30 Juni 2016

pantofel

Hari ini saya bakal ikut malam ramah tamah. Acara makanmakan buat calon wisudawan tempat saya sekolah pascasarjana. Sedari sore saya sudah harus di Hotel Clarion, tempat acara dihelat.

Tentu ini bukan sekadar acara makanmakan belaka. Sudah pasti ada acara pidatopidatoan. Dari rektor, dekan sekolah pascasarjana, atau juga dari ketua prodi sekalian. Kalau perlu ada sesi testimoni dari perwakilan calon wisudawan. Dan seabrek agenda acara yang saya tak tahu juntrungannya.

Sepanjang kuliah, ini pertama kalinya saya harus ikut kegiatan macam beginian. Dulu kala, tujuh tahun di strata satu, saya ogah ikutikutan. Pasalnya, saat itu yang penting saya dapat ijazah. Tak pikir buat acaraacaran ramah tamah. Waktu itu dapat menyelesaikan kuliah saja syukur bukan main. Buat saya, sudah cukup tujuh tahun ramah tamah dengan kampus. Jadi, tak ada urusan dengan Belanda!

Akibatnya, kala itu saya hanya ikut acara wisudaan. Pakai toga, ikut barisan, dan masuk gedung. Selesai perkara. Setelah sesi fotofoto sebentar, kemudian tak pikir panjang langsung hengkang dari gedung acara.

Malang, pasca itu tak ada foto terpampang di dinding rumah. Seperti lazimnya mantan mahasiswa, foto dengan seragam toga hanyalah imajinasi belaka. Mamak hanya menghela nafas. Bapak diam saja.

Padahal di acara itu mamak bapak turut serta berdesakdesakan. Ikut iringiringan keluarga wisudawan lain. Berpanaspanasan sambil berteduh di bawah pohon. Namun sudah saya katakan, tak ada foto bersama keluarga. Lagilagi mamak menahan napas. Bapak seperti biasa, diam saja.

Namun yang bikin hati mamak berbungabunga, terpampang besar baliho saya di sudut gerbang pintu masuk kegiatan. Baliho itu berukuran sekira lapangan tenis meja. Mirip baliho caleg. Muka saya jelas di situ, dengan ucapan selamat dari salah satu lembaga yang pernah saya ketuai.

“Ita sai anaknu, engka balihona di gettung!”

“Wahaa, iga kebbu’i? Loppo paha?” Bapak terkagetkaget.
“Hebatto bella.”

“Magai mak, dek sambarang tu niga engka balihona. Teppe’ ni’?!" Saya membusung dada.

Baliho itu jelas bikin kaget mamak, apalagi bapak. Mereka tak menyangka akan menemukan kejutan kayak begitu. Baliho itu memang dibuat oleh beberapa adikadik mahasiswa yang tak saya sangkasangka. Saya kira mereka hanya bercanda bakal bikin baliho sebagai ucapan selamat dan terima kasih. Tapi nyatanya mereka serius. Saat itu saya satusatunya mahasiswa yang punya baliho mirip caleg itu.

Baliho itu bertahan beberapa hari di kampus. Jadi omongan adikadik mahasiswa di fakultas. Di terpa sinar matahari bikin satpamsatpam kampus bingung. Memangnya siapa muka di baliho berwarna dasar biru itu. Mahasiswa terbaik saja bukan. Tak jelas!

Saya curiga baliho itu akhirnya dicabut satpam setelah berharihari dipampang. Atau diambil mahasiswa diamdiam jadi karpet di sekretariat. Pun bisa jadi diambil tukang becak buat penghalang panas penumpangnya. Tak soal, yang penting berfaedah muka saya jadi hiasan kemanamana.

Kembali ke acara malam ramah tamah. Yang bikin kikuk, kali ini saya harus memakai sepatu pantofel buat acara nanti. Sepatu yang ogah saya pakai selama ini. Bahkan saat acara wisuda di strata satu, saya acuh saja pakai sepatu kets merk Converse. Tak peduli apa kata orang, apalagi kala itu dipadankan dengan celana levis hitam.

28 Juni 2016

Rumah

Pada akhirnya rumah menjadi hal yang penting. Jelang tutup ramadan orangorang mulai menautkan segalanya pada tempat asal usul bermula. Dari tempat di mana pelbagai cerita dimulai.

Di titik ini rumah menjadi ikatan yang primordial. Rumah dengan sendirinya adalah kampung halaman, rumah adalah tradisi, dan rumah adalah tempat segala identitas azali dibentuk.

Urbanisasasi yang begitu mencolok membuat rumah kian terasing. Dengan sendirinya asal usul jadi kenangan. Orangorang pergi mencari mukim baru. Membangun kehidupan. Membentuk diri baru. Kemudian pelanpelan akhirnya kota jadi sarang segalanya.

Di kota segalanya jadi mungkin. Orangorang bekerja. Orangorang bersekolah. Orangorang jadi lebih lebih manusiawi.

Tapi tidak semua yang manusiawi menjadi betulbetul manusia. Di kota, orangorang disulap berbagai hal. Imajinasi manusia santun seketika menjelma manusia kota yang soliteris; sendiri dalam keramaian masingmasing. Menjadi mahluk yang menyukai diri sendiri.

Saat itulah gugusan kota mengambil alih. Memproyeksikan suatu tujuan yang progressif. Kota, dengan segala jejaring kepentingannya tak menyisakan sedikit pun apa yang pernah hidup menjadi memori kolektif orangorang berkampung halaman; solidaritas.

Solidaritas memang berparas ganda. Durkheim memilahnya jadi dua. Sosiolog Prancis ini menamsil, di kota tempat di mana terma modern begitu menggugah, orang perorang jadi terbelah. Yang ada hanyalah ikatan atas dasar spesialisasi. Orang berinteraksi bukan karena dasar atas usul yang sama, tapi sejauh apa suatu identitas profesional dibangun.

Kala itulah kebersamaan jadi suatu ikatan yang formal. Masyarakat hanya bisa menjalin suatu ikatan kolektif atas suatu tema pekerjaan; suatu modalitas yang selama ini dibentuk atas dasar unsurunsur kapital.

Akibatnya interaksi hanya berumur jika itu bertahan atas dasar profesionalisme. Durkheim menyebut ikatan ini sebagai solidaritas organik. Hubungan yang hanya mungkin berlangsung karena didorong atas suatu imbalan.

Itu sebab, kota hanya jadi tempat yang rentan. Orangorang hanya terkoneksi dari ikatan yang guyah. Pekerjaan, pendidikan, profesi, hubungan komunitas, dan jejaring interaksi yang lain mudah bergeser, gampang berubah. Di kota, berlaku rumusan tak ada yang abadi, segalanya berubah.

Barangkali, karena itu tak ada kenangan bisa bertahan di kota. Di kota orangorang hanya mengejar satu hal; masa depan.

Yang malang, masa depan berarti memilah suatu bulatan yang gampang pecah. Yakni suatu identitas yang dibentuk dari rumah. Di rumah, suatu medan orangorang dibentuk tradisi, berubah modern yang memotong nilainilai kolektif.

Dari rumah, suatu tempat keluarga menjalin kekerabatan dipangkas menjadi manusia yang lupa dari mana manusia-rumah akan berpulang. Di kota, rumah yang bagi orangorang berkampung halaman menjadi tempat segala simpul berawal, dicacah habis dengan silet masa depan.

Karena itu kota selalu dilihat sebagai tempat anti masa silam. Membelahnya jadi bagianbagian yang sulit disembuhkan. Semakin orangorang beraktivitas di dalamnya, semakin manusia-berkampung halaman lupa siapa dia sejatinya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...