Buku, Tuhan dan Kucing-kucing Kesepian

23 Januari 2016 Comments Off

Untuk urusan membeli buku, kadang saya jadi irasional. Apalagi kalau membeli buku yang lama dicaricari. Tanpa banyak perhitungan walaupun uang sekadarnya, hasrat memiliki buku jauh lebih besar dibandingkan urusan bertahan hidup. 

Saya pikir beberapa hari kurang makanan tidak akan membuat saya menjadi pengemis, apalagi mati kelaparan. Sejak dulu saya punya prinsip, orang gila  yang tidak memiliki apaapa bisa bertahan hidup, apalagi orang yang punya akal sehat. Di manamana, akal sehat kalau digunakan dengan baik pasti akan memberikan jalan keluar. Makanya saya berani berkorban membeli buku.

Berani berkorban inilah yang saya sebut irasional. Anda boleh sepakat atau justru memiliki pendapat  berbeda tentang rasional tidakkah sikap berkorban itu sebenarnya. Tapi saya memiliki pendapat orang yang melakukan bom bunuh diri, rela mati demi meninggalkan orangorang yang dicintainya karena suatu alasan di luar akal sehat. Kalau dia berpikir rasional mana mungkin dia mau mengambil sikap yang destruktif seperti itu. Rela berkorban dalam kasus bunuh diri, bisa panjang urusannya kalau kita mempersoalkan dahulu apa itu tindakan rasional, apakah melakukan sesuatu demi tujuan yang jauh lebih besarlah yang disebut rasional. Atau karena tindakan yang diambil telah ditimang dengan ukuranukuran tertentulah suatu tindakan disebut rasional?

Yang pastinya, akal sehat saya hanya bekerja pasca membeli buku. Terutama bagian ketika bagaimana memperpanjang hidup dengan kekurangan uang. Saat inilah saya harus memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Memutar otak yang saya bilang tentu bukan arti harfiahnya, malah saya kira anda tahu maksud yang dirujuk istilah itu. Di pikiran saya, salah satu cara untuk bertahan ialah memanfaatkan relasi pertemanan. Ini cara yang selalu berhasil saya lakukan. Terutama saat hidup kere di kampus.

Biasanya, lapar secara berjamaah jauh lebih baik dibandingkan sendirisendiri. Di saat itulah akal bersama akan bekerja lebih canggih ketika itu dibandingkan tanpa ikatan kebersamaan. Hidup bersama kawanan memiliki dampak buruk, sikapsikap manja akan terbersit jika ada halhal yang sebenarnya bisa dilakukan secara sendiri, malah meminta bantuan kepada kawan yang ada. Hidup kawanan tidak bisa menjadikan Anda seperti elang, tapi malah membuat Anda jadi seperti seekor kucing.

Namun, di saat lapar, kucing bisa menjadi hewan yang baik. Dia rela memberikan pertolongan bagi sejumlah kawanannya. Ketika memiliki sedikit makanan, pasti dia menyisihkan seperempatnya biarpun itu hanya berupa tulang ikan. Kesetiakawanan kucing, sering saya temukan di dalam hati temanteman di saat waktu makan siang atau malam. Di saat pagi malah jarang karena memang di waktu itulah kami bertahan tanpa makanan.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa kucingkucing juga terkadang egois. Apalagi jika menyangkut musim kawin. Terkadang di masamasa itu kucingkucing jadi sensitif. Hingga itu berefek kepada saat berbagi rezeki. Jangankan berbagi, untuk mengajak makan bersama saja batang hidungnya tidak bakalan kelihatan. Toh kalau muncul, perutnya sudah besar akibat makan bersama kucing jenis hello kitty. Saya yang sudah kepalang lapar, harus mencari kucingkucing kesepian yang bernasib sama.

Ada artikel yang sempat saya baca mengenai bagaimana sikapsikap orang berhubungan dengan buku. Bahkan sikap bagimana manusia memberlakukan buku dibaginya bertingkattingkat berdasarkan kesenangan dan kecintaan. Disebutkan bahkan ada orang yang membeli rumah hanya untuk menampung jutaan buku yang dipunyai. Juga, banyak orang yang mempunyai ribuan buku, dituliskan justru tak satupun pernah dibacanya. Orangorang macam ini, disebutnya dengan suatu istilah yang saya lupa namanya. Semacam istilah dalam ilmu psikologi.

Menggilai buku juga disebut sebagai suatu sikap yang mendua. Ada orangorang yang senang melihat keindahan bukubuku dijejer di rakrak buku. Ada orang yang memang memiliki buku atas dorongan ilmu pengetahuan. Juga, banyak orang yang mengoleksi buku atas kesenangan semata. Sikap ini miripmirip kolektor prangko. Yang dilihatnya bukan isi bukunya itu sendiri, melainkan malah berupa gambargambar yang nampak dari cover atau halamanhalamannya.

Bahkan, perlakuan negatif terhadap buku juga sempat disebut dalam artikel yang saya sudah lupa di mana menemukannya. Perlakuan negatif ini berupa aksiaksi kekerasan yang ditunjukkan dengan cara merampas bahkan sampai membakar. Motivasinya bisa saja karena kebencian terhadap ilmu pengetahuan, atau memang ingin menghilangkan ilmu pengetahuan dari peredaran peradaban. Yang terakhir ini, banyak ditemukan di negerinegeri yang belum menyadari arti penting bukubuku. Bahkan ada negeri yang sudah berperadaban, justru menghilangkan bukubuku karena khawatir kekuasaan pemerintahannya terganggu.

Untuk tingkatan tertentu, memang ada orang yang seperti kesurupan kalau ingin memiliki buku. Mereka bisa jadi orang gila kalau melihat paginapagina tersusun rapi. Kesadarannya bahkan langsung lenyap seketika. Yang ada hanya b-u-k-u di dalam kepalanya. Tiada yang lain. Mungkin Tuhan juga hilang. Bahkan buku itu sendirilah Tuhannya. Orang jenis ini sangat jarang ditemui. Tapi yakin dan percaya, mereka bisa jadi berada di sekitar Anda.

Saya belum sampai ke tingkat yang demikian. Buku belum menjadi Tuhan bagi diri saya. Ilmu tauhid masih bekerja dengan baik di kepala saya, mana Tuhan sesungguhnya, mana buku ciptaan Tuhan. Walaupun terkadang yang terjadi lewat buku saya mengenal Tuhan. Begitu pula saya masih bisa tahu lewat buku, orang bisa menjaga kesadarannya. 

Itulah sebabnya, semalam saya rela membeli buku walaupun harihari ke depan saya harus mencari kucingkucing yang senasib. Karena saya tahu, bersama kucingkucing lapar, Tuhan kerap datang untuk bilang "sembunyikan cakarmu, walau belangmu berbeda." Di situ saya jadi sadar, lewat kelaparan bersama kucing senasib, kita bisa bersamasama duduk dengan Tuhan sembari bincangbincang tentang buku baru yang sempat dibeli.

Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca Buku, Tuhan dan Kucing-kucing Kesepian di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel