19 Juni 2012

Merawat Keberanian Anak Muda[1]

| |
Prolog
Eko Prasetyo[2]



Barangsiapa diam di hadapan kezaliman maka dia menjadi seolah-olah seorang iblis
(Rasulullah SAW)

Hal terbaik yang dapat anda lakukan untuk orang lain bukan sekedar berbagi kekayaan Anda, melainkan membuatnya menyadari kekayaan dirinya (Benjamin Disraeli)

Kita tahu apa yang paling berharga di masa muda. Petualangan dan keberanian. Nyala keberanian itu yang membawa Che Guevara menuju Kuba. Bersama Fidel Castro dilintasi lautan dan belantara hutan untuk sebuah cita-cita yang mungkin agak nekad: kekuasaan yang bersendi keadilan. Dunia sebut perjuangan itu sebagai sosialisme. Sebagian dengan antusias memberinya julukan komunisme. Apapun itu kini Kuba berdiri dengan penuh martabat: angka melek hurufnya paling tinggi, jaminan kesehatan penduduk paling ampuh dan yang terpenting minim hutang luar negeri. Castro tua itu masih menyimpan bara semangat anak muda; diejeknya Obama dan dipujinya Hugo Chavez.


Kita pun tahu anak muda itu selalu melawan apa saja. Dulu Soekarno muda membalut pikiranya dengan tiga anti: anti elitisme, anti imperialisme dan anti kolonialisme. Kelak pidato pembelaanya di pengadilan punya judul yang hebat: Indonesia menggugat. Di hadapan hakim, pemuda Soekarno itu melukiskan kejamnya imperialisme. Disebutnya imperialisme dengan kalimat yang lugas, imaginatif dan menyudutkan:‘imperialisme itu suatu paham, sekaligus suatu pengertian. Imperialisme adalah suatu nafsu, suatu sistem yang menguasai atau mempengaruhi ekonomi suatu negeri..’ Soekarno muda menggunakan bahasa tanpa bunga-bunga: radikal, menusuk dan bergelora. Pidatonya menyalakan apa yang langka dari seorang pemimpin: meyakinkan dan menantang.

Kitapun tahu anak muda memenuhi dirinya dengan sikap percaya diri. Sjahrir teguhkan itu dengan sikapnya untuk tidak bekerja sama dengan Jepang. Baginya kolaborasi hanya taktik para pecundang. Sjahrir sebut mereka itu sebagai para politisi yang naif. Itu pula yang membawa Sjahrir dalam pandangan romantik tentang kebangsaan. Dikatakan olehnya: ‘kebangsaan itu hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan diri kita, sekali-kali bukan untuk merusakkan pergaulan kemanusiaan….kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian kita pada kemanusiaan’ Luapan semangat percaya dirinya membuat Sjahrir yakin bahwa nasionalisme itu musti didasarkan pada kekuatan diri. Kekuatan itu letaknya pada pemenuhan cita-cita kita tentang keadilan dan perikemanusiaan.

Di atas kecintaan pada nilai kemanusiaan itulah banyak anak muda tak mau berkalung kemapanan. Tan Malaka petunjuk sempurna kepribadian ini: dijadikan buron, selalu dipenjara dan mempercayai aksi massa. Petunjuk revolusinya tegas: enggan untuk menempuh diplomasi dan percaya pada kekuatan rakyat. Sikapnya seperti monumen: teguh dan sulit dibujuk. Itu sebabnya Tan Malaka tidak berkeluarga. Itu pula yang membuatnya mampu melahirkan banyak karya. Seperti sosok utusan Tuhan, ajaran Tan Malaka lebih lama bertahan ketimbang usia hidupnya. Mirip dengan nyalak peluru ide Tan Malaka telah menembus kebekuan pandangan hidup dan membunuh gagasan yang mapan. Tan Malaka mewariskan apa yang menjadi senjata kaum revolusioner: keyakinan dan konsekuensi.

Kini keyakinan itu luntur perlahan. Anak-anak muda terjatuh dalam kebosanan. Dangkal harapanya dan lemah nyalinya. Tanpa keberanian mereka semuanya dipeluk oleh mimpi tentang keberhasilan. Ukuranya lemah dan nista: kekayaan. Di mana-mana semangat itu ditampilkan dengan kepercayaan yang getir: konsumerisme. Dirayakan melalui pendirian Mall, industri yang merusak lingkungan dan duta produk. Salah satu hantaman yang paling menyakitkan adalah iklan. Arnold Tonybee mengatakan, bisnis iklan itu memperlancar jalanya barang-barang yang tak perlu ke perut orang-orang yang sudah kekenyangan. Di sanalah anak-anak muda itu dikelilingi kepercayaan palsu. Kepercayaan kalau hidup itu hanya memenuhi perut dan mencari pasangan yang tepat.

Kemapanan itu telah lama menipu. Pidato pejabat hanya menanam kecemasan. Pendidikan memudahkan jalan timbulnya keraguan. Lalu lingkungan menggoreskan kekuatiran. Itulah generasi gagap seperti bunyi syair Rendra:

Kita adalah angkatan gagap
Yang diperanakkan oleh angkatan takabur
Kita kurang pendidikan resmi
Di dalam hal keadilan
Karena tidak diajarkan berpolitik
Dan tidak diajar dasar ilmu hukum

.................
Dasar pendidikan kita adalah kepatuhan
Bukan pertukaran pikiran
Ilmu sekolah adalah ilmu hafalan
Dan bukan ilmu latihan menguraikan

Lantas jadilah kita bangsa pandir. Yang dibesarkan oleh ilusi masa lalu dan demam prosedur. Kita kukuhan pembaharuan hukum untuk menipu rasa keadilan. Kita jelmakan apa yang dulu kita benci: kekerasan dan amuk massa. Jika demikian maka anak-anak muda akan melacurkan diri. Pada pengetahuan palsu yang akan mementaskan ilmuwan tanggung. Hanya mematut diri pada gelar tapi gagal mengemban amanat pembaharuan. Juga pada keterampilan sempit yang memudahkan mereka untuk menempuh jalan pintas. Baik menjadi politisi karbitan yang tak punya ide radikal ataupun rohaniawan yang tanpa keberanian. Kini kita bukan hanya rindu para pejuang muda tapi juga anak muda yang mampu menghantui kemapanan. Mereka yang menolak diri untuk menyesuaikan dan tetap teguh mendorong pemberontakan.

Hanya dengan berontak kita hidup. Berontak pada apa yang disebut Tan Malaka sebagai racun: parlemen, masjid, gereja, sekolah, dan surat-surat kabar berdaya upaya menidurkan dan melemahkan hati buruh dengan pendidikan yang banyak mengandung racun. Bila mereka tak dapat berlaku seperti itu. Dipergunakanlah penjara, polisi dan militer. Itulah wasiat Tan Malaka yang patut kita renungkan kembali. Berontak pada apa yang telah memenjarakan nyali, tekad dan kesungguhan anak-anak muda. Berontak pada apa yang selama ini telah menipu dan membuat kita melupakan jiwa muda kita. Jiwa yang selalu menolak segala bentuk bujuk, kemapanan dan keindahan semu. Jiwa yang tak percaya dengan apa yang tampak. Persis seperti puisi Afganistan:

Beri aku kekayaan hati dan mata
Ambillah dunia untuk dirimu
Jangan bawakan makanan yang lezat-lezat
Tak sanggup aku mengunyahnya
Yang kuidamkan hanyalah inspirasi
Bagi tujuan-tujuan yang bermanfaat
Dongeng dan impian muluk-muluk
Tak begitu kusukai
Tentang pengorbanan Ibrahim
Boleh kau kisahkan berulang-ulang kepadaku....

Jika hendak disebutbuku ini adalah kumpulan tulisan anak-anak muda. Yang menolak untuk percaya pada slogan dan janji kosong. Buku ini meneguhkan apa yang langka di negeri ini: sikap kritis, menolak untuk patuh dan membangkang pada kenyataan. Beberapa saya kenal mereka semasa mahasiswa; jadi aktivis, menyukai demonstrasi dan kesal pada kekuasaan yang pongah. Kini mereka memilih untuk menulis. Bersama dengan tulisan itulah ingatan dipahat dan keyakinan diteguhkan. Kini mereka menyemai gagasan untuk menuai tindakan. Tak akan gagasan ini hanya sebuah tulisan sekedarnya. Seperti Pramoedya mereka meyakini bahwa kertas dan tulisan adalah senjata terampuh. Untuk melawan sinisme, ketakutan dan rasa muak pada kekuatan penghancur kemanusiaan. Meski kebebasan telah ditanam tapi sesungguhnya mereka percaya belenggu telah dipasang dengan rapi. Buku ini adalah tawaran perjuangan: membebaskan mereka yang ditindas dan menolak untuk tunduk.

Selamat membacanya.

Yogyakarta, 30 April 2012


[1][1] Tulisan ini merupakan prolog buku Jejak Dunia Yang Retak karya Asran Salam. Dkk.
[2][2] Penulis adalah Pendiri Resist Book, Direktur Pusham UII Yogya.



Almanak