05 Juli 2016

Mal: Spiritualisme Ramadan Abad 21

Siapa menyangka, cikal bakal mal di Indonesia ditandai dengan menggunakan nama perempuan bernama Sarinah? Begitulah, gedung perbelanjaan yang berdiri di jalan Thamrin Jakarta Pusat itu, diberi nama oleh Soekarno untuk mengenang ibu pengasuh di masa kecilnya.

Siapa pula menduga, Sarinah yang resmi dibuka 15 Agustus 1966, adalah pusat perbelanjaan yang dibangun dengan spirit nasionalisme kala itu? Semenjak dibangun, Sarinah sudah dirancang sebagai media dan alat distribusi barang-barang ke masyarakat luas.  Sarinah dibangun untuk menstabilisasi struktur perekonomian Indonesia.

Juga siapa yang tahu jika Sarinah didirikan dari harta rampasan perang Jepang? Dibangun melalui tangan arsitektur berkewarganegaraan Denmark, Abel Sorensen? Juga Sorensen pula, yang merancang Hotel Indonesia, hotel berbintang pertama di Indonesia untuk menyambut Asian Games IV tahun 1962.

Syahdan, Sarinah hanyalah satu dari mal-mal besar yang sekarang berdiri. Sampai tahun 2012, di Indonesia sudah ada 240  mal berdiri. Berdasarkan Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) semenjak tahun 2014, tercatat  250 mal beroperasi di Indonesia. Jumlah ini lebih besar dibandingkan Hong Kong yang hanya sebanyak 200 mal.

Bisa dibayangkan, akhir-akhir ini, mal yang sekarang berjibun itu menjadi centrum konsumerisme. Tak pernah berhenti menyedot uang masyarakat. Di kota-kota besar, mal menjadi bangunan yang paling ramai dikunjungi. Apalagi jelang Ramadan tiba, mal adalah satu-satunya tempat yang paling ramai dibandingkan tempat-tempat peribadatan.

Memang paradoks, kala menjelang awal dan akhir Ramadan, spiritualitas puasa yang diperjuangkan selama sebulan penuh bergerak ambivalen dengan spiritualitas abad modern: agama konsumerisme.

Konsumerisme memang bukan lagi sekedar praktik manusia mencari nilai guna barang-barang. Konsumerisme abad 21 adalah praktik kebudayaan yang menandai perlunya identitas kelas, gaya hidup, dan status sosial tertentu. Di titik ini, kosumerisme adalah penanda baru suatu gaya hidup. Suatu cara manusia berekspresi untuk bersentuhan langsung dengan makna-makna di balik produk-produk yang diperjual belikan. Cara manusia menemukan kebahagiaan. Itu sebab, konsumerisme menjelma menjadi agama baru abad kiwari.

Sekarang, konsumerisme juga dipandang sebagai fenomena tak sadar. Melalui cara ini, konsumsi atas barang-barang tiada lain merupakan dorongan bawah sadar yang merangsang batin primordial manusia: hasrat. Seperti agama, konsumerisme mampu menggerakkan manusia melampaui ukuran-ukuran rasionalitas demi suatu pencapaian transrasional. 

Itu sebab, dorongan-dorongan primordial berdasarkan hasrat berbelanja inilah yang mampu mengubah watak manusia menjadi konsumeris.

Akhir Ramadan, kota Makassar adalah menjadi kota yang demikian sibuk. Mal-mal kian menarik pengunjung. Jamak ditemukan praktik jual beli menjadi ritual konsumerisme. Barang-barang berpindah tangan. Dan uang begitu cepat raib berpindah kantung. 

Juga masjid-masjid menjadi kembali ramai. 10 hari akhir Ramadan orang-orang menghabiskan waktu di bawah lingkaran kubah masjid. Berzikir dan mekhatamkan al Qur’an. Memperkuat ibadah kala Ramadan mencapai penghabisan. Nampaknya, ibadah dan konsumerisme merupakan dua “agama” yang berjalan beriringan.

Tapi siapa bakal menolak, jika puasa hanya menjadi ibadah berwatak maskulin. Yakni motif-motif beribadah yang berubah agresif, tangkas, dan dominan. Orang-orang berperilaku agresif di samping berperilaku konsumtif, membeli segala. Orang-orang bergerak tangkas dan cepat menyambangi areal pusat perbelanjaan. Dan, orang-orang begitu dominan ditemukan bergerombol menghabiskan uang bertukar barang-barang.

Akibatnya, puasa sekadar menjadi alat yang sublimatif. Spiritualitas agama ditransformasikan menjadi sikap agama konsumtif. Motif menahan hasrat akhirnya meledak kala malam menjelang. Puasa hanya ibadah siang hari untuk digantikan saat tenaga mulai cukup kala malam datang untuk menjajaki pusat-pusat perbelanjaan.

Sebelumnya, pusat belanja yang dibangun Soekarno diberi nama Sarinah untuk menjadi simbol kesabaran  dari sosok ibu yang mengasuhnya. Menggunakan dana rampasan perang Jepang untuk menunjukkan kedaulatan ekonomi. Dari dua hal ini, kesabaran dan nasionalisme adalah motivasi awal untuk mendasari praktik perekonomian bangsa Indonesia.

Namun, sekarang mal adalah cagar budaya transinternasional masyarakat modern yang menampung hasrat berbelanja berlebihan. Di sana ditemukan produk-produk luar negeri yang bikin silau mata. Merk-merk berlabel internasional begitu gampang dibeli dengan iming-iming perbaikan status kelas sosial. Tanpa kesabaran dan sikap kesederhanaan, orang-orang menjadi agresif meninggalkan spritualitas puasa yang mengajarkan bagaimana hasrat dikontrol demi mencapai manusia yang mulia.

Malang, pusat perbelanjaan seperti Sarinah—yang mempelopori kehadiran mal, dan pusat perbelanjaan lainnya, sekarang bukan ditunjukkan untuk mendistribusikan kebutuhan sandang pangan masyarakat dengan cara merata. Mal justru –apalagi di bulan Ramadan adalah ruang yang membelah masyarakat menjadi dua golongan secara ekonomi. Tidak bisa disangkal, pusat-pusat perbelanjaan sekarang adalah representasi gaya hidup mewah yang jauh dari tuntutan agama untuk berbagi.

Akhirnya, mal adalah mal, dan Ramadan adalah Ramadan. Konsumerisme begitu mencolok dan demikian sulit dikendalikan . Dan lagi-lagi mal tak sedikit pun tersentuh efek spiritualitas puasa. Bisakah anda bayangkan, 250 mal yang tersebar di Indonesia, saat ini sedang ramai berlangsung suatu ibadat baru, agama konsumerisme? Sementara masih banyak pula golongan masyarakat miskin yang tak tersentuh sama sekali dari kebaikan kaum kaya?

---

Dimuat di kolom Opini harian Fajar, 4 Juli 2016

30 Juni 2016

pantofel

Hari ini saya bakal ikut malam ramah tamah. Acara makanmakan buat calon wisudawan tempat saya sekolah pascasarjana. Sedari sore saya sudah harus di Hotel Clarion, tempat acara dihelat.

Tentu ini bukan sekadar acara makanmakan belaka. Sudah pasti ada acara pidatopidatoan. Dari rektor, dekan sekolah pascasarjana, atau juga dari ketua prodi sekalian. Kalau perlu ada sesi testimoni dari perwakilan calon wisudawan. Dan seabrek agenda acara yang saya tak tahu juntrungannya.

Sepanjang kuliah, ini pertama kalinya saya harus ikut kegiatan macam beginian. Dulu kala, tujuh tahun di strata satu, saya ogah ikutikutan. Pasalnya, saat itu yang penting saya dapat ijazah. Tak pikir buat acaraacaran ramah tamah. Waktu itu dapat menyelesaikan kuliah saja syukur bukan main. Buat saya, sudah cukup tujuh tahun ramah tamah dengan kampus. Jadi, tak ada urusan dengan Belanda!

Akibatnya, kala itu saya hanya ikut acara wisudaan. Pakai toga, ikut barisan, dan masuk gedung. Selesai perkara. Setelah sesi fotofoto sebentar, kemudian tak pikir panjang langsung hengkang dari gedung acara.

Malang, pasca itu tak ada foto terpampang di dinding rumah. Seperti lazimnya mantan mahasiswa, foto dengan seragam toga hanyalah imajinasi belaka. Mamak hanya menghela nafas. Bapak diam saja.

Padahal di acara itu mamak bapak turut serta berdesakdesakan. Ikut iringiringan keluarga wisudawan lain. Berpanaspanasan sambil berteduh di bawah pohon. Namun sudah saya katakan, tak ada foto bersama keluarga. Lagilagi mamak menahan napas. Bapak seperti biasa, diam saja.

Namun yang bikin hati mamak berbungabunga, terpampang besar baliho saya di sudut gerbang pintu masuk kegiatan. Baliho itu berukuran sekira lapangan tenis meja. Mirip baliho caleg. Muka saya jelas di situ, dengan ucapan selamat dari salah satu lembaga yang pernah saya ketuai.

“Ita sai anaknu, engka balihona di gettung!”

“Wahaa, iga kebbu’i? Loppo paha?” Bapak terkagetkaget.
“Hebatto bella.”

“Magai mak, dek sambarang tu niga engka balihona. Teppe’ ni’?!" Saya membusung dada.

Baliho itu jelas bikin kaget mamak, apalagi bapak. Mereka tak menyangka akan menemukan kejutan kayak begitu. Baliho itu memang dibuat oleh beberapa adikadik mahasiswa yang tak saya sangkasangka. Saya kira mereka hanya bercanda bakal bikin baliho sebagai ucapan selamat dan terima kasih. Tapi nyatanya mereka serius. Saat itu saya satusatunya mahasiswa yang punya baliho mirip caleg itu.

Baliho itu bertahan beberapa hari di kampus. Jadi omongan adikadik mahasiswa di fakultas. Di terpa sinar matahari bikin satpamsatpam kampus bingung. Memangnya siapa muka di baliho berwarna dasar biru itu. Mahasiswa terbaik saja bukan. Tak jelas!

Saya curiga baliho itu akhirnya dicabut satpam setelah berharihari dipampang. Atau diambil mahasiswa diamdiam jadi karpet di sekretariat. Pun bisa jadi diambil tukang becak buat penghalang panas penumpangnya. Tak soal, yang penting berfaedah muka saya jadi hiasan kemanamana.

Kembali ke acara malam ramah tamah. Yang bikin kikuk, kali ini saya harus memakai sepatu pantofel buat acara nanti. Sepatu yang ogah saya pakai selama ini. Bahkan saat acara wisuda di strata satu, saya acuh saja pakai sepatu kets merk Converse. Tak peduli apa kata orang, apalagi kala itu dipadankan dengan celana levis hitam.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...