28 Desember 2015

menjadi tolol

| |
Yang paling mengenakkan tinggal di rumah sendiri adalah banyaknya waktu ketika bermalasmalasan. Apalagi ketika itu dilakukan sambil menonton tv. Biasanya itu saya lakukan di atas sofa. Dengan tidurtiduran santai menghadap tv seperti pemilik perusahaan super kaya. Lazy time, itulah yang saya pikirkan. Ketika sudah di depan tv, biasanya waktu adalah konsep yang tak bermakna. Di depan tv, saya bisa lama mencatmencet berganti frekuensi siaran sampai menemukan siaran yang enak ditonton.

Di rumah, kami berlangganan tv kabel. Dulu ketika masih SMP, belum banyak rumah yang menggunakan layanan tv kabel. Bahkan sebenarnya belum ada yang disebut tv kabel saat itu. Ratarata para tetangga banyak menggunakan reciever yang harus pontangpanting memutar parabolanya untuk menemukan siaran yang disenangi. Akibat di rumah tak punya siaran apaapa, maka setiap ingin menonton film kesukaan, saya harus menumpang ke rumah sepupu hanya untuk melihat gambar yang bergerakgerak.

Tapi semenjak tv kabel mulai diperkenalkan dan banyak orang yang menggunakannya, maka orangorang di rumah pun tak ingin ketinggalan. Akhirnya kesimpulan di ambil: kami pun juga harus memasang tv kabel. Walaupun saat itu siarannya hanya stasiunstasiun nasional, itu sudah cukup membuat saya sumringah. Akhirnya, di rumah, semenjak berlanggalanan tv kabel, pelanpelan saya mulai suka berlamalama di depan tv. Kelak kebiasaan ini sulit saya tinggalkan.

Seperti saat ini ketika saya punya banyak waktu tinggal di rumah. Bobok santai mirip tuan putri hampir tiap hari saya lakukan. Entah mengapa kebiasaan itu masih bertahan, walaupun hampir sembilan tahun belakangan saya jarang berhadapan dengan kotak yang punya kekuatan revolusioner itu. Barangkali memang saya semakin tolol untuk tertarik dengan acaraacara yang disuguhkan dari setiap stasiun tv. Tapi, bukankah ketika seseorang tahu menjadi tolol, berarti sebenarnya ia masih bisa berpikir bahwa memang ia sebenarnya tolol.