diramunya dalam ironi dan parodi.

Di luar dari itu, Eka adalah penulis yang taat. Persentuhan saya dengan Journalnya, ketaatan itu dipertahankannya dengan menulis peristiwa-peristiwa yang dialaminya setiap hari. Dari perspektif ini saya bisa mengatakan bahwa Eka punya dua medan menulis; Journal yang berisikan refleksi dan pandangan-pandangannya seputar sastra serta karya ceritannya, baik kumcer maupun novelnya.

Untuk hal ini, bisa saya katakan, ada dua Eka sebenarnya; Eka sebagai penulis Journal di websitenya dan Eka sebagai sastrawan yang melahirkan karya-karyanya yang monumental.  Dan dikatakan di Journalnya, Eka akan berpuasa untuk melakukan aktivitas yang kedua. Dari Journalnya ia juga berkata akan menjadi pembaca yang baik, dibandingkan penulis, seperti yang ia kutip dari Borges; membaca lebih intelek dari menulis.

Dari Journalnya, saya terkesan dengan daya jelajah Eka terhadap sastra. Eka seperti sudah berkeliling dunia dengan berkunjung pada  sudut-sudut terpencil, bisa dibilang melalui Journalnya, peta sastra dunia dibentangkan seluas-luasnya. Banyak sastrawan yang ia sebut di sana adalah bukti bagaimana dunia sastra begitu digelutinya. Dan ini yang membuat ia bisa dibilang sebagai tempat referensi dunia sastra.  

Melalui Journalnya, saya bisa banyak menimba wawasan seputar sastra di sana. Maka, seperti yang diharapkann Seno Gumira, perkembangan sastra Tanah Air salah satunya sangat bergantung dari pria ini. Maka saya kira Eka Kurniawan punya kutukan; membangun takdir sastra Tanah Air.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...