22 Februari 2015

madah tigapuluhtiga

| |
Ada cara bagaimana kita bisa mengukur kebahagiaan. Bentham, filsuf Inggris abad 18, meyakininya dengan cara yang kuantitatif, yang disebutnya "kalkulus kebahagiaan." Resep yang digunakannya sederhana; kebahagiaan sama dengan kepuasaan dikurangi kepedihan. Ini artinya, kebahagiaan berarti merunut sebanyak hal ihwal kepuasaan serta dikurangi dengan masalah yang membuat pedih. Hasilnya, itulah kebahagiaan anda.

Di abad 18, semangatnya itu ia tulis dalam karyanya yang hanya berupa pembukaan sebanyak 300 halaman; Introduction

Dalam Introduction, Ia juga mengusulkan untuk menulis daftar yang terdiri dari ragam kepuasankepuasan dan kepedihan. Di sini kita diajak untuk mengingatingat halhal yang membuat diri puas sekaligus hahal yang menjengkelkan. Setelah itu dicatat, dari daftar yang panjang berisi kumpulan kepuasan dan kepedihan itu disebutnya dengan istilah yang unik; katalog kepuasan.

Sebuah perhitungankah ini? Pengelolahan angkakah ini? Bentham hidup di Inggris. Di abad 18 pasca rasionalisme disingkirkan. Empirisme tumbuh berkembang di Britania, juga sains. Bermula dari itu cara berpikir Inggris nampaknya berubah. Segalanya mesti terukur. Juga kebahagiaan.

Bentham memiliki prinsip kepuasan berdasarkan utility. Di masanya, utility bukan berarti kegunaan dari sesuatu, melainkan kepuasan dari sesuatu. Dan kepuasaan dalam arti satisfaction sinonim dengan keuntungan, kepuasan, keunggulan, kebaikan atau kebahagiaan dari suatu objek.

Dan dari katalog kepuasaan yang disusun Bentham, peringkatnya mudah ditebak; kekayaan dan kekuasaan adalah daftar teratas kepuasan. Sementara kebalikannya, kesengsaraan dan ketidaknyamanan adalah urutan teratas kepedihan.

Sepertinya ada yang tak pernah berubah dari dahulu tentang kekayaan dan kekuasaan. Marx barangkali adalah orang yang telah menaksir, kepuasan terhadap kekayaan dan kekuasaan adalah mata rantai yang bisa mendatangkan derita di ujung lainnya. Masyarakat dapat kaya, tapi kemiskinan tidak mesti dibiarkan begitu saja. Sebab kepuasan terhadap kekayaan tidak selamanya menjadi ukuran yang defenitif. Juga kekuasaan, yakni selama manusia mampu membangun kehidupannya, kekuasaan adalah poros yang banyak menelan korban.

Tapi ada yang bisa saja fatal dalam filosofi kebahagiaan Bentham. Konsekuensinya adalah kepuasaan hanya diukur atas logika kuantitas. Satu kepuasaan seorang pelukis pasca menghasilkan karya lukisan akan sama dengan satu kepuasaan ibu rumah tangga yang memenangkan arisan. Secara kuantitatif dua kepuasaan itu akan jadi berbeda dalam ukuran yang kualitatif.

Sebab itulah Bentham bisa salah dalam mengukur kebahagiaan. Yang luput darinya adalah persamaam yang dibangunnya antara kepuasaan dan kebahagiaan. Juga dalam karyanya itu, kepuasan nampaknya akan semakin menjemukkan oleh sebab repotnya skala dan unsurunsur yang diperhitungkan yang disertakan dalam mengukur kepuasaan.

Richard Schoch menyebutkan bagaimana Bentham menulis kerumitan dalam mengukur kepuasaan dengan hukum persamaannya atas unsurunsur yang diperhitungkan. “Ini lebih rumit dari pada sekedar menaruh mereka dari skala..kita harus mengetahui beragam hal dari mereka; aspekaspek yang membahagiakan, situasi yang mempengaruhi, dan bagaimana mereka berhubungan satu dengan lainnya.” Syahdan, untuk pekerjaan mengukur kebahagiaan yang repot itu, Bentham mempercayakannya kepada politisi. Richard Schoch menyebutnya pemerintah.

Menurut Bentham, pemerintah harus punya tanggung jawab untuk mengurusi kebahagiaan dengan memperhatikan keadaan yang dipersiapkan untuk menunjang warganya mencari kepuasan sebanyakbanyaknya. Kepuasaan, oleh Bentham, atas keadaan yang diciptakan pemerintah, harus mengingat satu hal; keamanan. Pemerintah harus punya tanggung jawab menciptakan keamanan, tanpa keamanan kepuasan tak dapat dimungkinkan. Dan Bentham percaya, tanpa keamanan seorang pun tak dapat menemukan kebahagiaan.

Sama halnya Hobbes, Bentham sangat percaya jika manusia dibiarkan mengejar tanpa batas kepuasannya, maka perang bakal terjadi. Bellum omnia omnes, perang semua terhadap semua. Itulah mengapa perlu ada pemerintah yang mengatur kebahagiaan banyak orang.

Dengan pemerintah sebagai badan yang diserahkan amanah untuk mengurusi kebahagiaan banyak orang, pemerintah juga harus tahu jenisjenis kejahatan dan tindakan kejahatan yang dapat memicu perang. Karena itulah dalam Introduction, Richard Schoch menuliskan bahwa  isinya juga menyertakan sebuah almanak tentang kejahatan dan hukuman. Artinya, pemerintah harus menciptakan rasa aman warga untuk mencari kepuasannya. Dan dari sini kita tahu arti sederhana dari model pemerintah Bentham; pemerintah yang memungkinkan anda dapat tidur pulas saat malam hari dan  tersenyum riang di pagi harinya.

Sampai di sini saya tak tahu apakah kalkulus kebahagian yang dicetuskan Bentham menjadi cara pemerintah menciptakan kebahagiaan warganya dengan ukuranukuran statistik. Juga beserta klasifikasi daftar kebagiaan warga yang panjang yang harus dipenuhi pemerintah. Tapi, sepertinya tak semua pemerintah sesuai dengan maksud Bentham. Selain menciptakan rasa aman, juga ingin repot menaksir ukuran kebahagiaan warganya. Dan tak semua kepuasaan sama artinya dengan kebahagiaan, apalagi harus diukur berdasarkan kalkulus kebahagiaan. Begitu juga kita yang tak ingin repot menghitung apaapa yang membuat kita puas dan pedih setiap hari, dan kemudian menjumlahkannya dalam daftar  kepedihan yang panjang.