12 Januari 2015

memilih jadi ibu; Architeksture

Catatan ini adalah hal yang baru dari rutin saya. Kenapa baru? Sebab tidak seperti biasanya saya menyempatkan waktu untuk menyimpan memori saya dalam sebuah catatan. Terutama tentang seluruh aktifitas selama saya bergelut dengan harihari.  Ini setidaknya mengikuti kebiasan pengalaman seorang perempuan centil galau dan tak kuasa atas lingkungannya, sehingga akhirnya memilih merekam suasana emosinya di balik tutur catatan. Yang memilih katup bibirnya bersuara dari ujung penanya. 

Di waktu saya kecil saya sering menemukan kebiasaan perempuan semacam itu; menulis semacam diari sebelum mereka mengakhiri hari di  pertengahan malam. Dan barangkali semacam itulah yang akan saya lakukan di harihari depan saya; menyisakan waktu untuk menyimpan memori saya, ingatan saya, atau kesan saya selama seharian.  

Mungkin juga ini akan menjadi aktifitas yang sedikit feminin; berdiam diri untuk merehabilitasi ingatan dalam pugar katakata. Dan memang menurut saya menulis itu aktivitas yang feminin. Barangkali karena itulah kebiasaan ini menjadi pengalaman hampir bagi perempuan yang saya temui di waktu kecil dulu. 

Saya masih teringat dengan kakak perempuan saya yang memiliki kebiasaan semacam itu. Menulis apa saja yang ia alami dan yang dirasakan di dalam buku kecilnya. Darinyalah saya pertama kali melihat bagaimana aktifitas menulis membutuhkan keberlangsungan yang terus menerus. Di tiap malamnya, berharihari. Saya tahu karena dulu saya sering membongkar isi lemarinya untuk mencari cokelat  dan menemukan buku diarinya; diamdiam saya sering membacanya, isinya macammacam. Tetapi jangankan kakak saya, perempuan di waktu hari ini sangat  sudah jarang melakukan itu. Malang.

Menjadi feminin dalam arti berdiam diri dan merawat ingatan adalah hal yang langka sepanjang pengetahuan saya. Sebab di sana adalah rutin yang membutuhkan waktu di saat klimaks dari peristiwa yang ajeg sering dilakukan. Situasi yang di dalamnya membutuhkan perawatan dan perhatian, mirip seorang perempuan.  Atas itulah saya membayangkan untuk kedepannya saya membutuhkan sifat keperawatan dan perhatian yang lebih dari biasanya untuk membangun ingatan saya, menyusunnya dengan pelanpelan selama beberapa waktu. Barangkali dalam hal ini saya tengah menjadi seorang ibu yang merawat dengan sabar, anakanaknya, buah kandungnya, dari rahimnya. Saya menjadi ibu bagi ingatan saya, merawatnya dari rahim ingatan saya.

Untuk itulah suatu saat nanti, saya dapat melihat sejauh mana saya merawat anakanak saya. Dan sudah tuakah saya dengan kedewasaan anakanak saya. Sampai di sini ingatan saya juga akan menjadi semacam tugu atau monumen tentang perayaan sebuah perkembangan, tentu anakanak saya. Dalam perjalannya saya akan dapat melihat di mana saatsaat penting yang membentuk karakter anakanak saya, dan secara tidak langsung adalah diri saya. Di dalam waktulah saya akan menemukan penanda, di dalam anakanak sayalah saya akan menemukan ukuran seberapa jauh saya membina diri.

Yang aneh dalam hal ini, ide ini datang tetiba begitu saja. Untuk menuliskan catatan dalam bentuk semacam ini. Saya agak sedikit khawatir bagi hari esok, apakah saya dapat terus menjadi seorang ibu yang memiliki banyak kekuatan di balik kesabaran dan ketekunannya. Dari itulah saya menyadari tentang sebuah pilihan untuk menjadi perempuan, sebab  mustahil menjadi seorang ibu tanpa dahulu menjadi seorang feminin, seorang perempuan. 

Dari itulah sebabnya saya harus menjadi seorang perempuan untuk melangsungkan aktifitas semacam ini; di dalamnya diandaikan ketekunan, ketelitian dan tentu kesabaran. Akhirnya saya memilih untuk menjadi seorang perempuan, seorang ibu.

Catatan pertama ini saya andaikan sebagai penanda baru saya menjadi seorang perempuan. Sebagai kebiasaan merawat ingatan dan pengalaman saya. Jika sufi besar Ibn Arabi pernah berkeinginan untuk dilahirkan sebagai perempuan untuk kedua kalinya, dari catatancatatan ini, kedepannya, saya telah menjadi seorang perempuan. Melalui ini saya yakin, peradaban dengan cara yang sederhana ini, dapat direhabilitasi, memugar yang bopeng di sini dan di sana. Islam dengan tepat menyebutnya dengan madani, yang di dalamnya ada umat, dari akar kata ummi; ibu.

Tetapi saya punya istilah yang muncul tetiba saja, untuk menyebut akifitas yang feminin ini. Istilah yang arbitrer begitu saja. Barangakali ada kaitannya juga dengan akifitas sebagai seorang ibu yang memugar peradaban; architeksture. Yakni aktifitas sebagaimana seorangg penjuru yang memimpin untuk membangun sebuah bangunan yang membutuhkan ketelitian dan presisi yang tak ingin meleset. Demi sebuah bangunan yang tegak menjulang atas fondasi dan desain yang yang tepat ukuran. Sebuah perencanaan untuk mendirikan sebuah susun bangun interior dan eksterior megah. 

31 Desember 2014

Memugar Waktu; Tetiba Januari

Tulisan ini diniatkan sebagai penanda atas peralihan. Niat yang lain sebagai semacam menciptakan jembatan bagi dua tepi masa; jembatan selalu berarti menyambungkan, menghubungkan dua  bebukit yang dipisah jarak yang landai, di sini dan di sana; sekarang dan esok, membangun hubungan. Atau tulisan ini saya maksudkan semisal taut jangkar, yang ditambat di bawah lambung kapal agar kemudi tak guyah.

Di luar,  letus api berkembang …juga mendung.

Di jalanjalan raya gempita menyambut  tahun yang baru sudah mulai hiruk dan juga ribut. Tahun yang baru sudah siap disongsong, tetapi apa yang baru? Maka saya lebih suka menyebutnya peralihan, bukan baru. Sebab yang namanya baru berarti meninggalkan yang lama, juga tahun. Di luar keramaian jamak membunuh kesan yang dibangun berharihari yang lalu, berbulanbulan yang lalu hingga tahun yang sebentar lagi dikemas dalam kelampauan, dan pada akhirnya membunuhnya. Dan apa yang tersisa dari tahun yang kita namai baru.


Sebab itulah saya menyebutnya peralihan; seperti jembatan atau jangkar yang tak ingin guyah. Peralihan membutuhkan ketetapan, kesamaan dari keadaan yang sebenarnya sama. Di sinilah arti dari menyambungkan apa yang tak digapai dari daratan  di belakang. Ini persis kembara yang melihat waktu sebagai yang utuh, yang tak putus, di depan hanyalah daratan yang sama. Maka dari itulah kita membutuhkan jembatan untuk mengingat atau perlu jika sekalikali kita ingin kembali, maka itu dapat dimungkinkan. Melihat apa yang tertinggal dan tak sempat kita jadikan bekal.

Di gedunggedung yang ramai, berkumpul dalam waktu yang ditetak…

Sebagai penanda atau juga jembatan, tulisan ini saya artikan sebagai perayaan terhadap waktu senggang.  Ketika di luar, di keramaian, waktu senggang diartikan sebagai pemujaan terhadap yang banal, diekspresikan melalui tonton kapital yang berpindah tangan dengan seketika, saya lebih memilih menulis hal yang sahaja; membangun-sekali lagi jembatan. 

Tetiba hujan pecah, entah dengan ritme yang masih saja sama…yang ada bunyi yang titik

Merayakan yang baru sudah menjadi karakter. Untuk tahun yang baru, barangkali di sana ada yang harus ditebak dalam keburaman, sesuatu yang tak bisa begitu saja dikenali. Barangkali karena inilah yang baru, yang dengan sendirinya melahirkan sentimen yang mengharu biru. Banyak cara yang ditunjukkan untuk itu, dimulai dari doa dan perayaan. Dengan itu, yang baru, yang sebentar lagi menjadi harihari sebenarnya tidak berbeda disambut.

Tetapi tulisan saya bukan ingin menjadi tanda bagi yang baru. Justru ingin merujuk pada peristiwa yang dikandung mitos. Dalam mitos ada yang tak selamanya mampu diukur, tak mampu dijangkau pertimbangan rasional, tetapi “menerangkan”  bagi penganutnya. Waktu dalam mitos adalah ihwal yang bulat penuh, total dan menyeluruh, sehingga bukan garis linear yang menandakan adanya keterputusan. Di dalam mitos, waktu sesungguhnya bukanlah entitas yang dapat dipilah, yang dapat dipecahpecah, melainkan totalitas keseluruhan masa.

Lantas dari manakah yang baru itu datang? inilah soalnya, sebab waktu di jaman sekarang adalah masa yang ditekuk rasio. Yang di sana waktu akhirnya pecah dikepingkepangkan, menjadi bagianbagian dari rangkaian yang sesungguhnya satu. Dari sinilah waktu akhirnya dipandang sebagai garis yang putusputus; masa yang perlu kita bagi menjadi baru dan lama. Dan inilah arti modern; waktu harus dirayakan kepergiannya, sementara dalam kebaruan ada masa yang tak jelas seluruh.

Tidak seperti perayaan yang menandai pada tahun yang baru yang sesungguhnya adalah hari yang sebenarnya masih sulit ditekuk. Dalam mitos walaupun ditandai sebagai pengetahuan yang menyelisih dari rasio, saya lebih menyukainya karena terangnya adalah sesuatu yang bukan rasio, melainkan mental. Kehadiran waktu adalah entitas yang seluruh bukan garisgaris yang dipilah; disinilah waktu berarti penghayatan akan keseluruhan tentang masa dan seluruhnya.

Karena inilah kebaruan tak selamanya baik, sebab tak menyertakan mental daripada rasio. Dalam mitoslah saya membayangkan orangorang yang beralih dari peristiwa satu ke peristiwa yang lain dengan gelora yang bertarung pada nasib didaratan seberang, sebab sesungguhnya orangorang ini tahu tak ada perang yang kedua kalinya. Yang namanya perang hanya sekali, selamanya. Dalam waktu yang dihayati, yang baru dan lama sesungguhnya ilusif, menipu dan juga berbohong.

Maka dari itu, tulisan ini menjadi rangkai yang menjembatani sebuah sikap atas peristiwa yang tak banyak berubah. Hari esok yang juga masih saja sama, sebuah peralihan masa, tentang bukit seberang yang landai dari pijak sini.


Di sana, di pusatpusat keramaian talutalu kembang api menyulap mendung…
Letus hingga berjauhjauh, sungguh tak ada sauh yang jadi teduh
Tetiba ramai dalam gagap yang sepertinya tegap, walau jua kalap
Di luar yang jamak, jalanjalan yang padat jadi ruang yang pekat
Tetiba hujan ditingkap dalam kurung gemerlap yang angkuh, juga ringkih


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...