25 Mei 2020

Riwayat Kepunahan Sapiens: Dari Wadah menjadi Wabah



Creation of Ai


SEJARAH makhluk hidup berupa hewan purba yang sering saya lihat melalui layar kaca lebih satu dekade lalu, memperlihatkan bahwa hewan-hewan bertubuh besar, punah oleh benda-benda raksasa.

Sekitar dua ratus juta tahun lalu, batu-batu panas berukuran raksasa turun seperti hujan, dan  membuat kelompok hewan eksotik bernama dinosaurus seketika punah. Saat itu setengah isi bumi meleleh, dan sisanya tenggelam sekaligus membentuk gugusan pulau-pulau baru.

Sekarang, hujan batu-batu itu sering diabadikan dan dipertontonkan untuk mengingatkan, kelak peristiwa yang sama akan juga kita alami.

Di saat malam hari, kadang peristiwa hujan batu yang lain membuat orang melayangkan doa seolah-olah benda itu jatuh dapat mengubah jalan hidup seseorang.

Di lain waktu, bintang jatuh meninggalkan ekor panjang berwarna orange, sehingga banyak orang menganggap kejadian itu sebagai pengalaman yang mengagumkan.

Di balik kekaguman kita terhadap benda angkasa berukuran jumbo yang bisa melayang itu, justru banyak kehidupan benda-benda superkecil yang tidak kalah mengagumkan.

Di atas punggung kerbau  di sawah, siapa menduga hidup ratusan kutu yang kerap jadi sasaran burung pemangsa. Di sudut-sudut rumah dan di bawahnya, bisa jadi hidup koloni semut berbaris panjang berpusat sampai kepada ratunya. Di sela-sela almari, siapa pernah memerhatikan, hidup bersembunyi ribuan rayap yang menggerogoti pagina buku seperti orang kelaparan.

Siapa juga bakal menyadari, di kaki kaki atau tubuh lalat, hidup hewan kecil bernama tungau yang menumpang pula di beberapa jenis kumbang. Jauh di bawah tanah, lebih kecil dari semut dan rayap,  hidup mikroorganisme yang dijuluki ”hewan pertama” bernama protozoa, yang juga banyak hidup di dalam air.

Hewan-hewan ”mini” ini hidup tanpa sekalipun kita sadari keberadaannya.  Meraka dianggap tidak signifikan bagi kehdupan manusia. Meski demikian, mereka bergerak dalam jumlah jutaan di hampir semua permukaan bumi, dan sebagiannya melayang-layang bebas di udara.

Belakangan, ketika ilmu pengetahuan semakin maju, dan alat indera buatan semakin mutakhir, ditemukan kehidupan lain jauh lebih spektakuler dari hewan-hewan mini di atas.

Hewan supermini ini, tidak bisa lagi diderivasi kedalam taksonomi kehidupan hewan. Bahkan oleh para ilmuwan, keberadaan kategori makhluk ini berada pada jenjang batas antara hidup atau mati. Ia sulit dikatakan makhluk hidup, tapi tidak bisa juga disebut benda mati.  

Dengan alat khusus yang menciptakan cahaya untuk melihatnya, para ahli baru pertama kali ”menemukannya” dua abad lalu. Mereka bersepakat makhluk ini disebut dengan sebutan virus.

Melalui alat-alat canggih, kehidupan makhluk hidup supernano ini dicari tahu dan ditelisik lebih jauh. Apakah mereka berjenis kelamin? Apakah mereka beranak pinak? apakah mereka makan dan minum? Apakah mereka berusia panjang? Apakah mereka bisa dikendalikan?

Seperti juga hewan-hewan mini lainnya, virus hidup berpindah-pindah dalam satuan dengan jumlah besar. Bermigrasi dengan cara mereplika dirinya dari satu wadah ke wadah lain sebagai inangnya. Dari tumbuhan ke tumbuhan, dari binatang ke binatang, dan bahkan, tanpa dirasakan tidak sedikit yang hidup berpindah-pindah dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lainnya.

Pernah pada suatu alaf sejarah kehidupan umat manusia, masyarakat hidup berbaur dengan kepercayaan takhayul, dan menganggap penyakit sebagai respon tubuh atas gangguan roh jahat. Demam, atau cacar, misalnya, saat itu akan dianggap sebagai tanda tubuh sedang didiami makhluk jahat yang berniat memberikan pelajaran terhadap suatu komunitas.

Sekarang,   tidak semua tubuh demam bagian dari interaksi tubuh dengan alam gaib. Dibantu alat teknologi medis, umat manusia sudah memiliki jenis pengetahuan yang lebih maju dari dua atau tiga abad lalu, sehingga bukan lagi gangguan makhluk halus manusia mengalami kelainan panas tubuh. 

Ternyata demam menjadi tanda bagi tubuh yang telah menjadi wadah bagi kehidupan makhluk supernano bernama virus ini, yang berkemampuan merusak sistem daya tahan tubuh manusia.

Daya serang makhluk supernano ini, meskipun berwujud sangat kecil, sampai hari ini telah mencatat sejarah panjang mengenai wabah yang mengguncang kehidupan umat manusia. Flu Spanyol, Cacar, Campak, Sampar, HIV AIDS, Ebola, dan kini Covid-19 adalah nama-nama penyakit hasil dari daya dobrak virus superkecil itu.

Dari satu jenis penyakit ke jenis penyakit lainnya, virus ini juga berevolusi melewati seleksi alam, bergerak meningkatkan kualitas eksistensinya, bergerak dari satu wadah ke wadah lainnya.
Dan, jika mereka menemukan wadah terbaik, tanpa persetubuhan, bukan dengan kesadaran, tidak juga dengan menggunakan organ lainnya, apalagi memanfaatkan sel yang mustahil mereka miliki, cukup ”mereplika” diri dari satu inang protein, mampu berlipat ganda menghasilkan wabah berkepanjangan.   

Antara wabah dan wadah, di abad 21 kini, di dalam tubuh inangnya,  ia bermutasi di antara kesenyapan suara dan gemerlap ingar bingar lampu-lampu gedung pencakar langit, di antara migrasi tubuh manusia dan hilir mudik transportasi super  jet,  di antara keheningan rumah-rumah ibadah dan dentuman musik diskotik, di antara kaki-kaki penjual pedagang kali lima hingga ruangan dingin pejabat negara.

Ia hidup dan bertahan di antara gerak super cepat peradaban, mati atau tidak,  selama ia mendiami satu inang, toh ia memiliki kemampuan bertahan yang spektakuler, jauh di ujung mata peradaban.  Tepat jika ia dikatakan oleh para ahli virologi sebagai makhluk ”organisme di ujung kehidupan”.  Sesuatu yang jauh di belakang kehidupan manusia. Ada, tapi tidak sama sekali diketahui pasti.

Syahdan, jika  ratusan juta tahun lalu  hewan-hewan raksasa punah karena benda-benda berukuran besar,  kelak dan mungkin kini, umat manusia, bakal punah hanya karena ”sentuhan kecil” makhluk supermini ini.

===

Sudah dimuat di Dialektikareview.org dengan judul Dari Wabah ke Wadah Manusia dan Riwayat Kepunahannya 


24 Mei 2020

Bangsa-Bangsa Empatik


Ilustrasi kapal-kapal di masa lalu
yang dijadikan transportasi antar bangsa


Awal waktu Covid-19 merajalela di negeri Tirai Bambu Cina, beredar di jaringan dinding dunia maya, gambar kardus-kardus bantuan alat kesehatan dari Jepang. Yang unik, saat perhatian Cina terkuras untuk mengatasi pandemi ini, diselipkan sebait puisi di kotak bantuan berisi masker dari Jepang itu: ”Meski berasal dari tempat yang berbeda, namun kita berada di bawah langit yang sama.”

Sejarah puisi ini diambil dari kata-kata Daiwaj Tseiden, sebuah cerita Jepang tentang biksu Buddha Cina Jianzhen yang bepergian di Jepang pada abad ke-8. Dikutip dari Tempo, baris puisi ini dijahit dan diberikan kepada Jianzhen dari seorang kaizar Nagaya yang mengundangnya untuk berceramah tentang ajaran Buddha di Jepang. Merasa tersentuh atas undangan itu, Jianzhen menyanggupi undangan sang raja.

Belakangan, ketika Cina berangsur pulih menyatakan menang atas keganasan virus corona, Cina berbalik mengirimkan bantuan alat kesehatan ke negara-negara yang masih melawan corona dengan cara yang sama seperti dilakukan Jepang.

Ketika Cina mengirimkan bantuannya kepada Korea Selatan, di kotak kirimannya diselipkan kutipan syair dari zaman Dinasti Joseon. Bunyinya ditulis begini: ”Pohon pinus dan pohon cemara di musim dingin, tidaklah saling melupakan satu sama lain.” Walupun kedua negara ini bersaing secara ekonomi, syair ini mengingatkan, Cina dan Korea Selatan, adalah ”dua tanaman yang tumbuh di musim yang sama.”

Iran, negeri jauh dari seberang Cina, dan berjatuhan banyak korban mendapatkan perlakuan serupa. Di kotak kiriman alkes, ”dilabeli” sajak tua dari Dinasti Persia: ”Keturunan Adam adalah seperti bagian tubuh, diciptakan dari satu sumber, ketika ada bencana yang menimpa satu bagian tubuh, bagian tubuh yang lain tidaklah mungkin dapat berdiam diri.”

Di dua negara Eropa, seperti Jerman dan Italia, Cina juga melayangkan kiriman bantuan alkes dengan mengutip pula kata-kata arif yang diambil dari sejarah negeri bersangkutan.

Di Jerman, jika Anda tinggal di sana saat ini, bantuan alkes dari negeri  Tembok Cina itu diikutkan sajak bertulis: ”Gunung dan lembah tidaklah bersatu, tapi berbeda dengan manusia.” Kutipan barusan diambil dari abad Pertengahan, ketika Eropa sedang mengalami transisi kemanusiaan dari Abad Kegelapan menuju Renaisance.

Bagaimana dengan Italia? ”Kita adalah ombak dari laut yang sama, daun dari pohon yang sama, dan bunga dari kebun yang sama.” Begitu kutipan kata-kata yang diambil dari zaman Romawi kuno, yang ditempel di ribuan kardus bantuan Cina, untuk menyemangati negeri pizza dari sebaran corona yang kian eskalatif.

Apa yang sebenarnya terjadi di antara bangsa-bangsa ini? Mengapa mesti syair?

Syair adalah bahasa paling universal dan tua bagi peradaban manusia. Dalam tinjauan ilmu jiwa, syair merupakan bahasa yang mampu menenangkan jiwa ketika menghadapi guncangan. Syair, jika diurutkan bersama usia manusia, dia sudah ada dan berumur sama tuanya dengan peradaban manusia.

Cina, Iran, Jepang, Jerman, Italia, dan Korea Selatan, adalah negeri-negeri yang memiliki sejarah panjang. Bahkan beberapa di antaranya memiliki peninggalan peradaban tinggi. Iran, misalnya, adalah negeri  berperadaban Persia dengan capaian seni, arsitektur, filsafat, dan sastra yang gemilang di masa lalu.

Jepang pun demikian. Sampai hari ini masyarakatnya hidup dengan kearifan Shinto  yang diterapkan dalam kehidupan modern saat ini.

Cina apalagi, negeri yang digadang-gadang bakal menguasai perekonomian dunia, sering dicap melalui hadis Nabi agar bersegera belajar sampai ke negerinya. Belajarlah sampai ke negeri Cina, begitu sering diucapkan, yang berarti ada ”sebongkah” pelajaran di sana sehingga Rasulullah mewantinya.

Korea selatan, Italia, dan Jerman, negeri-negeri yang kiwari jadi kiblat kemajuan seni peran, olahraga, dan teknologi. Dari Cina sampai Iran, Jepang sampai Italia, Jerman hingga Korea Selatan, meski jauh dipisahkan jarak, tapi dekat secara kemanusiaan.  "Kita adalah ombak dari laut yang sama, daun dari pohon yang sama, dan bunga dari kebun yang sama," kata syair Romawi kuno.

Syair adalah bahasa peradaban, yang lahir dari jiwa luhur kemanusiaan. Coba tengok peradaban-peradaban tua, hampir semua pencapaiannya dinarasikan dengan syair, dan jiwa manusialah pusat dan sasarannya. Itu artinya, sepanjang kemanusiaan kerap jadi sasaran tragedi, di sepanjang itu pula jiwa kemanusiaan membutuhkan kearifan syair.

Kiwari, dunia sedang menghadapi tragedi. Tidak ada satu bangsa pun merasa aman dari tragedi kali ini, yang sekarang datang dalam wujud pandemi mematikan. Pelan dan hampir pasti, seolah-olah di layar kaca, tiap menit angka kematian bermain teka-teki. Akan sampai berapakah misteri jumlah angka kematian akibat tragedi ini?

Sembari melawan misteri angka-angka korban pandemi, setiap bangsa-bangsa terdorong berpegang tangan mengirim bantuan dari masing-masing peradaban.

Kata Ernest Renan, sebuah bangsa adalah sebuah jiwa. Bangsa bukan saja berisi sejumlah tubuh, melainkan dibangun di atas jiwa. Tubuh bangsa bukan sekadar fisik, melainkan diikat jiwa sebagai unsur utamanya. Bangsa-bangsa, bagi Renan merupakan wujud dari apa yang ia sebut ”le desir de vivre ensemble”, panggilan untuk hidup bersama.


Kini setiap bangsa-bangsa—tidak terkecuali Indonesia— sedang  memperjuangkan kehidupan bersama. Saling bahu membahu mengirim spirit dan energi satu sama lain agar dapat bangkit dari keterpurukan pandemi. Peragaan ini sesungguhnya cerwin jiwa bangsa yang besar dan kuat. Indonesia harus belajar dari bangsa-bangsa ini. Bangsa-bangsa berjiwa empatik.

===

Sudah dimuat sebelumnya di https://belopainfo.id/

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...