05 Maret 2015

madah empatpuluhtiga

"Segala kebenaran maunya diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak memerlukan itu, karena dia lah yang menunjukkan apa yang diakui benar dan harus berlaku." Paul Natorp

1970. Suatu malam di Tehran Iran, Husayniah Irsyad. Dua malam berturutturut, tempat aktifitas  intelektual keagamaan yang didirikan Khomeini itu akan membincang tema yang ganjil. Anakanak muda Iran saat itu sepertinya tak bakal menyangka, Ali Syariati, mentor yang ingin mereka dengarkan ceramahnya akan membincang tema unik: agama versus "agama."

Di kuliah itu, Ali Syariati mengajukan tesis di balik sejarah, sesungguhnya agama selama ini bukan berjuang melawan keyakinan nontheis, yakni pemahaman terhadap noneksistensinya Tuhan. Agama dari waktu ke waktu selalu melawan "agama" itu sendiri. Dengan kata lain, tokoh revolusi Iran itu ingin mengatakan: sepanjang sejarah, agama monotheis, yakni keyakinan yang percaya satu tuhan, selalu berhadaphadapan dengan agama yang percaya banyak tuhan.

Dalam ceramahnya itu , Ali Syariati membuktikan bahwa sepanjang sejarah perkembangan manusia, kehidupan masyarakat selalu menyertakan pemahaman tentang Tuhan yang tak mungkin kosong. Sejarah mula manusia, dari kelompok yang sederhana sampai peradaban yang kompleks, selalu diisi oleh keyakinankeyakinan religius dan spiritual. 

Dengan kata lain, atheisme adalah konsep yang tak pernah ditemukan dalam sejarah. Sebab sepanjang sejarah peradaban, atheisme sebagai keyakinan kolektif tak pernah ada dalam kehidupan purba manusia.

Dengan maksud itu artinya Ali Syariati ingin mengatakan agama sebenarnya adalah nilai esensial yang inheren dalam diri manusia. Di mana, keyakinan terhadap satu kekuatan yang mengatasi seluruh alam adalah keniscayaan yang tak bisa ditampik kesadaran manusia. Di titik itulah, apa yang disebut agama multitheis, dari Ali Syariati adalah agama yang menyimpang dari nilainilai esensialitas manusia.

Tapi adakah ia seorang penganjur fundamentalisme di sini? Yakni orang yang membangun iman tunggal untuk menerjang agamaagama yang lain? Sebab dalam tesisnya itu, bisa saja penganut tuhan yang mono, menangkap maksud sentimentalisme keyakinan monotheis Ali Syariati terhadap keyakinankeyakinan di luar lingkup imannya.

Atau dalam bahasanya itu, agama versus  agama sebenarnya adalah maksud yang ia tujukan kepada penganut monotheisme itu sendiri. Dengan katakatanya yang konon disenangi anakanak muda di masanya itu, agama dalam tanda kutip, bukanlah merujuk pada agama yang lain, melainkan agama monotheis itu sendiri.

Di sinilah Ali Syariati tak sekedar penganjur fanatisme, tetapi fanatisme yang dibangunnya adalah fanatisme yang kritis terhadap iman yang selalu dipugar dan dikontruksi terus menerus tanpa henti. Iman yang tiada mengenal batas pertumbuhan dan titik final. Iman yang virtualitasnya terus menjadi. Yakni iman dengan jalan suluk yang menghindari katup penutup sebagai tanda keterpenuhan. "Tiada akhir dalam tuhan" sebutnya jika tuhan adalah tujuan segala sesuatu.

Sebab itulah agama dalam tanda kutip ia artikan sebagai agama yang beku dan kaku dalam sejarah perkembangan manusia. Agama yang kaku itu, menariknya adalah keyakinan yang selalu melegitimasi keadaan status quo. Agama yang beku disebutnya agama yang kufr, yakni agama yang mendehumanisasi manusia dengan legitimasi teksteks untuk membiarkan konteks yang statis dan jumud.

Sebab itulah ia memiliki arti yang lain tentang kafir. Kufr, disebutkannya dalam tradisi keagamaan Islam bukanlah berarti arti dari nonagama, sebab sejak semula tak ada yang berarti nonagama. Kufr yang berarti menutup atau menanam adalah keadaan yang menutup diri dari kebenaran. Di dalam arti ini, kufr berarti tertutupnya pintupintu kebenaran dari iman. "Di dalam hati manusia" ungkapnya,  "kebenaran itu ada, tetapi karena alasanalasan tertentu, kebenaran tertutup oleh tirai kebodohan."

Kufr yang juga dalam bentuk jamak kafir, memiliki arti yang tidak sematamata lawan dari tauhid. Sebab dari yang dibilangkan Asghar Ali Engineer,  terma kafir dalam teks primer Islam, pertama kali diturunkan berkenaan dengan orangorang yang lalim dan zalim dalam memperlakukan manusia.  Kaitannya dengan kekuasaan, makna tersirat kafir sesungguhnya menghardik orangorang beriman yang menggunakan kekuasaannya untuk menipu dan berbuat semenamena terhadap bawahannya.

Yang kafir inilah disebut Ali Syariati sebagai agama dalam sejarah yang ambivalen terhadap agama yang sesungguhnya. Dan agama yang sesungguhnya bagi Syariati adalah agama yang dikatakannya revolusioner. Dalam ceramahnya itu,  agama yang revolusioner disebutnya sebagai agama yang memiliki "kemampuan untuk mengkritik kehidupan dalam seluruh aspek materil, spiritual dan sosialnya." Di sini, kemampuan itu punya maksud yang persis disebutnya seperti nabinabi: memberikan misi dan menghancurkan tatanan status quo.

Nampaknya agama yang revolusioner sudah pasti bukan agama yang disebut Marx sebagai candu masyarakat. Justru, agama yang melenakan semacam candulah yang dirasarasai harus dienyahkan. Agama yang demikianlah agama dalam tanda kutip, agama legitimasi, agama yang kufur.

Agama yang revolusioner saya rasa adalah agama yang punya keyakinan untuk membangun masyarakat yang bisa hidup adil dan sejahtera. Agama yang melihat kenyataan yang timpang harus tumbang dari perlakuan korup institusinya. Dan sudah jelas bukan agama yang kini tampak besar akibat layar kaca dengan atributatribut formalnya. Sebab agama yang kufur kata Syariati punya dua bentuk: tampak dan sembunyisembunyi.

Akhirnya yang sembunyisembunyi inilah yang sebenarnya berbahaya. Sebab agama tanda kutip juga disebut Syariati sebagai agama yang menyediakan tuhantuhan yang lain. Di dalam teologi dan sejarah, tuhan yang banyak sudah gamblang diungkap nabinabi sebagai berhalaberhala yang dipuja. Sementara yang tersembunyi, juga banyak tuhantuhan yang lain, yang diamdiam justru kita puji. Di mana di luar kita tundukkan, tetapi di dalam betapa akbarnya kita pertuhankan.

Syahdan, sesungguhnya bukan juga dalam sejarah agama yang monotheis selalu melawan agama yang punya banyak tuhan itu. Tetapi juga mungkin kita.

04 Maret 2015

madah empatpuluhdua

Dua hal yang tak disenangi Marx: alienasi dan nilai lebih. Di jaman industrialisasi tumbuh subur, bondongbondong masyarakat Eropa beralih kerja. Lahanlahan ditinggalkan, dan akhirnya pabrikpabrik penuh buruh. Di sanalah alienasi terjadi dan nilai lebih dicuri. Alienasi menghasilkan keterasingan, sementara nilai lebih berarti penghisapan.

Sebab itulah Marx menghardik sistem kerja di pabrikpabrik.  Di sana banyak buruh terasing dari kemanusiaannya. Alienasi tidak saja merenggut kebebasan buruh, tapi kehidupan sosialnya. Juga dari cara kerja yang disebutnya tak adil.  Buruh diberlakukan semenamena dengan mencuri waktu yang dimilikinya.

Apa yang dibenci Marx sebenarnya adalah konsekuensi kemajuan rasionalitas yang ditemukan dari kesadaran manusia. Semenjak terang kesadaran tak dikuasai dogma gereja, kesadaran manusia menemukan sejarah baru; industrialisasi. Melalui rasionalitaslah industri bisa besar dan massif menyebar. Tapi dari penyebaran yang massif itu juga berarti semakin luasnya penghisapan dan alienasi.

R. Dahrendorf dalam essay in the theory od society, melihat di zaman industri yang disebut kapitalisme itu punya ciri khas selain penguasaan atas milik pribadi, yakni penerapan yang ia sebut "rasionalitas pasar." Di saat itu, apa yang disebut "pasar" adalah tempat yang penting di mana pertukaran diberlangsungkan. Dalam konteks inilah tujuantujuan diorganisasikan melalui cara efektif dan efisien.

Tapi zaman juga sudah banyak berubah, kapitalisme juga sudah banyak berganti rupa. Termasuk kekuasaan yang menjadi sumbet legitimasinya. Kapitalisme tak mungkin menyandarkan kekuasaannya seperti yang disebut Weber sebagai sumber kharisma. Sebab tak ada yang sakral yang bisa juga disebut kesucian sebagai sumber kekuasaan. Di bawah kapitalisme kepatuhan tak didapatkan melalui otoritas tradisi sebagaimana kekuasaan di zaman sebelumnya bekerja, melainkan apa yang disebut kontrak. Denganyalah sebenarnya kesepakatan dibangun, tanpa harus melibatkan kepasrahan.

Keterlibatan yang terpaksa inilah menjadikan buruh lebih nampak sebagai mahluk yang tak berdaya apaapa dihadapan kapitalisme. Mereka terpaksa harus menjual tenaganya melalui legitimasi kontrak kerja. Dan malangnya, tenaga yang mereka miliki dan dikeluarkan saat bekerja tak sebanding dengan upah yang mereka terima. Inilah keadaan yang dicela itu: penghisapan.

Gramsci tokoh komunisme Italia, juga melihat hal yang sama. Penghisapan memang kejam. Tapi, menurutnya penghisapan yang dialami kaum proletar lebih halus ketimbang kontrak kerja yang memperantarai keterlibatan kaum buruh. Ada yang lebih membahayakan di mana mekanisme kekuasaan atas tenaga buruh sebenaranya adalah sesuatu yang sebenarnya disepakati. Artinya, kesepakatan yang sebelumnya melalui kontrak hanya bisa diberlangsungkan melalui aturanaturan rasional. Hegemoni begitu ia menyebut istilahnya adalah keadaan penghisapan oleh kaum borjuis, yang terjadi secara kultural.

Di sini, barangkali Gramsci tak saja bicara pada konteks kaum buruh yang terperdaya oleh sistem industri kapitalisme, melainkan juga kepada masyarakat pekerja yang massif ditemui hampir seluruh Eropa. Maksudnya, Gramsci melihat penghisapan yang dialami oleh masyarakat pekerja tidak  hanya pada dimensi ekonomi, tapi juga pasa dimensi kultural.

Pada saat itu, keadaan akan seolaholah menjadi situasi yang natural. Alienasi dan penghisapan menjadi hal yang nampaknya wajar. Apalagi dalam era kapitalisme lanjutan, kaum pekerja banyak diberikan pesangon untuk menetralisir kontradiksi yang dialaminya. Karena itulah perlawanan yang diharapkan Marx sulit untuk dimungkinkan. Kaum buruh sudah terlanjur netral dalam melihat keadaan yang dialaminya. 

Tapi sebenarnya, tidak semua kaum buruh mau tunduk dengan keadaan. Sebab masih banyak kita lihat serikatserikat yang dibentuk untuk merumuskan agenda perjuangan kelas yang disponsori Marx. Organisasiorganisasi perjuangan yang masih bergerak menghimpun kekuatan. Mereka berpolitik dan berjuang untuk keluar dari keadaan yang alienatif dan terbelakang. Sebab mereka juga tahu, tenaga mereka bukan modal yang semenamena dapat digunakan sebagaimana mesin yang terus dapat digunakan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...