20 Januari 2015

madah satu

Catatan ini tidak akan menjadi tulisan yang panjang. Seperti catatan sebelumnya yang memang diniatkan hanya untuk merekam serpih-serpih pikiran ataupun ingatan saya. Yang semuanya memang tak lebih dari beberapa paragraf, bahkan nyaris tak lebih dari empat atau lima paragraf. Dari apa yang ingin saya ungkap di sini rasarasanya nyaris tidak ada. Tetapi untuk saat ini, barangkali hanya niat saya untuk mengganti judul catatancatatan saya dengan nama yang berbeda. Ada keinginan untuk menggantinya dengan nama Madah. Seperti nama tokoh dalam cerpencerpen saya.

Sedikitnya saya ingin mengungkapkan bagaimana Madah menjadi nama sentral dalam cerpen saya, dan apa hubungannya dengan aktivitas saya dengan ingin menggunakannya dalam catatan saya seperti ini ke depannya.

Madah, nama yang awalnya tak punya arti itu, saya temukan dengan cara yang tibatiba. Saya menemukannya saat membutuhkan sebuah nama bagi tokoh di cerpen yang saya buat. Tentu dalam hal nama, banyak yang bisa saya pungut dari banyaknya namanama. Tetapi hal itu saya hindari, saya butuh nama yang keluar dari lisan umum, nama yang tak bercermin dalam situasi yang terkenali, nama yang janggal sekaligus gampang diucap. Tetapi apa, atau tepatnya siapa? Di dalam kebingungan itu, tokoh yang belum punya nama, saya biarkan. Tetapi cerita tetap saya bangun, tetap saya tulis, biar bagaimanapun jalannya cerita harus saya pertahankan. Hingga beberapa lama, cerpen itu saya biarkan tanpa identitas, atau sebenarnya tanpa nama. Tetapi ini bukan cerita dengan tokoh yang anonim.

Tetiba, di sebuah teras rumah yang lapang, entah rumah siapa, di saat  saya  singgahi, sebuah kata tergiang. Sebuah nama; Mahda. Di waktu yang hujan sore itu entah bagaimana, di saat saya menepi dan menulis sebuah kronologi cerita yang tanpa nama, Mahdah-lah yang tibatiba datang dan hinggap dalam pembatinan. Maka tanpa pikir panjang, di saat itu pula ruang kosong dalam cerpen itu saya tuliskan Mahdah.

Tetapi ada yang bermasalah, di cerpen selanjutnya dengan ingin mempertahankan tokoh yang sama, nama itu meleset dari ingatan. “Mahda” justru tibatiba meninggalkan “h” sebagai satuan huruf di tengah namanya. Tanpa sengaja di cerpen selanjutnya tokoh yang semula bernama Mahda menjadi Madah. Dan apa artinya ini? Suatu kebetulankah ini? Yang pasti mulai saat itu Madah-lah yang sering saya pakai sebagai sebuah nama.

Tetapi apa sesungguhnya arti dari sebuah nama? Nama, tentu bukan seperti pemisalan Shakespeare, punya arti, punya maksud. Tetapi apa sesungguhnya nama yang tibatiba saja dipungut dari peristiwa yang tidak punya asal usul. Maka satusatunya cara adalah membuka kamus, dan mungkinkah nama yang serentak datangnya itu masuk dalam deret kata yang ada di dalam kamus? Dan ini suatu hal yang luar biasa, Madah ternyata memiliki arti, yakni berupa “tutur”, “perkataan”, “ujaran”, “kata pujapuji” dan juga bisa diartikan “kata berpanjangpanjang”. Dari itulah barangkali sastra sangat dekat dengan maksud yang tak didugaduga, arti yang tak disangkasangka. Seperti Madah.

Untuk itulah catatan ini hendak saya beri nama Madah, juga untuk catatan kedepannya. Dengan maksud catatan ini  menjadi ruang tuturan saya, untuk menampung katakata saya. Tempat di mana katakata saya lebih baik saya susun dibandingkan tercecer sanasini tanpa maksud. Setidaknya sebagai bangunan ingatan saya, monumen pikiran saya. Hingga akhirnya ada tugu yang bisa saya pugar tiap saat. Seperti amsal yang memaut makna dalam ungkapan yang alegoris.

Saya akhiri dulu.


19 Januari 2015

Catatan Ketujuh

Kita pernah hidup di masa lampau, yang primitif, yang jahil. Sejarah memang nampaknya berjalan dengan dua hal: peradaban dan kejahilan. Tetapi bagaimana jika sejarah tak pernah beranjak? Atau dengan kata lain, kita sebenarnya tak pernah ke mana-mana.

Di India, negeri hindustan yang padat itu punya kisah kelabu. Di India masyarakat berdesak-desakan tak bisa melawan hukum urbanisasi: kriminalitas. Dan inilah jahiliah itu: meledaknya perkosaan, diskriminasi perempuan, dan apa lagi ini: seorang anak perempuan dikubur dengan cara hidup-hidup.
India adalah negara yang mencerminkan kepelikan dua arus besar: sistem kasta dan modernisme.

Tradisi keagamaan yang kuat dan keinginan untuk maju. Tetapi kemajuan tak selamanya dapat mengelak tradisi yang sudah mendarah daging. Urbanisasi maklum terjadi pada daerah-daerah berkembang harus berhadapan dengan anomalitas kemajuan. Di saat demikianlah kemiskinan bertaut dengan kebodohan, dan cerita selanjutnya sudah jelas, kejahatan yang menumpuk.

Beberapa dari penumpukan kejahatan itu, perempuan sering jadi tulah. Juga masalah kian jadi runyam jika kejahatan terjadi didorong atas dasar kasta. Dengan kata lain, di bawah tingkatan kasta, seorang perempuan berkasta rendah jadi tidak berdaya. Jadi kehilangan harga diri. Karena itulah perkosaan terjadi. Di sini sudah jelas teori-teori Marxis tak bisa asal ngomong. Di India kasta yang menentukan segalanya.

Kasta atau bahkan keyakinan religius sebagai dalih kejahatan memang membikin urusan berlarut-larut. Dalam agama Ibrahimik, tidak bisa dimungkiri juga mengandung ketimpangan kekuasaan terhadap perempuan. Setidaknya apa yang lahir dalam tradisi pemikiran teologi dan tafsir.

Kecenderungan tafsir patriarki atas perempuan dalam keyakinan ibrahimik selalu ditafsir sebagai mahluk asal dari keretakan tulang rusuk yang bengkok. Jika sudah demikian maka wajar jika feminisme punya niat yang bukan main-main: mendekonstruksi tafsir atas teologi.

Atas itulah, mengapa peradaban yang layak diperjuangkan adalah peradaban feminin. Yakni suatu masa, atau suatu keadaan ketika keadilan atas perempuan menjelma adab. Saat satu sama lain berinteraksi atas dorongan kasih sayang. Tiada lagi diskriminasi, tiada lagi pelecehan. Semua saling mengayomi.

Tapi, jika perempuan juga masih diberlakukan diskriminatif, maka kita tak pernah ke mana-mana. Termasuk jika masih ada seorang ayah tanpa pikir panjang mengubur anaknya hidup-hidup. Tidak pula di India, begitu juga di sini.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...