rahmat semesta alam, pengembara tetaplah pengembara

27 Januari 2016 Comments Off

Setelah kemarin Muhajir, kali ini saya akan memperkenalkan kawan saya,RahmatZainal. Pemuda yang seharusnya sudah memiliki satu anak. Saya heran, dosa apa yang pernah ia perbuat kepada perempuan. Sampaisampai saat ini tidak ada perempuan yang kecantol kepadanya. Barangkali nasib di langit sana, dituliskan agar Rahmat dikandangi dari perempuan. Tapi kalau mau dibilang, justru Rahmat sendirilah yang pasang tembok Berlin di hadapan cewekcewek. Bahkan Rahmat agak gagu kalau bertemu dengan seorang perempuan seusianya.

Dalam ilmu tasawuf, untuk menjaga kemurnian ilmu, seorang sufi dituntut menjaga batinnya dari dunia syahwat. Ini mirip dengan tumbuhan padi yang harus dijaga dari beragam hama. Sehat tidak tumbuhkembangnya padi, tergantung seberapa bebas ia dari serangan hama. Seorang sufi, seperti padi, harus menjauhkan dirinya dari godaan hama dunia untuk melatih dirinya agar bersih. Wanita, bagi sufi, adalah salah satu hama yang mesti dihindari.

Saya sering bercanda, Rahmat bisa jadi adalah seorang sufi metropolitan yang hidup a la pemuda kota. Sendiri tanpa kehadiran seorang perempuan. Tapi, senang kalau dikerumuni perempuanperempuan yang baru menjadi mahasiswi. Maklum, Rahmat seringkali jadi tempat konsultasi ukhtiukhti di kampusnya. Jadi, di satu sisi, perempuan jadi musuhnya, tapi di lain sisi, justru perempuan bisa menjadi setapak jalan untuk sampai ke langit.

Yang terakhir ini, saya duga malah jadi doktrin kelompokkelompok agama untuk melecut semangat jihad. Dengan semangat jihadis, anggotaangotanya dijanjikan berpuluhpuluh bidadari di surga. Barang siapa jadi "pengantin," insyaallah mabrur menjadi syahadah dengan kerumunan bidadari.

Cara instan ini bukan cara yang dipakai Rahmat ketika dia berjihad. Jihad Rahmat adalah jihad ilmu. Bukan bom bunuh diri a la "pengantin" yang kerap nongol di mediamedia belakangan ini. Kalau saja iya, sudah lama Rahmat akan berlatih militer di negerinegeri arab sana. Atau sudah bersorban dengan membentuk koloni di pelosok Sulawesi. Mencari tanah lapang berlatih perang. Memanah dan berkuda. Dan, tentu sudah pakai sapaan ente antum segala.

Bagaimana Rahmat berjihad, ada ceritanya. Baiklah pelanpelan saja. Kita mulai.
Pertama kali saya melihat Rahmat di saat jaman baheula dulu. Ketika hamparan tanah bumi masih kosong melompong. Di waktu masih banyak homo sapiens bermukim di guagua. Saat tanah belum berganti menjadi ladangladang. Tepatnya saat dunia mengalami transisi dari era mengumpulkan makanan menjadi bercocok tanam. Ini alaf jauh sebelum Galilei Galileo menentang doktrin gereja. Yang ada hanya gali lobang tutup lobang menanam bahan makanan.

Nah, saya adalah salah satu homo sapiens yang hidup primitif itu. Sampai akhirnya saya ketemu dengan rombongan hijau hitam yang berkerumun entah kenapa. Karena di ajak oleh salah satu anggotanya, saya ikut saja. Masa itu adalah masa ketika hewanhewan buruan sulit dimakan. Dagingnya kuruskurus karena kekurangan makanan. Tanpa berpikir panjang saya ikut saja dengan ajakan mahluk yang belum saya kenal itu. Perlu diingatkan saya tertarik bukan karena ajakannya yang menginginkan suatu tata peradaban yang tamadduni, melainkan hanya ingin mendapatkan makanan gratis.

Akhirnya saya terpaksa meninggalkan gua persembunyian. Di tempat yang baru, selama tujuh hari saya diperkenalkan kepada istilahistilah yang asing. Karena belum banyak bahasa yang saya kenal, saya hanya sempat mengingat katakata semisal; teologi; epistemologi; subtansi; kapitalisme; komunisme, dan beragam bahasa yang saya tak tahu muasalnya. Selama tujuh hari saya diajarkan cara hidup beradab. Saya diajarkan untuk mengenal zat yang bernama Tuhan. Padahal sebelumnya tak ada kosakata Tuhan dalam kehidupan primitif saya. Semenjak itu, kata Tuhan lebih sering saya dengar dari orangorang di sekitar saya.

Selama tujuh hari, saya mendapatkan temanteman baru. Entah dari gua mana datangnya. Mereka seperti jenis homo erectus yang pernah saya lihat. Homo erektus ini banyak juga yang ikut, bersamaan dengan homo javakensis yang datang berbondongbondong. Tapi kebanyakan yang datang adalah homo sapiens yang tiba dengan batubatu di tangannya. Saya sendiri yang berjenis sama akhirnya bergabung bersama mereka selama tujuh hari di tempat yang lebih mirip penjara.

Di penjara itulah saya bertemu Rahmat. Dia tidak seperti homo jenis lainnya. Dia jenis baru yang tidak masuk kategori jenis manapun saat itu. Kedatangannya juga secara tibatiba. Seingat saya, dia datang di hari kelima ata keenam. Tapi yang saya ingat dia sudah duduk di belakang saya dengan memegang buku yang saya tak tahu judulnya. Buku, saat itu belum saya ketahui sebagai benda yang penting. Dengan model kehidupan primitif, yang saya tahu hanya batu berbentuk kapaklah yang bisa membuat saya bertahan hidup. Tapi Rahmat justru berbeda, dia selain datang dengan misterius, juga membawa buku yang kelak jadi benda paling penting dikehidupan kami.

Waktu itu Rahmat sudah bisa berbahasa peradaban. Cara berpikirnya jauh lebih maju. Mulutnya lancar menyebut istilahistilah yang saya tak tahu dapatnya dari mana. Saya berpikir saat itu, di gua mana ia pernah tinggal sampai memiliki bahasa semacam itu. Cerita punya cerita, ternyata ia tidak tinggal di gua. Nyatanya ia sering pindahpindah dari satu tempat penuh buku ke tempat penuh buku lainnya. Begitu seterusnya.

Hingga akhirnya saya jarang bertemu dengannya. Pernah suatu waktu saya mendengar kabar bahwa dia jadi anggota koloni yang gemar membentuk khilafah. Lama dia di sana sampai suatu saat dia sendiri yang bilang bahwa sudah murtad. Kabar terakhir yang saya dengar, dia ternyata adalah anak fakultas bahasa dan sastra di perguruan tinggi yang sama dengan saya. Hanya itu yang saya tahu saat itu. Ini kirakira ketika guagua banyak dimasuki beruang, dan saya sudah mulai tinggal di dalam kampus sendiri.

Rahmat itu seorang pengembara. Bayangkan dia sudah tiga kali menaiki gununggunung besar di Makassar. Tidak seperti orang lain yang hanya sanggup menaklukkan satu gunung saja. Toh kalau ada palingpaling hanya dua gunung saja. Sini saya kasih tahu, di Makassar setidaknya ada tiga gunung besar yang menjulang tinggi sampai angkasa. Di puncak inilah Rahmat telah menjejakkan kakinya. Pertama Gunungsari, tepatnya Gunung UNM. Di puncaknyalah Rahmat pernah lama menghabiskan waktu. Sebagai pengembara, ia banyak mengajarkan ilmu sakti hasil dari pengembaraanya kepada orangorang di sana.

Di gunung UNM, saya menduga, di sinilah dia pertama kali meniatkan dirinya untuk menaklukkan gununggunung tinggi di Makassar. Di waktu inilah saya pertama kalinya melihat Rahmat. Ketika bersama kerumunan hijau hitam dulu. Di UNM, Rahmat sudah menjelma pengembara tak bertuan. Buktinya dia minggat dari perguruan silat yang maunya khilafah melulu. Barangkali, di waktu inilah ia menemukan rahasia pengembara, tak punya urusan emosi dengan bendera apapun. Sejatinya pengembara adalah orang yang tak terikat dengan apapun.

Yang kedua, setelah lama hidup mengabdi di gunung UNM, rahmat melanjutkan perjalanannya menuju suatu gunung yang konon punya ilmu ayam sakti. Orangorang menyebutnya Unhas. Setelah lama mendaki di kaki gunungnya, ia tiba dipuncaknya hanya dalam hitungan jari. Di sana, dia banyak menimba ilmu sambil menyempurnakan ilmuilmu sebelumnya. Di saat ini, Rahmat sudah menjelma bak pendekar yang punya mantramantra sakti. Omongannya banyak yang anehaneh, tapi nyatanya banyak yang ingin mendengarnya. Sebagai pengembara, Rahmat sering membagi cumacuma mantra yang ia dapati dari guru sakti yang sering dia temui di puncak gunung Unhas.

Di puncak gunung Unhas, Rahmat sering berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya. Bahkan di setiap kampung tidak sedikit yang menjadi muridnya. Ini saya tahu ketika saya sering bertemu pasca ia bermigrasi ke gunung Unhas. Saat itu, Rahmat sudah tidak bisa disaingi. Ilmunya sakti mandraguna. Tak heran banyak yang ingin berguru kepadanya.
Seperti Che Guevarra yang sering memicu revolusi, Rahmat akhirnya melanjutkan pengembaraanya ke gunung yang terakhir; gunung Alauddin. UIN nama lain gunung itu. Di sini adalah tempat terakhir perjalanan Rahmat. Untuk sementara di tempat inilah dia mengasah kembali ilmuilmunya. Sembari bersamasama kawankawannya, mengembangkan suatu ilmu yang entah apa namanya. Ilmu ini sering dia keluarkan di saat genting. Saya pernah satu dua kali menyaksikannya. Kalau yang ini saya menduga jurus rahasianya. Tapi banyak yang tak tahu.

Di saat inilah saya banyak bertemu dengannya. Saat ini Rahmat masih jadi pengembara. Sekarang muridmuridnya bertebaran seantero Makassar. Bahkan saya diamdiam jadi muridnya sembari berpurapura sok tahu di depannya. Ya, di hadapannya, kamu iyakan saja apa yang ia omongkan, sebab dari situ banyak yang bakalan kamu tak ketahui. Itu satu petanda betapa tinggi ilmu kembaranya.


Itulah kenapa saya sering bercanda sendiri kalau Rahmat adalah seorang sufi. Tepatnya sufi pengembara. Seorang yang naik turun bukit melewati banyak lembah seorang diri. Kadang ketika dia lelah, dia sering menjamu dirinya dengan ramuanramuan kopi. Kalau yang ini Rahmat kerap di temui di warkopwarkop langganannya. Di situ dia sering memberikan ilmuilmu hasil perjalanan panjangnya. Makanya tidak ada ruginya bersamanya di saat menyaru kopi.

Seperti gambar di bawah ini. Saya berusaha mengambil gambarnya hanya untuk menceritakan sedikit ihwal tentangnya. Ini saya ambil dari salah satu warkop tempat saya nongkrong. Bagi saya penting kalian tahu tentang pengembara yang satu ini. Barangkali saja ada perempuan yang kecantol dengannya. Apalagi ilmunya, busyet! Saya saja harus berguru di banyak pendekar kalau ingin mengetahui ilmunya. Bagi saya Rahmat ini tipe manusia yang aneh. Dia sering mengembara, tapi namanya pengembara pasti ada yang disebut surat sakti dari setiap gunung yang ditaklukkannya. Tapi, apalah arti surat sakti bagi Rahmat. Seorang pengembara tetaplah pengembara. Yang ada hanya segudang ilmu dikepalanya, dan orangorang yang mau mendengarkan kisahnya.

Penulis: Bahrul Amsal

Anda sedang membaca rahmat semesta alam, pengembara tetaplah pengembara di bahrulamsal journal.

meta

Comments are closed.

Podcast: Babanuroom Channel