05 Agustus 2019

Biblioklas dan Kemerdekaan


JANGANLAH kau diperbudak satu kaum sekalipun kau dilahirkan dalam keadaan merdeka.

Perkataan yang saya sadur ulang ini pernah diucapkan Ali bin Abi Thalib AS. Tokoh sejarah yang oleh para ahli disebut sebagai Suara Keadilan.

Suara Ali sama tajamnya dengan kibasan pedangnya. Bahkan, suaranya jauh bergema sampai ke gerbang waktu masa kini.

Kemerdekaan menurut Ali bin Abi Thalib lebih azali dari apa pun. Ia anugerah penciptaan, tapi juga sekaligus ujian. Barang siapa memperjuangkannya, maka ia telah mensyukuri satu-satunya keistimewaan yang dipunyai makhluk hidup. Barang siapa menginjak-injaknya, sesungguhnya ia telah kufur nikmat.

Kemerdekaan memang tidak datang dan jatuh dari atas langit. Sekalipun mesti direbut dan diperjuangkan, ia oleh Soekarno disebut sebagai pengalaman khas dari suatu bangsa. Tidak ada perjuangan kemerdekaan yang sama satu dengan lainnya. Setiap bangsa memperjuangkan kemerdekaannya masing-masing. Dengan ikhtiar dan metodenya sendiri-sendiri.

Bagi bangsa-bangsa modern, kemerdekaan dirumuskan dengan cara membentuk suatu ”komunitas terbayang”. Istilah dari Benedict Anderson ini, melampaui dan tidak sekedar komunitas politik belaka. Melainkan suatu bangsa ”yang saling membayangkan”  walaupun satu sama lain terpisah takdir geografis berjauhan.

Itulah sebabnya, kemerdekaan, seperti juga nasionalisme yang menjadi induknya, mesti menjadi proyek bersama. Oleh sebab ia mudah berubah, gagasan ini mesti dikukuhkan satu demi satu kaki-kakinya dari setiap pertemuan dan saling silang pemikiran. Ia bagaimanapun bukan takdir Tuhan yang ajeg dan fix.

Dengan kata lain, kemerdekaan adalah hak sekaligus takdir perjuangan manusia itu sendiri.

Beberapa waktu belakangan, menambah deret panjang noda peradaban, di Probolinggo dan Makassar terjadi kembali aksi memusuhi buku-buku. Bibliosida, yang seringkali ditampakkan dari mulut-mulut kekuasaan, kini dengan mudah dilakukan di luar kekuasaan itu sendiri.

Entah dari mana kewenangan menentukan takdir pengetahuan dimiliki oleh musuh-musuh peradaban ini. Mereka tanpa disadari telah melampaui kewenangan negara dalam menentukan baik buruknya sesuatu. Bahkan, telah menyalahgunakan prinsip kemanusiaan dengan mengambil hak preogatif Tuhan.

Semenjak kemerdekaan berbangsa bernegara diikrarkan dan dinyatakan Agustus silam, Indonesia bukan terdiri dari sekadar gerombolan yang bergerak sendiri-sendiri, tanpa arah, dan bebas. Melainkan menjadi komunitas politik yang berdaulat, tatanan masyarakat yang berkebudayaan, dan sistem sosial yang berkeadilan.

Itu artinya, setiap manusia yang bermukim di atas tanahnya, disatukan oleh suatu ikatan kolektif, sadar, dan bertanggung jawab demi usaha mencapai kedaulatan ideal, kebudayaan ideal, dan keadilan ideal.

Maka, jika ada yang bergerak atas tendensi komunalisme buta dan keyakinan ekstrimis, yang mengatasnamakan kepentingan publik semena-mena, berarti orang-orang macam ini sesungguhnya belum merdeka dari penjajahan kebodohannya.

Orang-orang macam inilah layak disebut sebagai bandit-bandit peradaban. Mereka mendesak paksa, mencuri, dan merampok kemerdekaan publik dengan tingkah genit kekanak-kanakan.

Tindak bibliosida jika dibiarkan akan mengurangi umur usia suatu bangsa. Buku-buku, apa pun jenis dan macamnya merupakan khazanah yang mesti dijaga dan disebarluaskan. Sekolah, perguruan tinggi, perpustakaan, arsip negara, dan bahkan ingatan suatu bangsa akan hilang ditelan waktu. Tanpa itu semua, tak akan lahir generasi puncak dari suatu bangsa.

Saya tidak habis pikir bagaimana razia buku dapat langgeng dan berlipat ganda. Jika itu direncanakan dengan sistematis, berarti ada grand design dengan motif ideologis tertentu yang sedang bekerja melapangkan suatu jalan pikiran tanpa kritisisme.

Dengan kata lain, suatu narasi penghancuran buku sama artinya dengan program genosida atau cuci otak demi menghilangkan suatu generasi.

Jika ditilik lebih jauh, bibliosida bukan saja melahirkan genosida belaka, tapi juga akan merambah kepada kebencian rasial, gender, dan agama. Buku yang dilenyapkan, dengan kata lain akan berdampak lenyapnya pula kemanusiaan itu sendiri.

Dan, hilangnya kemanusiaan, sama artinya lenyapnya kemerdekaan di bawah langit-langit persada.

Syahdan, buku tanpa kebebasan membaca, sama saja dengan negeri yang kosong dari takdir peradaban.

04 Agustus 2019

Humor Chaplin dan Konservatisme



TERTAWA bukan saja sifat alami manusia. Dilihat dari aspek sosialnya, tertawa malah dapat menandai kebudayaan masyarakat tertentu. Bangsa Mesir dan Persia, misalnya, disebut bangsa yang humoris. Mereka bisa saja menyelipkan humor sekalipun dalam keadaan marah.

Berbeda bagi bangsa Jepang dan Jerman yang cenderung serius dan kaku. Tertawa bukan tradisi kedua bangsa ini.

Tidak seperti Perancis, di Rusia orang-orang malah sulit melempar senyuman kepada orang asing. Di negeri sendiri, bahkan senyuman bisa menandai keakraban walaupun terhadap orang asing.

Begitulah tertawa di beberapa bangsa-bangsa dunia, kadang menjadi perwakilan identitas kolektif masyarakatnya.

Di awal abad 20 dunia mengenal Charlie Chaplin, aktor seni peran yang mengembangkan humor untuk menggambarkan kepelikan dunia. Lewat tertawa, humor Chaplin ingin mengajak penontonnya melihat dunia melalui cara berbeda.

Dari setting masyarakat industri melalui film semisal The Modern Time dan City Light, Chaplin menciptakan sosok Tramp demi menunjukkan kontradiksi-kontradiksi kemanusiaan masyarakat industrial.

Lewat karakter Adenoid Hynkel, Chaplin memeragakan humor gaya mengejek dalam film The Great Dictator. Semua yang pernah menyaksikannya tahu, dari film itu, sosok yang ia sasar adalah Adolf Hitler, tokoh penyulut Perang Dunia ke 2.

Humor Chaplin humor tanpa kata, tapi bukan berarti tanpa “bahasa”. Melalui peran jenaka, bahasa humornya dapat ditangkap melalui gesture, mimik, gerak-gerik, dan petingkahnya yang memanfaatkan tubuh sebagai teks. Peragaan tanpa kata itu berhasil mengaduk sense of humor setiap penontonnya.

Humor a la Chaplin humor yang melibatkan dimensi kritisisme. Ia sebenarnya tidak sedang bercanda. Malah, humornya berbau politis. Dengan cara demikian, Chaplin memanfaatkan sense of humor pada setiap diri penontonnya agar menyadari situasi kritis masyarakat.

Di Tanah Air, guyonan apik dikawinkan dengan politik pada orang sekaliber Gus Dur. Di tangannya politik bak permainan. Melalui humor Gus Dur banyak membuka wawasan masyarakat ke dimensi-dimensi persoalan yang jarang dilihat. 

Sebagai teknik komunikasi, Gus Dur paham betul humor perangkat komunikasi paling jitu merangsang pemahaman lawan bicara agar menyadari betapa kompleksnya suatu persoalan.

Konon nilai spiritualitas manusia dapat diukur dari tingkat sense of humornya. Semakin tinggi sense of humornya, semakin cerdas ia secara spiritualitas. Sebaliknya, semakin rendah sense of humornya rendah pula tingkat spiritualitasnya.

Kaitan sense of humor dengan agama ditilik dari kemampuan sekaligus kepandaian seseorang memperluas dan memperdalam pemaknaan saat mengartikulasikan nilai-nilai agama.

Sense of humor juga menjadi semacam basis episteme yang meradikalkan pemahaman menjadi lebih cair dan fleksibel. Melalui keadaaan ini, sense of humor-lah yang membuat jiwa lebih ”ringan” menghadapi segala hal yang dianggap berat dan baku.

Bahkan, lewat sense of humor-lah, ego, yang seringkali menghambat perkembangan spiritualitas manusia, dapat diturunkan tegangan dan derajatnya sampai kepada level yang paling rendah.

Dengan kata lain, humor adalah metode penyampaian yang dapat mentransformasikan gagasan berat, baku, dan kaku ke dalam suatu model bahasa yang lebih cair dan mengalir ke berbagai lapisan kesadaran dan kejiwaan.

Kisah-kisah sufistik misalnya, adalah contoh bagaimana humor dan ajaran agama disandingkan. Melalui kisah-kisah sufistik, agama kehilangan ”keangkerannya”. Di tangan para sufi semisal Nasruddin Khoja, agama sebagai ajaran Tuhan nampak lebih ”ceria”, ”jenaka”, dan ”terbuka” ketika disampaikan. Melalui kisah jenaka para sufi, agama malah lebih mudah diterima ketimbang dengan cara lain.    

Belakangan, nilai pasar humor menjadi lebih tinggi. Di dunia hiburan, banyak acara televisi memasukkan unsur humor. Humor di acara-acara itu tidak sedikit menjadi ajang menaikkan rating dan pendapatan. Humor di dunia hiburan jika bukan merangsang imajinasi berpikir masyarakat, malah sebaliknya membuat masyarakat kehilangan dimensi kritisismenya.

Di waktu bersamaan, humor sulit dipakai mencerna hal-hal serius. Politik, dan bahkan agama, adalah dua sisi kemanusiaan kiwari dipandang haram ”diguyonkan”. Menguatnya konservatisme politik dan agama, membuat humor dianggap melecehkan marwah agama dan politik. 
Merebaknya konservatisme, pada akhirnya membuat masyarakat kehilangan sisi ”kejenakaan”, ”keceriaan”, dan ”keterbukaan”  dalam mencerna sesuatu.

Konservatisme agama dan politik yang ”fiqih oriented” dan atau ”syariah oriented” membuat segalanya kian sempit dan menyesakkan. Agama yang ”fiqih oriented” membuat seseorang anti kepada keberagaman, cenderung menginginkan kebakuan dan kekakuan pemahaman.

Imbas cara pandang seperti ini tidak akan ada dinamika dan kesegaran dalam mengamalkan pemahamannya di dalam kehidupan yang serba cair ini.

Dunia yang kehilangan kejenakaan dan keceriaannya, jika bukan menganggap humor meremehkan persoalan, maka dianggap menista ide-ide sakral dan keyakinan yang dikandung dalam apa pun. Padahal, agama kehilangan keceriaan akan menjadi amalan muram, tradisi kehilangan kejenakaan membuat budaya menjadi kaku, dan politik kehilangan keterbukaan akan menjadi kekuasaan totaliter.

So, jika hari-hari ini Anda mudah marah kepada perbedaan, keragaman, dan keanekaan, jangan-jangan ada yang salah dari diri Anda. Why so seriously!?


Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...