You Are At The Archives for January 2016

Sunday, January 31, 2016 in

sketsa dasar akhir pekan di kelas literasi

Saya pernah bilang menulis bagi saya lebih sama dengan melukis. Ini sketsa kasar (dasar) lukisan saya di waktu kelas literasi Paradigma Institute sore tadi: 

Syafinuddin Al Mandari
Ilmu, hal yang tak diketahui malaikat
Manusia akan jauh membuat tercengang malaikat karena ilmunya
Ilmu pengetahuan yang dikembangkan akan meninggikan dengan sendirinya derajat seseorang
Peradabanperadaban manusia yang hancur karena ilmu yang stagnan. Semua peradaban yang maju karena ilmu yang maju
Teknologi pertanian organik. Di kota yang memiliki lahan sempit dapat dimanfaatkan dengan baik kalau ditopang dengan ilmu pertanian yang baik.
Pemulung yang cerdas mengelolah pasti akan jauh lebih besar penghasilannya dibandingkan pegawai kantoran.
Di Jakarta sudah menjadi sengketa antara pemda DKI dengan Bekasi akibat TPA yang over pemakaian. Ada teknologi yang dapat membuat sampah tidak terlalu busuk
Bubuk pupuk dan pupuk cair
Kalau semua sektor disentuh dengan ilmu yang bagus pasti akan menghasilkan karya yang luar biasa. Buktibukti yang memperlihatkan kemajuan di berbagai bidang itulah yang disebut literasi
Literasi berarti pencerahan. Membuat sesuatu lebih terang
kewajiban konstitusional negara yang bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ranah yang luas. Sekolah hanya salah satu bagian di dalamnya. Katakata pencerahan dan literasi berarti sama. Literasi mengeluarkan orangorang dari kebutaan yang paling awal yakni buta huruf sampai buta pengertian
Literasi pekerjaan jangka panjang. Walaupun hanya lewat manuskripmanuskrip sederhana yang dilakukan selama ini
Kalau konsisten mengawal kelas literasi bisa jadi besok akan menjadi sekolah sosial yang menyebar diberbagai sektor
Lilin literasi sama halnya meledakkan bom peradaban. 
Tugas pejuang literasi, mencerahkan, mampu menguatkan cara pandang orang dengan cara berpikir yang benar
Model bentuknya. Salah satunya Memperbanyak perkumpulan (komunitas). Untuk membangun pergerakan demi perubahan.
Evaluasi
Farid Gaban, Syafinuddin, setiap pencerita sesungguhnya adalah penulis. Kedua jangan dulu diedit, biarkan pengetahuan kita disalurkan mengalir begitu saja. Anggaplah setiap ucapan itulah yang ditulis. Selanjutnya diendapkan dan kemudian disinambungkan melalui proses evaluasi
Farid Gaban: biasakan dialog, bercerita, data, memaknai data, memunculkan sudut pandang, edit. Seorang yang ingin menulis wajib membaca tulisan orang lain. Begitu bukan pembaca maka tak akan menjadi penulis.

in

Akhir pekan di kelas literasi

Hari ini saya punya janji untuk mengikuti kelas literasi. Mau tidak mau saya harus ikut, soalnya sudah diingatkan oleh kanda Bahrul Amsal melalui lini masa FB. Apalagi beberapa hari sebelumnya saya sudah janjian dengan Aii Avicenna, kawan saya yang juga kebelet ingin ikut. Maka, siang ini saya bersiapsiap lebih awal, sembari menunggu jemputan Aii.

Kelas literasi sebenarnya sudah lama saya ketahui dari kabar yang diceritakan kanda Bahrul. Beberapa foto kegiatannya juga sering kali nongol di FB. Melihat kegiatankegiatan mereka, saya merasa harus ikut. Namun, waktu itu kepalang kelas sudah berjalan, makanya saya agak malu bergabung. Sampai belakangan ini saya dikabari kelas literasi angkatan kedua akan dibuka. Sontak saya senang bukan main. Ini kesempatan emas, saya harus ikut.

Sekarang saya sudah di TB Paradigma, tempat kelas literasi di selenggarakan. Hari ini pertemuan kedua. Banyak yang datang. Minggu kemarin kelas perdananya. Saat itu bagaikan mimpi, saya bisa berkumpul dengan orangorang yang memiliki minat yang sama. Apalagi pertemuan itu diawali dengan kuliah umum kanda Sulhan Yusuf. Beliau dengan santai omong banyak seputar gerakan literasi. Maqammaqam literasi, dan kecenderungankecenderungan orang terhadap dunia literasi. Saya tidak perlu menulisnya di sini, reportase kanda Bahrul sudah sempat membahasnya minggu lalu.

Hampir jam empat saya tiba dilokasi. Di dalam kelas ternyata sudah banyak orang. Termasuk kanda Bahrul yang datang lebih awal. Menurut info yang ditulisnya, hari ini kelas akan diisi diskusi santai bersama kanda Syafinuddin al Mandari. Katanya beliau sedang bertandang di Makassar, maka tak afdol kalau tidak mengundang beliau nimbrung di kelas.

Sambil menunggu kanda Syafi datang, begitu panggilan akrab yang saya dengar dari kawankawan, kelas dibuka dengan perkenalan singkat antara peserta. Setelah dibuka Kanda Bahrul, maka kami saling bertegur sapa mengenalkan diri. Ternyata ada duapuluh orang yang datang. Tidak semua nama saya kenal selain sebagian yang sudah saya ketahui sebelumnya. Setelah saling memperkenalkan diri, dan penjelasan Kanda Bahrul tentang mekanisme kelas yang selama ini dijalani, maka kelas dialihkan untuk mendengarkan persentase tulisan yang dibawa kawankawan. Kali ini saya sudah menyiapkan tulisan saya. Judulnya Mummy dan Ruang Anak yang Hilang.

Salah satu tulisan yang menarik ditulis Ishak Boufakar. Dia menulis tentang ilmu komuniskasi. Ulasannya menarik saat dia menjelaskan tulisannya. Juga Itto, yang sering membuat puisi tanpa judul. Memang Itto punya masalah ketika menulis puisi, ia sering membiarkannya tanpa judul. Kemudian Ali, peserta yang paling siap di antara kami. Ketika datang dia sudah menyiapkan map khusus untuk tulisantulisannya. Dia juga membawa puisi yang katanya dia tulis saatsaat galau.

Banyak hal yang diungkapkan kanda Syafi ketika ia membuka diskusi. Awalnya saya kaget dengan bahan diskusi yang menyinggungnyinggung soal pemanfaatan lahan yang minim di kota. Katanya suatu saat orangorang dengan pendekatan yang tepat dapat mengembangkan ilmu pertanian untuk memanfaatkan ketersediaan pekarangan yang minim. Sampaisampai beliau mengatakan pertanian akan jauh lebih maju dengan ilmu pertanian organik yang belakangan ini sedang marak. Jujur dipikiran saya apa kaitannya literasi dengan ilmu pertanian. Tapi saya dengarkan saja dulu ulasannya.

Saya semakin bingung ketika pembicaraannya menyinggung soal sampah. Katanya, jika seorang pemulung memiliki pengetahuan yang memadai, sampah justru dapat mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Maka, pemda DKI Jakarta tak akan bingung masalah TPA yang dipermasalahkan oleh warga Bekasi. Contoh itu diambil Kanda Syafi kalau kita mampu mengelola sampah dengan baik. Dengan ilmu yang benar, kata Kanda Syafi, sampah bisa diolah jadi pupuk bubuk dan cair yang jauh lebih baik dari pupuk urea.

Sampai di sini saya semakin bingung dengan omongan beliau. Bukankah informasi Kanda Bahrul bahwa beliau diundang karena pengalamannya di dunia literasi? Kok omongannya tentang pertanian dan sampah? Hubungannya dengan literasi di mana? Sampai akhirnya beliau bilang bahwa literasi itu sebenarnya pencerahan. Ketika sektorsektor dibidang kehidupan dikelola ilmu yang baik dan tepat guna, maka area yang masih gelap akhirnya menemukan perspektif baru yang bisa dimajukan. Itulah literasi, semangat untuk memajukan lini kehidupan dengan ilmu pengetahuan.

Sampai di sini saya kaget. Ternyata literasi memiliki makna yang begitu dalam. Tidak seperti pemahaman hanya sekitar baca tulis. Pantasan kanda Syafi sempat membahas ilmu pengetahuan dan peradaban di awal diskusi. Ternyata kuncinya di situ, setiap sektor yang diperjuangkan dengan ilmu pengetahuan, yang mencerahkan masyarakat dengan inovasiinovasi, itulah literasi. Usaha mencerdaskan bangsa, seperti amanat konstitusi kata kanda Syafi.

Pantas juga dari awal beliau menyinggung peradabanperadaban yang stagnan akibat mandegnya ilmu. Barang siapa berhenti mengembangkan ilmu pengetahuan, dengan sendirinya suatu peradaban akan tertinggal dan runtuh. Katanya ilmulahyang meninggikan derajat umat manusia. Hanya melalui ilmulah kemajuan peradaban bernilai tinggi dari peradaban sebelumnya.

Karena itulah gerakan literasi memiliki jangka yang panjang. Visi dan misinya harus menyentuh seluruh sektor kehidupan demi mencerdaskan kehidupan masyarakat. Maka kanda Syafi menghimbau jangan meremehkan kelas yang kami jalani ini. Karena ini adalah salah satu cara untuk membangun gerakan literasi, walaupun denga cara mengumpulkan manuskrip setiap minggunya. Dengan cara berkumpul dalam komunitas, membangun semangat dan konsistensi.

Kanda Syafi juga menyinggung tugastugas pejuang literasi. Menurutnya yang utama dari gerakan literasi adalah membuat orang sadar dengan pandangannya. Bahkan memperkuat pandangan seseorang dengan jalan berpikir yang benar. Inilah esensi pencerahan. Esensi literasi yang sesungguhnya. Sehingga orang yang bergerak dan sadar dengan literasi bisa menjadi lilin yang menerangi di mana pun berada. Dengan begitu akan tercipta apa yang beliau sebut ledakan bom peradaban.

Terakhir kanda Syafi bilang, mudahmudah komunitas semacam ini bisa menjadi sekolah sosial yang berefek kepada banyak orang. Kalau konsisten, maka tidak tidak mungkin hal itu bisa tercapai. Asalkan kita mau terus menggalakkan gerakan literasi. Dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki, melalui tulisantulisan yang cemerlang. Agar tercipta perubahan di segala sektor kehidupan.

Berikut fotofoto yang diambil kanda Bahrul di saat beliau beraksi. Tak lupa pula beberapa kawankawan yang ikut bertanya seputar kiatkiat menulis. Bagaimana agar menulis dapat dimulai? Seperti apa tahapantahapan menulis? Bagaimana cara memancing ide menulis? Semuanya dijawab apik oleh Kanda Syafi. Kalau kamu masih penasaran, ikut saja kelas di minggu depannya. Dijamin menyenangkan loh?

Saturday, January 30, 2016 in

undangan kelas literasi

Selamat malam. Besok pertemuan kedua kelas literasi Paradigma Institute. Kali ini kita akan kedatangan seorang yang sedikit banyak dibesarkan dan membesarkan Paradigma Institute sampai sekarang. Alhamdulillah kanda Syafi bersedia datang membagi pengalaman dan ilmunya besok sore sekira pukul 15.00. Beliau sampai hari ini masih bergiat dengan tradisi literasi dan pengembangan keilmuan bagi anakanak muda. Bahkan itu dilakukannya ketika masih menjadi mahasiswa.

Tadi siang saya mendapat bocoran dari kanda Sulhan Yusuf bahwa beliau sedang bertandang di Makassar. Samarsamar bahwa kanda Syafi didapuk menjadi narasumber di salah satu hotel siang tadi. Alhasil atas desakan kanda Sulhan, beliau harus bisa mengisi di kelas literasi besok.

Terakhir kali kanda Syafi bertandang di Makassar sekira akhir 2015. Saat itu selain mendampingi kanda Judilherri Justam, beliau juga menjadi pembicara saat melaunching buku yang diinisiasinya; "Anak Tentara Melawan Orba", otobiografi yang ditulisnya. Bersama Alto Makmuraltoyang menjadi pembicara, kegiatan itu sukses dengan banyaknya mahasiswamahasiswa yang berdatangan. Apalagi saat itu dua nama besar; Kanda Qasim Mathar dan Alwy Rachman, juga menjadi daya tariknya. Hingga sore, akhirnya kegiatan itu berakhir.

Setelah saya menelepon, respon positif langsung diberikan kanda Syafi. Dengan senang hati beliau akan menyempatkan bertandang diParadigma Ilmu Toko Buku besok. Tak lama saya berbicara dengan beliau, sebab dari belakang sepertinya dia masih duduk jadi narasumber. Lamatlamat suara pembicara di sebelahnya sampai kedengaran. Dengan sigap saya langsung saja nyatakan niat agar kawankawan dapat bertemu tukar pikiran dengan beliau. Setelah belia iyakan, sayapun pamit.


Lanjutkan

Thursday, January 28, 2016 in

yang gagal dari gadis di bangku taman

Pertama, sebuah karya sastra, terutama cerpen adalah cerita yang menggambarkan suatu alur latar belakang. Terutama “sejarah” tokohnya. Banyak saya dapati, setiap cerpenis mengolah latar belakang tokohnya dari deskripsi ceritanya itu sendiri. Bahkan melalui dialog tokoh di dalamnya, pembaca secara pelanpelan mengetahui seperti apa karakter, pembawaan, sampai struktur masyarakat yang melingkupinya. Cerpencerpen Putu Wijaya, misalnya, sering memperlihatkan latar belakang tokohnya dari dialogdialog yang dilakukan tokohnya itu sendiri.

Bahkan suatu sejarah dapat diketahui berdasarkan nama tokohnya itu sendiri. Nama Minke yang digunakan Pramoedya di dalam tetralogi buruhnya, bukanlah suatu kebetulan belaka. Melalui nama yang dipakainya, Pram ingin menunjukkan suatu ragam persoalan bangsa yang dikenali dari kesalahan penyebutan nama. Bagi pembaca tetralogi buruh, pasti akan mendapatkan kesan yang implisit bahwa nama Minke adalah kesalahan pendengaran Minke sendiri dari sebutan yang disematkan kepadanya yang arti sebenarnya merujuk kepada Monkey sebagai kata yang sebenarnya.

Pram ingin bilang, melalui Minke, bahwa suatu kesadaran kebangsaan yang menolak tunduk atas gaya penjajahan tertentu di mulai dari penyelesaian atas nama yang salah. Ini mirip bagaimana teoriteori poskolonial menyadarkan manusia bahwa kesadaran atas diri bukan melalui negara bekas penjajahnya, melainkan ditemukan dari dalam bangsa itu sendiri. Artinya, Minke ketika ingin memulai suatu kesadaran baru, harus menyadari untuk keluar dari penyematan yang salah terhadapnya.

Ketika memulai membaca Gadis di Bangku Taman karya Muhajir, kekosongan yang pertama adalah ketidakberanian penulisnya dalam memberikan nama pada tokohnya. Kesalahan ini begitu fundamental karena tanpa nama, pembaca akan gagal memahami suatu karakter tokoh. Apalagi novel yang hanya dipusatkan pada si lakilaki, tidak dengan gamblang memberikan suatu gambaran selain hanya ia sebagai anak seorang ibu yang memiliki kucing yang sekaligus pengangguran.

Tidak diberikannya nama kepada tokoh cerita, menandakan Muhajir adalah orang yang gagal menghidupkan karakter tokohnya. Saya percaya, pengarang yang baik adalah pengarang yang telah siap dengan karakter tokohnya beserta bubuhan namanya. Sebab nama, seperti saya bilang adalah penanda suatu struktur kehidupan yang dari itu pembaca dapat masuk lebih jauh untuk mengenal sang tokoh. Kesalahan elementer yang di alami Muhajir ini, akhirnya memiliki dampak yang fundamental kepada keseluruhan isi ceritanya.

Hal yang sama juga terjadi pada si gadis. Seperti yang terjadi pada sang lelaki, tak ada riwayat sedikitpun yang diuraikan penulis untuk menghidupkan sang tokoh perempuan. Nama, di dalam cerpen ini adalah unsur penting yang tidak dimiliki sebagai pembangun suasana tokohtokohnya. Sang gadis yang disebut di dalam judul, hanya seperti orang tanpa identitas yang tak jelas asal muasalnya. Bahkan untuk menerka seperti apa karakternya, pembaca akan sulit menelusurinya. Di sini, adagium apalah arti sebuah nama tak bisa diajukan sebagai pembelaan bagi penulisnya.


Lanjutkan

Wednesday, January 27, 2016 in

rahmat semesta alam, pengembara tetaplah pengembara

Setelah kemarin Muhajir, kali ini saya akan memperkenalkan kawan saya,RahmatZainal. Pemuda yang seharusnya sudah memiliki satu anak. Saya heran, dosa apa yang pernah ia perbuat kepada perempuan. Sampaisampai saat ini tidak ada perempuan yang kecantol kepadanya. Barangkali nasib di langit sana, dituliskan agar Rahmat dikandangi dari perempuan. Tapi kalau mau dibilang, justru Rahmat sendirilah yang pasang tembok Berlin di hadapan cewekcewek. Bahkan Rahmat agak gagu kalau bertemu dengan seorang perempuan seusianya.

Dalam ilmu tasawuf, untuk menjaga kemurnian ilmu, seorang sufi dituntut menjaga batinnya dari dunia syahwat. Ini mirip dengan tumbuhan padi yang harus dijaga dari beragam hama. Sehat tidak tumbuhkembangnya padi, tergantung seberapa bebas ia dari serangan hama. Seorang sufi, seperti padi, harus menjauhkan dirinya dari godaan hama dunia untuk melatih dirinya agar bersih. Wanita, bagi sufi, adalah salah satu hama yang mesti dihindari.

Saya sering bercanda, Rahmat bisa jadi adalah seorang sufi metropolitan yang hidup a la pemuda kota. Sendiri tanpa kehadiran seorang perempuan. Tapi, senang kalau dikerumuni perempuanperempuan yang baru menjadi mahasiswi. Maklum, Rahmat seringkali jadi tempat konsultasi ukhtiukhti di kampusnya. Jadi, di satu sisi, perempuan jadi musuhnya, tapi di lain sisi, justru perempuan bisa menjadi setapak jalan untuk sampai ke langit.

Yang terakhir ini, saya duga malah jadi doktrin kelompokkelompok agama untuk melecut semangat jihad. Dengan semangat jihadis, anggotaangotanya dijanjikan berpuluhpuluh bidadari di surga. Barang siapa jadi "pengantin," insyaallah mabrur menjadi syahadah dengan kerumunan bidadari.

Cara instan ini bukan cara yang dipakai Rahmat ketika dia berjihad. Jihad Rahmat adalah jihad ilmu. Bukan bom bunuh diri a la "pengantin" yang kerap nongol di mediamedia belakangan ini. Kalau saja iya, sudah lama Rahmat akan berlatih militer di negerinegeri arab sana. Atau sudah bersorban dengan membentuk koloni di pelosok Sulawesi. Mencari tanah lapang berlatih perang. Memanah dan berkuda. Dan, tentu sudah pakai sapaan ente antum segala.

Bagaimana Rahmat berjihad, ada ceritanya. Baiklah pelanpelan saja. Kita mulai.
Pertama kali saya melihat Rahmat di saat jaman baheula dulu. Ketika hamparan tanah bumi masih kosong melompong. Di waktu masih banyak homo sapiens bermukim di guagua. Saat tanah belum berganti menjadi ladangladang. Tepatnya saat dunia mengalami transisi dari era mengumpulkan makanan menjadi bercocok tanam. Ini alaf jauh sebelum Galilei Galileo menentang doktrin gereja. Yang ada hanya gali lobang tutup lobang menanam bahan makanan.

Nah, saya adalah salah satu homo sapiens yang hidup primitif itu. Sampai akhirnya saya ketemu dengan rombongan hijau hitam yang berkerumun entah kenapa. Karena di ajak oleh salah satu anggotanya, saya ikut saja. Masa itu adalah masa ketika hewanhewan buruan sulit dimakan. Dagingnya kuruskurus karena kekurangan makanan. Tanpa berpikir panjang saya ikut saja dengan ajakan mahluk yang belum saya kenal itu. Perlu diingatkan saya tertarik bukan karena ajakannya yang menginginkan suatu tata peradaban yang tamadduni, melainkan hanya ingin mendapatkan makanan gratis.

Akhirnya saya terpaksa meninggalkan gua persembunyian. Di tempat yang baru, selama tujuh hari saya diperkenalkan kepada istilahistilah yang asing. Karena belum banyak bahasa yang saya kenal, saya hanya sempat mengingat katakata semisal; teologi; epistemologi; subtansi; kapitalisme; komunisme, dan beragam bahasa yang saya tak tahu muasalnya. Selama tujuh hari saya diajarkan cara hidup beradab. Saya diajarkan untuk mengenal zat yang bernama Tuhan. Padahal sebelumnya tak ada kosakata Tuhan dalam kehidupan primitif saya. Semenjak itu, kata Tuhan lebih sering saya dengar dari orangorang di sekitar saya.

Selama tujuh hari, saya mendapatkan temanteman baru. Entah dari gua mana datangnya. Mereka seperti jenis homo erectus yang pernah saya lihat. Homo erektus ini banyak juga yang ikut, bersamaan dengan homo javakensis yang datang berbondongbondong. Tapi kebanyakan yang datang adalah homo sapiens yang tiba dengan batubatu di tangannya. Saya sendiri yang berjenis sama akhirnya bergabung bersama mereka selama tujuh hari di tempat yang lebih mirip penjara.

Di penjara itulah saya bertemu Rahmat. Dia tidak seperti homo jenis lainnya. Dia jenis baru yang tidak masuk kategori jenis manapun saat itu. Kedatangannya juga secara tibatiba. Seingat saya, dia datang di hari kelima ata keenam. Tapi yang saya ingat dia sudah duduk di belakang saya dengan memegang buku yang saya tak tahu judulnya. Buku, saat itu belum saya ketahui sebagai benda yang penting. Dengan model kehidupan primitif, yang saya tahu hanya batu berbentuk kapaklah yang bisa membuat saya bertahan hidup. Tapi Rahmat justru berbeda, dia selain datang dengan misterius, juga membawa buku yang kelak jadi benda paling penting dikehidupan kami.

Waktu itu Rahmat sudah bisa berbahasa peradaban. Cara berpikirnya jauh lebih maju. Mulutnya lancar menyebut istilahistilah yang saya tak tahu dapatnya dari mana. Saya berpikir saat itu, di gua mana ia pernah tinggal sampai memiliki bahasa semacam itu. Cerita punya cerita, ternyata ia tidak tinggal di gua. Nyatanya ia sering pindahpindah dari satu tempat penuh buku ke tempat penuh buku lainnya. Begitu seterusnya.

Hingga akhirnya saya jarang bertemu dengannya. Pernah suatu waktu saya mendengar kabar bahwa dia jadi anggota koloni yang gemar membentuk khilafah. Lama dia di sana sampai suatu saat dia sendiri yang bilang bahwa sudah murtad. Kabar terakhir yang saya dengar, dia ternyata adalah anak fakultas bahasa dan sastra di perguruan tinggi yang sama dengan saya. Hanya itu yang saya tahu saat itu. Ini kirakira ketika guagua banyak dimasuki beruang, dan saya sudah mulai tinggal di dalam kampus sendiri.

Rahmat itu seorang pengembara. Bayangkan dia sudah tiga kali menaiki gununggunung besar di Makassar. Tidak seperti orang lain yang hanya sanggup menaklukkan satu gunung saja. Toh kalau ada palingpaling hanya dua gunung saja. Sini saya kasih tahu, di Makassar setidaknya ada tiga gunung besar yang menjulang tinggi sampai angkasa. Di puncak inilah Rahmat telah menjejakkan kakinya. Pertama Gunungsari, tepatnya Gunung UNM. Di puncaknyalah Rahmat pernah lama menghabiskan waktu. Sebagai pengembara, ia banyak mengajarkan ilmu sakti hasil dari pengembaraanya kepada orangorang di sana.

Di gunung UNM, saya menduga, di sinilah dia pertama kali meniatkan dirinya untuk menaklukkan gununggunung tinggi di Makassar. Di waktu inilah saya pertama kalinya melihat Rahmat. Ketika bersama kerumunan hijau hitam dulu. Di UNM, Rahmat sudah menjelma pengembara tak bertuan. Buktinya dia minggat dari perguruan silat yang maunya khilafah melulu. Barangkali, di waktu inilah ia menemukan rahasia pengembara, tak punya urusan emosi dengan bendera apapun. Sejatinya pengembara adalah orang yang tak terikat dengan apapun.

Yang kedua, setelah lama hidup mengabdi di gunung UNM, rahmat melanjutkan perjalanannya menuju suatu gunung yang konon punya ilmu ayam sakti. Orangorang menyebutnya Unhas. Setelah lama mendaki di kaki gunungnya, ia tiba dipuncaknya hanya dalam hitungan jari. Di sana, dia banyak menimba ilmu sambil menyempurnakan ilmuilmu sebelumnya. Di saat ini, Rahmat sudah menjelma bak pendekar yang punya mantramantra sakti. Omongannya banyak yang anehaneh, tapi nyatanya banyak yang ingin mendengarnya. Sebagai pengembara, Rahmat sering membagi cumacuma mantra yang ia dapati dari guru sakti yang sering dia temui di puncak gunung Unhas.

Di puncak gunung Unhas, Rahmat sering berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya. Bahkan di setiap kampung tidak sedikit yang menjadi muridnya. Ini saya tahu ketika saya sering bertemu pasca ia bermigrasi ke gunung Unhas. Saat itu, Rahmat sudah tidak bisa disaingi. Ilmunya sakti mandraguna. Tak heran banyak yang ingin berguru kepadanya.
Seperti Che Guevarra yang sering memicu revolusi, Rahmat akhirnya melanjutkan pengembaraanya ke gunung yang terakhir; gunung Alauddin. UIN nama lain gunung itu. Di sini adalah tempat terakhir perjalanan Rahmat. Untuk sementara di tempat inilah dia mengasah kembali ilmuilmunya. Sembari bersamasama kawankawannya, mengembangkan suatu ilmu yang entah apa namanya. Ilmu ini sering dia keluarkan di saat genting. Saya pernah satu dua kali menyaksikannya. Kalau yang ini saya menduga jurus rahasianya. Tapi banyak yang tak tahu.

Di saat inilah saya banyak bertemu dengannya. Saat ini Rahmat masih jadi pengembara. Sekarang muridmuridnya bertebaran seantero Makassar. Bahkan saya diamdiam jadi muridnya sembari berpurapura sok tahu di depannya. Ya, di hadapannya, kamu iyakan saja apa yang ia omongkan, sebab dari situ banyak yang bakalan kamu tak ketahui. Itu satu petanda betapa tinggi ilmu kembaranya.


Itulah kenapa saya sering bercanda sendiri kalau Rahmat adalah seorang sufi. Tepatnya sufi pengembara. Seorang yang naik turun bukit melewati banyak lembah seorang diri. Kadang ketika dia lelah, dia sering menjamu dirinya dengan ramuanramuan kopi. Kalau yang ini Rahmat kerap di temui di warkopwarkop langganannya. Di situ dia sering memberikan ilmuilmu hasil perjalanan panjangnya. Makanya tidak ada ruginya bersamanya di saat menyaru kopi.

Seperti gambar di bawah ini. Saya berusaha mengambil gambarnya hanya untuk menceritakan sedikit ihwal tentangnya. Ini saya ambil dari salah satu warkop tempat saya nongkrong. Bagi saya penting kalian tahu tentang pengembara yang satu ini. Barangkali saja ada perempuan yang kecantol dengannya. Apalagi ilmunya, busyet! Saya saja harus berguru di banyak pendekar kalau ingin mengetahui ilmunya. Bagi saya Rahmat ini tipe manusia yang aneh. Dia sering mengembara, tapi namanya pengembara pasti ada yang disebut surat sakti dari setiap gunung yang ditaklukkannya. Tapi, apalah arti surat sakti bagi Rahmat. Seorang pengembara tetaplah pengembara. Yang ada hanya segudang ilmu dikepalanya, dan orangorang yang mau mendengarkan kisahnya.

Tuesday, January 26, 2016 in

muhajir: lakilaki panggilan

Pemuda tanggung ini bernama Muhajir. Hanya Muhajir saja. Tidak ada nama belakang seperti nama orangorang umumnya. Saya menduga kedua orang tua Hajir, begitu ia disapa, memberikannya nama begitu karena terinspirasi dari nama sebuah masjid entah di mana. Atau karena terngiangiang kisah orangorang muhajirin di masa Rasulullah dulu. Atau memang ada harapan kelak, Hajir di suatu waktu mendirikan masjid dengan Muhajir sebagai nama masjidnya. Atau Muhajirin. Ya, tanpa embelembel nama dibelakangnya. Singkat saja.

Gambar ini saya ambil ketika dia sedang bersiapsiap mengisi diskusi salah satu lembaga di kampus orange. Akhirakhir ini Hajir memang sering jadi lelaki panggilan. Dia dalam seminggu saja bisa berkeliling tiga kali bak ustadz mengisi forumforum pengajian. Dipanggil sanasini tanpa rela dibayar. Kadang dia harus rela mengisi forum dua kali dalam sehari. Betulbetul tanpa ongkos.

Kadang saya berpikir, sebagai orang yang sering melihatnya mondarmandir dari forum satu ke forum lainnya, dia sebelas duabelas mirip tukang pijit. Hampir sebagian waktunya hanya untuk orangorang yang membutuhkan. Pergi pagi pulang sore dengan menenteng tas penuh bukubuku. Ikhlas dituntun oleh satu forum ke forum lainnya.

Kadang juga saya punya prasangka buruk tentangnya. Tidak burukburuk amat sih sebenarnya. Saya curiga dia begitu bersemangat diundang karena senang kalau di forum yang dihadirinya banyak cewekcewek yang gemesin bukan main. Biasanya, orangorang yang mendapatkan kesempatan berbicara di depan cewekcewek ala JKT48, akan begitu bersemangat mengeluarkan skill ilmu komunikasinya. Bahkan serumit apapun pembahasannya akan nampak ringan diulasnya. Janganjangan di bagian ini Hajir sudah huduri ilmunya. Semoga saja.

Kalau sudah begitu siapa yang mau mirip tukang pijat. Buta pun ogah, apalagi berjalan menentengnenteng tongkat. Bahkan bukan bau minyak gosok lagi yang tercium, justru berganti parfum akibat forum yang dipenuhi ukhtiukhti hijabers. Tapi itu jarang saya temukan. Hajir bukan tipe orang yang melek karena ukhti chibichibi. Satu hal yang bisa membuatnya begitu bersemangat mengisi kajian di manamana; makan gratis.

Untuk urusan makan, di bungker memang musim paceklik tak pernah pergipergi. Makanya, Hajir sebagai salah satu penghuninya punya profesi sebagai intelektual panggilan. Jadi semacam mengadu nasib dengan kelaparan yang kerap melanda. Makanya ada semacam hubungan simbiosis mutualisme antara pengetahuan yang dimilikinya dengan orangorang yang mengundangnya. Jadi, sebagai pengisi diskusi, Hajir akan mendapatkan makanan gratis, dan orangorang yang mendengar kuliahnya mendapatkan ilmu gratis.

Namun saya yakin justru bukan makan gratis yang diidamidamkan lakilaki tanggung ini. Hajir sebagaimana pemuda umumnya, adalah pemuda yang pernah tumbuh di luar pengawasan orang tua. Anakanak muda yang sering menghabiskan waktunya bermain gitar di ujung lorong yang angker. Lakilaki yang kalau magrib tiba segera mandi dan muncul kembali di tikungan jalan mengondos cewekcewek kampung. Di saat itulah dijemarinya mengapit sebatang rokok untuk memberikan kesan macho. Rokok bagi anak muda yang baru tiga tahun mengalami mimpi basah, adalah benda yang paling ajaib yang bisa dihisap mulut.

Rokok, betul rokok, yang membuat Hajir rela begadang membukabuka buku untuk mengisi kajian esok harinya. Saya sanksi Hajir akan membenarkan perkataan saya ini. Tapi, kuat dugaan saya, seperti saya dulu, rokok bisa membuat orang betah mulutnya berbusabusa demi perbincangan yang tiada ujungnya. Sehingga mudah ditebak, makanan gtatis hanya nilai tukar yang tak bermakna apaapa dibandingkan sebungkus rokok.

Malam ini saya sempatkan mengambil gambarnya, karena Hajir orang yang saya kenal menyukai foto yang memuat dirinya. Kalau kalian melihat gambar di bawah ini, jangan percaya dia serius membaca catatannya. Sungguh itu hanya akalakalannya saja ketika saja saya memberitahunya akan mengambil gambarnya. Sontak dia langsung purapura serius menekuni laptopnya. Padahal saya tahu, dia biasa membawa diskusi tanpa membaca lebih dahulu. Ada beberapa tema yang sudah dia hapal di luar kepala.

Itu saya tahu karena saya orang yang sedikit banyak bersentuhan dengan aktivitasnya di kampus. Dulu ketika masih urakan dia sempat rajin mengikuti kelas logika yang saya bawakan. Saya masih ingat gayanya yang menyerupai vokalis band antah berantah dengan kalung di leher dengan rambut yang dibuat miripmirip Andika kangen band. Rambutnya ya! Bukan mukanya, catat! Tapi sekarang penampilannya sudah jauh berbeda. Juga kesenangannya kepada bukubuku.

Karena bukulah Hajir jadi lakilaki panggilan. Juga dengan bukulah ilmu yang dia miliki dibagi cumacuma di manamana. Serta tujuh tahun menjadi mahasiswa melalanglang buana ditempa di macammacam forum. Entah jadi peserta, dan sekarang jadi pembicara dadakan. Ya, sering kali dia diundang dadakan, dan sering kali pula dia senyumsenyum sendiri.

Oh iya, Hajir juga penulis muda yang sedang panaspanasnya mengurus blog. Alamat blognya www.alhegoria.blogspot.co.id.. Ups, salah, maaf itu alamat blog saya. Sorry. Alamatnya, kalian tanya dia saja langsung. Kalian punya pin BBM kan, mumpung dia sedang asik BBMan dengan gawai barunya. Kalau tentang tulisannya, kalian tidak bakalan rugi membacanya. Dia juga bisa kalian temui di kelas literasi Paradigma Institute. Tiap akhir pekan dia aktif di sana. Bahkan dia salah satu orang yang turut membawa nama Paradigma Institute sebagai background namanya.

Yang terakhir, Hajir pernah berkata akan melanjutkan studinya. Hajir anak pendidikan. Seperti yang saya bilang, dia menghabiskan tujuh tahun di kampus. Sempurna. Menurut saya, Hajirlah satusatunya orang yang menghabiskan karirnya sampai berdebu di kampus seperti saya. Sekarang dia berkeras ingin kuliah kembali. Namun, bukan tujuh tahun ya! Mudahmudahan kalau dia sudah lanjut, dia masih bisa diajak berdiskusi sebagai lakilaki panggilan. Amin ya Allah.


Monday, January 25, 2016 in

bunker dan seekor anak kucing

Sore kemarin sepulang dari TB Paradigma, saya menyempatkan singgah di Bunker. Bunker adalah istilah untuk menyebut rumah yang kami sewa sebagai sekretariat. Kalau mau dilihat, rumah yang kami tempati sebenarnya sudah tidak layak huni. Atapnya banyak yang reyot bocorbocor. Temboknya sudah retakretak. Lantainya saja banyak yang terisi pasir. Kalau hujan, jangan bilang, kamu bisa mancing ikan di dalamnya. Kalau bukan ruang tengah yang bertegel, barangkali tak ada yang mau tinggal di sana.

Sejarahnya panjang mengapa kami bisa tergusur sampai ke sana. Itupun sebenarnya kami hanya menumpang. Asli menumpang bung! Karena berdasarkan perjanjian, kami harus angkat kaki dari tempat itu. Hanya saja, pemiliknya masih berbaik hati agar kami menempatinya. Kabarnya, tempat itu akan dia jadikan koskosan, tapi karena masih menunggu waktu yang tepat ia urungkan niatnya.

Yang mesti kamu tahu, selain tempatnya yang di bawah hunian layak. Kata bunker bisa menjelaskan karakter hunian tempat kami. Dulu tempat kami memiliki pandangan yang luas menghadap ke selatan. Sedangkan di sebelah barat ada bekas bangunan yang diruntuhkan. Akibatnya, di sebelah barat juga memiliki pandangan yang luas.

Namun, setahun belakangan tepat di depan pintu, dibangun rumah berlantai tiga. Sedangkan lahan kosong yang ditinggal bangunan runtuh ditumbuhi semaksemak belukar. Akhirnya, karenanya rumah kami jadi tempat yang tersembunyi. Bahkan nyaris tidak kelihatan kalau kamu melewatinya dari sebelah barat. Bagi orangorang yang lewat pasti tidak menyadari kalau di situ ada rumah berdiri.


Lanjutkan

Sunday, January 24, 2016 in

Sulhan Yusuf: "Ini Mirip-Mirip Komunis"

Kemampuan menulis selalu ditopang dengan kemampuan membaca. Begitu pesan pembuka yang disampaikan Sulhan Yusuf ketika memberikan kuliah umum di Inaugural Class Sekolah Literasi Paradigma Institute, 24 Januari, berlokasi di TB Paradigma Ilmu, Pabbentengan, Makassar.

Tidak ada penulis yang baik, sebelum menjadi pembaca yang baik, dijelaskan Sulhan adalah rumusan paten bagi siapa pun yang ingin menjadi penulis. Hubungan ini sifatnya komplementer, yang satu hanya bisa bekerja kalau yang lain diandaikan secara bersamaan.

Di pertemuan perdana ini, Sulhan juga menjelaskan tentang maqammaqam literasi. Maqam pertama adalah tingkatan baca dan tulis. Tingkatan baca tulis adalah kemampuan elementer tiap orang. Di tingkatan kedua, menulis karena kewajiban. Orang menulis sering karena tuntutan profesi. Orang menulis hanya memenuhi tuntutan kerja. Kedua maqam ini disebutkan Sulhan terjadi hanya karena ada tekanan eksternal. Terkadang katanya, mahasiswa menulis karena didorong oleh dosen yang memerintahkannya. Di tingkatan ini seseorang belum seperti di maqam ketiga, maqam ruhani. Maqam ruhani diungkapkan Sulhan, karena tulismenulis sudah merupakan panggilan ruhani.

Setiap maqam menurut pria berkepala plontos ini, harus diikat dengan apa yang disebutnya asas kejujuran. Baginya banyak penulispenulis yang sering tidak jujur dalam menulis. Banyak penulis yang memiliki kemampuan literasi yang baik, malah kadang tidak jujur. "Bahkan dari pengalaman saya, ada beberapa tulisan saya yang sering dimanfaatkan pihak tertentu dengan cara copy paste. Bahkan mau diikutkan lomba," bebernya.

Di maqam ruhani, ungkap Sulhan, tulisan menjadi sidik jari bagi penulisnya. "Kata kak Alwy Rahman, melalui sidik jari, seseorang dapat mengekalkan identitasnya." "Makanya kalau menulis, seseorang mudah dikenali dari tulisannya," lanjutnya.

Internalisasi, kata Sulhan mirip dengan aktifitas makan yang dibutuhkan oleh seorang penulis pemula. Namun, sebagai konsep, ruhani membutuhkan makanan ruhani pula untuk dikelola qalbu. Ruhani, disebutkan banyak membutuhkan asupanasupan gizi lebih dari sekedar makanan biasa. Hal ini karena qalbu akan menjadi powerfull lebih dari kualitas sebelumnya. Kaitannya dengan bacaan, diharapkan pagi penulispenulis muda harus banyak melahap habis bacaanbacaan berkualitas. Tujuannya, tambah Sulhan, itu akan mendorong lahirnya tulisantulisan yang berkelas.

Kelas literasi kali ini tidak jauh berbeda dengan kelas angkatan pertama. Semua yang terlibat bisa menyetor tulisannya berupa cerpen, novel, puisi, berita, esai, kritik sastra, drama, atau opini. Semua bisa memilih beragam genre tulisan yang dibagi menurut fisksi atau non fiksi. "Sebenarnya kalau dibilang kelas baru bukan juga, karena peserta kelas lama juga bisa nimbrung di kelas yang baru. Lagian tidak ada yang namanya penulis hebat di sini. Semuanya sama," jelas Ceo Paradigma Insitute ini.

Di pertemuan perdana ini juga dijelaskan mekanisme teknis kelas literasi. "Kelas dibuka tiap pekan pukul 14.00. Syarat utamanya setiap anggotanya wajib membawa tulisan sebagai bahan omongan di saat kelas berlangsung. Jadi, barang siapa yang ingin datang dengan hanya membawa gagasan tanpa tulisan maka dengan sendirinya akan ditolak," tegas Sulhan.

Di tengah penyampaiannya, Rezky, salah satu peserta baru mempertanyakan soal bagaimana caranya menghilangkan rasa kurang percaya diri ketika mem-publish karya tulis sementara akan ada orang yang mengklaim bahwa itu bukan karya kita sebenarnya. "Itu karena kita tidak jujur dalam menulis, kalau kita menulis dengan jujur mustahil kita akan takut. Kalau memang ada bagian tulisan kita yang mengutip, maka jujurlah sertakan dari mana Anda mengutip," tangkas Sulhan.

Sementara itu salah satu peserta baru, Jahir, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kelas literasi Paradigma Institute. "Di sini ternyata ada tiga hal yang dieksplore, pertama tindakan menulis, kedua tindakan membaca, dan ketiga yakni kemampuan mempersentase. Jadi sekali ikut bisa tiga kualitas yang diasah," ungkapnya setelah mengikuti kuliah umum.

Bukan Ajang Tanding

Ditemui pasca kelas perdana, bersama pesertapeserta baru, Sulhan, kembali membeberkan bahwa di kelas literasi tidak ada ajang tanding. "Kelas literasi bukan ajang tanding. Setiap peserta memiliki pertofolio yang akan dijadikan sebagai bahan evaluasi. Prinsipnya setiap pekan, peserta menabung tulisannya untuk dijadikan naskah evaluasi. Sehingga setiap minggu kita bisa melihat sejauh apa perkembangannya. Cara kerja seperti ini dianggap efektif untuk menghilangkan suasana persaingan antara peserta." Katanya diselasela perbincangan.

Output dari mekanisme yang diterapkan, Sulhan katakan akan ditandai dengan publikasipublikasi yang ditujukan ke korankoran lokal. Publikasi adalah salah satu capaiancapaian yang memang menjadi tujuan dari kelas literasi. Bahkan Sulhan menabalkan, setiap tulisan yang dikumpulkan bisa diterbitkan menjadi suatu karya tulis berupa buku.

Paradigma Institute, dijelaskan Sulhan selama ini sudah banyak menginisiasi penerbitan beberapa karya tulis buku. Untuk menyebut diantaranya adalah Airmatadarah, Dari Rumah Untuk Dunia, Ziarah Cinta dari beberapa penulis. Bahkan, bocornya, tahun ini Paradigma Institute sedang menyiapkan beberapa naskah untuk diterbitkan.

Di kelas literasi sikap solidaritas dan altruis merupakan semangat bersama yang sampai hari ini menjadi ikatan bersama. Bahkan kelas literasi tidak sama sekali dibebankan biaya pendaftaran dan administrasi. "Tidak ada uang apapun yang dipungut. Ini miripmirip komunis" canda Sulhan. "Intinya cara kami menjalankan kelas literasi menggunakan prinsip kerjasama," tambahnya.

Dari bocoran yang didapatkan melalui sumber yang tak ingin disebutkan namannya, kelas tahun ini "berani" menerbitkan semacam buletin yang terbit perdana di bulan Januari. "Kala nama selebarannya, ini mengingatkan bahwa dulu perjuangan literasi ditopang dengan selebaranselabaran macam begini. Bahkan koran dimulai dari selebaranselebaran" jelasnya sambil memperlihatkan selembar kertas copyan putih. Disebutkan pula, Kala akan terbit tiap pekan dengan memuat tulisantulisan kelas literasi Paradigma Insitute. "Iya, rencananya Kala akan terbit tiap pekan, kalau mau bisa digandakan," pungkasnya.

Saturday, January 23, 2016 in

buku dan kucingkucing kesepian

Untuk urusan membeli buku, kadang saya jadi tidak rasional. Apalagi kalau yang dibeli adalah buku yang memang lama dicaricari. Tanpa banyak perhitungan walaupun uang hanya cukup untuk urusan bertahan hidup, hasrat memiliki buku jauh lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan pangan. Saya pikir beberapa hari kurang makanan tidak akan membuat saya menjadi pengemis, apalagi mati kelaparan. Sejak dulu saya punya prinsip, orang gila saja yang tidak memiliki apaapa bisa bertahan hidup, apalagi orang yang punya akal sehat. Di manamana, akal sehat kalau digunakan dengan baik pasti akan memberikan jalan keluar. Makanya saya berani berkorban membeli buku.

Berani berkorban inilah yang saya sebut tidak rasional. Anda boleh sepakat atau justru memiliki pendapat yang berbeda tentang rasional tidakkah sikap berkorban itu sebenarnya. Tapi saya memiliki pendapat orang yang melakukan bom bunuh diri, rela mati demi meninggalkan orangorang yang dicintainya karena suatu alasan di luar akal sehat. Kalau dia berpikir rasional mana mungkin dia mau mengambil sikap yang destruktif seperti itu. Rela berkorban dalam kasus bunuh diri, bisa panjang urusannya kalau kita mempersoalkan dahulu apa itu tindakan rasional, apakah melakukan sesuatu demi tujuan yang jauh lebih besarlah yang disebut rasional. Atau karena tindakan yang diambil telah ditimang dengan ukuranukuran tertentulah suatu tindakan disebut rasional?

Yang pastinya, akal sehat saya hanya bekerja pasca membeli buku. Terutama bagian ketika bagaimana memperpanjang hidup dengan kekurangan uang. Saat inilah saya harus memutar otak untuk menemukan jalan keluar. Memutar otak yang saya bilang tentu bukan arti harfiahnya, malah saya kira anda tahu maksud yang dirujuk istilah itu. Di pikiran saya, salah satu cara untuk bertahan ialah memanfaatkan relasi pertemanan. Ini cara yang selalu berhasil saya lakukan. Terutama saat hidup kere di kampus.


Biasanya, lapar secara berjamaah jauh lebih baik dibandingkan sendirisendiri. Di saat itulah akal bersama akan bekerja lebih canggih ketika itu dibandingkan tanpa ikatan kebersamaan. Hidup bersama kawanan memiliki dampak buruk, sikapsikap manja akan terbersit jika ada halhal yang sebenarnya bisa dilakukan secara sendiri, malah meminta bantuan kepada kawan yang ada. Hidup kawanan tidak bisa menjadikan Anda seperti elang, tapi malah membuat Anda jadi seperti seekor kucing.

Namun, di saat lapar, kucing bisa menjadi hewan yang baik. Dia rela memberikan pertolongan bagi sejumlah kawanannya. Ketika memiliki sedikit makanan, pasti dia menyisihkan seperempatnya biarpun itu hanya berupa tulang ikan. Kesetiakawananan kucing, sering saya temukan di dalam hati temanteman di saat waktu makan siang atau malam. Di saat pagi malah jarang karena memang di waktu itulah kami bertahan tanpa makanan.


Lanjutkan

Friday, January 22, 2016 in

Ibu Jum dan Ibu Mince

Ketika masih duduk di sekolah dasar, saya sangat menyukai pelajaran olah raga. Kesenangan terhadap pelajaran olah raga sebenarnya adalah hal yang lumrah untuk anak kecil seusia saya. Maklum bisa lari kesana kemari. Karena itu perlu diingat, kata olah raga sebenarnya tidak tepat, karena di kepala saya waktu itu olah raga hanyalah jenis bermain yang dijadikan mata pelajaran. Paling pas kalau menyebut hal itu sebagai bermainmain belaka.

Bedanya saat bermain olah raga, saya mengenakan seragam berwarna merah muda dengan bis garisgaris di pundak. Di bagian lengan dan celana berwarna merah hati. Jadi tidak femininfeminin amat. Buktinya masih ada warna merah yang mendominasi seragam saya.

Namun saya tidak bisa berkelit kalau mengatakan baju olahraga saya kepunyaan lakilaki. Soalnya kerah lehernya berbentuk V. Itu loh kerah khusus perempuan. Ceritanya karena saya anak kedua, sering kali saya harus rela menerima bekas baju kepunyaan Ima, kakak saya. Sebenarnya ini hanya berlaku bagi kaos oblong dan seragam sekolah. Jadi sabar dulu, tidak semuanya saya pakai. Masak saya harus pakai rok atau baju dress perempuan!? Gila apa!

Akhirnya setiap pelajaran olahraga, saya harus menahan malu berjamjam lantaran pakaian yang saya kenakan. Untung saja setelan celana trainingnya tidak berbeda antara lakilaki dan perempuan. Bisa dobel rasa malu saya. Untuk mengurangi rasa malu saya ini, saya menggunakan baju lapis berupa kaos oblong untuk menutupi celah kerah yang sudah melar itu. Dengan begitu, jadilah saya murid yang paling seringkali berkeringat pertama kali. Panas, Bung!

Selain kerah model V yang bikin malu, warna baju yang sudah lumayan pudar juga bikin masalah tersendiri. Bayangkan kalau di antara gerombolan teman sekelas, hanya saya yang memiliki baju berwarna lusuh. Saya seperti anak tahun lalu yang dipaksa mengulang kelas akibat nilainya anjlok, lantaran baju yang saya kenakan berwarna berbeda. Yang lain bajunya berwarna kinclong, sementara hanya saya seorang seperti siswa tua.

Ibu Mince, dialah pengampu pelajaran olahraga. Kalau tidak salah ingat itulah nama guru yang memiliki gaya rambut lakilaki. Yang saya ingat pasti adalah karakternya yang keras dan lumayan galak. Bayangkan dia seorang guru dengan gaya tomboy plus memiliki gaya mengajar dengan suara lantang. Saya pikir itu adalah karakter yang dipilihnya lantaran olahraga memang pelajaran yang membutuhkan gaya belajar outdoor. Selain digerakkan oleh abaaba, suara lantang adalah faktor dominan tersampaikannya ilmu keolahragaan. Makanya, dengan cara begitu Ibu Mince nampak seperti marahmarah kalau mengajar kami.

Di bawah tatapan matanya yang lumayan membuat takut, Ibu Mince selalu menjadi motivator bagi kami. Saya saja, dengan gaya kerasnya yang khas tomboy, akhirnya menjadi murid yang tibatiba memiliki semangat berolahraga. Kalau ada pelajaran lari atau sepakbola, jangan dikira, saya bisa berubah tibatiba bak pemain profesional. Bagaimana tidak, jika loyo sedikit, siapsiap saja dapat teriakan lantang dari Ibu Mince.

Di sekolah, bisa dibilang Ibu Mince-lah yang paling jarang berpakaian formal layaknya guru. Itu hampir setiap hari saya lihat. Ibu Mince mudah dikenali sebagai guru olahraga dari pakaian trainingnya. Dia dengan setelan bak pelatih olahraga, dengan cepat jadi guru yang gampang dikenali. Dari jauh kalau kita menengok di kantor guru, maka Ibu Mince-lah yang paling pertama dikenali. Barangkali hanya hari Senin saja Ibu Mince berpakaian khas seorang guru, itu karena hanya untuk mengikuti upacara bendera.

Kalau diingatingat, baru Ibu Mince saja yang saya ketahui perempuan yang mengampu pelajaran olahraga. Selama di SMP dan SMA, semua guru olahraga saya lakilaki. Makanya Ibu Mince gampang saya ingat dari sekian guruguru sewaktu saya SD. Selain ibu Mince saya masih mengingat Ibu Jum dan Ibu Bene. Ibu Jum adalah guru agama saya. Dan Ibu Bene adalah wali kelas saya ketika duduk di kelas enam. Selain mereka, saya hanya mampu mengingat sebagian wajahwajah guru yang pernah mengajari saya di waktu SD. Ibu Bene nanti akan saya tulis di waktu yang lain. Dia punya kesan tersendiri bagi saya.

Sementara Ibu Jum, yang saya ingat adalah guru yang murah senyum. Dia perempuan yang tidak terlalu tinggi. Badannya bisa dibilang pendek. Ibu Jum bagi saya guru yang luar biasa. Sebagai guru agama Islam, dia mampu menempatkan diri dengan baik diantara mayoritas guru yang berkeyakinan Nasrani. Saya tidak tahu bagaimana ia mengelola perbedaan, namun dari caranya bergaul, saya menilai dia guru yang memang tahu apa arti keyakinan yang berbeda.

Di kelas enam, pejaran agama Islam digabung menjadi satu kelas dari kelas 6A dan 6B. Karena saya kelas 6B maka saya harus pindah ke ruangan kelas 6A. Di situlah saya bersama muridmurid beragama Islam dikumpulkan untuk mengikuti pelajaran yang diampu Ibu Jum. Sementara di kelas 6B dipakai untuk pelajaran agama Kristen.

Di kelas 6A, Ibu Jum dengan tenaga terlatihnya, harus berhadapan dengan puluhan murid yang dikumpulkan jadi satu. Betapa sabarnya Ibu Jum berhadapan dengan kami muridmuridnya yang kebanyakan badung. Tapi Ibu Jum selalu tersenyum, disitulah kekuatannya. Sedangkan kami melalui senyumnya akhirnya luluh setelah diceritakan kisahkisah Nabi.

Kalau yang membuat senang dari pelajaran olahraga karena bisa bebas bergerak kemana saja, pelajaran agama justru kami harus berdesakdesakkan mencari tempat duduk. Bayangkan kalau kapasitas bangku hanya untuk murid sekelas harus menampung dua kelas sekaligus. Tapi, untung tidak semuanya pindah, sebab tidak semua beragama Islam. Hanya saja, tetap kami merasa harus berdesakdesakkan karena menginginkan duduk di tempattempat strategis. Kalau saya menyebut tempat strategis, berarti itu bangku yang berada di posisi belakang. Atau duduk di belakang siswa yang memiliki tubuh besar.

Tapi yang membuat senang di pelajaran agama adalah saya bisa bertemu dengan temanteman di kelas 6A. Kalau sudah begini, kami bisa kembali membicarakan pertandingan bola antara kelas 6A dan 6B. Biasanya yang mewakili kelas 6A adalah Gani, siswa yang memiliki kepala yang sedikit besar. Atau Zainuddin, siswa keturunan Bugis yang pintar mengocek bola. Kalau Ibu Jum melihat tingkah kami yang berkerumun pada satu meja di sudut ruangan, pasti dia kira kami sedang mendiskusikan pelajaran yang dibawanya. Padahal kami sedang merancang kapan pertandingan dilaksanakan. Dan, ujungujungnya kalau bukan pulang sekolah, pasti di saat pelajaran olahraga nanti.

Di kelas 6B ada Nur Oktavia. Dia tetangga saya ketika tinggal di jalan Lalamentik. Nur murid yang cerdas di kelas kami. Saya bersama Taufik, teman yang juga tinggal tak jauh dari rumah, sering berjalan kaki ke rumahnya untuk belajar bersama. Padahal yang saya maksud adalah menyalin tugastugas PR. Tapi kalau urusan sepakbola, bukan Nur andalannya. Randi-lah jagoan kami, teman yang memiliki warna rambut hampir menyerupai warna rambut jagung. Atau Ake, sapaan Imran, yang memiliki kecepatan berlari. Dan sesekali dilengkapi Amir, yang sering asal menendang saja. Sedangkan saya, yang penting bisa mencetak gol itu sudah luar biasa.

Nah, setelah menyepakati di kelas saat pelajaran agama, maka pelaksanaannya kami sepakati saat pelajaran olahraga tiba. Di saat itulah kami bertaruh kelas siapa yang paling hebat. Di bangsal, sebuah lapangan semen yang beratap seng, tempat yang kami pilih. Kebetulan di situlah Ibu Mince sering mengumpulkan kami. Berhubung sepakbola adalah ujian yang diberikan, maka pertandingan adalah ajang untuk mengumpulkan nilai sebanyakbanyaknya. Maka jadilah pertandingan sengit lantaran ingin mendapatkan nilai bagus, siapa kelas terhebat, dan suara lantang Ibu Mince yang berteriakteriak.

Di saat itulah saya akan menjadi olahragawan profesional. Dengan baju yang sudah lusuh, tak ada alasan takut kotor. Malah baju yang sudah kusam itu memberikan aura positif kepada saya, bahwa karena lamanya dipakai, dia seperti jimat yang dituruntemurunkan. Ditambah suara lantang Ibu Mince, apa daya seluruh kemampuan harus dikerahkan. Sepakbola jadi ajang pembuktian diri. Biarpun baju sudah terlanjur kepunyaan perempuan, tetap saya seorang lakilaki. Tepatnya pesepakbola lakilaki.

Saya lupa kelas siapa yang memenangkan pertandingan saat itu. Kalau dihitunghitung, kelas 6A yang sering kali keluar sebagai pemenangnya. Tapi yang terpenting kalau kalah masih ada pertandingan lainnya. Kami bisa kembali bertemu di permainan kasti. Juga bisa kembali dibicarakan di kelas Ibu Jum. Kapan waktu yang tepat melakukan pertandingan lainnya. Selama pelajaran agama masih tetap digabung, kami selalu membuat kesepakatan tentang pertandinganpertandingan lainnya. Ibu Jum pasti juga senang, kami akan terlihat semakin alot berdiskusi. Pasti nilai kami bakalan bagus. Insyaallah.

Dari kabar yang saya dapat dari Nur, Ibu Jum sudah pensiun mengajar. Alhamdulillah dia sehat. Yang saya tahu, rumah Ibu Jum tidak jauh dari sekolah. Rumahnya terletak pas di depan pagar sekolah. Sedangkan Ibu Mince masih aktif mengajar walaupun pasti sudah tidak semuda dulu. Oh iya, Nur ternyata masih tinggal di Kupang, dan dia sudah berkeluarga. Dari dialah saya memastikan kalau namanama Ibu Jum dan Ibu Mince tidak salah ingat. Ternyata saya benar. Ingatan saya kadang buruk. Tapi tidak dengan Ibu Mince dan Ibu Jum. Semoga mereka sehat selalu.


Sementara baju olahraga yang menyerupai warna pink itu, sudah lama tak saya temukan. Bisa jadi dia berakhir jadi kain lap semaktu saya tamat SD. Fajar, adik saya sudah pasti tak mau memakainya. Warnanya sudah pasti lebih kusam. Apalagi karet di bagian kerahnya sudah pasti rombeng. Namun, saya ingat betul nama sekolah yang disablon di belakang baju kaos olahraga yang hampir empat tahun saya pakai. Kali ini saya tak perlu memastikannya kepad Nur, yang punya ingatan bagus. Kalau kamu sempat melihat tulisan SD N 1 BONIPOI KUPANG tertera di baju sekolah anakanak di NTT, maka dipastikan saya orang yang pertama bilang kalau itu nama sekolah tempat Ibu Jum dan Ibu Mince mengajari saya, dua guru yang susah saya lupakan.

Wednesday, January 20, 2016 in , , ,

Agora a la Cafe Dialektika

Singkat saja. Malam ini saya menyambangi Cafe Dialektika. Lumayan jauh saya ke sini, kirakira hampir sepuluh kilo lebih dari tempat saya mangkal. Aktifitas saya belakangan ini hanya berputarputar di sekitar kampus UNM, tapi lantaran ada bedah film, maka saya kemari.

Cafe Dialektika sepengetahuan saya digagas oleh anakanak muda yang senang menghabiskan waktu dengan berdiskusi. Mereka kalau saya tidak salah duga adalah mahasiswamahasiswa Stimik Dipa dan Unhas yang berkomitmen untuk menghadirkan wadah diskusi yang nyaman. Makanya sudah sering saya melihat kegiatankegiatan mereka yang diupload di dunia maya. Bagi saya, merekamereka ini memiliki kepekaan untuk menjemput kebutuhan intelektualisme anakanak muda dengan menyediakan tempat yang mereka sediakan.

Beberapa waktu silam, ketika pertama kali saya kemari, salah satu orang menyebut bahwa tempat ini dirancang tidak sebagaimana cafe umumnya. Perlu diingat kata kafe hanya mengacu kepada beberapa meja kursi yang mereka sediakan bagi pengunjung yang datang untuk menikmati kopinya. Kopi yang umumnya disediakan di cafe, tidak disediakan di tempat ini. Nyatanya kopi dan beberapa menu yang disediakan hanya berupa suguhan ala kadarnya tanpa barista khusus.


Walaupun seduhan kopi yang disediakan masih mengandalkan eksperimen, branding yang ditonjolkan tempat ini terletak pada setting suasananya. Dengan memanfaatkan pojok rumah dan garasi, anakanak muda ini menyulap ruang apa adanya jadi tempat yang nyaman untuk berdiskusi. Selain itu mereka juga menyulap bagian dalam rumah seperti perpustakaan mini. Banyak buku yang bisa kalian temukan di sini, walaupun tidak mencapai ribuan buku di dalamnya.

Konsep intelektualismelah yang jadi jualan kafe ini. Dari namanya saja, kita bakalan menyimpulkan bahwa penggagas tempat ini adalah orangorang yang bergelut dengan ilmupengetahuan. Makanya, mereka tidak menjual selera atas kopi, melainkan menciptakan ruang belajar yang nyaman bagi mahasiswamahasiswa. Didukung dengan akses wifì, tempat ini saya pikir lumayan asik untuk dijadikan tempat bercengkrama membincang apa saja.

Malam ini Cafe Dialektika membedah film Agora. Pembedahnya teman ngopi saya, Muhajir. Film ini sudah dua kali saya tonton. Yang saya ingat, film ini berusaha menarasikan tiga keyakinan (Pagan, Yahudi, dan Kristen) yang hidup dalam satu masa dan tempat yang sama. Kalau tidak salah setting film ini sekitar tiga abad pasca kelahiran Yesus di Alexandria. Hypatia seorang perempuan filsuf yang menjadi tokoh sentral dalam film garapan Alejandro Amenábar ini, diceritakan mendapatkan rintanganrintangan akibat semakin kuatnya pengaruh kristiani. Di tengahtengah kecamuk tiga keyakinan, Hypatia teguh berpendirian tetap mengikuti filsafat sebagai jalan hidupnya. Sampai akhirnya dia harus mati akibat keyakinan yang dipegangnya.

Kirakira begitulah jalan cerita Agora. Film ini saya fikir masih layak disaksikan bersamaan dengan menguatnya fundamentalisme keyakinan yang banyak membahayakan kehidupan bermasyarakat akhirakhir ini. Konflik yang dikandung dalam film ini, tidak jauhjauh dari situasi belakangan yang juga menguatkan segregasi akibat keyakinankeyakinan sempit beragama. Singkatnya, Agora bisa menjadi film untuk meninjau kembali polapola hubungan antar keyakinan di masyarakat.

Saya pikir komunitas semacam Cafe Dialektika ini, patut diapresiasi sebagai wadah baru bagi ruang bersama berbagi informasi. Kuat dugaan saya, asumsi inilah yang juga mendasari sebab berdirinya tempat ini. Visi yang mereka bangun inilah yang menjadikan Cafe Dialektika berbeda dengan tempat lain. Sejauh pengamatan saya, selain tempat ini, juga sudah berdiri Be Smart Cafe yang beroperasi di sekitar jalan Talasalapang. Sedikit berbeda dengan Cafe Dialektika,  Be Smart Cafe juga membuka kelas bahasa inggris bagi anakanak usia sekolah. Yang menyamakan kedua tempat ini adalah kemasan suasana yang diset dengan interior intelektual, juga menawarkan programprogram kelas menarik yang bisa kita ikuti.

Baiklah tulisan ini harus segera berakhir, film Agora juga baru saja berakhir. Saatnya Muhajir akan membedah Agora dari macammacam pendekatan dan perspektif. Saya datang jauhjauh ke sini hanya untuk melihat Muhajir membedah film ini. Apalagi saya sudah diingatkan oleh salah satu pengelolah Cafe Dialektika untuk datang kemari. Banyak yang datang kemari. Hitungan saya hampir tigapuluh orang. Saya pikir ini suatu yang membahagiakan. Muhajir sudah memulai persentase. Saya sudahi dulu.


Literasi populer