Monday, November 13, 2017 in

BURHANUDDIN. Faktanya belum bisa entas dalam benak anaknya, Burhanuddin yang saban hari memandikannya dengan merek sabun yang turun temurun dipakai hingga zaman sekarang. Di atas susun bilah kayu yang mirip batang kelapa, tiga empat drum penampungan air, dan dinding kamar mandi dibuat seadanya dari triplek dan bekas karpet plastik. Di bawahnya saluran air yang anaknya yakin digali tangan Burhanuddin kala masih muda. Di ujungnya ada galian lubang selebar hampir dua meter, yang dijadikan saluran akhir pembuangan air. Airnya berwarna cokelat. Kadang di situ tempat Burhanuddin mencelup mati tikus yang masuk perangkap besi yang dibuatnya sendiri. Faktanya, peristiwa itu memang masih terekam baik. Saban pagi geliat tangan Burhanuddin yang meliuk-liuk di tubuh anaknya. Dengan sabun yang anaknya hafal betul harumnya. Air yang dingin, dan rengekan anaknya yang menolak dimandikan. Burhanuddin seorang yang sabar. Burhanuddin memiliki kebiasaan berkumpul dengan teman-teman kerjanya di kala malam tiba. Entah dari mana datangnya pria-pria berkulit legam itu. Tapi, yang anaknya ingat, mereka senang mendatangi rumah Burhanuddin demi bermain kartu remi atau domino. Meja-meja berkaki besi sering kali mereka pakai dengan puntung-puntung rokok yang semakin malam semakin bertambah. Burhanuddin kala itu perokok yang kuat. Suatu waktu, anaknya dan Fajar, adiknya, senang mengumpulkan puntung-puntung rokok yang ditinggal semalaman ke dalam kaleng bekas Blueband. Hampir penuh bahkan. Siangnya, setelah pulang sekolah, mereka berusaha membakarnya, mengisapnya di dalam kamar mandi. Tak dinyana Burhanuddin mengetahuinya. Asapnya bergentayangan di atas kamar mandi yang memang tak beratap. Hari itu, Burhanuddin murka. Kedua anaknya digantung di terali jendela. Hari yang naas, belaka. Kebiasaan itu tidak dilanjutkan anaknya, walaupun nanti pergaulan anaknya mengubahnya ketika sekolah menengah pertama. Burhanuddin dianugerahi tangan yang terampil. Hampir semua mainan anaknya dia yang membuatnya, termasuk membuat pesawat terbang yang sepanjang hampir selengan anaknya sekarang. Bobotnya lumayan berat. Anaknya sering kali menjadikannya sebagai kendaraan layaknya mobil truk. Tangan Burhanuddin juga diberkahi semacam “mukjizat” tertentu. Belakangan anaknya menyadari, bakat menggambarnya diwarisi dari tangan “seni” Burhanuddin. Kesabaran Burhanuddin dilihat anaknya kala ia pergi mengirimkan hasil menggambar kepada majalah Bobo melalui kantor Pos. Mungkin Burhanuddin merasai gambar anaknya tak bakalan menang, tapi tetap saja ia pergi mengirimkannya dengan motor bututnya berwarna merah. Di atas motor butut Suzuki-nyalah juga yang kelak dipakainya mengebut ketika membawa anaknya ke rumah sakit lantaran luka akibat terjatuh. Kini luka itu masih membekas di kaki anaknya dengan tujuh jahitan. Dulu kakak anaknya sering kali mengejek luka itu mirip lintah kering yang melekat kemana anaknya pergi. Sampai sekarang suara Burhanuddin masih selantang seperti saat mengimami salat magrib berjamaah. Di waktu ia membangun rumah baru, kamar Ima, anaknya yang tertua, yang ditinggal setelah dikirim ke pesantren sengaja dijadikan mushola. Di tempat itu pula, kelak Fajar, anak bungsunya tercium bau tembakau oleh istrinya. Burhanuddin kembali murka, apalagi istrinya. Fajar sendirian dihukum walaupun kenyataannya di sorenya Fajar bersama saudara laki-lakinya sama-sama merokok. Fajar baik ketika itu, dia menanggung kesalahan saudaranya tanpa melapornya kepada Burhanuddin. Mulai saat itu daun jeruk menjadi penting. Tanaman jeruk yang ditanam di halaman rumah mereka akhirnya bermanfaat. Sehabis menghisap rokok, daun jeruk mereka kunyah demi menghilangkan baunya. Sampai sekarang Fajar sang adik masih merokok. Tapi, tidak lagi mengunyah daun jeruk setelahnya. Entah tahun berapa Burhanuddin memutuskan berhenti merokok. Yang anaknya ingat, pembungkus rokoknya sering dikoleksinya seiring disusunnya berjejer di dinding dekat jendela. Yang pasti istrinya protes lantaran kebiasaan anehnya. Mungkin protes istrinya juga sehingga Burhanuddin berhenti merokok. Yang pasti tubuh Burhanuddin bertambah gemuk pasca memutuskan tidak merokok lagi. Makanya anaknya sering membandingkan, mengapa tubuhnya masih seperti tubuh Bapaknya yang ramping setelah tidak merokok lagi. Walaupun, anaknya sebenarnya khawatir tubuhnya bertambah besar. Tubuh Burhanuddin yang kian bertambah beratnya pernah terserang penyakit keras. Waktu itu sampai dia tidak mampu berjalan dan beraktifitas. Hampir berminggu ia sakit keras di atas tempat tidurnya. Seisi rumah khawatir lantaran sakitnya yang tiba-tiba dan tidak biasa. Hingga diputuskanlah Burhanuddin harus dirawat di rumah sakit berhari-hari. Anaknya sangat terpukul ketika melihat ia mesti digendong hanya untuk dinaikkan di atas mobil. Itu pertama dan terakhir kalinya seingat anaknya, Bapaknya masuk rumah sakit. Sekarang tubuh Burhanuddin sehat sentosa walaupun umurnya kian menua. Anaknya sering cemas jika ia berkendara tidak menggunakan jaket. Itu kebiasaan Burhanuddin yang anaknya lihat sampai sekarang masih dilakukannya. Di hari-hari tuanya, Burhanuddin masih sering beraktifitas layaknya seorang yang berlatar belakang pendidikan tehnik. Terakhir, anaknya membantunya mengecat pagar besi pesanan temannya yang dibuat dan dilasnya sendiri. Anaknya juga melihat, Burhanuddin membuatkan pesawat yang hampir sama yang pernah dibuatnya untuk kedua anak lelakinya, kepada cucunya sekarang. Mainan pesawat itu tanpa disadarinya, membangkitkan kenangan anaknya kepada ribuan hari silam. Di antara ribuan hari itu, ada satu hal yang paling berkesan bagi anaknya, ketika ia pulang dari pelatihan di tempat kerjanya selama beberapa hari di Bandung. Itu peristiwa yang panjang bagi kedua anak laki-lakinya yang ditinggal berhari-hari. Namun, hari kepulangannya menjadi hari yang istimewa bagi mereka. Dari atas mobil angkutan diturunkan sebuah sepeda berwarna biru dengan ban yang masih hitam mengkilat. Siang itu benar-benar spesial. Entah dari mana Burhanuddin membelinya, kecil kemungkinan dibelinya jauh-jauh dari Bandung, tapi mungkin juga sebaliknya. Sepeda itu benar-benar kejutan untuk kedua anak laki-lakinya. Itu hadiah bagi kedua anaknya. Kelak, sepeda itu jugalah yang membuat Burhanuddin cemas akibat anaknya yang mulai jauh jarak bermainnya. Sepeda itu membuat kedua anaknya bisa pergi kemana-mana di luar jarak tempuh hanya jika mengandalkan jalan kaki. Sampai sore hari tiba, cemas Burhanuddin belum juga lesap. Anaknya masih asyik bersepeda hingga magrib tiba. Sebelumnya, jika magrib tiba, Burhanuddin bersiap-siap mengantarkan kedua anaknya pergi ke suatu pasar yang letaknya lumayan jauh dari rumahnya. Di pasar itulah bermukim sepasang suami istri yang memiliki banyak murid mengaji. Entah info dari mana, ia mengetahuinya. Yang pasti, jauhnya pasar dari rumahnya ditempuhnya dengan sabar demi kedua anaknya agar pintar membaca huruf-huruf hijaiyah. Entah diketahuinya atau tidak, kedua anaknya sering kali merasa takut kepada guru mengajinya yang super galak. Dari magrib hingga jam sembilan malam tiap hari, anaknya bersama puluhan anak-anak pasar mengaji di rumah yang sangat sederhana. Rumah yang ditinggali sepasang suami istri itu dibagi menjadi tiga petak kamar yang dihubungkan oleh satu lorong. Kamar pertama diisi murid campuran yang masih pemula, kelas ini diasuh istri sang ustad. Kelas ini adalah kelas yang paling ribut lantaran isinya adalah anak-anak yang berusia sekira kelas 4 SD. Di tengah adalah kelas khusus perempuan yang sudah masuk ke tahap “al-Quran besar”. Di sebelahnya, ruangan paling ujung adalah kelas yang diampu sang suami khusus para ikhwan yang berusia setara dengan anak lelaki yang sudah siap disunat. Dua anak lelakinya dititipnya di tempat itu. Tentu dimulai dari ruangan paling kiri, kelas pemula, walaupun sebelumnya kedua anak lelakinya pernah dibawanya ke Masjid Nurul Iman untuk belajar mengaji. Tapi di masjid itu tidak cocok. Metodenya agak kaku dan tidak dinamis. Maka dibawalah kedua anaknya ke tempat yang berlokasi di dalam pasar Inpres, ke kedua tangan besi guru mengaji yang lumayan galak. Tapi tidak disangka, kedua anak Burhanuddin lumayan cepat mengkhatamkan dan lancar membaca huruf-huruf hijaiyah tanpa terbata-bata. Dengan cepat pula kedua anaknya menyeberang ke ruangan paling kanan, tempatnya anak-anak yang sudah layak membaca al Quran dengan lancar. Hampir tiap hari Burhanuddin mengantar kedua anaknya dengan tabah. Selepas isya dia sudah bersiap-siap menjemput anaknya. Burhanuddin mungkin juga tahu, bahwa di tempat mengaji anaknya, para murid baru bisa pulang jika selesai melaksanakan salat isya berjamaah. Yang unik dari prosesi itu, sang guru mengaji akan berjalan mondar mandir dari depan ke belakang melewati tiap saf mengawasi murid-muridnya yang malas menjaharkan suaranya. Jika ada murid yang kedapatan tidak membesarkan suaranya secara serempak mengikuti surah-surah yang dibaca, atau mengantuk, maka tak segan-segan sang guru mengibaskan rotannya kepada bokong atau betis muridnya yang malas. Burhanuddin mungkin saja tidak tahu kalau anaknya sering kali menertawakan teman mengajinya jika melihat temannya kedapatan mengantuk dan ditempelkan balsem di bawah pelupuk matanya. Jika sudah begitu, sang anak bakal dipanggil dan mendapatkan juga hukuman dari istri sang ustad. Burhanuddin sangat senang terhadap kemajuan anaknya membaca al Quran. Dengan begitu dia tidak repot lagi mengajarkan mengaji kecuali rela menunggu anaknya pulang bersamaan losmen-losmen kios yang mulai menutup jualan lantaran malam kian larut. Kini Burhanuddin banyak menghabiskan waktunya di rumah. Sesekali dia bersenda gurau dengan cucu keduanya. Sembari menikmati masa-masa tuanya bersama istrinya, dia masih sering mencari kesibukan dengan hal-hal yang mampu ia perbaiki dari rumahnya. Beberapa tahun lalu, saat cucu pertamanya sudah dimasukkan ke PAUD, ia masih sering mengantar jemput cucunya seperti ketika ia masih mengantar anak-anaknya ke sekolah dengan menggunakan motor bututnya. Anaknya masih mengingatnya ketika ia pertama kali dibawa ke suatu tempat bermain yang disadarinya adalah taman kanak-kanak. Burhanuddin pula yang mengantar dan menjemputnya. Kelak, ia tak akan mengetahui anaknya bakal menceritakan sepenggal kisah hidupnya di hari yang biasa seperti sekarang ini. Anaknya yang bertahun-tahun silam dia azani di kedua kuping mungil bayi laki-lakinya. Anaknya yang dulu dia namai seperti nama eike.

Literasi populer