11 Agustus 2009

Surat untuk Sahabat

Tahukah ternyata perubahan itu letaknya dibelakang….; disana ada kisah, keluh kesah, pembelengguan, pembebasan, cawan air mata dengan bingkai emosi yang meledak-ledak. Tersembunyi dalam altar pikiran yang tajam nan progres. Hadirlah disana engkau yang bagiku senantiasa berkontradiksi, menjadi sahabat sekaligus saudara, teman sekaligus lawan, belakang sekaligus depan. Benar, keduaan kita senantiasa berawal dari satu yang sama. Sedianya engkau berkata dalam batinku; jangan berhenti. Sudahkah engkau tengok,  dari cawan yang sama kita menimba gunung kita masing-masing. Hingga tak sadar waktu menjadikan kita berbeda; kita tak sama, kita saling berlomba, namun sedianya kita masih dalam satu ruang yang sama, altar yang sama, menara yang sama. Dimana kita berdiri melihat, menerawang, mendiskusikan sebuah penantian akan kebebasan, idealisme dan keadilan.

Duhai engkau yang menjadi penempa semangatku dikala ruang baru kekenali. Tahukah engkau dari watakmu aku belajar, karaktermu aku menilai, senyummu aku sayang dan dari marahmu aku memahami. Benarkah jika proses itu bukanlah mengenali? melainkan mengingat. Mengingat dari yang Ada. Salahkan jika ini salah bagimu, karena kutahu engkau memiliki sejumlah perbedaan denganku, tapi jangan pernah engkau singkirkan dari kepalamu yang tak berhenti bekerja bahwa kita berakar dari buku-buku yang sama, kamar yang sama, piring yang sama bahkan sabun yang sama, tapi aneh bagiku kenapa kita senantiasa tak pernah mengingat kenapa itu terjadi?

Wahai kawanku memilih adalah keharusan, berjalan adalah kemestian, pilihanmu adalah penghargaanku, jalanmu adalah nilai bagaiku, kata-katamu adalah pikir bagiku sedang suaramu adalah memoriku. Walaupun jalan terlihat bercabang, waktu dirasa berbeda, ruang dipikir berlainan, kita adalah anak manusia yang senatiasa berkontradiksi dalam unsur tanah yang sama dikawah langit yang sama. Hanya saja kita memiliki salah satu ruang dalam kepala kita yang mungkin saja berbeda. Tapi ketika engkau berfikir aku pun menggunakan alat yang sama denganmu. Bukankah ini persamaan kita.


20 Juni 2009

Surat untuk Sahabat; Mengenang

Sejarah pastilah sekumpulan kisah yang terajut ikatan waktu dan barangkali abstrak dalam kepala. Setidaknya itu, Duhai sobat yang dengan kata engkau menafsirkan rasa lewat imajimu. Tak disadari kita menjadi Sang Alkhemis, manusia dengan imaji masing-masing. Tentunya engkau masih mengingat buku yang lapuk oleh tangan kita; yang bergantian mengejanya. Buku yang bertutur tentang Santiago, anak yang menggembala dengan domba-dombanya mencari hakiki hidup. Berbaring dengan tebal buku diselimuti alam, dimana gemintang adalah syair-syair yang selalu ia senangi. Pernahkah engkau ingat itu Sobat? Kita mungkin berjalan dengan Al Khemis masing-masing, cuman bedanya kita tak memiliki domba untuk digembalakan, kita adalah imaji dengan domba yang abstrak.

Setidaknya engkau masih menyimpan memori. Ingatan memori yang terperangkap jauh dari kepala kita. Dimana dalam sudut kamar-kamarmu yang laksana kapal pecah, disanalah kita menghabiskan waktu dan kata untuk bertukar rasa. Menjerat diri dalam hiruk pikuk yang entah kita pahami. Dengan satu lembaran tebal Sang pemimpi, kita menjejalkan batu-batu untuk naik di langit kepala masing-masing. Mulailah kita memiliki endapan masa depan untuk melabrak zaman yang edan. Dari buku itu pun kita selalu menjalani hari dimana kue-kue perasaan menjadi perayaan. Alangkah indahnya kenangan itu?

Tibalah engkau memiliki impian dengan belahan yang jiwa. Merangkai nasib untuk masa yang bergelimangan air mata. Mulailah kita memiliki bumi yang berbeda. Tetapi aku hargai pilihanmu, pilihan yang bagimu adalah hidup yang konsekuen, hidup yang olehnya aku belajar. Wahai sobat ingatlah kita setidaknya pernah satu senyuman, satu kemarahan dan satu atap. Sedianya engakau jangan sisihkan pada hari tuamu kelak..Bicarakan tentang kami, satu yang revolusi baginya jalan dan satu yang olehnya revolusi bukanlah letupan. Duhai kawan, kita adalah luapan dari kisah yang belum usai.

Tulisan tahun 2009; berdasarkan ingatan


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...