10 Mei 2020

Tubuh al Insan, Kebajikan Badani saat lulus PSBB


Nurhidayat “Images dévorantes” (2017). 150 cm x 150 cm, cat akrilik di atas kanvas. 
FOTO: Nurhidayat. Sumber: https://artspace.id/


SELAMA ramadan kali ini, tubuh dan jiwa mengalami ujian dua kali lipat dari biasanya. Masa PSBB membuat jiwa, terutama tubuh mengalami pembatasan radikal dan ekstrem. Tubuh seketika tidak dapat bergerak kemana-mana. Pengalaman spasialnya otomatis menyempit untuk tidak mengatakannya hilang sama sekali.

Tubuh, berkat PSBB mau tidak mau mesti menerima rumah sebagai satu-satunya wahana tempat ia bergerak.

Agak unik melihat fenomena ini, oleh sebab seolah-olah secara sosial tubuh mengalami obesitas. Ia sulit bergerak berpindah dari satu ruang ke ruang lain, walaupun tidak sama sekali kelebihan serat daging.

Meski tubuh fisik secara fungsional mampu mengatasi ruang yang maha melimpah,  namun tetap saja, di luar, ruang sosial yang lebih luas, tubuh mengalami penyempitan kehilangan kemampuan bergeraknya seperti saat kelebihan beban.

Obesitas tubuh sosial ini bukan tidak mungkin akan berdampak terhadap tubuh fisik ini. Dengan kata lain, semakin lama kita terkurung di dalam rumah, akan semakin cepat tubuh kita mengalami pembengkakan akibat kehilangan setengah ruang geraknya.

Dalam momen ini, agaknya hikmah Ramadan dalam suasana PSBB ini adalah menjadi alat timbang yang mengontrol tubuh agar tidak mengalami obesitas. Ruang gerak yang minim akan ditransformasikan menjadi lebih sepadan saat tubuh mengalami pengurangan asupan melalui puasa.

Walaupun demikian, meski tubuh saat ini mengalami diet sosial, ia senantiasa memanfaatkan jiwa untuk mengoperasikan dirinya agar dapat bergerak lebih bebas.

Di saat inilah jiwa mengalami dua kali lipat ujian. Di samping ia ditimpa beban keinginan tubuh agar ingin terus bergerak, ia sendiri juga mengalami godaan dari dalam berkat kemampuannya melakukan proses imajinasi secara bebas.

Kiwari, tubuh lebih fleksibel bergerak ketika ia dibantu melalui device canggih berupa smartphone. Teknologi smartphone dalam hal ini selain menjadi alat bantu indera, sebenarnya juga menjadi kepanjangan tubuh.

Tubuh, dengan kata lain, di saat mengalami hambatan gerak saat PSBB, tidak serta merta terpenjara sama sekali. Selama ia dibantu melalui identitas maya melalui akun-akun virtual, ia dapat bergerak dari satu situs wilayah ke situs wilayah lain dengan menggunakan tubuh maya yang dibuat sebelumnya.

Di satu sisi keadaan ini akan sama dengan situasi ketika PSBB belum diberlakukan. Selama ini tubuh memanfaatkan pasar sebagai arena bermainnya. Di mal, toko pakaian, pub, restoran siap saji, adalah wilayah-wilayah penting tempat tubuh selama ini memenuhi kebutuhan hasratnya.

Sekarang, saat tubuh mengalami pembatasan berskala besar, ia memanfaatkan dunia maya sebagai medan petualangan barunya. Ini dalam pengertian tertentu, merupakan kompensasi dari situasi yang sudah diakrabi tubuh sebelumnya.

Bahkan, pergerakan tubuh maya di saat ini lebih bebas merambah dunia yang tak pernah dijamah tubuh fisik. Dengan aturan sosial yang lebih bebas, tubuh maya bisa melakukan apa saja dengan cara apa pun jika ia ditopang unsur genetik berupa byte-byte yang tak terhitung jumlahnya.

Itu artinya ketika tubuh kehilangan medium gerak dalam ranah spasial-sosialnya, ia bakal mencari medium baru agar ia dapat terus bergerak dan menyalurkan keinginan terpendamnya di ranah yang lebih aktual.

Interaksi kelas online, kajian online, belanja online, dan grup-grup maya yang lebih ramai dari masa sebelum PSBB merupakan contoh konkret bagaimana tubuh susah ditundukkan oleh aturan yang membatasi ruang bergeraknya. Positif atau negatifkah ia, terlepas dari motivasi apa pun itu, tubuh liat mencari cela dan ruang baru untuk mempertahankan eksistensinya.

Bagaimana dengan jiwa? Jiwa lebih dahsyat lagi. Selama tubuh bergerak bebas melalui interaksi maya, di saat bersamaan jiwa juga melakukan gerak imajinatif di dalam dunia imajinary.

Bukan saja jiwa dapat menyambangi dunia fantasi yang dibentuk realitas imajiner, bahkan ia sendiri bisa menduplikasi dengan cara membentuk sendiri dunia fantasi yang ia inginkan.

Dibandingkan tubuh, imajinasi jauh lebih berbahaya jika dibiarkan bebas bergerak. Jika tubuh menemukan momentum aktusnya di dalam dunia maya, jiwa justru dapat menciptakan aktus di dalam dunia kemungkinan yang tidak dapat ditemukan di dalam dunia maya tempat tubuh beroperasi.

Itu artinya, jiwa yang tidak dikendalikan dengan bajik, akan membuat suatu dunia imajiner yang melanggar nilai normatifitas yang selama ini diakui.

Dalam terminologi Islam, tubuh dikategorisasi menjadi tiga tipe. Al Qur'an membaginya menjadi tiga berupa al insan, al nas, dan al basyar. Pemakaian tiga terma tubuh dalam al Quran ini berbeda-beda dari segi makna dan tujuannya.

Al Insan adalah lapisan subtantif yang mengakomodasi dinamika transendental manusia berupa kemampuan intelektual dan merasanya. Insan adalah pribadi yang unik. Tubuh dari sisi insan, tidak bisa disamakan walaupun diperhadapkan kepada dua anak kembar sekalipun.

Al Nas sering dipakai al-Qur'an untuk menunjuk tubuh sosial manusia. Nas adalah kualifikasi interaktif tubuh ketika berhubungan dengan sejarah dan kebudayaannya. Ia bakal langgeng ketika tubuh mengalami ”perbauran” dan ”persatuan” bersama tubuh lain di masyarakat.

Sementara al basyar adalah unsur fisikalitas manusia. Tanpa unsur ini, tubuh tidak mungkin tersusun berdasarkan urutan dan fungsi biologisnya. Basyar merupakan kulit paling terdepan manusia yang membentuk anatomi khusus dari organ-organ pembentuknya. Basyar sering dirujuk al Qur'an ketika menarasikan tubuh yang berkaitan dengan perkembangan dan kebutuhan biologisnya.

Melihat tubuh dari tiga tipe di atas, nampaknya hanya dua yang berhasil ditundukkan melalui aturan PSBB. Tubuh dalam pengertian nas dan basyar adalah dua tipe tubuh yang mengalami perumahan. Ia praktis dalam masa PSBB mengalami pendisiplinan ketat untuk menghalau penyebaran penyakit yang saat ini sedang dihadapi.

Sementara, insan adalah tubuh yang menjadi golden goal selama puasa. Jika PSBB bertujuan menundukkan tubuh nas dan basyar sekaligus secara bersamaan, maka selama Ramadan, dua tubuh ini mesti mencapai tubuh insan sebagai tujuan utamanya. Al Qur’an menyebutnya taqwa sebagai puncak keberhasilan jika dua tipe tubuh sebelumnya berhasil dididik selama menjalani masa karantina puasa ini.

Kelak jika kualitas al Insan dapat diraih, jiwa akan merdeka dan suci setelah selama 30 hari menjalani karantina dari godaan gejolak tubuh, hasrat, dan imajinasi yang selama ini menjadi lawan terberatnya.

===

Telah tayang di Kalaliterasi.com dengan judul Al Insan, Kebajikan Tubuh Saat Lulus PSBB

08 Mei 2020

Merisik 5 Jalan Permenungan dari Rumah


PANDEMI corona, selama lebih sebulan ini, diterima tidak diterima, berhasil mendesak manusia mengurung diri sampai ke pertahanan terakhirnya. Perkumpulan banyak orang di pasar, kantor, masjid, terminal, sekolah, warung kopi, dlsb., dipecah menjadi satuan atomik terpisah-pisah sampai ke rumah-rumah.

Di tempat inilah, semua pekerjaan yang sering dilakukan di luar mesti diambil alih dari rumah. Mendadak rumah jadi kantor, rumah jadi sekolah, dan rumah jadi tempat ibadah. Singkatnya, pandemi corona telah mengurai seluruh aktivitas kepublikan menjadi sebatas wilayah domestik.

Menarik sebenarnya melihat gejala ini dari sisi seperti apa masyarakat merespon perubahan mendadak ini. Di samping struktur ekonomi, politik, dan budaya ikut berubah, struktur agama juga mau tidak mau ikut berubah.

Fenomena ditutupnya masjid, berhentinya pengajian, nonaktifnya salat berjamaah, berkurangnya kas masjid, sampai menganggurnya imam memimpin salat, merupakan dampak langsung dari masifnya penyebaran corona.

Tulisan sederhana ini, ingin melihat peluang berharga apa yang bisa diambil dari ujian yang dihadapi dunia saat ini, terutama bagi umat Islam di tanah air.

1. Kembali merefleksikan yang sakral

Emile Durkheim, sosiolog Prancis dalam bukunya The Elementary Forms of Religious Life menulis inti seluruh agama berasal dari konsep sederhana tentang apa yang sakral dan yang tidak sakral.

Prinsip sakral tidak sakral ini merupakan ejawantah dari apa yang suci dan tidak suci. Tuhan suci maka ia sakral, malaikat suci maka ia sakral, nabi itu suci maka ia sakral. Konsep semacam ini, juga berlaku pada praktik-praktik peribadatan. Salat itu sakral karena ia ibadah yang suci. Itu sebabnya, bukan saja salat, setiap ingin melakukan peribadatan umat muslim wajib sebelumnya bersuci.

Jika, ada pertanyaan apakah salat di rumah mengurangi kadar kesakralannya dibanding salat berjamaah di masjid? Jika berdoa selain di masjid apakah mengurangi kadar pahalanya? Jika bersedekah di masjid akan sama jika itu dilakukan di tempat-tempat lain?

Selama salat, berdoa, dan bersedekah masih bisa dilakukan di rumah, semua usaha itu insya Allah tidak mengurangi kadar kesakralannya. Salat berjamaah di masjid meski penting, itu bisa disebut cara atau pakem tradisi. Berdoa di rumah Allah meski dianjurkan, merupakan kebiasaan baik yang tidak ada salahnya dapat dilakukan di banyak tempat. Bersedekah apa lagi, bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja.

Makna physical distancing, dengan melihat kenyataan di atas, dapat berfungsi sebagai wahana refleksi untuk memikirkan ulang apa sebenarnya yang kita harapkan dari cara kita beragama hari ini. Apakah kita beragama hari ini hanya sekadar mengejar ”tradisi” atau ”inti agamanya” itu sendiri?

2. Kemungkinan melakukan refleksi untuk hidup otentik

Hidup otentik adalah hidup jujur. Hidup sesuai kata hati, atau hidup atas dasar pilihan otonom sebagai mahkluk berkesadaran.

Kiwari, karena desakan publik, banyak orang hidup dengan kepalsuan. Banyak orang menjalani kehidupannya bukan atas dasar usulan-usulan kata hatinya, atau hasil pertimbangan akal budinya.
Atas dasar penampilan, banyak orang melakukan oplas. Atas nama kekuasaan, tidak sedikit pemimpin bermain peran baik. Atas nama kasih sayang, seorang suami pura-pura perhatian kepada istrinya. Atas nama agama, si munafik berpura-pura taat beragama.

Singkatnya, atas kehendak mayoritas, seseorang kehilangan suara hati dan akal sehatnya dalam menentukan keputusan pribadinya.

Corona, toh jika ia mendatangkan banyak kerugian, tetap saja menyimpan banyak hikmah. Salah satunya, kedatangannya menyediakan peluang bagi kita dapat berpikir ulang mengenai kepribadian kita.

Apakah selama ini setiap keputusan saya ambil atas desakan banyak orang atau pertimbangan pribadi? Apakah  selama ini saya bekerja untuk mencari harta atau rizki? Apakah saya menikah atas dasar kasih sayang atau nafsu semata? Apakah saya berbelanja demi kepuasan atau kebutuhan? Apakah saya beribadah agar terlihat religius atau alim? Apakah selama ini saya telah menjadi diri sendiri?

3. Banyak waktu memperdalam ilmu agama

Selama masa physical distancing banyak hal-hal kecil yang selama ini diabaikan dapat dilakukan. Jika selama dalam kedaan ”normal” kadang kita lupa merawat bunga-bunga, membersihkan gudang, menyervis kendaraan, dan merawat anak, di waktu sekaranglah momen yang tepat untuk memerhatikan hal-hal ”sekunder” semacam itu.

Selain hal-hal di atas, sekaranglah saat yang tepat agar Anda dapat kembali menyervis diri dengan memperdalam ilmu agama. Jika selama ini banyak waktu habis karena pekerjaan, sudah saatnya Anda mengambil buku di almari Anda. Buka dan bacalah tulisan-tulisan sekaliber Quraish Shihab, Gusdur, atau Jalaluddin Rakhmat untuk merefresh kembali pemahaman agama yang belakangan kian baku dan kaku.

Jika Anda ingin menukik lebih dalam, baca dan kaji dengan penuh khidmat ayat-ayat suci Al Qur’an. Bacalah dalam keadaan tartil yang jika sampai kepada ayat-ayat tentang neraka seolah-olah Anda merasakan panasnya api neraka, dan jika tiba di ayat-ayat tentang surga seakan-akan Anda ingin secepat mungkin berada di depan pintunya. Wallahu a’lam bishawab.

4. Berkhidmat kepada keluarga

Harta yang paling berharga adalah keluarga. Meski demikian, anehnya, bagi masyarakat pekerja, akibat kesibukan di kantor membuat banyak waktu tersisa dari keluarga. Agak dilematis memang jika mengingat tujuan akhir semua itu dilakukan demi keluarga juga.

Berhubung sekarang sebagian besar pekerjaan dilakukan di rumah, Anda dapat lebih banyak waktu bersama keluarga. Setelah Anda selesai meeting via online dan menutup laptop, segeralah cari Anak anda. Peluk dan gendonglah ia seolah-olah itu sudah lama tidak Anda lakukan. Ajak ia bermain di teras atau berlari-lari kecil tidak jauh dari halaman rumah Anda.

Jika Anak anda sudah dewasa, ajaklah ia bersama-sama memperbaiki mesin air yang rusak, atau mengajaknya naik di loteng mencari genteng yang sudah seminggu bocor dan butuh dibetulkan.

Bagaimana dengan anak perempuan dan istri Anda? Segeralah memesan makanan via ojol, manjakan mereka dengan makanan yang sudah lama ingin mereka nikmati. Terutama istri Anda, jangan lupakan ia yang selama ini berjuang di ”belakang” demi menopang rumah tangga dapat terus berjalan. Yang terakhir ini jika dilewatkan akan panjang urusannya.

5. Bersiap memasuki Ramadan

Kurang seminggu lagi umat muslim bakal memasuki bulan suci Ramadan. Tahun ini, berkat corona, umat muslim akan memasuki bulan puasa terberat dari biasanya. Meskipun demikian, bukan berarti respon umat muslim atas ujian ini mengurangi semangat kita saat menjalani ibadah puasa kelak. Bahkan semakin berat rintangannya, semakin besar pula nilai ibadah yang bakal diraih.

Sejak Indonesia darurat corona, tidak satu pun seantero negeri dibuat tenang hidupnya. Selain karena belum ditemukan obat dan anti vaksinnya, karakteristik penyebaran virus yang super cepat, serta semakin banyaknya korban berjatuhan membuat semua pihak merasa was-was, resah, khawatir, dan takut. Seolah-olah virus corona bakal datang mengetuk setiap pintu rumah  masing-masing kita. Mudah-mudahan tidak!

Sesungguhnya suatu cobaan tidak bakal melebihi kapasitas orang yang sedang diuji. Di setiap kesulitan terdapat kemudahan. Setiap ujian pasti ada hikmahnya.

Masih banyak lagi kalimat serupa yang bisa dipetik dari Al Qur’an dan hadis, yang mengindikasikan bahwa apa yang sedang melanda negeri ini merupakan ujian bagi kita semua, dan akan berakhir dengan kualitas yang lebih baik.

Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa optimis dan tidak mudah menyerah. Seberat-beratnya ujian virus corona, cepat atau lambat kita akan segera melaluinya. Satu hal yang pasti, seluruh ujian ditimbulkan dari pandemi ini merupakan pelajaran berharga bagi Ramadan nanti. Ia menjadi timbangan yang ikut menaikkan kualitas ibadah puasa nanti. Selain usaha, tawakal adalah kuncinya. Berpasrah diri kepadaNya.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...