28 February 2015

madah tigapuluhsembilan

“Kehidupan adalah yang mestinya bukan suatu kemalangan dan jalan menuju ketiadaan adalah satusatunya yang baik dalam kehidupan”  Schopenhauer

Jika ada anak dalam usia muda yang sudah berhenti berdoa, maka Leo Tolstoy-lah orangnya. Di usia 16, doktrin religius telah mengecewakannya. Maka doa ia tinggalkan, puasa tak dilakukannya, juga gereja tak lagi ia kunjungi. Sampai akhirnya di usia 18, keyakinan kristen ortodoks jadi sesuatu  yang ia sebut "doktrin religius yang tak berperan dalam kehidupan." Di usia 18, Tolstoy praktis jadi, dalam arti tertentu, orang yang atheis. "Pada usia 18 tahun, aku tak lagi mempercayai apapun yang pernah diajarkan."

Tolstoy, barangkali sedang dalam suasana yang gamang. Di usia mudanya, ia membaca filsafat Yunani, pemikiran Voltaire, Schopenhauer, dan juga Kant. Untuk nama terakhir ini, bisa kita katakan adalah filsuf yang memang tak menolak dan tak mengimani tuhan: agnostik. Dan Tolstoy sepertinya juga demikian, "apa yang bisa kupercayai tak bisa kukatakan sama sekali, aku percaya tuhan atau aku mengingkari tuhan, tapi tak bisa kukatakan apa itu tuhan." Sampai di sini sepertinya ada kesamaan Kant dan Tolstoy: orang yang membiarkan tuhan pada sesuatu titik taksa.

Sebuah imankah yang dialami Tolstoy? Nampaknya dari pengakuannya yang ia tulis dalam A Confession, memang bukan iman yang sekali ringkas dalam batas pengertian ketat. Iman, seperti yang ia ungkapkan dalam A Confession adalah sebuah suluk yang tak tergesagesa menemukan jawaban. Iman yang sabar berjalan di pinggir tubir antara tabir dan bibir yang tak kuasa mengucap.

Memang dalam buku yang ditulis itu kita akan terkejut bahwa di masa mudanya Tolstoy adalah anak muda yang menjadikan ritualritual agama sebagai bahan olokan. Masa mudanya adalah masa yang bisa diringkas dengan kosakata foyafoya. Di sana ia menulis pernah menjadi seorang penjudi, pemabuk, pencuri, pemalak, berzina atau segala kejahatan yang terjadi di zamannya. Di tahuntahun itu, adalah masa yang penuh “kengerian, perasaan muak sekaligus kepiluan.” Di tahuntahun ini, di mana ia pernah menjadi tentara yang bertempur dalam Perang Krim adalah tahun yang penuh depresi. Suatu masa di mana ia hampir bunuh diri.

Tapi itu tak pernah terjadi.  Tapi juga depresi yang ia alami tak hilang begitu saja. 10 tahun lamanya ia hidup dalam kegamangan.

Tolstoy gamang dan merasakan perlu ada yang mesti diperbaiki.  Hidup yang ia alami nampak hanya sebagai apa yang ia sebut tiruan dari hidup yang sebenarnya. Kegamangannya terhadap arti hidup sebenarnya adalah suatu yang sering kali menelusup dalam kesehariannya.  Ia menulis: “aku tak tahu apa yang harus dilakukan atau bagaimana menjalaninya. Aku merasa tersesat dan menjadi patah semangat…kondisi itu selalu terekspresikan dalam pertanyaan untuk apa? Akan kemana?”

Dan hidup yang tak terperiksa adalah hidup yang tak layak dijalani.

Hidup Tolstoy sebenarnya adalah hidup yang sejahtera; rumah yang megah, tanah ladang yang luas, pekerjapekerja yang banyak, juga tulisantulisan yang cemerlang. Tapi di kehidupannya yang mencukupi itu, selalu saja ada masgul terhadap apa yang telah dicapainya. Suatu ekses dari masa mudanya yang menghendaki apa sebenarnya arti dari kehidupan.

Tolstoy pasti banyak mencari jawaban di bukubukunya, atau bisa saja mengajak diskusi siapa pun tentang apa maksud sebenarnya hidup. Tapi suatu yang sulit ia duga, jawaban yang selama ini dicarinya justru ada pada kehidupan petanipetani di sekitarnya. Yakni kumpulan orangorang yang tak pernah mempersoalkan hidup dengan serius dan gamblang.

Sebab pertanyaan adalah pintu masuk keraguan yang tak bisa ditangkap rasio. Sementara dalam petanipetani yang ia saksikan tak pernah mengawali suatu hari dengan mempertanyakan apa sebenarnya arti hidup. Justru dalam kehidupan yang sahaja dari petani yang tak pernah repot atas kegamangan filsafat, merasakan ketentraman hidup yang sentosa. Petanipetani yang ia lihat adalah orangorang yang legowo tanpa harus mempersoalkan hidup yang memang untuk dijalani dengan iman yang tak mulukmuluk. Iman yang tak muluk itulah sepertinya adalah iman yang menentramkan dan menenangkan. Tanpa pertanyaan. Tanpa kebimbangan.

Itulah mengapa dalam pengakuannya, Tolstoy menyimpulkan bahwa pengetahuan rasional tak mampu memberikan jawaban apaapa. Ia menyebutnya “di wajah eksistensi tanpa tujuan, pilihan rasional hanya bunuh diri.” Barangkali inilah suatu transformasi iman yang rasional menuju iman yang nirrasional. Yakni iman yang membuatnya hidup bukan iman yang membuatnya bertanyatanya.

Sebenarnya tranformasi yang dialaminya bukanlah suatu guncangan yang tidak melibatkan rasionalitas, tapi justru, seperti juga Kant,  menganggap rasio adalah jalan yang tak memberikan ujung yang pasti, sebuah jalan buntu. Namun tidak seperti Kant yang agnostik, di akhir perjalanan pencariannya yang panjang, Tolstoy yakin bahwa iman bukanlah perkara yang sematamata hanya melibatkan pekerjaan rasionalitas, melainkna justru suatu yang melampaui; keterlibatan batin.

Di sanalah ia menemukan jawaban. Pada tempat yang memang seharusnya ia kunjungi. Dan seperti juga Gautama yang disebutkannya mengalami hal yang gundah atas eksitensi hidup yang penuh penderitaan. Tolstoy akhirnya menjadi orang yang di tahuntahun terakhir hidupnya menjadi seorang pengelana dan petapa.

Dan dari ajaran spiritual yang dirumuskan para petapa; cinta kasih, Tolstoy banyak mempengaruhi filosofi nonkekerasan yang dianut dari Gandhi hingga anarkisme.

“'Hiduplah mencari Tuhan, maka kau tak kan hidup tanpa Tuhan,’ Dan lebih dari sebelumnya, semua di dalam diriku dan di sekitarku menyala, dan cahaya itu tak lagi meninggalkanku”

26 February 2015

madah tigapuluhdelapan

"Tidak ada misi yang lebih rumit, lebih gawat, daripada pergulatan orang dengan jiwanya sendiri.."

Begitulah ungkapan Duong  Thu Huong. Tulisannya dalam Beyond Illusions, begitu menggetarkan. Dalam katakatanya itu ada getir, sekaligus tentu saja, getar.

Di tahuntahun komunisme berjaya di Vietnam, getir sekaligus getar itu menjadi hal yang menjulang dalam sorak sorai revolusi tanpa batas. Tapi juga, akhirnya harus redup untuk sebuah jalan yang telah ditetakkan partai: realisme sosialis.

Di Vietnam, seperti negerinegeri ketika komunisme akbar dipuja, sastra dan seni hanya berarti bahwa realisme sosialis adalah satusatunya ekspresi yang mampu membangun kebudayaan yang luhur. Maka, akhirnya itu jadi kebijakan, partai mengambil alih, dan sastra serta seni hanya bisa bicara dua hal: revolusi dan aturanaturan sastra partai.

Tapi pernah suatu saat partai sadar dan berbenah. Di tahun 1987, pasca perang yang amuk dengan pihak sekutu, partai mengambil cara yang tak lazim. Melalui pidato Nguyen Van Linh, ketua partai saat itu, kaum sastrawan dan intelektual dihimbau terlibat secara bebas dan kritis untuk membangun dan menangani Vietnam yang ambruk akibat perang. Akhirnya katup  dibuka, dan segera saja suarasuara yang sembunyi dari radar kekuasaan, menguap kemanamana.

Suasana itu akhirnya menyediakan suatu kondisi seperti yang diungkap Linh, dalam Beyond Illusions, kepada suaminya "kita tidak hidup untuk menyenangkan hati orang lain. Kita hidup sesuai dengan keyakinan kita." Linh menyebut itu dalam arti yang ideal, dalam arti bagaimana seharusnya tugas seorang penulis: jujur terhadap kenyataan.

Vietnam sebelum itu adalah suatu negeri yang diproyeksi dan dicanang revolusi, negeri yang mengolokngolok tuantuan tanah. Di Vietnam kala itu, seperti negeri yang membebaskan seluruh tanah untuk dikelola komunekomune. Tak ada tanah yang berbasis pribadi. Tiada yang berbau individual. Tanah di masa itu adalah saatsaat di mana padi adalah juga urusan negara.

Sontak proyek land reform itu menjadi semacam mantra yang membebaskan, tapi juga sebenarnya menghisap tumbal. Pembebasan tanah jadi program yang massif dari revolusi yang sedang berjalan. Tanah yang dikelola komune, adalah penyamarataan seperti yang dilakukan Mao di China. Tapi land reform justru bukan imune, justru banyak yang sakit, banyak yang justru kelaparan. 

Yang jadi tumbal, yang jadi sakit, adalah orangorang yang kehilangan tanahnya dan harus bekerja dengan tanah yang kering. Bahkan berita pun dibuatbuat, seperti ditulis Duong dalam novel ke duanya, penuh kebohongan "para pemimpin komune memerintahkan kami ke sini untuk dipotret, untuk korannya para tukang foto itu.

Orangrang dikibuli dengan gambargambar padi berlatar subur dan petani yang bahagia bekerja, namun sebenarnya itu hanyalah bagian kecil dari keadaan yang sebenarnya. Yang sebenarnya tak ada tanah subur yang dibebaskan. Yang ada hanyalah pengerahan besarbesaran petani ke bidangbidang tanah yang tak menghasilkan panen apaapa. Yang ada hanya berita manipulatif yang disebarkan demi menyangga revolusi.

Sebab itulah akhirnya di suasana bebas itu  banyak yang berani bersuara atas kebohongankebohongan kemajuan revolusi. Sastrawan menulis syair juga novel, seniman membangun panggung dan kaum cendikia mengungkap kenyataan. Demi suatu yang luhur: kejujuran atas yang terjadi.

Drastis tak ada lagi beritaberita kebohongan tentang kemajuan yang dipesan partai. Tak ada lagi ungkapan yang memujimuji revolusi.

Tapi suarasuara yang kritis nampaknya justru menjadi gema yang menyulut panas kekuasaan. Kritik berbalik arah terhadap partai yang diamdiam memang menilap kekayaan. Akhirnya banyak yang marah seperti tuantuan kepala partai yang menimbun harta. Sehingga jika kekuasaan jadi gerah, maka selanjutnya kita tahu, yang ada adalah pembungkaman. Sebab itulah kritik seperti memang hanya suara yang seperti uap. Cepat hilang. Sempat panas kemudian hilang tanpa sisasisa, oleh kekuasaan.

Suara yang sempat menjulang saatsaat itu, sudah tentu suara getar Duong Thu Huong. Perempuan yang sempat diusir dari partai ini akhirnya juga menanggung nasib sebagai seorang yang diasingkan. Tulisantulisannya menjadikannya sebagai orang yang karib dengan penjara tanpa pengadilan. Dan dari situ tahun 1990 ia didepak dari partai komunis Vietnam.

Tapi novelnovelnya, juga Beyond Illusions, sebenarnya getir yang memotret sebuah negeri yang dimanipulasi dengan rencanarencana partai. Suatu hal yang ia sebut "memandang menembus topengtopeng," saat semuanya bersuara berdasarkan pesanan partai. Saat banyak yang hanya mengumbar kesenangan rakyat dari sejumlah beritaberita, ceritacerita yang dipelintir dari kenyataan sebenarnya.

Saat itulah Duong menulis "kita kaum intelektual, misi kita bukannya memupukmupuk kebanggaan rakyat kita, melainkan meninjau sedalamdalamnya cacat dan kelemahannya yang fatal, untuk menemukan dan menunjukkannya lebih awal dari yang lainlain."

Karena itulah Duong menulis keadaan yang getir di negerinya sendiri.  Tapi sampai di sini saya tidak tahu, apakah tulisan Duong  di negeri ini juga dapat membuat orang bergulat dengan jiwanya sendiri.


madah tigapuluhtujuh

"Masalah manusia adalah yang paling penting dari segala masalah"

Begitulah Ali Syariati memandang sebuah persoalan. Dimulai dari manusia dan menuju manusia. Sebab "agamaagama di masa lalu merendahkan kepribadian manusia, meremehkan posisinya di atas dunia, dan memaksanya agar mengorbankan dirinya di hadapan para dewa atau tuhan." Jika ia pernah mengatakan "dari mana kita mesti mulai?", maka soal utamanya bisa jadi adalah manusia.

Nampaknya humanisme tidak selamanya milik barat. Ali Syariati, kawan karib Sartre ini, juga punya cara membilangkan humanismenya dengan daya yang meletupletup. Humanismenya, yang meletupletup itu, ia sebut sebagai "mahluk bidimensional, rekan Allah, sahabatNya, pemegang amanatNya dan murid utamaNya... yang dikaruniai misi agung agar dilaksanakannya di muka bumi."

Dengan begitu, manusia yang bidimensional diyakininya sebagai orangorang yang punya misi khusus, orangorang yang datang di muka bumi untuk menyelenggarakan suatu adab hidup. Suatu yang ia sebut misi agung.

Tapi, misi agung, di abad dua puluh satu, adalah misi yang bisa jadi soal sebenarnya. Agama, yang juga punya semangat humanisme, nampaknya seperti yang dibilang Syariati, justru adalah "agama-agama yang merendahkan manusia." Manusia bukan titik koordinat semua garis bermula. Ia hanyalah satu garis dari titik yang berpusat dari tuhan.

Di abadabad yang lalu, di hadapan keyakinan dominan gereja, pusat itu dirubuhkan. Dan hingga kini, pusat telah berbeda. Manusia menjadi poros, sehingga dari sanalah semua soal dan jawaban disusun.

Tapi, sekali lagi ini abad dua puluh satu. Agama punya jawaban yang juga tak pernah surut. Semangat yang tak surut itu muncul dengan wajah yang tak ingin kusam di abad kemajuan ini: fundamentalisme.

Dengan itulah misi agung dipandang memang mesti agung. Tak ada yang boleh mencemari yang asal dan dasar, itulah sebabnya tak ada campur tangan manusia di dalamnya. Manusia, mahluk yang memang sumber kesalahan itu, tak punya hak untuk membangun sebuah dunia. Apalagi menjamin segala isinya.

Maka itulah kita tak pernah salah memahami Will Durant, agama memang punya seribu nyawa. Dengan nyawa yang tak kurangkurang, sebuah keyakinan dipupuk diladang yang semakin luas. Dunia harus kembali kepada asal di mana agama pertama kali datang. Segala yang berubah bisa jadi ikhtiar yang melenceng dari rencana awal. Sejarah harus disusun kembali. Agama harus menjadi panglima di segala yang telah melenceng.

Walaupun kita juga tahu, di dalam narasi sejarah, agama dengan semangat yang ingin kembali ke asal, malah juga harus menilap nyawa yang lain: manusia.

Itulah mengapa Ali Syariati yakin, masalah yang sebenarnya bukanlah soalsoal metafisis di atas kepala manusia, melainkan apa yang ada dalam benak manusia itu sendiri. Ini artinya, apa yang menjadi soal sebenarnya adalah benak yang mudah muncul di dalamnya prasangka atas dunia yang jamak.

Dan agama, yang sebenarnya bermula dari yang sunyi, di abad dua puluh satu, tak bisa juga memandang "misi agung di muka bumi," sebagai perjuangan santun di bentang  lalu lalang orangorang. Nampaknya, agama yang sunyi, seperti wahyu pertama kali turun di gua hira, visi yang turun di pohon bodhi, juga drama kesunyian nabinabi tak sempat menyentuh, seperti  yang A.N. Whitehead bilang: Tuhan Sang Sahabat.

24 February 2015

madah tigapuluhenam

Belakangan ini ada yang mencolok di layar kaca; India dan Korea. Di layar kaca kita, India dan Korea akrab melalui drama dan sinetron. Nampaknya ada yang terasa aneh, sebab lebih dulu Malaysia lebih awal kita tonton berjamjam melalui kartun Upin dan Ipin itu. Tapi siapa yang bakal menonton kartun yang kental dialek Malaysia itu selain anakanak. Dan dari ceritacerita itu, saya banyak mendengar anakanak yang tumbuh bersamaan dengan kartun yang diimpor itu, lebih fasih dialek Malaysia dari pada bahasa ibunya.

Adakah yang salah dari itu?

Tapi kita sebenarnya harus waswas. Zaman global seperti sekarang, banyak hal yang melintas menjebol batas. Hingga  lintasannya sampai sulit kita bendung. Akhirnya banyak hal yang harus dilindungi dari sesuatu yang berbau "luar." Banyak hal yang mesti dipertahankan, juga budaya.

Saya rasa, dari "yang luar"  itu bukan saja sudah bisa bikin waswas hati kita, tetapi juga makin jadijadi setiap hari. Sebab di ruang paling pribadi, kita sulit mengenal apa yang masih tertinggal bagi kita. Apa yang masih genuine, atau yang disebut sebagai identitas otentik, belakangan ini akhirnya menjadi sesuatu yang penting. Atau bahkan sebenarnya genting. Sebab nampaknya yang asli,  akhirakhir ini akhirnya merupakan sesuatu yang sulit kita defenisikan.

Soekarno, yang tinggi menjunjung revolusi itu, di waktu Indonesia masih gandrung dengan antikolonialisme, melihat "yang luar" sebagai ancaman yang serius bagi kepribadian. Di saat perjuangan belum jauh ditinggalkan dibelakang sejarah, budaya yang defenitif harus berarti indonesia yang menolak importir produkproduk kebudayaan.

Kita pernah mendengar Soekarno berkoar tentang tidak ada lagi yang "bitelbitelan" untuk mengucapkan budaya yang asli negeri sendiri. "Bitelbitelan" waktu itu adalah musuh budaya nasional yang bisa  merangsek masuk dari luar. Musik di zaman Soekarno adalah masamasa emas saat suara John Lenon melintasi batas Inggris. Saat gambar Marelyn Monroe jadi posterposter dibioskopbioskop.

Di zamannya, Soekarno menolak musik yang berbau barat. Terutama yang lahir dari rahim budaya kapitalisme. Sebab itulah mengapa ia melarang anakanak muda terpengaruh bandband semacam The Beatles. Karena barangkali bapak revolusi itu sadar, kolonialisme juga punya strategi selain perang, yakni melalui genderang telinga yang  gandrung segala bebunyian yang western.

Tapi apa sebenarnya arti "barat" dan "timur" sekarang sebenarnya juga adalah ihwal yang mudah retak. Apalagi jika kita ingin menunjuk dengan tepat apa sebenarnya identitas budaya yang asli dan origin. Sebab di zaman sekarang, jika kita menunjuk "barat," maka di sana tak ada yang sebenarnya betulbetul barat. Juga "timur" adalah yang hari ini sepertinya bukan lagi timur.

Identitas memang bukan medan yang pejal. Justru Lacan menyebutnya sebagai sesuatu kesalahan pasca fase cermin, sehingga identitas yang dianggap real adalah sesuatu yang sedari awal sudah rusak. Sebab itulah tak ada yang otentik pada identitas selain merupakan rangkaian panjang untuk mengisi kekosongan. Jika sudah demikian, maka identitas adalah sesuatu yang merupakan hasil interaksi dan aksi. Hasil meminjam dan meneguhkan yang diproses menjadi sesuatu yang ingin kita sebut origin.

Lantas siapakah yang dimaksud barat di zaman revolusi Soekarno? Atau apa yang betulbetul barat di zaman itu? Nampaknya tak mudah untuk menangkap jelas dari batas yang "timur" dan "barat" Tapi di mata Soekarno, "barat" adalah orangorang yang datang dan ingin menguasai segala yang dimiliki.  

22 February 2015

madah tigapuluhlima

Tak semua pendidikan itu bermaksud luhur. Juga tak semua kaum terdidik itu berbudi baik.

Barangkali jika pendidikan diartikan sebagai diskursus wacana yang tak sepi dari kekuasaan, maka pendidikan sudah persis seperti kancah politik. Foucault, seorang poststrukturalis, melihatnya sebagai medan yang selalu dibentuk dan diarahkan berdasarkan hasrat kekuasaan yang inheren di dalamnya. Di mana ada keinginan untuk berpengetahuan, maka di sana juga ada hasrat atas kekuasaan.

Saat demikian, yang luhur jadi lumpur. Yang bermaksud menciptakan manusia yang bermartabat justru menyisihkan budi dan pekerti. Kekuasaan memang merusak yang agung, sebab di alam manusia, yang agung adalah sebaliknya; hasrat kekuasaan.

Orang yang paham betul dengan praktik pendidikan semacam itu barangkali adalah Paulo Friere, seorang filsuf pendidikan. Dari pengamatannya di Brazil, pendidikan yang identik dengan kekuasaan jamak diresahkan. Tetapi keresahan yang jamak bagi Friere sama halnya sebagai masalah yang fatal. Keresahan, di saat pendidikan tumpul membacanya adalah aib kemanusiaan yang harus segera diselesaikan.

Sebab itulah keresahan harus diterjemahkan menjadi kesadaran. Di mana-mana, juga di Brazil, kesadaran merupakan batu pijak pertama untuk membuka selubung soal. Maka Friere menguak lapisan kesadaran berdasarkan kepekaan masyarakat terhadap kenyataan yang melingkupi.

Diperkenalkanlah tiga lapis kesadaran itu; mistikal, naif dan kritis. Yang fatal bagi Friere adalah kesadaran yang menganggap keadaan adalah suatu yang kodrati. Situasi yang kosong dari kehendak manusia, sebab semuanya telah diatur dan bekerja dengan sendirinya. Kesadaran macam ini juga menganggap alam dan keadaan manusia adalah cosmos yang natural, serta jernih atas hasrat penguasaan. Itulah mengapa ia disebut kesadaran mistis dan juga naif.

Tapi ternyata tidak. Alam manusia bukanlah cosmos yang sunyi dari hiruk pikuk. Kebudayaan dicipta, kehidupan bersama dibentuk, sampai akhirnya sebuah sistem bersama berlanjut berlamalama. Tanpa disadari, berkat kemampuan manusia, cosmos yang natural akhirnya berubah cultural. Ini berarti di dalamnya silih berkelindan kepentingan. Mencipta, menata dan mempertahankan adalah tiga hal yang menjadi motifnya. Dan kekuasaan adalah alat paling ampuh untuk mencapai itu.

Saat demikian, di dalam pendidikan, kekuasaan menjadi alat yang diamdiam merangsek kesadaran menjadi tabiat yang bisa dijinakkan. Louis Althusser menyebut ihwal itu sebagai gejala yang ditimbulkan ideological state apparatus, yang membajak kesadaran melalui institusi pendidikan. Tujuannya adalah menyisihkan kesadaran kritis, sebab di mata kekuasaan kesadaran kritis bisa mendatangkan krisis.

Di negeri kita, yang krisis itu jika perbedaan atas pandangan dominan muncul dan menggebrak tatanan yang mayor. Perbedaan selalu dianggap aib untuk membangun pemahaman. Perbedaan jika demikian adalah cemar yang merusak keadaan yang stabil. Di negeri ini, yang stabil berarti pendidikan yang membangun keseragaman yang tunggal. Sikap demikian disebut Friere sebagai sikap yang intoleran, ”Ada suatu kecenderungan kuat yang mendorong kita untuk menyatakan bahwa apa yang berbeda adalah inferior. Inilah sikap tidak toleran, yakni kecenderungan menentang perbedaan.” Ungkapnya di suatu waktu.

Intoleran itulah sebenarnya yang kerap akut bagi kaum terdidik. Juga kaum pendidik. Dua pelaku itu sebenarnya adalah titik koordinat kritik Friere. Yakni di kelaskelaslah intoleransi itu ternyata bersemai subur. Di sekolahsekolahlah penyeragaman itu bermula. Dan di kampuskampuslah pembungkaman itu dirawat. Hingga akhirnya, pendidikan yang bagi Friere adalah alat membaca keadaan, menjadi tumpul dan mandul mencipta perubahan.

Pendidikan bagi Friere adalah harus sekaligus tindakan politis. Yang politis bagi Friere adalah humanisme. Semangat humanisme dalam pendidikan disebutnya sebagai usaha untuk mencapai manusia yang seutuhnya. Dan menjadi manusia seutuhnya adalah membebaskan manusia dari tipu daya kekuasaan. Itulah mengapa pendidikan harus membebaskan. Itulah sebabnya pendidikan harus mau diajak membincang perubahan.

Tapi sudah dikatakan tidak semua pendidikan bermaksud luhur. Juga tak semua kaum terdidik berperingai baik.

Pendidikan yang tak bermaksud luhur di negeri ini adalah pendidikan yang menganut filosofi tukang pembuat meubel. Taruhlah sebangun almari. Tukang, bagaimanapun sudah punya rencana. Yang dihadapinya sudah merupakan benda mati yang siap dikonstruksi berdasarkan keinginan. Melalui proses tertentu, material kayu diolahnya atas bayangan almari dalam benaknya. Syahdan, jelang akhir, almari, yang ada dalam benaknya juga menjelma di hadapannya. Almari di dalam benak tukang meubel adalah sudah selalu keinginannya yang ingin direalisasi.


Galibnya, pendidikan akan lebih humanis jika seandainya seperti seorang petani. Di sawah, seorang petani menghadapi alam yang tumbuh. Padi yang ia tanam mau tak mau adalah tumbuhan yang tak mampu ia paksa untuk segera tumbuh dan berkembang. Seorang petani harus sabar terhadap padi dihadapannya. Di depannya padi adalah tumbuhan yang punya masa dan musim. Sebab itu ia tak bisa memaksa kehendaknya untuk segera melawan musim. Maka, satusatunya jalan, di dalam kesabarannya, yang ia lakukan adalah membersihkan penghalangpenghalang dan memberikan pupuk yang dapat membuat padi tumbuh dengan subur. Sebab ia sadar, padi, tak bisa dipaksa, apalagi dibentuk.


madah tigapuluhempat

Media massa banyak mengubah dunia, juga membuat manusia bisa takjub. Tapi sebenarnya dunia tidak berubah sepenuhnya, yang sebenarnya berubah adalah persepsi tentang dunia. Dan ketakjuban atas itu, dari dampak media yang memperpanjang jangkauan manusia, ditunjukkan Luther berabadabad lalu saat pembaharu kristen itu dibincang hampir di sudutsudut Eropa.

Ketakjubannya ia tulis; "Adalah suatu misteri bagiku, bagaimana tesisku...tersebar ke banyak tempat. Padahal semuanya khusus ditujukan bagi kalangan akademik kita di sini.."

Begitulah ia takjub dan barangkali juga heran.

"Di sini" dalam tulisan Luther saat itu adalah sepetak tanah atau ruang tempat lingkungan akademik gereja menghabiskan waktunya,  dan "kita" adalah batas yang ia tujukan kepada kelompok yang akrab dengan debat teologi dan kosmologi. Tapi dalam ungkapan yang sama ada yang melompati batas, ada yang jebol saat itu. Dalam keheranannya itu makna "di sini" juga berarti di manamana. "Di sini" juga bermakna "menyebar ke manamana."

Tulisan itu sebenarnya ia tujukan bagi Paus saat itu. Suatu surat yang tak menyangka dan diduga sebelumnya atas menyebarnya pemikiranpemikirannya. Barangkali ada kekhawatiran dalam benak Luther, sebab karyanya yang merupakan 95 tesis tentang ajaran kristiani, yang ia tulis untuk kalangan terdidik, justru menyebar tanpa bisa dikontrol. 95 tesis yang awalnya digantung di pintu gereja itu tibatiba jadi konsumsi massal. Dari sudut pintu gereja Wittenberg akhirnya menjelma hampir seluruh Eropa.

Kesaksian Luther ini adalah penanda betapa cepatnya penyebaran informasi saat seorang bernama Johannes Gutenberg berhasil menemukan sebuah alat yang disebut mesin cetak saat itu. Δ¶ala itu arti mesin tidak sama jika kita menyebut mesin saat ini, tapi di tahun 1455 Gutenberg sudah mampu menciptakan 42 line bible dengan mesin sederhananya. Sebab itulah, melalui Gutenberg Bible tak lagi berupa kumpulan perkamen yang ditulis tangan. Di tahun yang sama Gutenberg membuat Bible pertama yang dicetak.

Hingga Eropa pelanpelan mulai menemukan keyakinan baru. Gereja sebagai institusi yang hak terhadap ilmu pengetahuan menjadi surut dan luntur. Temboktembok gereja mulai kehilangan arti sebagai batas yang ilahi. Sontak, yang di anggap ilahi bukan saja milik gereja. Yang jebol akhirnya tak dapat dibendung, yang akademik jadi milik umum. Sejak saat itu, saat di mulai dari Jerman hingga ke negerinegeri lainnya, Luther menjadi semacam mentari di ufuk jauh; membawa iman baru di manamana.

Dan dalam sejarah akhirnya kita bisa tahu, sebuah mesin cetak bisa menerbitkan dua hal; kegamangan dan pembaharuan.

Padri agama di saatsaat Eropa beranjak naik, barangkali juga tak menyangka. Seperti Luther, mereka akhirnya harus menerima keadaan yang selama ini dijaga akhirnya harus lancung; merebaknya kontroversi. Saat itu, dari 95 tesis yang ditulis Luther, tradisi kristiani mulai guyah. Banyak iman yang mulai menyelisih seperti perdebatan menyakngkut dosadosa yang bisa ditebus atau tidak. Juga kritikannya terhadap John Tetzel, teolog saat itu yang menghimpun pundipundi melalui surat aflat. Syahdan, sontak kegamangan itu menuai pembaruan disudut lainnya.

Tapi itu di abadabad 16 saat mesin cetak merombak tatanan informatif masyarakat Eropa. Kegamangan padri agama akhirnya berubah menjadi hilangnya kharisma gereja, dan munculnya kaum intelektual baru. Pengetahuan di sini juga ternyata tak selamanya kukuh di atas otoritas teologi. Bukan saja sabda tuhan yang bisa membangun iman yang tanpa cela, mesin cetak justru jauh lebih dahsyat, bukan saja menggetarkan iman yang lama dipugar sejarah, tetapi juga menjadi pemicu suatu gerakan baru saat itu; humanisme.

Humanisme inilah yang sepertinya jadi sesak bagi teolog saat itu. Sebab manusia justru adalah hamba yang harus melayani tuhan dalam kolonikoloni. Sejarawan Swiss, Jacob Burckhard, menukil suatu keadaan sejarah saat itu ketika manusia yang hidup dan mengenali dirinya sebagai ras, rakyat, keluarga atau kolektif. Dan di tengahtengah itulah seraut iman disusun atas sabdasabda yang membangun kehidupan religi. Tapi kemudian humanisme itu datang, individu sebagai segenggam kesadaran beriringan waktu menghancurkan ikatan yang terbina berabadabad lamanya. Dogma terganti rasio dan kolektifisme menjadi individualisme.

madah tigapuluhtiga

Ada cara bagaimana kita bisa mengukur kebahagiaan. Bentham, filsuf Inggris abad 18, meyakininya dengan cara yang kuantitatif, yang disebutnya "kalkulus kebahagiaan." Resep yang digunakannya sederhana; kebahagiaan sama dengan kepuasaan dikurangi kepedihan. Ini artinya, kebahagiaan berarti merunut sebanyak hal ihwal kepuasaan serta dikurangi dengan masalah yang membuat pedih. Hasilnya, itulah kebahagiaan anda.

Di abad 18, semangatnya itu ia tulis dalam karyanya yang hanya berupa pembukaan sebanyak 300 halaman; Introduction

Dalam Introduction, Ia juga mengusulkan untuk menulis daftar yang terdiri dari ragam kepuasankepuasan dan kepedihan. Di sini kita diajak untuk mengingatingat halhal yang membuat diri puas sekaligus hahal yang menjengkelkan. Setelah itu dicatat, dari daftar yang panjang berisi kumpulan kepuasan dan kepedihan itu disebutnya dengan istilah yang unik; katalog kepuasan.

Sebuah perhitungankah ini? Pengelolahan angkakah ini? Bentham hidup di Inggris. Di abad 18 pasca rasionalisme disingkirkan. Empirisme tumbuh berkembang di Britania, juga sains. Bermula dari itu cara berpikir Inggris nampaknya berubah. Segalanya mesti terukur. Juga kebahagiaan.

Bentham memiliki prinsip kepuasan berdasarkan utility. Di masanya, utility bukan berarti kegunaan dari sesuatu, melainkan kepuasan dari sesuatu. Dan kepuasaan dalam arti satisfaction sinonim dengan keuntungan, kepuasan, keunggulan, kebaikan atau kebahagiaan dari suatu objek.

Dan dari katalog kepuasaan yang disusun Bentham, peringkatnya mudah ditebak; kekayaan dan kekuasaan adalah daftar teratas kepuasan. Sementara kebalikannya, kesengsaraan dan ketidaknyamanan adalah urutan teratas kepedihan.

Sepertinya ada yang tak pernah berubah dari dahulu tentang kekayaan dan kekuasaan. Marx barangkali adalah orang yang telah menaksir, kepuasan terhadap kekayaan dan kekuasaan adalah mata rantai yang bisa mendatangkan derita di ujung lainnya. Masyarakat dapat kaya, tapi kemiskinan tidak mesti dibiarkan begitu saja. Sebab kepuasan terhadap kekayaan tidak selamanya menjadi ukuran yang defenitif. Juga kekuasaan, yakni selama manusia mampu membangun kehidupannya, kekuasaan adalah poros yang banyak menelan korban.

Tapi ada yang bisa saja fatal dalam filosofi kebahagiaan Bentham. Konsekuensinya adalah kepuasaan hanya diukur atas logika kuantitas. Satu kepuasaan seorang pelukis pasca menghasilkan karya lukisan akan sama dengan satu kepuasaan ibu rumah tangga yang memenangkan arisan. Secara kuantitatif dua kepuasaan itu akan jadi berbeda dalam ukuran yang kualitatif.

Sebab itulah Bentham bisa salah dalam mengukur kebahagiaan. Yang luput darinya adalah persamaam yang dibangunnya antara kepuasaan dan kebahagiaan. Juga dalam karyanya itu, kepuasan nampaknya akan semakin menjemukkan oleh sebab repotnya skala dan unsurunsur yang diperhitungkan yang disertakan dalam mengukur kepuasaan.

Richard Schoch menyebutkan bagaimana Bentham menulis kerumitan dalam mengukur kepuasaan dengan hukum persamaannya atas unsurunsur yang diperhitungkan. “Ini lebih rumit dari pada sekedar menaruh mereka dari skala..kita harus mengetahui beragam hal dari mereka; aspekaspek yang membahagiakan, situasi yang mempengaruhi, dan bagaimana mereka berhubungan satu dengan lainnya.” Syahdan, untuk pekerjaan mengukur kebahagiaan yang repot itu, Bentham mempercayakannya kepada politisi. Richard Schoch menyebutnya pemerintah.

Menurut Bentham, pemerintah harus punya tanggung jawab untuk mengurusi kebahagiaan dengan memperhatikan keadaan yang dipersiapkan untuk menunjang warganya mencari kepuasan sebanyakbanyaknya. Kepuasaan, oleh Bentham, atas keadaan yang diciptakan pemerintah, harus mengingat satu hal; keamanan. Pemerintah harus punya tanggung jawab menciptakan keamanan, tanpa keamanan kepuasan tak dapat dimungkinkan. Dan Bentham percaya, tanpa keamanan seorang pun tak dapat menemukan kebahagiaan.

Sama halnya Hobbes, Bentham sangat percaya jika manusia dibiarkan mengejar tanpa batas kepuasannya, maka perang bakal terjadi. Bellum omnia omnes, perang semua terhadap semua. Itulah mengapa perlu ada pemerintah yang mengatur kebahagiaan banyak orang.

21 February 2015

madah tigapuluhdua

Undian itu dilakukan dengan sut. Lingsang dan pasukannya mendapat kehormatan jadi ujung barisan yang akan memasuki Kutaraja dari selatan. Di belakangnya akan menyusul pasukan Umang. Di belakangnya lagi pasukan Tanca…

Begitulah prosesi awal perang dikisahkan dalam Arok Dedes. Membaca fragmen cerita itu, kita akan segera tahu, tentang sebuah peristiwa jatuhnya kekuasaan seorang raja sekitar 1220 masehi. Saat itu, di Nusantara, dikisahkan Pramoedya Ananta Toer, Tunggul Ametung akhirnya mati bersimbah darah. Dan dalam lakon rajaraja, bersimbah darah berarti cara heroik untuk mati.

Tapi, di luar itu sebenarnya ada peristiwa yang lebih heroik. Jauh di luar jangkauan raja Tunggul Ametung, sebuah skenario kekuasaan sesungguhnya telah disusun rapi jauh hari tanpa sisa adegan yang kosong. Melalui tangan Buto Ijo, Arok, melalui peran yang panjang akhirnya menjelma kekuatan yang menumbangkan kekuasaan Tunggul Ametung.

Dan dari serangan itu, sejarah akhirnya mencatat, di saat itulah kudeta pertama terjadi di Nusantara.

Jika ada kekuasaan yang diceritakan tanpa menyisihkan intrik, barangkali Pramlah orangnya. Dalam Arok Dedes, sebuah naskah yang ia tulis di pulau Buru, barangkali ingin menjangkau ruang kesadaran banyak orang, bahwa kekuasaan sebenarnya dibangun bukan dengan cara yang langgeng dan sepi muslihat. Kekuasaan justru di tangan Pram, dikisahkannya adalah poros yang mudah keropos oleh intrik.

Melalui kisah Arok Dedes, Pram barangkali ingin membuka suatu tafsiran baru di sekitar kekuasaan. Bahwa, kekuasaan sesungguhnya adalah sesuatu yang tak stabil dan mudah retak. Di sini ada yang nampaknya sama sekali menyelisih dari adat kebiasaan. Apalagi dominasi cara memandang kekuasaan yang selalu ditautkan dengan hal ihwal berbau teos. Kekuasaan, seperti yang ditampilkan Pram dalam lakon Arok Dedes, adalah kekuasaan berwajah politik, bukan yang mitologik dan teologik. Artinya, kekuasaan itu mudah dihimpun juga diguyah selama intrik diberlangsungkan.

Juga bahwa politik sebenarnya adalah bagaimana kekuataan harus disusun dan dirombak. Yakni kekuatan bilamana ingin berhasil, selama disusun dan dirombak harus bermain pada semua lingkaran kelompok. Dan dalam lakon politik suatu rencana harus menyeimbangkan kekuatan di antara beragam kepentingan di sekitar kekuasaan.

Dengan cara itulah Arok memainkan perencanaannya. Seorang pemuda pelajar yang berhasil menghimpun kawula dan elit terdidik, serta kekuatan militer untuk menggerakkan sebuah perlawan terhadap Tunggul Ametung.

Barangkali, Pram juga ingin bermaksud bahwa politik sebenarnya adalah keadaan yang tanpa pusat. Sebab kekuatan sebenaranya bisa muncul dari mana saja selagi sebuah keadaan terlampau sesak oleh himpitan kekuasaan. Dan yang dibutuhkan sebenarnya adalah inisiatif yang cemerlang dalam bertindak dan membaca situasi yang serba mungkin.

Bila itu yang dimaksudkan, inisiatif sebenarnya adalah peran yang timbul tanpa lepas dari situasi yang kongkrit. Dalam arti ini, sebuah inisiatif lahir dari seorang subjek politik.

Slavoj Zizek, seorang filsuf abad 21, menyebut subjek politik adalah seseorang yang berperan radikal yang menerka keadaan dari segala ketermungkinan yang ada. Suatu yang disebut Zizek adalah “peran istimewa,” yakni suatu kemampuan dalam mengubah yang serba mungkin menjadi kekuatan yang menggerakkan. 

Dan Arok adalah orang yang melihat itu, menyusun dan memprediksi kekuatan mana yang kosong dan dapat ia manfaatkan menjadi kekuatannya. Ia seperti Sang Pangeran yang ditulis Machiavelli, orang yang menunggu dan bersikap di antara virtue dan fortuna.

Lakon kisah yang ditulis Pram ini, juga sebenarnya adalah bagaimana ia menjadi suara yang dibungkam di tengahtengah kekuasaan. Di pulau Buru, sebuah naskah sastra politik ditulis dengan kesadaran yang kental terhadap prosesi keberlangsungan sebuah kekuasaan saat itu. 

20 February 2015

jalan

memang ini bukan garis yang lurus
sejak semula, tak ada bayangan seperti jalan aspal yang tanpa trotoar
di sana, sebuah jalan butuh berhenti, sejenak dan sekali gegas lagi
begitulah yang dibayang, butuh tempat untuk singgah
di suatu hari, jika sebuah peristiwa tak seperti cerita yang mulus
di suatu saat, jika dunia nampak tak memihak
setidaknya, sebuah jalan masih dilihat tanpa oase
kilau matahari, rerumputan menyabana, dedaunan mengisi terbang dan pepohon tinggal meranggas
jalan yang menyangga musim, pelanpelan di sana memintal memori
lupa
hilang
sebuah musim hanya datang dan pergi
seperti jalan yang tak sanggup diterka
kuterka bunga yang bisa berubah layu
kuterka ingat yang menjelma lupa
di jalan yang tak mulus bukan artinya pupus
juga suatu hari dibalik mata yang tak menjangkau candra
jemari dibentang
sebelumnya larut
sebuah musim memang hanya terus bergerak
juga sebuah jalan
memang tak lurus, tapi tegak

madah tigapuluhsatu

Ludwig Nietzsche barangkali tak pernah menyangka, anaknya, yang ia persiapkan untuk menjadi seorang pendeta, suatu hari nanti akan mencipta kekalutan. Anaknya suatu hari nanti dengan niat yang mengebugebu, bersuara; tuhan telah mati. Sontak seluruh Eropa tersentak, seseorang telah membunuh tuhan. Seseorang telah membuat kalut orang beriman. Tuhan telah mati.

Dalam suatu metaforanya: "kemanakah tuhan?" Ia berteriak, "kubilang kepada kalian kita sudah membunuhnya. Kamu dan saya. Semua kita adalah pembunuhnya."

Nietzsche orang yang membenci moralitas budak itu, tentu tahu apa konsekuensi perkataannya. Tuhan yang telah mati berarti sama halnya menghapus iman yang mapan tanpa cacat. Tuhan yang dibunuh sama halnya membuat lubang besar dijantung keyakinan religius. Membunuh tuhan berarti meninggalkan segalanya dalam keburaman. Tak ada yang terang yang ditinggal Nietzsche selain kecacatan. Bahkan tak ada yang jelas; sebuah nihilisme.

Dan dari lubang yang ditinggalkannya itu, ia sadar, bahwa tuhan bukan segalanya.

Tuhan, yang diyakini, telah benarbenar tiada. Nietzsche ingin sebuah jalan tanpa tuhan, tanpa halhal transendental. Sebuah jalan yang tak ramai sesak oleh sabdasabda dan juga doadoa. Nietzsche ingin jalan yang milik manusia. Sebuah sikap non homo religious.

Dengannya Nietzsche ingin melabuh pada dunia yang bersih dari iman yang hipokrit. Suatu iman yang meneguhkan nilainilai kudus di suatu mimbar, tetapi membuat risau kemanusiaan atas nasib yang abai. Kepadanyalah segala iman dibunuh. Hidup sebenarnya adalah ziarah panjang yang tanpa hujung, tanpa pagar iman yang kudus.

Kepada yang ilahi ia menulis: "kita telah menonggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang..dan tak ada daratan lagi!"

Sebuah sikap atheismekah ini? Nampaknya ini yang sulit. Sebab Nietzsche menolak sebuah kategori yang serta merta ditautkan pada segala. Juga pada kebenaran. Apalagi suatu keimanan.

Kategori berarti di dalamnya mengandung suatu nilai. Berarti di sana sudah ada ukuran yang siap di letakkan. Dan menilai artinya membangun ukuranukuran. Namun, suatu ukuran bisa cacat ketika itu sudah selalu benar dan menyalahkan yang lain. Dengan kecatatan demikian, atas hak apa seseorang punya wewenang dalam menilai yang lain.

Sebab itulah Nietzsche mencurigai klaimklaim kebenaran; kebudayaan, tradisi, sains, moral atau bahkan agama. Bukankah sebenarnya kebenaran hanyalah dasar yang dibangun atas dasar perspektif? Kebenaran tiada lain hanyalah sudut pandang yang lahir dari situasi yang berbeda. Bahkan soal iman dan keyakinan.

Maka itu Nietzsche menginginkan iman yang lain. Iman yang telah dipugar dari bangunan keagamaan yang tak pernah gamang. Da sagen, sikap yang optimis ditengah ketiadaan nilainilai. Suatu arung tanpa ilahi. Bentang jalan panjang yang kepunyaan manusia sendiri.

Di sanalah manusia menerka hidup yang tak pernah lengkap atas titik akhir. Berjalan dengan lurus di dalam arus yang tak pernah diam. Bukan hidup yang terperangkap oleh nilainilai yang membuat diri semakin asing. Sebab adakalanya hidup sudah selalu fix oleh penafsir yang memancang batas. Maka di situlah sebuah kehendak sebuah arung dihujam, tepat pada iman hidup yang sudah selalu final.

Bukankah “Kita sudah membakar jembatan di belakang..dan tak ada daratan lagi"

19 February 2015

madah tigapuluh

Betapa mudahnya hukum ditegakkan, tapi betapa sulitnya keadilan ditemukan.

Barangkali karena itulah Socrates mati. Sebab tak ada keadilan di dalam suara terbanyak. Kita tahu,  pengadilan yang menjatuhi hukuman mati bagi filsuf itu, tak pernah mengakui aktifitas Socartes; berfilsafat.

Di Yunani, di saat itu, betapa mudahnya keadilan dipermak. Apakah adil itu? Pertanyaan seperti ini adalah penanda bagaimana keadilan memang tak selamanya jelas. Dalam pengadilan itu, yang menolak argumentasi pembelaan dari Socrates, memutuskan keadilan diberlangsungkan dengan cara suara terbanyak.

Apakah adil itu? Pertanyaan ini barangkali adalah pertanyaan yang memang tak sepenuhnya tuntas. Di saat ketika Socrates hidup, betapa banyaknya kaum sophis, golongan yang pandai membangun opini atas argumentasinya yang menyesatkan. Keadilan memang tak sepenuhnya dapat dijelaskan, sebab tak ada yang disebut kebenaran yang pasti, Phiro mengyakininya demikian. Kebenaran yang pasti sulit dijangkau. Kita, manusia tak bisa menyentuhnya. Kebenaran suatu yang misterium.

Sebab itulah Socrates bangkit melawan. Sebab di Yunani, saat itu sesat pikir jadi massal. Keadaan jadi simpang siur akibat kaburnya ukuranukuran. Filsafat bukan berarti keahlian yang tanpa hormat. Filsafat harus sampai pada satu simpul kebenaran. Kaum sophis salah. Kebenaran pasti ada, sebab itulah filsafat harus mencarinya.

Tapi, bagi banyak orang terutama orangorang kaya, kaum sophis sangat berguna. Keahlian mereka dalam menyusun argumentasi yang alot sangat dibutuhkan. Sebab di waktuwaktu tertentu, argumentasi mereka digunakan untuk berdagang. Retorika mereka sangat tepat untuk menarik perhatian orang. Dalam sejarah Yunani, mereka banyak ditemukan dirumahrumah orang kaya.

Itulah mengapa Socrates membenci kaum sophis. Keahlian yang mereka miliki justru membuat manusia tak hormat terhadap kebijaksanaan. "Aku bukanlah orang yang bijak, tetapi aku mencintai kebijaksanaan." Sepertinya sebab itulah ia tak ingin disebut sophis walau arti dari kata itu sebenarnya suatu yang baik; bijaksana. Tapi, karena orangorang yang menjual kebijaksanaan di pintupintu orang kaya, kata itu jadi cacat. Kata itu jadi rusak.

Di negeri ini, sebagai suatu yang sophis banyak sekali ditemukan. Bahasa kebenaran jadi kabur oleh ketidaklogisan katakata. Dalam hukum, bahasa menjadi medium yang mendua. Bahasa seperti ungkapan kaum sophis, tak mampu menyampaikan apaapa. Bahasa justru menjadi penjara dari apa yang ingin disampaikan. Bahasa tak bisa membawa manusia menjadi lebih tahu. Karena itulah tak ada yang bisa menangkap maksud. Tak ada yang bisa dirumuskan. Juga keadilan.

Keadilan memang suatu yang harus dicari dan diperjuangkan. Di negeri semacam ini, keyakinan sophisme memang tak seperti di Yunani era Socrates yang terang benderang ditemukan. Juga keyakinan mereka tentang kemustahilan ditemukannya kebenaran, tak membuat jemu orangorang mencarinya. Di sini, ditempattempat keadilan ditegakkan justru disaat yang bersamaan, keadilan disembunyikan. Atau yang lebih malang adalah keadilan dibungkam.

18 February 2015

madah duapuluhsembilan

Louis Althusser, filsuf marxis Perancis yang akhinya gila itu memiliki keyakinan, filsafat seharusnya menjadi tajam. Filsafat seharusnya memiliki sumbangsih. Filsafat harus menjadi senjata revolusi. Bukunya yang dituliskannya dengan judul "Filsafat Sebagai Senjata Revolusi", nampaknya teguh mengikuti bahasa Marx; filsafat tidak sekedar menafsir dunia, melainkan mengubahnya.

Saya agak sulit membayangkan, filsafat yang ditandai sebagi ilmu yang abstrak dapat jauh menyentuh halhal yang kongkrit, yakni suatu kehidupan praktis. Dalam hal ini malah mendorong suatu perubahan masyarakat; revolusi.

Tapi, di mata orangorang semacam Louis Althusser, atau yang teguh dengan marxisme, itu adalah hal yang mesti. Filsafat tidak seperti ungkapan Hegel yang berpretensi atas gerak ruh yang menyejarah dalam alam. Dalam marxisme, jusru sejarah adalah milik manusia kongkrit. Sejarah adalah milik orangorang yang ingin keluar dari tindihan beban kerja. Dalam sejarah sebenarnya adalah perubahan yang dicipta kaum pekerja. Dan di sanalah filsafat bekerja, di antara orangorang yang dihimpit beban kerja.

Sebab itulah filsafat diperuntukkan untuk kaum pekerja. Bukan untuk orangorang yang banyak memiliki waktu luang dan dengan enteng berpikir akan halhal yang jauh di atas batasbatas imajinasi. Filsafat demikian disebut Marx adalah pemikiran yang berjalan dengan halhal yang abstrak, filsafat yang berjalan dengan kepala. Filsafat yang untuk kaum pekerja harus diawali dari penyelidikan kongkrit. Dari hidup seharihari. Dari masalahmasalah praktis. Filsafat ini punya nama; materialisme historis.

Dengan demikianlah Louis Althusser menganjurkan sebuah cara berpikir yang historis. Yakni penyelidikan atas asalusul kehidupan yang dialami dan dijalani. Suatu cara materialisme untuk mengubah sejarah. Suatu filsafat emansipatif. Suatu filsafat revolusioner sebagai senjata perubahan.

Dalam arti itulah filsafat memiliki dengan sendirinya suatu tanggung jawab. Kata Alain Badiou suatu resiko. Resiko sebagai suatu konsekuensi atas sudut pandang. Dengan begitu filsafat menjadi konsekuen.

Filsafat yang konsekuen itu barangkali dapat kita temukan dalam kisah seorang Socrates, filsuf yang mati dengan menanggung resiko sudut pandang yang ia teguhi. Di sana, di suatu sudut penjara kota Athena ia membuktikan ucapannya; berfilsafat berarti bersiap menanggung mati dikemudian kelak.

Melalui cara pandang yang diperjuangkannya, akhirnya Socrates mati dengan cara yang teguh; keyakinannya ia pertahankan hingga racun cemara merenggutnya bersamaan dengan kematiannya.

Dan tak ada yang lebih puitis dari berbicara tentang kebenaran. Frase ini pernah diucap Gie. Anak muda yang resah sekaligus risau atas keadaan di sekitarnya. Kerisauannya kita tahu, ia tuliskan dalam catatan yang akan terkenal kelak; "Catatan Seorang Demonstran."

Melalui catatancatatanya kita akhirnya bisa tahu bahwa Gie adalah orang yang mudah risau. Sebab ia menanggung sebuah cara pandang yang konsekuen terhadap keyakinannya. Cara pandangnyalah yang sebenarnya membuatnya harus bersikap demikian teliti terhadap keadaan di sekitar. Dan dari sanalah ia menulis catatancatatannya. Dari keresahan.

Baik Socrates atau pula Gie, mungkin tidak seperti yang dikehendaki Althusser, bahwa konsekuensi dan keresahan dari suatu pandangan tidak berhenti pada suatu ruangan gelap penjara dan bukubuku catatan. Filsafat harus jauh menaksir yang tak pernah tersentuh oleh capaian perubahan manapun. Dalam marxisme, keyakinan demikian mereka sebut sebagai hukum dialektis.

Oleh cara demikianlah filsafat menjadi ilmu yang bekerja dalam sejarah. Mao menyebutkannya dengan cara berpikir dua tahap: pencerapan dan pengamatan. Dengan cara demikian, Mao menyepakati suatu keyakinan purba dalam ilmuilmu; teori dan praktik adalah dua hal yang tak bisa ditanggalkan salah satunya.

17 February 2015

madah duapuluhdelapan

Orang itu lapar dan butuh tempat tidur. Jean Valjean, mantan napi yang nasibnya sudah buntung itu hanya butuh rumah dan makanan. Ia sudah berjalan jauh dari kotakota. Dimasukinya sebuah penginapan, namun ditolak. Juga  ketukannya terhadap pintupintu rumah yang lain menolaknya. Jean Valjean merana. Harapannya pupus. Semua pintu mengharamkan bantuan kepadanya.

Namun di suatu malam, di saat gundah dan lapar jadi sangat, ketika hampir semua pintu tak menyambutnya, di dekat pojok katedral ia bertemu seorang perempuan. "Sudahkah kau mengetuk rumah di ujung sana," perempuan tua itu menunjuk  sebuah rumah di suatu sudut dekat rumah mewah. "Belum," jawab Jean Valjean ketus. "Pergi dan ketuklah," perempuan tua itu menyarankan. Jean Valjean akhirnya beranjak dari kursi tempatnya tidur. Ditujunya sebuah rumah yang ternyata milik seorang uskup tua. Dan dari perbincangan singkat itu, di dalam sebuah rumah uskup, sebuah nasib akan bermula. Jean Valjean akan menjelma. Jean Valjean akan berubah.

Prancis di abad 18, memang mudah membikin orang menjadi sengsara. Apalagi mantan napi yang belum bebas penuh, seperti Jean Valjean, tokoh protagonis dalam novel termasyur Victor Hugo; Les Miserables. Sesiapa pun yang terlanjur menjadi masyarakat miskin, pengangguran, berpenyakitan tanpa pengharapan akan mengerti satu keyakinan; bersiap dikucilkan.

Foucault setidaknya mencatat bahwa di abadabad itu, orangorang semacam Jean Valjean, mantan narapidana, kaum miskin, kaum lepra atau tunasusila adalah korban dari kekuasaan. Bahwa mesti ada penertiban terhadap kaum papa, bahwa mesti ada penyingkiran kaum miskin terhadap tatanan masyarakat elit. Eropa saat itu memang sedang membangun sebuah rejim kaum elit, peradaban yang bersih dari orang semacam Jean Valjean.

Tetapi dalam Les Miserables, Victor Hugo menuliskan segurat nasib yang tidak lurus. Kemiskinan yang begitu dalam dialami masyarakat Prancis saat itu, digubahnya dalam kisah perjalanan seorang Jean Valjean yang mantan napi miskin, menjadi seorang walikota pengusaha yang tak abai dengan nasib manusia yang melarat. Dalam Les Miserables, Victor Hugo ingin bercerita bahwa kemiskinan dan kebaikan bisa mengubah banyak hal, termasuk hati seseorang.

Tapi kebaikan seperti apakah yang dimaksudkan oleh Victor Hugo, yang mampu mengubah Jean Valjean dari seorang papa, mantan buron menjadi orang yang berhati emas? Kebaikan itu diungkapkannya pada fragmen cerita saat Jean Valjean tertangkap pasca mencuri alat makan perak uskup yang menampungnya tidur. Di kisah itu dari pengakuan seorang uskup yang tidak diduga Valjean, akhirnya membuatnya tersentak kaget. Suatu yang tak dia bayangkan sebelumnya.

Fragmen ceritanya seperti ini: malam itu, pasca ia bertemu dengan perempuan tua yang menunjukkannya sebuah rumah, Jean Valjean beranjak pergi. Ternyata yang ditunjukinya adalah rumah seorang Uskup. Diketuknya dan tanpa didugaduga, uskup tua itu menyambutnya dengan hangat dan memberinya tumpangan untuk menginap. Tak ada rasa takut dalam hati Uskup itu. Tapi di malam itu, setelah jamuan makan malam, setelah semuanya terlelap, Jean Valjean tak tidur. Di malam buta itu ia bangkit mengambil peralatan makanan perak pastur yang ditemukannya di almari di dalam dapur. Jean Valjean mencurinya dan Dia kabur.

Paginya ketika uskup telah menyadari ditipu mentahmentah. Datang sekumpulan polisi yang membawa serta Jean Valjean. Ternyata ia ditangkap karena dicurigai membawa barang yang dinilai tak sanggup ia miliki. Jean Valjean merana, pikirannya kalut. Baru saja ia mendapatkan kebebasannya, ternyata nasib tak berubah. Ia akan dipenjara lagi. Tetapi saat itu, saat polisi mempertemukan Jean Valjean dengan Uskup, ia justru kaget bukan kepalang. Sang uskup dengan senyum malah menyambutnya. Polisi kaget. Jean Valjean apa lagi.

Ternyata sang uskup malah mengatakan kepada polisi bahwa ia sebenarnya yang memberikan peralatan makan itu kepada Jean Valjean. Bukan seperti dugaan polisi. Sontak karena pengakuan uskup bahwa tak ada barang sesuatu pun yang dicuri Valjean, maka ia dilepaskan. Akhirnya polisi pergi. Yang tinggal adalah Valjean yang merasa heran dan bersalah. Pagi itu ia menemukan kebaikan yang tak pernah diduganya. Jean Valjean gemetar.

Dalam kisah itu ada kebaikan yang janggal atau bahkan tak biasa. Yakni kebaikan hati dari seorang uskup tua terhadap seorang mantan buronan yang mencuri di rumahnya. Kebaikan yang sulit ditafsir oleh hukum moral. Kebaikan ini barangkali yang disebut dalam etika kristiani “jika engkau ditampar pada pipi kiri, maka berikan juga pipi kanannmu.” Suatu kebaikan yang tanpa konteks. Suatu kebaikan yang tak punya sangkut paut oleh pretensi apapun selain kebaikan itu sendiri. Barangkali kebaikan demikianlah kebaikan yang dimaksudkan Kant, ketika kebaikan dilakukan oleh karena tanpa syarat apapun.

Namun, kebaikan sang uskup melepaskan Jean Valjean pada kisah Les Miserables itu, menjadi penanda bagaimana kebaikan mampu mengguyah hati seorang Jean Valjean. Sebab dalam cerita yang konon banyak membuat tangisan saat mencetaknya, pasca kejadian itu Jean Valjean akhirnya menjadi pribadi yang berubah baik. Dari seorang mantan napi menjadi walikota yang punya peka terhadap nasib orangorang kecil.

16 February 2015

madah duapuluhtujuh

Suatu kota bisa jadi ruang yang begitu bising, tetapi barangkali justru asing. 

Kota, sudah jadi bagian dari sebuah skema kemajuan. Sejak suatu tempat tersentuh perencanaan pembangunan, maka di saat yang bersamaan di sana ada maksud untuk membangun keramaian. Tapi keramaian suatu kota, justru bukan dalam arti soliditas yang kolektif, melainkan justru adalah penanda betapa keterasingan adalah suatu hal yang kronik.

Suatu kota memang membikin asing. Suatu kota memang tak hendak untuk membangun suatu hidup yang hening.

Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah menyitir suatu hal yang subtil; keheningan dan kesepian. Kota menurut Heidegger adalah tempat yang tak mampu mencandra keheningan. Justru di desa, tempat di mana langit menjadi ruang yang bersih dari polusi, dan tanah yang lapang dengan ilalang, adalah dunia tempat keheningan akrab ditemui.

Keheningan disebutnya adalah kekuatan asli yang khas dari manusia. Sesuatu yang tak pernah mengisolasi diri manusia. Dengan keheningan, filsuf bertubuh gempal itu menyebut keheningan adalah media yang mampu memproyeksikan eksistensi. Keheningan adalah ruang yang beririsan dengan hakikat segala sesuatu. Suatu wesen, suatu inti.

Sebab itulah, Heidegger katakan orangorang kota sering heran terhadap orangorang petani, ibuibu pekebun, anakanak penggembala, yang hidup betah dengan lama jauh dari suara gemuruh kota. Oleh karena, di sana, di lerenglereng gunung, pinggir pesisir, di tengahtengah sabana padi yang kemuning, keheningan datang dan akrab membentuk sebuah identitas; masyarakat yang arif.

Barangkali inilah yang ingin dicapai para filsuf atau sufi. Suatu sikap yang tanpa pretensi dalam menjalani suatu nasib. Suatu mental yang disebut Nietzsche sebagai kearifan yang tak sombong terhadap alam kenyataan. Yakni tindak hidup aktif tanpa ingin memanipulasi alam kenyataan yang dihadapi. Suatu sikap yang hanif terhadap alam yang akbar.

Orangorang kota sepertinya tak sanggup untuk melakoni hidup tanpa pretensi. Sebab, hidup di dalam kota serba terencana, serba sistematis. Suatu hidup yang dibentuk oleh rasio yang instrumentalistik. Dari rasio instrumentalistik kenyataan diatur dan diprediksi atas efektifitas, efisiensi dan ketepatan. Maka itulah suatu kenyataan sudah harus fix dalam perencanaan yang matang. Sebagai suatu rencana yang matang, hidup akan menjadi arena yang saklek atas ketatnya rel yang telah ditarik lurus.

Sosiolog Prancis Emhile Durkheim melihat yang saklek itu sebagai penanda kota. Ia menyebutkan berawal dari bergesernya ikatan kultural menjadi normatif, solidaritas juga berubah. Ikatan solidaritas menjadi renggang oleh terciptanya spesialisasi yang menghancurkan gotong royong. Yang kolektif tibatiba dihancurkan atas solidaritas organis. Sehingga komunitas yang dipersatukan oleh ikatan komunal bersama, menjadi tatanan yang diatur atas individualitas. Akibatnya, pribadi desa dihapus menjelma pribadipribadi yang otonom.

Dari itu ada dua hal dalam kota; rasionalitas dan individualitas. Perencanaan dan pembagian kerja. Dari itulah kota tampak cekatan dalam merencanakan sebuah skenario. Di dalam suatu skenario tentu ada rasio yang istrumental mengefektifkan suatu rencana. Juga suatu rencana agar dapat efisien, maka suatu pembagian kerja mesti dilakukan. Dengannya, akhirnya kota menjadi tempat agenda pasar diberlangsungkan, kekuasaan diselenggarakan, dan kebudayaan dipertaruhkan.

Memang kota adalah manifestasi sebuah agenda dijalankan. Pusatpusat didirikan; kantorkantor, sekolah, rumah sakit, rumahrumah mewah, malmal, pusat hiburan, kebugaran, rukoruko, diskotik, pabrikpabrik dsb. Tapi di balik berdirinya temboktembok pusat, di sana juga menyisihkan dan membangun yang lain; kenangan dan keasingan.

Sebab itulah saya selalu senang sekaligus miris mendengar "ujung aspal pondok gede", lagu Iwan Fals itu. Dalam lagu itu ia bicara tentang perubahan, ia bicara tentang suatu rencana pembangunan, suatu keserakahan kota yang menyisihkan "wajah murung pribumi" dan "suara langkah hewan bernyanyi."

Dalam lagu itu ada yang dihidupkan sekaligus hilang begitu saja. Saya menjadi orang yang tibatiba sadar masa lalu, sadar terhadap kenangan masa kecil. Suatu saat ketika saya bermain di tanah lapang dan halaman masjid yang berdiri tak jauh dari rumah. Suatu sudut ruang atas kenangan yang sudah menjadi samarsamar sekarang. Suatu kenangan yang lamat dalam waktu dan hilang dalam ruang. Karena itulah sesuatu tempat bisa menjadi asing dari suatu kenangan.

Iwan Fals pandai sekali menuliskan momen semacam itu; tanah yang dulu tempat pepohonan tumbuh, pondok rumah yang berdiri hingga senja berganti malam, ruang mesjid tempat bermain, akhirnya menjadikan tanah tempat kenangan dibentuk, digilas "sebuah rencana dari serakahnya kota."

Sebab itulah kota menjadi tempat yang ramai dan bising. Sebab itulah orangorang kota sekaligus kesepian dan juga sebenarnya asing.


Popular Posts