12 Juni 2020

Melambari Ajal: Mati Eksistensialis ala Martin Heidegger


Di atas mimbar-mimbar, nasib umat manusia dipelantang para da’i sebagai rahasia Tuhan. Ia ”hukum besi” di bawah kolong langit yang telah dan akan menjadi takdir sejarah manusia. Kejadiannya adalah peristiwa gaib yang hanya diketahui sang Maha gaib, meski di waktu bersamaan di panggung seni peran, seringkali ia dijadikan frase kop tema serial sinetron ”sabun”, yang semena-mena mengartikan rahasia ilahi sebagai azab kematian yang berakhir kejam dan menyakitkan.

Kiwari, kematian semakin akrab ditemui. Di layar kaca, kekuasaan menarik kematian dari pengalaman otentik manusia, menjadi permainan bahasa yang dipakai bergantian dengan kata-kata semisal ”social distancing”,”physical distancing”, ”work from home”, ”PSBB”, ”new normal”; di dalam kekuasaan, kematian, diksi yang bisa dibongkarpasang seiring kebutuhan informasi di depan lensa kamera. Mau bagaimana lagi, era korona membuat kematian seolah-olah peristiwa remeh temeh seperti banalnya informasi di era digital.

Kematian, meski kenyataannya adalah takdir intim milik si manusia bersangkutan, di kancah kehidupan masa pagebluk korona, hanya menjadi satu dari sekian kategori statistik di hadapan corong kekuasaan. Ia hanya menjadi angka-angka massal di atas kertas tanpa memberikan makna kesadaran.

Manusia ditilik dari pengertian eksistensialnya adalah makhluk bebas dan merdeka. Ia makhluk dengan kemampuan berkemungkinan (possibility) menjadi apa saja. Jika takdir adalah bentangan angka-angka interval 1-9999… maka manusia bisa memilih beragam pilihan di dalam angka takdir yang tersedia. Anda bisa memilih angka 7, 85, 22, 90, 54, yang bisa berarti apa saja di kenyataan konkret sehari-sehari.

Meski demikian, kematian adalah batas di balik beragam kemungkinan yang tersedia. Ia adalah faktisitas dari eksistensi manusia. Ketika ajal sudah tiba berakhirlah beragam kemungkinan manusia.

Matilah sebelum Anda mati. Ini frase berbobot eskatologi yang dipakai dalam dunia sufisme untuk membetot kesadaran, yang kurang lebih berarti jadikanlah kematian sebagai tonggak kesadaran. Kematian mesti melambari keinsafan, mesti menjadi asas kehidupan agar jiwa awas dan mawas memilih kemungkinan takdirnya. Sering-seringlah mengingat kematian sebelum ajal mendatangimu, begitu pesan Rasulullah.

 

TIDAK banyak perencanaan hidup dapat direalisasi di masa korona. Meski sudah dinyatakan memasuki masa kenormalan baru, tetap saja tubuh sulit merealisasikan gerak spasialnya. Bahkan jiwa sulit dikerahkan maksimal meski sudah dilatih tiga bulan lamanya untuk beradaptasi menghadapi kenyataan baru.

Di antara terhambatnya ruang gerak tubuh, kecamuk ide, dan realisasi program negara yang tidak maksimal, tubuh dan jiwa kali ini terancam diceraikan oleh kematian. Tubuh terdesak berubah menjadi jasad tanpa gerak-gerik di bawah tanah, dan jiwa dibiarkan lekas ”naik” menuju alam pengakhiran.

Kematian, menilik pendakuan eksistensialisme Martin Heidegger mesti dialami di bawah terang penghayatan Dasein. Manusia biar bagiamanapun merupakan makhluk berkemampuan menceburkan dirinya ke dalam kehidupan (being).  Ia memiliki piranti penghayatan untuk menemukan keontentikan dirinya melalui faktisitas yang sudah ia bawa sejak awal kehidupan: ajal.

Seharusnya, kematian  yang telah menjadi berita faktual sehari-hari mendorong manusia untuk menyelami hakikat eksistensial dirinya. Ajal yang sudah menjadi kepastian mesti menjadi kapasitas kesadaran untuk menginspirasi bagaimana cara berada manusia di tengah pagebluk abad 21 ini.

Setidaknya selama ini ada dua narasi utama dalam merespon kematian yang diakibatkan korona, yang sama-sama tidak produktif mengangkat kesadaran manusia hingga ke level eksistensial.

Pertama, amplifikasi narasi fatalistik sebagian kelompok agama yang mengkanalisasi ketakutan terhadap korona hanya kepada tempatnya yang paling patut, yakni Tuhan semata. Dengan volume epistemologi tauhid yang aneh, mereka mengkotak-kotakkan ketakutan antara Tuhan dan ciptaannya. Dalam hal ini takut kepada korona sama artinya tidak takut kepada Tuhan.

Kedua adalah analisis pseudosains yang terejawantah di dalam teori konspirasi. Menurut pandangan ini, korona adalah ciptaan korporasi-korporasi medis dan lembaga-lembaga internasional tertentu yang bertujuan khusus menguasai sektor-sektor penting kehidupan umum.

Kedua narasi ini bukannya tanpa dukungan. Terbukti di masing-masing pihak menjamur kelompok-kelompok dengan ciri yang sama: antivaksin, fatalistik, antipemerintah, bebal, dan menganggap rendah kematian.

Itu artinya, bukan saja oleh negara yang melihat kematian sebagai angka statistik belaka, bagi kedua persekongkolan ini, kematian didudukkan tanpa konsep gairah dan inspirasi. Toh jika kematian berisi konsep, ia malah dimanipulasi sebagai kebekuan jalan jihad dan kering tanpa dasar penghayatan sama sekali.

Martin Heidegger membedakan dua jenis kematian. Ini berkaitan dengan dua hal sekaligus, yakni, pertama angst, sejenis rasa kecemasan yang dirasakan manusia dalam menghadapi kematian,  dan kedua, sikap kepercayaan terhadap kematian yang sudah pasti berakhir digenapkan ajal.

Matinya kucing, tikus, atau televisi, tidak sama dengan matinya manusia sebagai Dasein. Kematian binatang seperti kucing dan tikus adalah kematian (off liven) yang datang menyergap tanpa yang bersangkutan menyadarinya. Sementara cara Dasein berakhir merupakan kematian yang direncanakan, kematian yang disadari dan mewarnai keseluruhan eksistensi Dasein (sterben) oleh dorongan kecemasan.

Heidegger menciptakan istilah khas berkaitan dengan sikap otentik ini dengan nama vorlaufen. Arti kata ini adalah ”berlari ke depan” yang diartikan sebagai ”antisipasi”. Mengantisipasi kematian terjadi manakala Dasein mengalami kecemasan eksistensial di saat krisis menghadangnya, yaitu dengan cara menentukan pilihan arah kehidupannya ke depan.

Lalu, bagaimana kematian dan keputusan eksistensial dapat saling berhubungan satu sama lain? Keputusan adalah pilihan untuk mengantisipasi yang akan datang. Kita hidup di dalam 1001 kemungkinan yang peluangnya sama besar untuk dipilih sebagai keputusan. Sikap berani menghadapi kemungkinannya yang paling khas ini tak lain daripada sikap membuka diri terhadap kematian sendiri, karena dengan kematian kita dihadang oleh kemungkinan kita yang paling singular.

Itu artinya, cara Dasein hidup ditentukan atas keterbukaannya terhadap kematian. Karena ia menyadari (angst) kematian adalah akhir yang bakal menggenapkan keseluruhan eksistensinya, maka sebelum ajal datang, manusia mesti memilih cara kematian yang paling mewakili dirinya (Ada menuju kematian).

Inilah saat Dasein menyadari keterbatasannya dengan menyongsong kematian yang mendasari kemungkinan-kemungkinan eksistensinya. Anda ingin berakhir melalui ajal di masa pengabdian kemanusiaan, atau berakhir tragis di sudut gelap sel penjara.

Kehidupan Dasein yang otentik adalah jenis kehidupan yang ditentukan bagaimana Anda melihat kematian.  Dengan kata lain, bagaimana cara Anda menjalani kehidupan, ditentukan seperti apa Anda melihat kematian.


===

Telah dimuat di Kalaliterasi.com

07 Juni 2020

Terorisme Tubuh itu Berupa Mulut

Tidak sampai membutuhkan pergantian kalender, setidaknya selama masa pandemi ini, makhluk supernano bernama korona telah mengubah persepsi kita tentang tubuh. Tubuh adalah ”musuh”. Alih-alih di kancah publik tubuh dapat saling berelasi, kali ini keberadaannya menjadi momok mengkhawatirkan bagi yang lain.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Saat ini tubuh dipandang rentan dari biasanya. Ia dipaksa mengakui supremasi mahluk supermini beranak Covid-19.  Praktis seluruh bidang-bidang perabadaban yang selama ini diisi lalu lintas tubuh menjadi lumpuh. Wabah abad 21 ini pada akhirnya membuat tubuh mesti bernegasi satu sama lain.

Jika dalam satu titik koordinat ada tubuh lain di sekitar tubuh Anda, praktis satu di antaranya mesti ditolak keberadaannya. Otomatis, jika dipaksakan lebih dua tubuh saling berdekatan, justru keduanya akan saling mengintrogasi, mengawasi, dan paling ekstrem adalah saling tuduh.

Di situasi semacam ini, tubuh malah mendatangkan soal tersendiri. Ia bakal dimejahijaukan. Menjadi tersangka untuk ditelisik apakah ia sedang menampung virus mematikan atau tidak.

Tidak ada kecurigaan lain di masa sekarang selain tubuh yang jadi tersangka. Di kerumunan halte, terminal, pasar, masjid—tempat-tempat yang belakangan ini kembali ramai, tubuh menjadi satu-satunya objek perhatian. Seperti tersangka, semua orang mengawasinya dengan tingkat kewaspadaan bertingkat-tingkat.

Jika tubuh mengalami panas, berkeringat, dan mudah loyo, ia bakal dijemput. Diarak tanpa tedeng aling-aling ke meja pesakitan.

Dan, bagian tubuh yang paling diwaspadai aktivitasnya saat ini adalah mulut. Ia bagian tubuh saat ini yang jika salah kaprah, bakal menjadi biang kerok bisa membuat pandemi ini berumur panjang.

Mulut, jika di masa seperti sekarang tidak dijaga sedemikian rupa, bakal menjadi teror tersendiri bagi keberlangsungan kehidupan saat ini.

Mulutmu adalah harimaumu, begitu petitih moral yang biasa dipelantang, yang kali ini terasa semakin penting. Mulut kali ini bukan seperti masa ketika ia dibungkam karena kemampuan politisnya yang  berbahaya bagi kekuasaan.

Bukan pula karena kemampuan komunikasinya yang bisa membuat berita berkembang sedemikian rupa, melainkan hanya karena jika kali ini ia dibiarkan bebas berbicara, bakal membuat suatu komunitas masyarakat terancam punah berlahan-lahan.

Jika dua dekade lalu mulut menjadi objek pembungkaman rezim politik otoritarian, kini ia menjadi ”korban” rezim kesehatan dengan tujuan yang lebih radikal dari sebelumnya. Jika sebelumnya mulut yang bebas berpendapat akan berakhir di sel tahanan, sekarang jika ia dibiarkan terbuka bebas, bakal membuat lawan bicara terancam berakhir di kamar jenazah.

Sebab itulah, untuk saat ini, arti karantina sebenarnya adalah upaya menjaga mulut agar lebih tertib digunakan. Untuk kali ini, ia terpaksa didisiplinkan dari fungsinya selama ini.

Mau tidak mau, jika ingin aman, mulut harus ditarik dari kemampuan komunikasinya paling jauh hanya sebatas ranah domestik belaka. Jika di ranah umum ia banyak ngoceh dari biasanya, besar kemungkinan itu bisa menjadi medium korona bermigrasi dari satu tubuh ke tubuh lain. Menjadi maut!

Mulut yang kali ini diistirahatkan dari khittahnya sedikit banyak membuat beberapa profesi yang mengandalkannya terhenti untuk waktu yang tidak ditentukan. Sebut saja para da’i penceramah yang saban bulan Ramadan bermunculan bak jamur di musim hujan, mesti lebih bersabar dari biasanya, para pendeta yang tiap akhir pekan mesti melayani jemaat, mesti pula menunggu sampai keadaan menjadi normal.

Penyiar radio, penyanyi, pengacara, pelawak, psikolog, pembawa acara, dokter, guru, dosen, dan seluruh pekerjaan yang berbasis mulut, mau tidak mau, rela tidak rela, mesti mencari cara agar terus dapat beraktivitas.

Pada akhirnya, mulut dikarantina sepihak. Setiap orang mesti menyembunyikannya di balik masker, yang berarti jika ia bersuara membuatnya tambah sulit dimengerti.

Kata Damhuri Muhammad dalam esainya bertajuk Mulut Era Corona, mulut-mulut yang sulit diam dan sulit diatur jadi kian janggal kedengarannya ”Tuan bilang Wuhan, kami dengar Tuhan. Tuan bilang tabah, kami dengar wabah. Tuan bilang Sampar, kami dengar tampar. Mereka bilang jangan mengeluh, kami dengar jangan bersetubuh. Mereka bilang percayailah data, kami dengar hormatilah dusta. Mereka bilang kobarkan semangat, kami dengar pasanglah niat menuju kiamat.”


===

Telah dimuat di Pronesiata.id


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...