03 November 2017

| |
Taro Ada' Taro Gau'
Barangkali eike salah menafsirkan perkataan Alwy Rachman seorang scholar budaya, yang mengatakan membaca adalah mendengarkan. Tapi, bagi eike, melalui pengertian itu, Alwy Rachman menghendaki setiap praktik pemaknaan dalam membaca harus juga ikut melahirkan sang sosok yang sejajar dengan teks itu sendiri. Itulah sebabnya, tekanannya diletakkan kepada "suara". Dengan kata lain, strategi membaca yang diajukan Alwy Rachman, pertama-tama adalah antitesa dari praktik pemaknaan yang selama ini bersandar kepada kematian sang pengarang. Kedua, praktik membaca yang juga sekaligus mendengarkan, sebenarnya adalah suatu cara membaca yang ikut melahirkan jiwa untuk menemu-kenali budi pekerti dari sang penutur/pengarang itu sendiri. The death of author yang digaungkan Roland Barthes memang bertujuan untuk membebaskan praktik pemaknaan tidak saja kepada teks itu sendiri, melainkan kepada kebebasan pembaca untuk ikut serta memberikan kemungkinan penafsiran yang mungkin saja hadir dari suatu teks. Peralihan dari teks kepada otoritas pembaca, dari praktik pemaknaan yang ditawarkan Barthes, tidak saja berdampak dibebaskannya teks dari pengaruh pengarang, tapi juga kehadiran pembaca yang signifikan memiliki kebebasan untuk memaknai setiap teks yang ditemukannya. Itu artinya, praktik pemaknaan tidak lagi bertumpu kepada sang pengarang, namun mengalami peralihan dari sang pengarang menuju sang pembaca. Tapi, implikasinya, strategi membaca demikian akhirnya menempatkan sang penagarang bukan sebagai siapa-siapa. Dia bahkan hanya satu bagian dari beragam bagian yang memungkinkan lahirnya beragam makna. Sehingga, dengan kata lain, sang pengarang tidak punya lagi hak apa-apa selain dari pada menuliskan gagasannya dan setelah itu secara pemaknaan melepaskan tanggung jawabnya terhadap teks yang sudah dituliskannya. Mendengarkan suara sang sosok pengarang dalam membaca, seperti yang didakukan Alwy Rachman, berarti sama artinya melahirkan sang sosok pengarang di tengah-tengah praktik pemaknaan. Sang pengarang dalam hal ini juga terlibat di dalam aktifitas menangkap makna oleh sang pembaca. Tapi kaitannya dalam hal ini bukan sebagai penentu di dalam menentukan benar salahnya makna yang ditemukan, melainkan sebagai pembanding dari apa-apa yang sudah dikatakannya. Itulah kenapa, pendakuan Alwy Rachman melibatkan budi pekerti dari sang pengarang sebagai salah satu faktor fundamental dari praktik pemaknaan. Mendengarkan dengan begitu berari ikut "melihat" budi pekerti sang pengarangnya. Sudahkah kata-katanya berbunyi seperti budi pekertinya itu sendiri? Atau jangan-jangan kata-kata sang pengarang hanya bunyi-bunyian tanpa bisa dirujuk dan dibuktikannya dalam dunia budi pekertinya. Jangan cuman percaya kepada kata-kata, begitu maksud lain dari apa yang dinyatakan sebagai membaca adalah mendengarkan. Kata-kata memang membutuhkan bunyi agar maknanya terang dalam pemahaman, seperti pula kata-kata mesti lahir dari dunia pengalaman kongkrit sebagai rahimnya. Pemahaman di atas, dengan mudah dapat kita lihat afirmasinya dari peribahasa Bugis, taro ada', taro gau': seiya sekata perkataan dan perbuataan. Kata-kata hanya sebatas dengung bunyi jika tidak memiliki pembuktian dari budi pekertinya. Kembali kepada sang sosok pengarang, dunia teks berarti pula mencerminkan dunia budi pekertinya. Jangan sekadar percaya kata-kata. Mendengarkan, dengan kata lain membaca, berarti menangkap makna teks sekaligus budi pekerti sang penuturnya.