27 September 2015

Sabtu Pagi dengan Eka Kurniawan

Eka Kurniawan lagilagi membuat saya berdecak kagum. Sabtu pagi tanpa sengaja, saya menemukan cerpennya: Jimat Sero.  Kesengajaan yang menyenangkan. Seperti biasa, membaca cerita pria ini membuat kita harus bersabar dengan ending yang tak didugaduga, sementara di saat yang bersamaan kita tak tahu alur apa yang bakal terjadi.  Membaca cerpennya seperti mengetahui ada misteri yang menunggu di ujung cerita  tanpa diketahui seperti apa misteri yang di maksud. 


Jimat Sero 
by Eka Kurniawan, Suara Merdeka, 24 Januari 2010
Ia mengingatkanku pada masa kecil kami. Saat itu ibuku baru melahirkan adik, dan bapak menitipkanku ke rumah nenek di kampung. Di sekolah yang baru, hanya aku yang pakai sepatu dan hanya aku yang punya rautan pensil. Sial sekali memang. Dengan tubuh kecil, ringkih, hidung penuh ingus dan sering pilek, aku menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Setiap hari mereka merampok uang jajanku.
Satu hari tiga anak memukuliku, karena aku sengaja tidak membawa uang jajan. Nenek mengetahuinya. Seharusnya Nenek mendatangi Kepala Sekolah dan mengadukan kelakuan anak-anak itu. Atau mengembalikan aku ke rumah ibuku, seperti keinginanku.
Rupanya Nenek punya cara sendiri. Sore hari ia membawaku ke sebuah gubuk di tepi mata air. Kelak aku mengetahui, pekerjaan pemilik gubuk itu memang menjaga mata air tersebut. Gubuk itu mungil saja, dengan asap mengepul dari celah atap sirapnya. Barangkali penghuni rumah sedang memasak di tungku dapur. Nenek mengetuk dan tak lama kemudian pintu terbuka.
Di depan kami berdiri seorang lelaki tua yang langsung mempersilakan Nenek duduk. “Enggak usah, aku cuma mampir sebentar,” kata Nenek sambil menoleh ke belakang lelaki tua itu. Di sana berdiri seorang anak lelaki, lebih tua dariku, memerhatikan kami dengan penasaran. “Kelas berapa anakmu, si Rohman itu?” tanya Nenek.
“Kelas empat,” si lelaki tua menjawab sambil menoleh ke anaknya dan berkata kepada anak itu, “Suruh emakmu bawa teh.”
Tapi Nenek buru-buru memberi isyarat Rohman agar tidak pergi, dan menyuruh mendekat. Rohman menghampiri Nenek, dan tanpa mempedulikan lelaki tua itu, Nenek berkata kepada Rohman:
“Dengar, mulai besok, kamu belajar di kelas dua dan duduk satu bangku dengan cucuku ini. Jika seseorang mengganggunya, kau boleh menghajar mereka sesuka kamu.”
Dengan kebingungan, Rohman menoleh ke ayahnya. Si lelaki tua hanya tersenyum, kemudian berkata, “Jangan khawatir. Besok ia akan duduk di kelas dua.”
Begitulah cara Nenek menyelesaikan persoalanku. Sejak saat itu, Rohman turun kelas dua tingkat. Hebat juga anak itu, sejak ia duduk sebangku denganku, tak seorang pun berani menggangguku lagi. Sepatuku terbebas dari injakan kaki-kaki dekil. Ah ya, kadang-kadang di luar sekolah, masih ada anak yang tak tahu apa-apa menggangguku, dan esok harinya, Rohman bisa menghajarnya hingga babak-belur.
Tapi tak lama setelah itu, Ayah mengambilku kembali dari rumah Nenek. Aku tak tahu apa yang terjadi. Ibu hanya pernah bercerita, aku menangis berhari-hari meminta pulang. Aku tak ingat apa yang membuatku menangis. Aku juga tak tahu apa yang terjadi dengan Rohman: apakah ia kembali melompat dua kelas sebagaimana mestinya, atau tetap meneruskan tingkatannya saat itu. Di sekolah yang baru, kadang-kadang ada yang mengganggu, tapi aku bisa mengatasinya. Di SMP, aku punya banyak teman dan tak ada yang mengganggu. Di SMA aku mengencani beberapa gadis cantik dan pintar, dan karena “gadis cantik yang pintar” jarang jadi rebutan, aku nyaris tak punya saingan. Aku masuk universitas dan jadi kutu buku. Aku bahkan nyaris lupa pernah punya teman sebangku bernama Rohman. Kini aku bertunangan dengan anak gadis bosku, Raisa, dan tak seorang pun berani mengusik hubungan kami.
Kemudian, lebaran lalu aku mengunjungi Nenek dan berjumpa dengan si Rohman ini, dan pertanyaannya sungguh konyol: “Kamu masih suka dipukuli orang?”
Kami berdua duduk di beranda dan berbagi segala hal yang kami tidak ketahui selama perpisahan itu. Rohman berkata, “Setiap kali pulang kampung, aku selalu menemui nenekmu hanya untuk tahu kabar tentangmu.” Aku hanya tersenyum dan menepuk lututnya. Lalu ia menambahkan, “Sampai sekarang aku masih sering kuatir, ada orang memukulimu.”
Aku tertawa dan kembali menepuk lututnya. “Enggak usah berlebihan begitu.”
Tapi dengan tatapan serius ia memandangku dan kembali berkata, “Di mana kamu sekarang tinggal? Aku akan memberimu sebuah jimat.”
“Jimat?”
“Jimat. Kamu bakal tahan pukul dan kebal senjata.”
***
JIMAT itu sekarang berada di tanganku. Namanya jimat sero. Kata Rohman, yang sengaja datang ke apartemenku, itu memang terbuat dari ekor sero. Rubah.
Karena tak tahu harus berbuat apa, aku bertanya apakah aku harus membayar? Berapa? Rohman hanya tertawa sambil menggeleng. Tidak, katanya, kamu tak perlu membayar sepeser pun. Ia memberikan jimat itu benar-benar karena ia mengkhawatirkanku. Ingat, katanya, dulu ia berjanji untuk menjagaku. Tapi ia tak mungkin menjagaku terus-menerus. Ia hanya bisa memberiku jimat itu.
Aku yang tak terbiasa memperoleh sesuatu secara cuma-cuma mencoba bertanya mengenai pekerjaannya. Barangkali ia punya anak, dan seperti kebiasaan orang desa, barangkali ia mencoba menitipkan anaknya untuk dimasukkan ke perusahaan tempatku bekerja, atau ke kantor-kantor kenalanaku. Tapi jelas ia tak membutuhkan apa pun. Ia sudah jadi juragan kopra di Banten selatan dan anaknya yang paling tua masih berumur sebelas tahun. Ia benar-benar tak membutuhkan apa pun dariku.
Setelah memaksanya menginap semalam dan mengajaknya berkeliling Jakarta untuk sekadar bersantai, ia akhirnya pulang.
Dan jimat itu bersamaku. Jimat sero.
Selama beberapa hari aku mencoba menghiraukannya, tapi semakin aku mencoba melupakan bahwa aku memiliki jimat, semakin aku mengingatnya. Jimat itu tebungkus dalam kantung kain katun kecil, dengan tali untuk mencantelkan, sebesar gelang tangan. Aku sudah memeriksanya, dan memang itu tampak seperti ekor binatang yang sudah kering. Tak ada tanda-tanda benda itu memiliki kesaktian apa pun. Bahkan aku ragu ia bisa melindungi dirinya sendiri.
“Kamu harus membawanya jika ingin merasakan keampuhan jimat ini. Masukkan ke saku celana sudah cukup,” begitu kata Rohman sebelum pergi.
Aku malah menggeletakkannya di meja, di samping komputerku.
Sampai kemudian terpikir olehku bahwa satu-satunya cara untuk meyakinkan apakah benda itu berguna atau tidak adalah dengan menjajalnya. Tapi sebelum itu tentu saja aku harus memastikan sesuatu. Sepuluh hari selepas kunjungan Rohman, aku meneleponnya.
“Setahuku setiap jimat selalu ada pantangannya,” kataku. “Katakan apa yang tidak boleh kulakukan?”
Rohman tertawa dan menggeleng, “Tak ada yang perlu kamu risaukan.”
***
SEUMUR hidup aku tak pernah berkelahi. Tentu saja bukan berarti aku tak pernah memiliki masalah dengan orang lain. Apa pun yang terjadi, aku selalu mencoba mengakhiri setiap perselisihan dengan siapa pun tanpa berkelahi. Teman-temanku bilang, aku pandai dalam hal membuat musuh menjadi teman. Tapi sejujurnya, ada kalanya aku harus menghindar. Lebih tepatnya, mengalah.
Saat pertama kali kupikirkan untuk mencoba jimat sero, aku langsung membayangkan beberapa orang yang menyebalkan, yang seharusnya kuhajar: sopir taksi yang pernah mengajakku berkeliling sambil berpura-pura tersesat, lalu memaksaku membayar dengan harga argometer yang melambung ke langit; preman kecil yang pernah menodongku di Tanah Abang, bertahun-tahun lalu ketika aku pertama kali datang ke Jakarta; dan barangkali seorang kolonel yang pernah aku lihat menabrak seorang perempuan tua di pinggir jalan, lalu pergi begitu saja seolah tak merasa bersalah.
Dengan sedikit was-was, kuambil jimat sero dari atas meja dan kutimang-timang sejenak di telapak tangan. Benarkah aku percaya omong-kosong mengenai jimat ini? Bukan hal yang aneh jika orang semacam Rohman bisa memiliki jimat, bahkan membuatnya. Aku tak tahu bagaimana seorang anak kecil tukang berkelahi menjelma seorang lelaki penuh klenik yang mampu menyediakan jimat. Tapi setelah kupikir-pikir, itu bukan hal yang aneh, sebenarnya.
Ayahnya, si tukang menjaga mata air, konon juga pemilik beragam ajian. Dan selama bertahun-tahun, ia merupakan orang kepercayaan Nenek dan Kakek. Ayah dan ibuku tak pernah menyinggung soal itu dan aku juga tak terlalu menaruh perhatian, tapi aku mengetahui hal itu.
Kumasukan jimat ke saku kiri celanaku. Itu tempat yang aman, sebab aku tak pernah menaruh apa pun di sana. Jimat itu tak akan jatuh secara tidak sengaja (misalnya karena aku mengambil uang receh atau telepon genggam). Dan untuk sejenak kucoba merasakan sekiranya ada tanda-tanda tertentu yang diberikan jimat itu kepadaku.
Tak ada apa-apa.
Rasanya aku jadi agak ragu-ragu. Benarkah ia membuatku kebal pukul dan senjata? Jangan-jangan jika aku mencobanya, aku malah babak-belur. Masih untung jika tidak langsung mati.
Aku bergidik dan kulirik pisau cukur.
“Tidak, kamu akan berdarah jika kamu lakukan sendiri. Jimat itu hanya bekerja jika seseorang memukulmu atau mencoba melukaimu dengan senjata.”
Tak ada cara lain untuk membuktikannya, pikirku. Setelah memikirkan hal itu selama beberapa saat, akhirnya aku pergi ke tempat kerjaku. Tak apa, toh sebenarnya tak ada keharusan untuk membuktikannya. Jika aku takut jimat itu ternyata tak bekerja sebagaimana yang dijanjikan, aku tak perlu berkelahi dengan siapa pun. Aku bisa melanjutkan hidupku sebagaimana biasa, sebagaimana hari-hari ketika jimat sero belum ada.
Umurku dua puluh sembilan tahun, dan aku baik-baik saja tanpa jimat sero. Dengan pikiran seperti itu, entah kenapa, aku tetap membawa jimat sero di saku celanaku.
***
AKU berjalan kaki ke apartemenku sambil menggigil. Aku tak tahu seberapa kusut diriku. Orang-orang melihatku dengan tatapan curiga. Aku tak peduli dan terus berjalan. Kulihat tanganku. Darah kering di mana-mana. Bahkan kemejaku juga berpelotan. Aku bisa melihat jemariku meregang satu sama lain dan aku tak yakin bisa menggerakkannya. Mereka bergerak sendiri. Ikut menggigil.
Terbayang olehku tubuh Nasrudin tersungkur ke pojok kamar mandi. Ada darah dari sudut bibirnya. Aku sangat senang melihat darah itu. Ternyata darah tidak semerah yang kubayangkan. Darah lebih gelap daripada merah. Merah itu warna bendera dan darah tidak berwarna seperti bendera. Darah lebih seperti warna kelopak mawar yang membusuk. Dan aku suka warna itu mengalir dari sudut bibir Nasrudin.
“Itu untuk mulut najismu,” kataku.
Aku membencinya sejak lama. Ia selalu mencari muka di depan bosku, dan selalu berupaya menjatuhkanku. Ia selalu punya cara untuk membantah gagasan-gagasanku, dan menjungkirkannya seolah-olah gagasanku merupakan gurauan orang bodoh. Aku tahu bosku termakan omongannya, tatapannya memandangku sedih. Hanya karena aku bertunangan dengan Raisa, tempatku di kantor tak tersentuh siapa pun. Meskipun begitu, sungguh, sesekali aku ingin menghajar Nasrudin.
Ingatan tersebut kembali membuatku menggigil.
Hari itu aku berhasil membuatnya marah dan aku menunggu apakah ia akan memukulku. Peristiwa itu terjadi di kamar mandi, setelah sebagian besar teman kerja kami pulang. Ia tidak memukulku, maka aku kembali memancingnya. Akhirnya ia menghampiriku, menyentuh pangkal kemejaku dan bertanya:
“Maumu apa?”
Aku meludahi mukanya.
Ia tercekat sejenak. Tentu saja ia tak akan percaya aku melakukan itu. Ia mengusap mukanya dengan lengan kemajanya, tanpa melepaskan genggamannya di pangkal kemejaku. Ia memandangku. Aku tersenyum mengejek. Ia masih memandangku. Kupandang kembali matanya. Itu saat-saat yang sangat menegangkan. Aku menunggu apa yang akan dilakukannya.
Lalu, bug, ia mengirimkan jotosannya ke rahangku. Aku terdorong beberapa langkah, tapi aku tak merasakan apa pun. Aku tersenyum dan menghampirinya.
Ia memukulku lagi. Aku tak merasakan pukulannya. Ia kembali memukul. Aku menerimanya bagaikan karung pasir. Ia memukuliku selama sekitar sepuluh menit, atau tiga puluh menit? Ia benar-benar kebingungan pukulannya tak berpengaruh apa-apa padaku. Hingga akhirnya aku melancarkan serangan balasan.
Satu pukulan mengirimnya ke samping pintu. Pukulan kedua membuat memar dahinya. Pukulan ketiga membuatnya terhuyung-huyung. Entah pukulan keberapa ia tersungkur di sudut kamar mandi dan darah mulai keluar dari ujung bibirnya.
“Ampun, ampun,” katanya.
Aku keluar dari kamar mandi. Aku tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menggigil.
Aku masih menggigil tapi juga dilanda kesenangan ketika membuka kunci pintu apartemen. Ketika aku masuk ke dalam, aku merasa ada orang di dalam apartemenku. Tentu saja itu Raisa, pikirku. Raisa memiliki kunci apartemenku, dan ia bisa datang dan pergi sesuka hatinya. Kadang-kadang ia tidur di tempatku, dan saat-saat seperti itu tentu saja kami akan bercinta. Pagi hari ia akan pulang, kembali ke rumah orang tuanya.
Kunyalakan lampu dan kulihat Raisa di tempat tidur. Yang tidak biasa, ia di sana tidak sendirian. Ia bersama seorang lelaki. Aku hanya duduk di sofa, sambil memandang mereka melalui pintu kamar terbuka.
Aku mencopot sepatu, melepas kaus kaki. Kupandangi tanganku yang penuh noda darah. Kuintip kembali Raisa dengan lelaki itu. Kudengar desahan suara Raisa yang sangat kukenal.
Kemudian segalanya selesai.
Ia turun dari tempat tidur dan menghampiriku. “Hai, sudah pulang?” tanyanya. Suaranya kukenal baik. Rohman.
Aku tak menjawab. Aku tak tahu apakah aku tertidur atau tidak. Mungkin di antara itu.
***
KEMUDIAN aku teringat apa yang dulu membuatku menangis berhari-hari di rumah Nenek. Malam itu, aku melihat Nenek di atas tempat tidur bersama si penjaga mata air. Kakek hanya duduk di dipan rotan. Pemandangan itu menakutkanku, dan aku menangis sejak malam itu.
Entah bagaimana aku bisa melupakannya. Tapi malam ini, bertahun-tahun kemudian, aku mengingatnya. Tapi aku senang-senang saja. Aku senang melihat darah di tanganku. Aku senang melihat Raisa mandi keringat di tempat tidur. Aku senang melihat Rohman berjalan telanjang ke arahku. Terutama aku senang memiliki jimat sero di saku kiri celanaku. (*)
“KAMU masih sering dipukul orang?” tanya teman lamaku, waktu kami berjumpa di rumah nenek, lebaran lalu. “Ya, enggak, lah,” jawabku sambil nyengir.

24 September 2015

Orangorang Tani

“Soal Agraria adalah soal hidup dan penghidupan manusia, karena tanah adalah asal dan sumber makanan bagi manusia. Perebutan tanah berarti perebutan makanan, perebutan tiang hidup manusia. Untuk ini, orang rela menumpahkan darah, mengorbankan segala yang ada demi mempertahankan hidup selanjutnya” (Mochamad Tauchid, 1952)

Dari sejarah peradaban manusia, petani adalah pekerjaan manusia paling tua. Petani di awal sejarah manusia, merupakan pekerjaan adaptatif manusia terhadap alam. Petani menandai suatu sistem pekerjaan yang meninggalkan polapola nomaden dengan cara hidup menetap. Dimulai dari pola kerja memungut hasilhasil bumi, berburu, dan meramu, bertani adalah jenis pekerjaan yang memungkinkan lahirnya kebudayaan awal manusia.

Arnold Toynbee, melalui Mankind and Mother Earth, menabalkan bahwa dengan cara hidup agraris perabadan purba pertama tumbuh dengan pesat. Dia bilang bahwa sejarah orangorang Sumeria atau Mesir tua adalah bersumber dari pemanfaatan tanah dengan cara membangun drainase dan dan saluran irigasi dengan mengubah rawarawa menjadi lahan pertanian. Melalui mekanisme itu, orangorang Sumeria dapat hidup menetap dan membangun peradaban regional disekitar sungai Tigris dan Eufrat.


Itulah sebabnya, asal mula kata kebudayaan (cultura) diambil dari konotasi yang sama dari makna bercocok tanam. Cultura dengan begitu mengandung dua hal; ikatan organik masyarakat dengan tanah, dan adat kebiasaan yang terbangun di atasnya.

Ikatan organik antara masyarakat dengan tanah, dapat dilihat dari terciptanya mitosmitos ataupun legenda yang menjadi ikatan kolektif di masyarakat. Di pulau Jawa dan  Bali ada legenda ratu padi, yang menjadi perlambangan bersama dari masyarakat petani untuk menjaga ikatan kolektif di antara mereka. Legenda ratu padi adalah medium masyarakat petani dalam menempatkan pemanfaatan tanah sebagai moda produksinya. Ratu padi sebagai simbol kolektif di tatanan masyarakat petani, mengambil bentuk yang feminin untuk menandai bahwa tanah begitu erat dengan ibu sebagai tanda pengayom bagi masyarakat.

Legenda ratu padi di masyarakat Jawa misalnya, telah menjadi kebiasaan seturut tumbuhnya praktikpraktik kulturalnya. Upacara sekaten yang acapkali disebut sebagai upacara grebeg mulud, adalah penjelmaan syukur kolektif di saat menjelang hari panen. Di masyarakat Sunda, ada upacara yang disebut seren taun yang  digelar tiap tahun untuk menghormati ratu padi. Upacara ini digelar dengan melantunkan kidungkidung atau pantun dengan maksud mengundang kedatangan ratu padi untuk memberikan berkah kepada bibit padi dan kesuburan selama masa tanam hingga panen.

Tapi masamasa tanam berubah menjadi masamasa kerja, tanah dialihfungsikan, pabrik di manamana berdiri.

Ketika kebudayaan bergerak, petani menjadi kelompok yang tereksklusi pelanpelan dari penguasan atas tanah.  Industrialisasi sebagai tatanan baru, mengubah kerja tradisional menjadi bentuk kerja baru yang disepuh dengan semangat individualisme. Kolektivisme yang semula adalah semangat bersama yang mengikat, akhirnya terbelah atas modernisme  yang memperkenalkan etika baru untuk berproduksi; individualisme.

James Scoot, mempercakapkan perubahan etika itu dari yang disaksikannya di Asia Tenggara. Petani, seperti yang dibilangkannya, merupakan suatu kesatuan yang memiliki sistem kebudayaan tersendiri atas praktikpraktik kehidupan yang dialami dalam mengelola tanah. Dari percakapannya, ia menyebut moral ekonomi petani berbeda dengan tatanan moral baru yang digemboskan dari praktikpraktik ekonomi kapital. Petani, dengan seluruh jaringan kerjanya memiliki ikatan yang diniatkan untuk mendorong kerjasama antara mereka dengan ikatan patron-klien dibandingkan harus didorong dengan semangat rasional kapitalisme.

Berdasarkan pengamatannya, perubahan yang dibawa oleh inovasiinovasi teknologi, banyak merusak hubunganubungan produksi masyarakat petani sehingga mendorong banyaknya perlawanan petani di Asia Tenggara. Selain itu, moral ekonomi petani yang didasarkan pada ikatan subsisten, sangat bertolak belakang dengan semangat individualisme yang menjadi moral dasar dari tatanan baru.

Di Indonesia sendiri, perlawanan petani terhadap kekuasaan tatanan baru direkam dalam pembukuan yang ditulis Sartono Kartodirdjo; The Peasant Revolt of Banten in 1888. Dari yang diliterasikannya, perlawanan petani terhadap bentukbentuk kolonialisasi sudah bermula dari awal abad 19. Melalui politik tanam paksa, petanipetani Nusantara dibajak dengan cara kekerasan untuk menaklukkan tanahtanah yang dikuasainya. Bahkan melalui tanah, desadesa di Nusantara, menjadi titik mula dari penjajahan orangorang  Eropa terhadap pribumi.

Di desadesa, dibandingkan dari daerahdaerah pusat lainnya. pertarungan kekuasaan politik dan perebutan sumbersumber daya ekonomi begitu tampak. Perebutan tanah sampai detik ini masih di alami oleh petanipetani pedalaman terhadap korporasikorporasi besar. Kasuskasus di Rembang, Ujung Kulon Banten, Takalar, Bulukumba, Nusa Tenggara merupakan persoalan yang sampai hari ini belum menemukan jalan keluarnya.

“Dalam 2014 sedikitnya terjadi 472 konflik dengan luas mencapai 2.860.977 hektar. Konflik ini melibatkan sekitar 105.887 keluarga. Dari jumlah itu, konflik agraria menyangkut infrastruktur terkait MP3EI sekitar 1.215 (45,55%). Disusul perkebunan 185 kasus (39,19%), sektor kehutanan 27 kasus (5,72%), pertanian 20 (4,24%), pertambangan 12 (2,97%), perairan dan kelautan empat kasus (0,85%, dan lain-lain tuh konflik (1,48%).  Jika dibandingkan dengan 2013, terjadi peningkatan sebanyak 103 kasus (27,95). Catatan KPA, periode 2004-2014, terjadi 1.520 konflik, dengan luasan 6.541.951 hektar, melibatkan 977.103 keluarga.” (Konsorsium Pembaruan Agraria)

Begitulah yang dicatatkan Konsosrium Pembaruan Agraria.  Tanah dalam skema besar korporasikorporasi merupakan komoditi dalam agenda perluasan kapital. Artinya dalam logika demikian, kapital yang merupakan inti dari ekonomi modern adalah nafas yang menggerakkan  perekonomian masyarakat kapitalis yang berbasikan industrialisasi.

Industrialasi memang banyak mengubah wajah peradaban, tapi peradaban tak selamanya berarti industrialisasi.

Bagaimanapun petani seperti yang dinukilkan Karl Polanyi dalam The Great Transformasion punya perspektif bahwa “tanah dan kekayaan alam bukanlah komoditi atau barang dagangan, dan tidak sepenuhnya bisa diperlakukan sebagai komoditi. Memperlakukan tanah (dan alam) sebagai barang dagangan dengan memisahkannya dari ikatan hubungan-hubungan sosial yang melekat padanya niscaya akan menghasilkan guncangan-guncangan yang akan menghancurkan sendi-sendi keberlanjutan hidup masyarakat itu, dan kemudian akan ada gerakan tandingan untuk melindungi masyarakat dari kerusakan yang lebih parah”.

Itulah mengapa, orangorang tani begitu kuat ikatan terhadap tanahnya, sebab di atas tanah tak ada hirarki kekuasaan yang layak berdiri.


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...