07 Januari 2020

Tak Ada Melati di Kota Ini



Tak Ada Yang Gila di Kota Ini
Film ini lolos mengikuti
 program kompetisi Short Film  

Sundance Film Festival 2020 
yang akan dihelat pada 23 Januari hingga 2 Februari 2020
di Park City, Utah, Amerika Serikat
.


NAMANYA lumayan aneh: Kembe (”e” dibaca mirip ”e” dalam Jahe). Dia tinggal di bekas bioskop tua. Asal usul Kembe misterius seperti asal mula namanya. Satu hal sering terlihat, dari jauh di dalam bioskop selain gubuk terpalnya adalah onggokan becak tua yang konon dipakai suaminya. Jarang ada orang berani masuk di dalam gedung bioskop setelah lama tidak terurus. Dindingnya kehitaman dilumuri lumut kering. Di atas, langit memenuhi atapnya yang bolong. Di halaman depannya, selain berdiri lampu jalan tanpa aliran listrik, tumbuh semak-semak belukar menjadi makanan kambing liar.

Kembe jarang keluar dari gubuknya. Toh jika ia keluar dia hanya terlihat memetik daun ubi yang tumbuh di sekitar halaman bioskop. Bagi yang pernah melihatnya, Kembe berkulit gelap dengan rambut panjang diikat sanggul. Tubuhnya kecil dengan raut muka seolah-olah seperti orang baru bangun tidur. Semasa saya SMA nama Kembe jadi bahan bully. Namanya dipakai untuk menggelari teman-teman yang kami kerjain.

Banyak kasak-kusuk beredar di seputar kehidupan Kembe. Ia kerap disebut gembel peminta-minta. Sering dituduh tidak waras. Bahkan beberapa orang menyebut ia suka menculik anak-anak.

Nasib Kembe masih tergolong mujur dibandingkan—sebut saja— Melati si gila, yang sering ditemui di beberapa sudut kota Bulukumba. Kembe setidaknya masih memiliki tempat tinggal, walaupun seadaanya di dalam bekas bioskop tua. Ia masih memiliki keluarga, meski jarang terlihat seperti apa penampakan mereka.

Melati sering terlihat mengenakan baju daster sambil mengacung-acungkan gayung ke udara. Seperti Kembe, kulitnya hitam dimakan panas matahari. Rambutnya urakan hitam kecoklatan menyiratkan bau tanah. Tidak ada yang tahu pasti di mana Melati tinggal (pernyataan ini sebenarnya kurang relevan bagi orang gila. Memangnya orang gila punya rumah tetap?).

Seperti galibnya orang gila, tidak ada cerita pasti mengapa Melati sampai kehilangan akal sehat. Melati, seperti sering dialami, tiba-tiba dapat ditemukan di pinggir jalan tanpa tahu dari mana dia datang, siapa keluarganya, bagaimana ia bisa gila, dan siapa yang menelantarkannya.

Orang gila seperti Melati, praktis menjadi orang yang kehilangan relasi sanak keluarga, perhatian, tanpa hak dan kewajiban, serta kehilangan asal usul.

Kehilangan akal sehat, dengan kata lain, membuat orang gila seperti Melati menjadi mahluk yang terputus dari semua variabel kehidupan.

Sering tersiar kabar, Melati menjadi bulan-bulanan tukang becak. Kadang terlihat becak terpakir tanpa tuannya di jalan sepi tanpa penerangan. Dia jadi objek perundungan seksual para tukang becak yang tidak mampu mengontrol berahinya.

Di pikiran pengayuh becak yang tidak seberapa penghasilannya itu, Melati sudah lebih dari cukup dari pada mencari perempuan sewaan. Melati tidak perlu dibayar, atau mesti dibooking melalui tawar menawar harga. Tukang becak tidak suka itu, dan para tukang becak yang seharian mengayuh di kota yang tidak sama sekali membutuhkannya, tidak menginginkan semua itu. Mereka hanya butuh sedikit nekat menyergap Melati di tengah jalan dan menidurinya di semak belukar, atau di tempat-tempat sepi tanpa penerangan.  

Orang gila seperti Melati, sebagai objek seksual diangkat Eka Kurniawan dalam cerpen Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini—yang oleh Wregas Bhanuteja dialihwahanakan ke dalam film pendek berjudul sama dibintangi Oka Antara dan Sekar Sari (film ini berhasil memenangi anugerah film pendek terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2019).

Jalan cerita Tidak Ada Orang Gila di Kota Ini cukup membuat hati bergidik. Ibarat zaman Abad Pertengahan di Inggris, ketika suatu kota dihadapkan pada wabah berisikan orang-orang gila yang kemudian ditangkap dan dibuang jauh di tengah hutan. Alih-alih kota memberikan fasilitas, dan kehidupan lebih baik, para orang gila ini malah ditangkap dan dijual dijadikan bahan tontonan seks seperti pertunjukan sirkus di setiap musim liburan.

Cerita ini seperti disampaikan Wregas adalah kenyataan yang melukiskan kegelisahannya berkaitan dengan hirarki kekuasaan.

”Di mana orang yang memiliki power yang lebih, akan menindas orang yang lebih lemah untuk memuaskan hasrat pribadinya. Yang di bawahnya, akan menindas yang di bawahnya lagi, dan yang paling tidak berdaya adalah orang yang sama sekali tidak memiliki kuasa. Bahkan, kuasa atas dirinya sendiri,” sebagaimana dikutip dari mainmain.id.

Perkara kekuasaan, kegilaan, dan seksualitas, sudah jauh hari ditelusuri sosiolog Prancis Michel Foucault, yang menemukan adanya pertautan di antara ketiganya. Dengan kata lain, kegilaan dan seksualitas, seperti pendakuan Foucault adalah wacana kekuasaan yang senantiasa diatur, dikontrol, dan dikendalikan. Itu artinya kategori normal tidak normal, boleh tidak boleh, sehat tidak sehat dalam wacana seksualitas senantiasa merupakan produk pengetahuan kekuasaan.

Melati si gila, beruntung tidak hidup dalam imajinasi penceritaan Eka Kurniawan, atau seperti di era Abad Pertengahan. Walaupun demikian, ia masih tetap menjadi sasaran berahi lelaki sekelas tukang becak kere yang kebelet ingin melampiaskan hasratnya. Ia sering diculik dan disekap, dan ditidurkan di semak-semak atau di bangunan kosong tak berpenghuni. Seperti pendakuan Foucault, kekuasaan bisa berlaku di mana saja, ia produktif menciptakan korbannya. Untuk kasus ini, Melati-lah korbannya.



04 Januari 2020

Doa Seorang Penulis Medioker dan Kutukan Buku Pertama


Jejak Dunia yang Retak



DELAPAN tahun lalu saya menerbitkan buku pertama—sebenarnya ini karya borongan bersama empat orang lainnya. Jadi ini bukan murni karya saya. Buku itu diberi judul Jejak Dunia yang Retak. Kata pengantarnya ditulis Eko Prasetyo, penulis kiri kawakan spesialis ”orang miskin”. Penutupnya ditambal Dul Abdul Rahman, novelis asal Makassar spesialis ”dunia hantu-hantu lokal”.

Buku esai ini, di malam ia dilaunching, saya hadiahkan kepada pacar saya—sekarang istri saya. Rasa-rasanya malu sendiri jika membuka buku pemberian itu. Tepat di halaman pertamanya ditulis kata-kata puitis berwarna, alamak, pink! Kata-kata itu jika diukur dari waktu sekarang bernada sok-sok romantis dan norak. Saat kata-kata itu ditulis, jangan ditanya, siapa yang sadar ketika orang sedang kasmaran.

Buku itu dicetak di Jogja oleh penerbit indi Makassar, Carabaca . Sekali tempo dua atau tiga tahun pasca buku itu beredar, seseorang memfotonya di antara lapakan buku di Jogja. Sekarang buku itu ”habis” dengan cara entah bagaimana. Konon buku itu ada yang membeli, tapi saya lebih yakin buku itu lebih banyak habis dibagi-bagi atas dasar (((kemanusiaan))).

Seperti kata Dul Abdul Rahman di epilognya, kutukan penulis pemula ada pada buku kedua. Jika seorang penulis berhasil menerbitkan buku kedua berarti ia lolos dari kutukan betapa sulitnya menerbitkan buku kedua. Itu artinya, jika penulis sudah melahirkan karya keduanya, seperti seorang ibu melahirkan selusin anak, buku ketiga, keempat, kelima dan seterusnya bakal meluncur turun mulus dari rahim kepenulisannya.

Buku pertama diterbitkan bisa jadi keberuntungan pemula. Beruntung saat itu kenekatan menerbitkan buku sedang berada di titik puncak. Beruntung saat itu ada empat penulis lain mau berkolaborasi mengumpulkan tulisannya. Beruntung saat itu ada modal mencetaknya. Beruntung saat itu ada penerbit mau menerimanya. Dan lebih beruntung lagi ada yang rela membelinya.

Sekarang, kutukan itu masih berlaku. Selain Asran Salam yang sudah menelurkan dua karya setelahnya, kami berempat masih tepekur nyaman dibelai mantra kutukan buku pertama.

Tahun 2016 bernomor ISBN 9786028003421 sebuah buku berjudul Telinga Palsu terbit. Esai saya berjudul Antropologi Toilet ikut terpilih ke dalam 100 literasi pilihan Tempo Makassar ini. Tulisan diambil di rentang 2014-2016 yang terbit di Tempo Makassar itu dikurasi dan dieditori Irmawati Puan Mawar. Ini juga belum bisa disebut buku sendiri.

Di laptop sudah kebiasaan membuat folder nama khusus setiap tahun. Itu saya lakukan untuk mengklasifikasi tulisan saya selama setahun penuh. Itu artinya ada folder bertarikh 2020, 2019, 2018, sampai 2010, tahun pertama ketika saya mulai mendisiplinkan mengumpulkan tulisan. Tahun 2019 tercatat 85 esai saya tulis dan 65 yang berhasil saya selesaikan.  2020 entah berapa banyak esai mampu saya hasilkan.

Harapan saya di tahun ini tidak muluk-muluk: bisa salat awal waktu, dan terbebas keluar dari kutukan buku pertama.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...