04 Maret 2015

madah empatpuluhdua

Dua hal yang tak disenangi Marx: alienasi dan nilai lebih. Di jaman industrialisasi tumbuh subur, bondongbondong masyarakat Eropa beralih kerja. Lahanlahan ditinggalkan, dan akhirnya pabrikpabrik penuh buruh. Di sanalah alienasi terjadi dan nilai lebih dicuri. Alienasi menghasilkan keterasingan, sementara nilai lebih berarti penghisapan.

Sebab itulah Marx menghardik sistem kerja di pabrikpabrik.  Di sana banyak buruh terasing dari kemanusiaannya. Alienasi tidak saja merenggut kebebasan buruh, tapi kehidupan sosialnya. Juga dari cara kerja yang disebutnya tak adil.  Buruh diberlakukan semenamena dengan mencuri waktu yang dimilikinya.

Apa yang dibenci Marx sebenarnya adalah konsekuensi kemajuan rasionalitas yang ditemukan dari kesadaran manusia. Semenjak terang kesadaran tak dikuasai dogma gereja, kesadaran manusia menemukan sejarah baru; industrialisasi. Melalui rasionalitaslah industri bisa besar dan massif menyebar. Tapi dari penyebaran yang massif itu juga berarti semakin luasnya penghisapan dan alienasi.

R. Dahrendorf dalam essay in the theory od society, melihat di zaman industri yang disebut kapitalisme itu punya ciri khas selain penguasaan atas milik pribadi, yakni penerapan yang ia sebut "rasionalitas pasar." Di saat itu, apa yang disebut "pasar" adalah tempat yang penting di mana pertukaran diberlangsungkan. Dalam konteks inilah tujuantujuan diorganisasikan melalui cara efektif dan efisien.

Tapi zaman juga sudah banyak berubah, kapitalisme juga sudah banyak berganti rupa. Termasuk kekuasaan yang menjadi sumbet legitimasinya. Kapitalisme tak mungkin menyandarkan kekuasaannya seperti yang disebut Weber sebagai sumber kharisma. Sebab tak ada yang sakral yang bisa juga disebut kesucian sebagai sumber kekuasaan. Di bawah kapitalisme kepatuhan tak didapatkan melalui otoritas tradisi sebagaimana kekuasaan di zaman sebelumnya bekerja, melainkan apa yang disebut kontrak. Denganyalah sebenarnya kesepakatan dibangun, tanpa harus melibatkan kepasrahan.

Keterlibatan yang terpaksa inilah menjadikan buruh lebih nampak sebagai mahluk yang tak berdaya apaapa dihadapan kapitalisme. Mereka terpaksa harus menjual tenaganya melalui legitimasi kontrak kerja. Dan malangnya, tenaga yang mereka miliki dan dikeluarkan saat bekerja tak sebanding dengan upah yang mereka terima. Inilah keadaan yang dicela itu: penghisapan.

Gramsci tokoh komunisme Italia, juga melihat hal yang sama. Penghisapan memang kejam. Tapi, menurutnya penghisapan yang dialami kaum proletar lebih halus ketimbang kontrak kerja yang memperantarai keterlibatan kaum buruh. Ada yang lebih membahayakan di mana mekanisme kekuasaan atas tenaga buruh sebenaranya adalah sesuatu yang sebenarnya disepakati. Artinya, kesepakatan yang sebelumnya melalui kontrak hanya bisa diberlangsungkan melalui aturanaturan rasional. Hegemoni begitu ia menyebut istilahnya adalah keadaan penghisapan oleh kaum borjuis, yang terjadi secara kultural.

Di sini, barangkali Gramsci tak saja bicara pada konteks kaum buruh yang terperdaya oleh sistem industri kapitalisme, melainkan juga kepada masyarakat pekerja yang massif ditemui hampir seluruh Eropa. Maksudnya, Gramsci melihat penghisapan yang dialami oleh masyarakat pekerja tidak  hanya pada dimensi ekonomi, tapi juga pasa dimensi kultural.

Pada saat itu, keadaan akan seolaholah menjadi situasi yang natural. Alienasi dan penghisapan menjadi hal yang nampaknya wajar. Apalagi dalam era kapitalisme lanjutan, kaum pekerja banyak diberikan pesangon untuk menetralisir kontradiksi yang dialaminya. Karena itulah perlawanan yang diharapkan Marx sulit untuk dimungkinkan. Kaum buruh sudah terlanjur netral dalam melihat keadaan yang dialaminya. 

Tapi sebenarnya, tidak semua kaum buruh mau tunduk dengan keadaan. Sebab masih banyak kita lihat serikatserikat yang dibentuk untuk merumuskan agenda perjuangan kelas yang disponsori Marx. Organisasiorganisasi perjuangan yang masih bergerak menghimpun kekuatan. Mereka berpolitik dan berjuang untuk keluar dari keadaan yang alienatif dan terbelakang. Sebab mereka juga tahu, tenaga mereka bukan modal yang semenamena dapat digunakan sebagaimana mesin yang terus dapat digunakan.

03 Maret 2015

madah empatpuluh satu

Tik tik tik bunyi hujan di atas genteng
Airnya turun tidak terkira, cobalah tengok
Pohon dan ranting basah semua...

Saya tak tahu, apakah lagu ini mampu menenangkan hati kita ketika musim penghujan. Apalagi hujan yang tak hentihenti. Tapi dahulu, dari atap genteng yang bocor, sebagai rasa syukur, Ibu Soed mencipta lagu ini saat hujan datang. Hujan jadi penanda betapa manusia dan alam, bisa akrab dan manja. "Cobalah tengok pohon dan ranting" alam yang disambut akrab, jadi "basah semua."

Mulai saat itu, berawal dari rumah kontrakannya di jalan Kramat, Jakarta, lagu itu menjadi pelipur negeri bagi anakanak ketika hujan. Hujan, akhirnya, melalui lagu itu jadi peristiwa alamiah yang disambut riang. Hujan lewat lagu itu, jadi peristiwa yang mengundang syukur dan tafakur.

Tapi, saya tak tahu apakah lagu ini masih akrab di telinga anakanak kiwari. Juga, apakah hujan bisa mendatangkan syukur agar kita bisa bertafakur. Hanya saja, bagi yang tumbuh bersama lagu itu, hujan di waktu sekarang tak sekadar bunyi di atas atap genteng bertalutalu. Hujan, bagi yang akrab dengan lagu ini, mungkin bisa membuat gerutu mengutuk air bah yang tak ingin kita alami.

Di kotakota besar, yang sudah sesak beton berlapislapis, merasai hujan sebagai bencana. Air yang jatuh, dengan volume bertonton banyaknya malah bisa membuat sebuah kawasan jadi kumuh. Sebab, suatu kota dengan bangunan yang padat, tak pernah memperhitungkan bagaimana air tanpa henti jatuh dari langit bisa disalurkan. Karena itulah banjir datang, dan air menggenang jadi soal.

Barangkali ini adalah soal bagaimana manusia memandang tempat mukimnya. Alam, dunia yang kita huni sekarang, sudah kita tekuklututkan di bawah kendali otoritas manusia. Semenjak cogito cartesian menerangkan supremasi rasio manusia, praktis keberadaan alam menjadi entitas inferior. Alam menjadi objek subordinat hirarki kekuasaan akal manusia. Itulah mengapa, sains sebagai media rasio bekerja, menempatkan alam menjadi realitas tak bernilai apaapa.

Dan juga, teknologi, dunia berubah total. Mesinmesin dibuat massif.  Dan, menggantikan tenaga manusia, mesin bekerja atas dasar efisiensi dan efektifitas. Akhirnya, robotrobot merambah sudutsudut hutan. Mengubahnya jadi lapang, dan merusaknya. Sontak hutan berubah menjadi kawasan yang tandus. Dimanfaatkan tanpa pernah tahu bagaimana mengembalikannya. Di hutan, lagu Ibu Soed tak pernah sampai.

Berkat teknologi, manusia memanipulasi alam liar menjadi hunian yang akrab. Alam dimanusiakan agar lebih sesuai kehendak manusia. Hingga akhirnya, kemajuan teknologi terlalu jauh memanfaatkan alam demi kepentinga manusia. Teknologi tanpa sadar, telah mengubah alam menjadi momok miterius. Kiwari, alam bisa datang menuntut balas; berupa longsor; berupa banjir; berupa penyakit, tsunami, puting beliung, kebakaran. Hingga entah berupa apa lagi.

Tapi sebenarnya, yang jadi soal, hasrat manusia ketika membangun tempattempat baru. Di kota besar, tampak sekali hasrat manusia menaklukkan daerahdaerah lapang untuk manfaat hunian baru. Namun, di daerah yang dihuni itu, manusia kota sudah tak hirau kepada alam sekitar. Rumahrumah mereka justru menjadi monumen hasrat yang egois.  Tanah dilapis betonbeton. Udara dibuat cemar. Dan, suarasuara tidak pernah berhenti.

Hujan di kotakota juga cara bagaimana alam menunjukkan kegagalan perencanaan pembangunan. Ruang hijau terbuka berbanding sedikit semakin tingginya gedunggedung. Hari ke hari, tibatiba beberapa gedung sudah kokoh berdiri. Barangkali ini percepatan urbanisasi. Tapi, siapa memperhitungkan alam?

Yang ada, ruang yang dipermak harus menjadi tempattempat modal bergerak. Sebab itulah, keindahan ornamen perlu, apalagi keamanan suatu lingkungan. Tanpa semua itu, tiada modal mengalir.  

Sudah tentu banyak pertukaran mengalir ditempattempat kapitalisasi berlangsung. Mungkin, melebihi banyak air hujan yang jatuh. Sampai di sini betapa sedikitnya rasa syukur kita.

Hujan, saat mukim-mukim belum sepenuhnya dari beton dan tembok, sudah pasti banyak mengundang takjub, juga tentu syukur. Apalagi banyak harapan bergantung dari jatuhnya air hujan.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...