04 Agustus 2020

Esai Seri Kritik Pendidikan (2): Frantz Fanon, Luce si Murid Unggulan dan Sekolah Merdeka


(Proses belajar mengajar belakangan ini, menimbulkan banyak keluhan para orangtua siswa dikarenakan proses belajar dari rumah tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Banyak orangtua siswa mengeluh, peralihan mengajar yang berpusat dari guru ke dan melalui screen gawai, menimbulkan masalah teknis berupa miskomunikasi, turunnya konsentrasi belajar, gaptek teknologi, dan bahkan ada yang mesti meminjam gawai tetangga agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar. Ini hanya satu dari banyaknya masalah dalam bidang pendidikan saat ini. Mau tidak mau, sekolah dan konsep belajar hari ini mesti dievaluasi ulang untuk menemukan rumus yang pas agar menyelamatkan sekolah dari gulung tikar. Selain tulisan di bawah ini, di sini saya sertakan dua tulisan ringkas mengenai masalah pendidikan kontemporer: Esai Seri Kritik Pendidikan (1): Scola Matterna, dan  tulisan yang lebih panjang--masih menyoal pendidikan-- dapat dibaca di Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton. Untuk versi rekam-suaranya dapat didengarkan di Seri critical pedagogy)

 

BELUM lama ini, saya baru saja menonton Luce (2019), film drama yang lumayan membingungkan dikarenakan menyisipkan banyak tanda tanya di hampir setiap adegannya. Mimik muka, intonasi suara, gerak tubuh, dan tentu juga dialognya, adalah hal-hal detil yang mesti diperhatikan lebih seksama untuk  memahami jalan cerita film besutan Julius Onah ini.

Luce dari sudut tertentu adalah film tentang pendidikan—atau berlatar kehidupan sekolah yang menyorot kehidupan siswa siswi di sekolah tingkat atas: kegiatan belajar, konflik, ambisi siswa, solidaritas kelompok, persahabatan, kehidupan asmara, dan relasi murid-guru.

Luce bercerita tentang anak cerdas kulit hitam di sekolah menengah atas, yang dikhawatirkan akan berbuat ”sesuatu” pasca Harriet Wilson (Octavia Spencer), seorang guru sejarah dunia, menugaskan murid-muridnya menulis esai tentang tokoh sejarah.

Luce Edgar (Kelvin Harrison Jr.)—seorang siswa cerdas dan bintang sekolah—menulis esai tentang Frantz Fanon, filsuf sekaligus tokoh revolusioner Pan-Afrika, yang mengangkat gagasannya terutama ide-ide pemberontakan Fanon mengenai kekerasan yang dinyatakan dapat menjadi pengendali dalam tatanan dunia.

Esai ditulis Luce itu membuat cemas Harriet, yang mengkhawatirkan gagasan pemberontakkan ala Fanon tengah bersemayam di benak Luce.

Bagi, Harriet, esai itu bukan sekadar tugas biasa, yang ditulis seorang bintang sekolah, melainkan suatu penanda bahwa suatu ide-ide radikal bakal mempengaruhi cara pandang orang seperti Luce.

Luce sebelum diadopsi pasangan suami istri Amy Edgar (Naomi Watts) dan Peter Edgar (Tim Roth)—yang merawatnya seperti anak sendiri dengan memberikan kehidupan dan pendidikan terbaik bagi Luce— adalah anak yang lahir dan tumbuh berkembang di Eritrea suatu tempat yang disebut sedang dilanda konflik dan perang berkepanjangan.

Kemiskinan dan kehidupan anak-anak liar adalah dua hal yang membentuk Luce sejak kecil: sulit diatur, denial, dan asosial. Dengan latar belakang demikian, Harriet berkeyakinan ”sesuatu” bakal terjadi dengan Luce, dan itu akan merusak masa depan Luce yang cemerlang. Ya, Luce diproyeksikan sebagai murid percontohan sekolah, ia bahkan menjadi murid favorit guru-gurunya, dan mendukungnya untuk belajar sampai ke tingkat lebih tinggi.

Kecurigaan, atau lebih tepatnya ketakutan Harriet semakin menjadi-jadi pasca ia menemukan kembang api ilegal berdaya ledak besar di loker Luce—ia mengambilnya tanpa sepengetahuan dengan cara menggeledah loker Luce, yang berarti melanggar privasi, sesuatu yang sangat dijunjung tinggi di negeri semacam Amerika Serikat.

Dari sini konflik bermula yang melibatkan kecurigaan, prasangka, dan emosi, antara Harriet dengan Luce, dan antara Luce dengan kedua orangtuanya—setelah Harriet memanggil Amy, ke sekolah, khusus menceritakan kecurigaan dan temuan kembang api Luce.

Konflik ini praktis menjalar kemana-mana, merongrong kepercayaan Amy dan Peter Edgar terhadap Luce, yang terkejut dengan sisi misterius Luce setelah kasus esai dan kembang apinya, dan kemudian membuat Luce terlempar ke titik asing dan ganjil di hadapan kedua orangtuanya.

Karena film ini berlatar kehidupan sekolah, terutama konflik antara guru dan murid (orangtua), maka refleksi-refleksi atas film ini—menurut saya—dapat dihubungkan dengan isu-isu pendidikan  terutama jika dilihat dari kacamata critical pedagogy (pendidikan kritis).

Harmoni dan perubahan

Term harmoni, untuk tulisan ini, lebih tepat diganti stabilitas, jika itu dipandang dari sudut pandang Harriet, guru yang mengkhawatirkan Luce bakal terpengaruh gagasan pemberontakan Frantz Fanon. Dalam hal ini, Harriet mendukung paradigma kehidupan yang lebih mementingkan stabilitas dari pada perubahan, meskipun itu belum tentu bakal mengancam tatanan yang sudah ada. 

Dari kacamata critical pedagogy, Harriet mewakili kemapanan sekolah, yang melihat Luce sebagai ancaman, terutama ketika Luce menulis esai dengan mengangkat tokoh sekaliber Frantz Fanon.

Itu artinya, kemerdekaan berpikir dan kebebasan mengutarakan gagasan, yang menjadi inti pendidikan liberal, yang dilakukan Luce, kontraproduktif dengan pandangan pendidikan sekolah yang mengutamakan stabilitas dan kemapanan.

Anda boleh menulis apa saja, tapi jangan menyasar hal ihwal yang bisa mengganggu kemapanan sekolah, begitu kira-kira aturan main tersembunyi dalam benak Harriot.

Perubahan (social change) bagi tatatanan yang mengandalkan keharmonisan, akan dianggap menganggu dan anomali. Dalam konteks pendidikan atau sekolah tempat Luce belajar, itu berarti gagasan Fanon yang ditulis Luce adalah hal berbahaya bagi tatanan. Sekolah dalam hal ini, dapat dikatakan institusi yang ikut mengekalkan status quo masyarakat. Ia menjadi lembaga, yang boleh jadi mewakili pandangan kelas tertentu, agar ide-ide perubahan tidak mengubah kepentingan yang sudah lebih awal disepakati.

Rasialisme

Penting untuk juga menyorot Luce dan Harriet, sebagai orang kulit hitam yang mewakili suatu kaum, dan kedua orangtua Luce yang berlatarbelakang kulit putih. Sepintas akan kelihatan bahwa film ini tidak ada masalah dengan rasialisme dengan mengangkat latar belakang keluarga Peter Edgar dan Amy Edgar yang mengadopsi Luce, seorang anak kulit hitam.

Dari segi ini, patut memerhatikan detil adegan atau cara pandang DeShaun (Brian Bradley) saat ia terlibat pertengkaran dengan Luce, mengenai di mana keberpihakan Luce apakah membela Deshaun— teman Luce yang dihukum karena kedapatan mengonsumsi ganja—yang notabene murid kulit hitam, atau mengedepankan prestasinya yang dipuja sekolah, yang dinilai representasi masyarakat kulit putih.

Meski adegan itu cukup sepintas dan seolah-olah hanya pertengkaran antara dua remaja anak SMA, refleksinya dapat ditarik dari pandangan pasca-kolonialisme. Luce bisa dikatakan mengalami dilema identitas antara latar belakangnya sebagai kulit hitam dengan kehidupan barunya yang lebih mewakili kebiasaan, cara berpikir dan merasa, melalui pengasuhan dan dididikan berdasarkan keluarganya yang berlatar masyarakat kulit putih.

Ini sama dengan apa yang dikatakan Fanon sendiri melalui bukunya: Black Skin, White Mask, tentang gejala alienasi akibat superioritas masyarakat kulit putih saat memandang rendah masyarakat kulit hitam yang mengakibatkan orang kulit hitam mesti melihat dirinya dari kacamata masyarakat kulit putih.

Kesalahan mengidentifikasikan diri ini, tidak saja berlaku pada kegiatan berdimensi politik, dan ekonomi, melainkan besar pengaruhnya pada dimensi kebudayaan, yang dalam konteks film ini dapat dikerucutkan pada aspek pengasuhan melalui keluarga dan pendidikan sekolah.

Luce adalah contoh—jika dapat mewakili bangsa-bangsa kolonial—mengenai bisa langgengnya suatu penjajahan disebabkan kekuasaan atas nama ras atau bangsa, dapat berlangsung dengan waktu yang lama dan tidak disadari melalui penciptaaan situasi ketergantungan (hegemoni) terhadap bangsa yang lebih superior melalui pendidikan dan kebudayaan.

Refleksi

Institusi pendidikan berupa sekolah atau perguruan tinggi, melalui critical pedagogy dilihat sebagai institusi yang berdiri dan beroperasi atas tuntutan imperatif ideologi dominan. Itu artinya intitusi pendidikan bukan lembaga yang kebal dari tarik ulur kekuasaan dalam dimensi politik dan ekonomi.  Ia, menurut analisis Bourdieu dan Foucault, senantiasa menjadi medium kepentingan elite tertentu dan kekuasaan untuk menciptakan situasi normal demi mendukung kepentingan bersangkutan.

Di tanah air, selain dari pada kemiripan di atas—kampus dan sekolah yang mewakili pandangan kekuasaan—juga menjadi lembaga yang mengalami liberalisasi dan swastanisasi, yang menyebabkan pengelolaan keduanya menjadi korporasi. Imbasnya, kegiatan pembelajaran, penyusunan kurikulum, penelitian, seminar, pengabdian masyarakat, kegiatan organisasi, dan pengambilan kebijakan, berubah orientasinya yang semula mengarah ke pengembangan peserta didik dan ilmu pengetahuan, menjadi sekadar pencarian profit material belaka.

Dalam suasana demikian, ketika pendidikan dikapitalisasi dan dipolitisasi, wacana atau gagasan yang bermuatan politis, atau berdimensi perubahan sosial, akan dideteksi sebagai ancaman bagi stabilitas institusi pendidikan. Di kampus, kontrol atas wacana, kegiatan organisasi, peredaran buku-buku kritis, dan seminar-seminar berorientasi perubahan akan dicap sebagai kegiatan ilegal. Dosen atau mahasiswa yang terlibat dengan kegiatan serupa akan diidentifikasi sebagai ancaman yang perlu dihambat karier dan studinya.

Di sekolah-sekolah, penggambarannya lebih mengerikan lagi. Murid-murid dilatih membaca dan menulis sesuai intruksi guru yang berposisi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Murid akan dianggap menyimpang jika menunjukkan gejala berlainan apabila ditemukan melakukan improvisasi atau pengembangan pendekatan dalam memecahkan suatu soal. Sistem dikte yang masih ditemukan di sekolah saat ini, merupakan metode kontrol pikiran agar murid dapat digolongkan ke dalam satuan-satuan yang seragam dan serupa.

Dari kacamata pasca-kolonial, sekolah sangat berpotensi melanggenggkan pandangan inferior sebagai bangsa terjajah. Sekolah atau perguruan tinggi, jika tidak segera mengembangkan sendiri pandangan filosofi dan pendekatan pembelajarannya, yang berangkat dari kesadaran mandirinya, akan selamanya menjadi alat tidak langsung dalam mentransmisikan pandangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang mengkultuskan Barat sebagai kiblat kemajuan.

Sekolah-sekolah dengan posisi seperti itu akan terus melahirkan generasi berkepribadian kerdil dan terasing, dikarenakan diajarkan dan dididik dengan cara sesuai pandangan, perasaan, dan hasrat pihak penjajah. Dengan kata lain, merdeka belajar atau kampus merdeka, yang sering kita dengarkan sekarang hanyalah menjadi slogan politik semata apabila masalah mengenai ”kepribadian” sebagai bangsa  berdaulat belum dituntaskan dari awal.


03 Agustus 2020

Esai Seri Kritik Pendidikan (1): Scola Matterna


(SEKOLAH kali ini mesti dirumuskan ulang. Terutama strategi saat menghadapi korona. Jika korona tidak berakhir dalam waktu dekat ini, maka bisa saja sekolah akan tidak ada. Atau setidaknya pertemuan tatap muka, yang selama ini dilakukan bakal bergeser ke layar smartphone. Jika begini, masalah pendidikan akan makin banyak. Salah satunya adalah masalah kultural tentang interaksi siswa dengan teknologi canggih. Sebelum itu terjadi, di bawah ini adalah dua tulisan tentang pendidikan, yang ditulis di waktu berdekatan. Tulisan yang lebih panjang--masih menyoal pendidikan-- dapat dibaca di Pendidikan dan Aib: Takdir Hidup si Automaton. Untuk versi rekam-suaranya dapat didengarkan di Seri critical pedagogy)
 

FONDASI pendidikan, kini, jadi makin runyam. Akibat korona berkepanjangan, sekolah nyaris rontok. Buku absen salah sedikit tutup buku. Guru dan siswa meripuh. Kepala sekolah sampai menteri, bekerja memburu waktu memikirkan rumus kebijakan yang tepat. Jika semua salah antisipasi, sekolah akan tinggal gedung kosong dan halaman upacara yang melompong.

Tapi, untung saja, sekolah hari ini tidak ingin kehilanga muka. Berkat teknologi informasi komunikasi, dan juga cara bersiasat dengan keadaan, kebijakan menteri Pendidikan dan Kebudayaan mendorong para guru mengajar online jarak jauh. Tidak sekadar mengajar seperti biasa, kegiatan ini  mesti dilambari cara mengajar kreatif dan inovatif dibandingkan keadaan sebelumnya—implikasi ”merdeka belajar”.

Omong-omong soal belajar online, sadar tidak sadar, para guru di era digital dikepit dua tuntutan sekaligus: kebijakan ”merdeka belajar”, dan sudah pasti, berhadapan dengan beragam jenis medium pembelajaran maya.

Mau tidak mau, saat semua serba digital, para guru mesti berjibaku ”melawan” beragam aplikasi belajar dengan misi sekolah virtual. Sebut saja beberapa aplikasi semisal, Rumah Belajar, Kelas Pintar, IndonesiaX, dan Ruang Guru, yang getol bersosialisasi melalui hampir di semua jaringan televisi, dengan keanggotaan tenaga didik yang difasilitasi peralatan canggih saat membuat video tutorial belajar.

Walaupun Kemendikbud sudah bekerja sama dengan aplikasi-aplikasi semacam itu, dengan maksud meringankan kerja sekolah dan guru, namun tetap saja, tugas-tugas guru tidak otomatis menjadi lebih mudah.

Di saat menjalankan tugasnya, para guru akan bersaing dengan ”guru-guru” digital yang lebih friendly dan praktis saat menjelaskan materi belajar. Secara teknis, dalam jangka waktu lama, persaingan ini akan mengubah posisi dan peran kultural guru sekolah. 

Lama kelamaan—yang makin dirasakan—guru-guru akan bernasib sama dengan profesi semisal tukang pos atau teller bank, yang hilang diganti oleh medium teknologi informasi canggih. Meski ini prediksi para ilmuwan sosial, tetap saja zaman kekinian menunjukkan tanda-tandanya. Dua di antaranya sudah disebutkan di atas: kemunculan aplikasi belajar, dan kecenderungan digitalisasi sekolah.

Itu satu soal, terutama yang dirasakan sekolah di kota-kota maju, yang notabene lebih memadai segi infrastruktur ketimbang sekolah-sekolah di pelosok. Jika guru-guru di kota sengit bersaing merebut posisi pedagogis dengan beragam aplikasi canggih tutorial belajar, di desa-desa atau pelosok, masalahnya lebih parah lagi.

Jaringan tidak merata adalah masalah tersendiri di desa-desa. Belum lagi faktor ekonomi masyarakat desa tidak seperti keluarga masyarakat perkotaan. Anak-anak di desa masih berada dalam kondisi belum begitu intens terpapar gawai, yang berbeda dari anak-anak perkotaan bahkan tidak sedikit sudah memiliki smartphone sendiri. Dikarenakan ini, timbullah inisiatif sekolah mengirim guru-gurunya turba (turun ke bawah), datang berkunjung dari rumah ke rumah mengajar langsung mengatasi kelangkaan dan ketidaktahuan pemanfaatan smartphone.

Seperti juga institusi publik lainnya, mengatasi kerunyaman di atas, sembari meringankan beban  sekolah, kini mau tidak mau, sekolah terlihat mengandalkan satu-satunya lembaga sosialisasi tertua dan pertama untuk menjalankan fungsi pedagogisnya: keluarga.

Ya, ketika kini banyak lembaga-lembaga publik berhenti, atau membatasi aktivitasnya—termasuk sekolah—keluarga adalah satunya-satunya entitas terakhir yang diharapkan bisa menjalankan agenda-agenda publik selama ini. 

Sekolah, memang awalnya tumbuh bersama keluarga. Terutama dari kegiatan waktu luang keluarga. Dulu orang Yunani antik, di waktu luangnya, terbiasa berkunjung ke seorang cerdik pandai untuk berkonsultasi mengenai banyak hal. Tidak sekadar berkonsultasi, dari ”kongkow-kongkow”  itu mereka berdialog tentang segala ikhwal yang muncul dari pertanyaan-pertanyaan penting menyangkut eksistensi kehidupan mereka.

Kongkow-kongkow di waktu senggang itulah yang oleh orang Yunani sebut  sebagai scole atau scola (skolae: Latin, school: Inggris), yang arti harfiahnya memang ”waktu luang”.

Lambat laun, keluarga-keluarga pati ini menurunkan kebiasaan ber-scola kepada anak-anak agar dapat menggantikan posisi mereka jika sudah dewasa.

Kenyataannya, kegiatan ini makin sering dan menjadi kebiasaan umum, dan mengubah sebagian fungsi pengasuhan keluarga sebagai scola matterna (pengasuhan ibu) menjadi scola in loco parentis (pengasuhan di luar rumah yang memanfaatkan waktu senggang), yang dilakukan  di bawah bimbingan cerdik pandai selama waktu luang tersedia bagi anak-anak. 

Kelak, lembaga-lembaga yang meneruskan sebagian fungsi pengasuhan keluarga ini—sekolah atau perguruan tinggi—akan disebut alma matter (ibu asuh yang memberikan ilmu).

Sekarang, saat ruang kelas kosong, ketika ”waktu luang” melimpah, dan perhatian belajar anak tertuju di atas layar smatrphone, coba tengok di dalam rumah-rumah, apakah keluarga masa kini masih mempertahankan fungsi scole-nya atau tidak?

Ketika pandemi institusi sekolah masih terhambat di soal-soal teknis, apakah keluarga sudah memiliki ”agenda-agenda” tersendiri yang setara untuk mengganti model belajar di sekolah?

Apakah keluarga saat ini, karena perubahan situasi tiba-tiba, tidak memiliki sama sekali pedagogi alternatif yang bisa diterapkan dalam lingkup kehidupan keluarga? Apakah para orangtua bersukacita dapat lebih dekat dengan anak-anaknya untuk bermain dan belajar?

Dengan kata lain, apakah para orangtua, di saat ini, masih bisa mengubah keluarganya menjadi scola matterna

Jika tidak, apa sebenarnya yang terjadi, mengingat banyak keluhan—ada yang sampai depresi dan bunuh diri—orangtua murid akibat sekolah mesti ”dirumahkan”?

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...