29 Mei 2019

Belajar Gerakan Sosial dari Chico Mendez

Francisco Alves Mendes Filho, lebih dikenal sebagai Chico Mendes
Seorang penyadap karet Brasil, pemimpin serikat buruh dan pencinta lingkungan. 
Dia berjuang untuk melestarikan hutan hujan Amazon, 
dan mengadvokasi hak asasi petani Brasil dan masyarakat adat.

GERAKAN sosial dalam arti defenitifnya selalu ditandai dengan tindakan kolektif yang bersifat spontan dan massif. Pengertian ini juga mengacu pada tindakan masyarakat yang mengarah pada tujuan bersama sejauh ikatan-ikatan yang bersifat semi organisasional terbangun.

Beberapa pengertian yang diberikan ahli sosial misalnya, melihat gerakan sosial merupakan bagian integral dalam masyarakat yang berfungsi sebagai kekuatan pendorong perubahan. Dengan kata lain, gerakan sosial yang merupakan kesatuan integral dalam tatanan masyarakat, memposisikan dirinya sebagai kekuatan yang memiliki fungsi penyeimbang bahkan sebagai bentuk pembaharuan tatanan itu sendiri.

Pengertian lain diberikan Blummer, misalnya, yang melihat signifikansi gerakan sosial dalam pengaruhnya terhadap penciptaan nilai-nilai baru yang menggantikan anutan-anutan lama di masyarakat. Hal ini menjadi salah satu indikator untuk mengukur capaian-capaian gerakan sosial sebagai kekuatan perubah yang merembesi sistem nilai dalam suatu masyarakat.

Sebagai contoh, perubahan cara mengidentifikasi masyarakat Amerika dalam kaitannya dengan perjuangan Apertheid kulit hitam yang lambat laun akhirnya berubah pasca munculnya gerakan sosial yang dimotori Malcolm X. Dalam kasus ini kita bisa menyaksikan dampak perubahan sosial yang ditimbulkan gerakan civil society sebagai variabel yang juga menentukan perubahan dalam sistem nilai masyarakat Amerika.

Penciptaan nilai baru yang dimaksudkan Neil Smelser yakni sebagai upaya penataan ulang nilai-nilai lama yang dianut sebagai alasan bertindak. Dalam kehidupan masyarakat, nilai-nilai kolektif, semisal keadilan, pengetahuan, kebaikan, kasih sayang, demokrasi dsb, secara prinsipal menjadi sandaran epistemologis dalam bersikap. Pada kasus Apertheid, gerakan yang di motori Malcolm X tidak saja mengubah secara sosiologis posisi masyarakat kulit hitam, melainkan secara paradigmatik memberikan nilai baru secara kultural terhadap keberadaan kulit hitam di tengah-tengah masyarakat kulit putih Amerika.

Gerakan sosial sebagai tindakan kolektif juga dapat kita temukan misalnya tahun 1999 di Seatle Amerika Serikat. Kala itu hampir 40.000 masyarakat pekerja, aktivis NGO, kaum anarkhi, aktivis lingkungan hidup, serta pembela hak-hak asasi manusia tumpah ruah di jalan-jalan menentang pertemuan tingkat dunia yang diselenggarakan WTO. Dalam konteks peristiwa, gerakan sosial yang menolak isu neoliberalisme kala itu juga memperlihatkan  bentuk spontanitas sebagai salah satu indikator gerakan sosial yang bisa menjadi titik permulaan dari kegiatan kolektif.

Sebagai kekuatan penggerak masyarakat, gerakan sosial adalah sarana alternatif yang menjadi pendorong perubahan ketika dimensi struktural kemasyarakatan tak menghasilkan pemenuhan hak-hak dasar kemasyarakatan.

Kecenderungan ini termuat dalam pembacaan yang bersifat marxian ketika melihat ketimpangan ekonomi yang dihasilkan oleh struktur kelas masyarakat atas dasar dominasi kapital oleh kelas masyarakat tertentu. Model gerakan sosial marxian banyak kita temukan pada negara-negara belahan dunia ke tiga yang rentan akibat disparitas ekonomi sebagai penyebab ketidakpuasan masyarakat.

Gerakan sosial yang ditemukan di belahan dunia ketiga memiliki ciri ikatan yang bersifat normatif. Ikatan ini merupakan gagasan bersama sebagai bentuk kepahaman yang bersifat kolektif. Ikatan normatif ini memiliki arti ideologis untuk mempersatukan visi dan misi sebagai tujuan gerakan bersama. Contoh kasus misalnya, gerakan petani karet di Brazil yang dipelopori Chiko Mendes pada tahun 1987, dipersatukan oleh keyakinan umum yang melatarbelakangi munculnya penentangan terhadap pembabatan hutan oleh korporasi saat itu. Keyakinan mereka terhadap pemanfaatan hutan secara ekologis menjadi pemahaman dasar sehingga sampai saat ini Brazil memiliki 48 lokasi seluas 12 juta hektar di hutan Amazon yang berstatus kawasan suaka ektraktif.

Dari beberapa kasus di atas, cara-cara yang ditempuh dari gerakan sosial merupakan sikap kolektif yang berada di luar mekanisme sistem institusi yang ada. Dalam hal ini apabila institusi kemasyarakatan tidak memberikan dampak sosial yang diharapkan, maka kolektifitas dari gerakan sosial adalah mekanisme yang ditempuh untuk menjadi alternatif dari institusi yang ada.

Merujuk hal di atas, juga diungkapkan Antony Giddens dan Calhoun yang menyebutkan bahwa gerakan sosial sering kali memiliki ciri-ciri dari penggunaan cara-cara di luar sistem yang dianut. Tindakan aksi massal masyarakat sipil, pemberontakan kaum tani, dan kelompok-kelompok minoritas yang memperjuangkan hak-hak sipilnya, memang selalu menggunakan cara-cara yang tak lazim dianut dalam kebiasaan-kebiasaan masyarakat.

Apabila dilihat dari tatanan struktural masyarakat, gerakan sosial juga dapat diidentifikasi sebagai respon dari kalangan elit yang berada pada puncak hirarki kelas masayarakat. Pengertian ini mengacu pada aktivitas elit masyarakat sebagai agen gerakan sosial yang memberikan pengaruhnya terhadap masyarakat dominan untuk mengarahkan perubahan yang dikehendaki.

Perlawanan dari gerakan yang diprakarsai elit adalah gerakan dari bawah yang bersumber dari masyarakat luas sebagai bentuk kebersamaan. Gerakan yang berasal dari bawah ini adalah gerakan yang mengikutkan kolektifitas masyarakat sebagai eksponen gerakannya.

***

SERATUS orang tanpa pendidikan itu pemberontakan, satu orang berpendidikan adalah awal sebuah pergerakan.(1) Saya kira, ini soal yang utama.

Perlawanan tanpa pendidikan sama halnya pemberontakan. Pemberontakan boleh saja disebut radikal, tapi belum tentu punya maksud (crowd). Pemberontakan bisa jadi pembebasan, namun tidak bisa disebut perlawanan. Perlawanan di mana pun itu pasti punya gagasan. Punya ide. Dua hal inilah yang memberikan arah. Menunjuk suatu cara yang etik juga strategik. Mendes melihat itu, dan hanya satu yang mampu memediasinya; ilmu pengetahuan.

Begitulah yang bisa dibilangkan dari suatu adegan The Burning Season (1994). Film produksi Warner Bros besutan John Frankenheimer. Film yang bercerita banyak hal soal suatu kepentingan global yang merangsek masuk  merombak habis ekosistem hutan beserta kebudayaan di dalamnya. Banyak merembesi dimensi sosial masyarakat pedalaman yang dirusak akibat kekuatan kapital. Menggoyah tradisi kultural, merobek paras kebudayaan, dan membelah tatanan sosial jadi timpang.

Semua bermula dari satu konsep; kapitalisme. Akibatnya, di film yang berbasis kenyataan itu dibuka dengan tatanan yang ambruk. Di Chacoeira saat itu, dari mata polos Mendes kecil, kapitalisme bisa menjelma apa saja. Ia melihat masyarakat yang ditilap tengkulak medioker. Masyarakat penyadap karet yang hidup di bawah bayang-bayang ketakutan. Orang-orang yang tak bisa berbuat banyak akibat hutang berlapis-lapis. Situasi dekaden tanpa hukum. Suatu realitas kehidupan yang membuat Mendes kecil mulai menyoal, apa itu keadilan?

Dari mata kecil Mendes, keadilan harus bekerja betapapun sederhananya. Di tempat Mendes kecil tinggal saat itu,  keadilan harus ada di saat orang-orang menimbang getah karet. Keadilan harus ada ketika pertukaran terjadi. Tak soal betapapun digitnya. Keadilan di kehidupan masyarakat Chacoeira, saat itu sama artinya dengan  keberlangsungan hidup yang harus terus dikayuh. Keadilan, dengan arti lain—juga sampai hari ini, bukan pasal transaksi ekonomi belaka, melainkan bagaimana mau jujur terhadap kenyataan yang terjadi.

Tapi, keadilan jika sudah lacur akibat kepentingan ekonomis, maka itu disebut kezaliman. Dan itulah yang membuat sesal Mendes kecil kelak. Akibatnya, dia harus memperkarakan sikap mangut ayahnya pasca menukar hasil getah karet. Penggalan pengamalaman itulah yang bikin sesak. Barangkali di hati kecil Mendes saat itu, apapun bentuknya kezaliman harus tumbang.

Saya kira jika mau mencermati adegan awal film ini, ada dua hal yang penting. Pertama, sikap kritis Mendes kecil yang diajukan kepada ayahnya pasca menjual getah karet. Kedua, keberadaan sosok laki-laki yang datang mengajari Mendes kecil pengetahuan matematis.

Kritisisme itu penting. Apalagi jika itu pada konteks masyarakat Chacoeira tempat Mendes hidup. Yang patut disadari, kritisisme itu bukan dimulai dari dunia kesadaran orang-orang dewasa masa itu, melainkan dari seorang Mendes kecil.

Di sini penting memahami kritisisme, dari adegan itu kritisme mau dibilangkan sebagai kualitas manusia yang paling hakiki. Esensi kemanusiaan yang paling muda. Itulah mengapa hanya Mendes kecil yang punya, bukan yang lain. Orang-orang tua, dengan umur yang berjibun pengalaman kadang harus takluk dengan berbagai macam pertimbangan dan juga kepentingan. Namun, sebagaimana ilmu pengetahuan itu bermula, kritisisme selalu dimulai dari kesadaran polos layaknya anak kecil.

Artinya kesadaran kritis selalu lebih dahulu dari berbagai macam pengalaman. Dengan kata lain, kesadaran kritis hanya butuh satu modalitas manusiawi; rasa ingin tahu. Dan semua orang punya itu, termasuk Chico Mendes.

Jika pendidikan itu dimulai oleh rasa tahu, maka Mendes kecil memulainya dengan cara yang tepat. Di sinilah relevansi kedatangan sosok pria yang mengajarinya ilmu berhitung. Ilmu yang adaptable dengan kehidupan Mendes kelak. Yang menarik, ilmu yang dipertukarkan melalui relasi timbal balik antara Mendes dan sosok pria misterius itu dilakukan melalui praktek naratif.

Dengan metode itu, ilmu berhitung bukan sekedar angka-angka matematis imajinal yang dijumlahkurangkan, tapi juga dibangun dengan kekuatan cerita yang berbasis pengalaman. Artinya pendidikan bukan soal sejauh mana transfer pengetahuan diberlangsungkan, tapi sejauh apa bermanfaat bagi kehidupan kongkrit masyarakat.

The Burning Season salah satu film yang menyediakan perangkat pengetahuan soal membangun gerakan sosial. Dan saya kira film ini tidak soal diasumsikan demikian, walaupun begitu banyak medan adegan bisa membuka perspektif lain. Namun, jika banyak beragam pemikiran terbangun di film itu, akan sia-sia belaka kalau tidak bisa menjadi perangkat pemahaman memahami dunia pembaca. Saya kira ini yang penting, bagaimana mendialogkan adegan demi adegan (dunia simbol, teks) dengan kehidupan sehari-hari kita (dunia pembaca).

Apabila dibuatkan skema triadik, antara dunia pengarang (sutradara, produser, kru film, dan seluruh tenaga produktif di balik layar), dunia teks (konten film adegan per adegan, simbol demi simbol), dan dunia pembaca (penonton, penafsir bebas), maka yang mau diharapkan bagaimana pesan film itu bukan semena-mena punya pembuat film maupun konten film itu sendiri, tapi maksud apa yang bisa kita artikan terlepas dari kepentingan film di belakangnya. Apa faedahnya buat kita?

Saya kira perjuangan Chico Mendes (sebelumnya Wilson Pinheiro) mewakili soal-soal masyarakat perkotaan dan pedalaman kekinian. Di Sulawesi Selatan-- tanpa lupa menyebut kasuskasus agraria di berbagai kawasan Indonesia, juga mengalami hal yang sama. Di Makassar sendiri, yang paling kekinian adalah keinginan Pemkot Makassar mereklamasi kawasan pesisir yang sudah dimulai sekira tahun 2000. Saya kira pada konteks inilah The Burning Season harus ditempatkan.

Perlawanan terhadap jejaring kekuasaan di mana pun jika ditarik kembali pada pertanyaan mendasar: bagaimana cara membangun gerakan perlawanan, berarti harus menyoal hal-hal elementer seperti 1) apa yang dilawan? 2) mengapa perlu ada perlawanan? 3) untuk apa membangun perlawanan? Chiko Mendes jelas atas tiga soal dasar ini. Dia melawan perusahaan yang membakar lahan semenamena, dia melawan akibat penyalahgunaan lahan mengancam keberlangsungan hidup masyarakatnya, dan Chiko Mendes melawan untuk menjaga generasi depan dapat merasai kehidupan layak.

Di konteks kita belakangan ini, kadang tiga pertanyaan elementer itu membuat soal baru. Niat membangun gerakan selalu patah lantaran pembacaan situasi yang tidak komprehensif. Khusus soal apa guna membangun perlawanan justru hanya merupakan saluran rangkaian proses memperbaiki jiwa personal. Banyak ekses yang timbul akibat gerakan yang jadi lancung. Yang paling fundamental adalah, berubahnya karakter gerakan sekedar aksi seremonial belaka. Saya kira, selain pragmatisme perlawanan yang kadang menyampir kekuasaan, moralitas gerakan berbasis gagasan juga jadi soal antik yang harus dipecahkan.

Perlawanan Mendes adalah gerakan dari lokalitas menuju globalitas. Di tataran lokalitas, dia melawan tengkulak kaki tangan perusahanperusahan, orang-orang apatis, dan juga pihak keamanan. Di tataran global, Mendes bersuara di tengahtengah glamourisme kapitalisme global. Di dua level itulah medan perlawanan Mendes dengan membangun Serikat Pekerja Pedesaan (Sindicato). Mendes bergerak bersama orangorang yang resah, orang-orang malang yang mau melihat keadilan tak cuma konsep di atas mimbarmimbar ilmu pengetahuan. Dan, yang tak kalah penting, perjuangan Mendes bukan sekedar perjuangan moral belaka. Mendes membangun gerakan politik.

Perlawanan Mendes mengkonsolidasikan kebutuhan masyarakat  dari kebutuhan ekonomis sampai keperluan membangun gerakan politik, sebenarnya merefleksikan tesistesis yang dikandung dalam marxisme. Pencalonan Mendes mau menjadi pemimpin daerah, jangan diartikan pilihan pragmatis sebagaimana politisi medioker di negeri kita. Dalam konteks Mendes, pencalonannya mewakili suara golongan marginal yang tersisihkan akibat logika kapital. Mendes menjadi simpul kelompok-kelompok masyarakatnya di bawah satu tema perlawanan. Dengan cara ini, Mendes menaikkan level gerakan tidak sekedar dari dimensi ekonomi melainkan sampai menyentuh dimensi politik. Dengan kata lain, pencalonan Mendes adalah radikalisasi gerakan serikat dari asumsi ekonomis menjadi politik.

Sisi lain juga harus dicermati adalah kehadiran Steven Kaye, seorang film maker. Tanpa kehadiran tokoh ini, perjuangan Mendes barangkali tak akan dikenal seperti sekarang ini. Banyak adegan menunjukkan, kala Mendes mendapatkan informasi dari Kaye yang signifikan memberikan perspektif baru bagi perjuangan serikat pekerja. Banyak momen penting akibat pertukaran informasi melalui mediasi Kaye. Akibatnya, Mendes mendapati suatu horison baru dalam mendudukkan perjuangannya. Di sini unsur media menjadi faktor ampuh membuat suara Mendes akhirnya punya gaung di kancah internasional.

Masa perjuangan Mendes terjadi sekira tahun 80an. Masa kala Brazil sedang gencargencarnya melakukan perubahan mendasar. Sama halnya di Indonesia, developmentalisme jadi kiblat pembangunan. Itulah sebabnya, hutan tak punya tempat dalam skema pembangunan berdimensi industrial. Menarik kalau mau memperhadapkan dua konteks tradisi yang samarsamar diperlihatkan dalam The Burning Season. Tradisi pertama tentu diwakili mitos kemajuan yang dikandung dalam developmentalisme itu sendiri.

Konsepkonsep dasar dari developmentalisme begitu terang ditunjukkan dengan bendabenda semisal traktor, gergaji mesin, dan juga konsepkonsep kekayaan yang diartikan sebagai keberlimpahan finansial. Sementara tradisi kedua adalah apa yang ditunjukkan dari mitos-mitos yang kerap tumbuh dalam masyarakat agraris berupa simbolisme binatang sebagai ratu adil. Dua tradisi inilah yang sebenarnya juga diperlihatkan sebagai latar imajinal yang ada dalam The Burning Season.  Akan sangat menarik jika dua tradisi besar ini; tradasionalisme dan modernisme, diuji kembali relevansinya melalui film berdurasi 108 menit ini.

Gerakan sosial manapun akan selalu mengandaikan subjek perubahan. Tesis ini sudah rumus paten. Yang soal adalah bagaimana subjek perubahan harus dipahami. Apakah dia sesuatu ihwal yang metafisis atau sebaliknya. Apakah dia seorang mesias atau suatu kaum. Tapi sejauh film ini disaksikan dua antinomi inilah yang secara dialektis berproses. Banyak frame adegan yang selalu dimulai dari tubuh patung Yesus yang disalib dengan anak panah yang menancap. Secara simbolis itu bisa dibaca dua hal: agama jadi mandul di hadapan masyarakat tertindas, atau justru agama, seperti ditampakkan Wilson Pinheiro membangun kesadaran di dalam gereja, adalah kekuatan aktif yang bisa menyulut perlawanan.

Sebagai suatu subjek aktif, Mendes diposisikan sebagai pelanjut perlawanan yang sudah digagas Pinheiro dari awal. Ini indikasi terang bahwa gerakan sosial hanya bisa berlangung dalam sistem yang terus berlanjut. Gerakan sosial, bukan gerakan sekali pukul, melainkan suatu pola sistemik dengan rancangan programprogram. Atau dengan kata lain gerakan sosial adalah perlawanan yang  terencana secara terus menerus.

Di dalam formasi itulah penting melibatkan dua kekuatan utama yang lain, intelektualisme ekologis dan aktivisme serikat pekerja. Yang pertama di wakili oleh Regina de Carvalho, mahasiswa perguruan tinggi Sao Paulo Brazil yang juga sekaligus aktivis lingkungan. Sedangkan yang kedua adalah Wilson Pinheiro itu sendiri. Kedua simbolisme ini, secara organik seperti yang dibilangkan Antonio Gramsci, Pemikir Marxis Italia, sebagai intelektual yang turut aktif melibatkan diri langsung di kehidupan masyarakat tertindas. Intelektual organik macam itulah, yang membuat kelompok perlawanan Sindicato terus bergerak dengan asupan teoritik dan praktik.

Itulah sebabnya, agen aktif sebagai subjek gerakan dimulai dari suatu tim kerja. Di sinilah arti penting kesadaran organisasional. Saya kira hal ini terang ditampakkan dari skema kerja yang dilakukan Mendes. Dia memimpin organisasi, menyusun rangkaian kerja, dan memasang target periodik. Dan, itu dilakukan secara kolektif, bukan ketokohan personal.

Hal inilah yang juga harus kita ambil, yakni gerakan sosial selalu dimulai dengan kesadaran kolektif. Dua antinomi yang kerap hadir; kekuatan metafisis dan daya intelektual, dua modalitas yang mesti didialogkan. Ini perlu apalagi, seperti masyarakat tempat Mendes berjuang, agama merupakan kekuatan alam bawah sadar yang potensial jadi motor perubahan.

Setiap perjuangan mengandung resiko. Bahkan resiko sebenarnya bagian inheren perjuangan. Akan naif bagi orangorang yang berjuang tanpa mau menerima resiko. Chico Mendes sudah tahu, resiko yang bakal ditemuinya bisa saja seperti nasib Wilson Pinheiro; kematian. Di kemungkinan inilah idealisme perjuangan Mendes dipertautkan melalui aksi non kekerasan. Akibatnya Mendes sadar, idealisme perjuangan memang melampaui tubuh yang bisa koyak akibat peluru panas. Kecuali ada jaminan kurir langit yang menggaransi kematian satu orang membuat korporasi berhenti membabat hutan. Begitu ucapnya di suatu adegan bersama Ilzamar, istrinya.

Perjuangan Mendes dan serikatnya terus berlanjut. Banyak korban berjatuhan. Akibatnya, pihak perusahan terdesak menghentikan pembabatan akibat dukungan pemerintah. Namun apa boleh dikata, selalu ada pihak yang sulit menerima kenyataan. Pasca kepala daerah setempat menyatakan melindungi kawasan hutan. Mendes meregang nyawa. Tubuhnya dikoyak pelor panas tepat dikediamannya. Dia dibunuh seperti kawankawan sebelumnya. Chocheiro berduka.

Tak ada perjuangan yang siasia. Tahun 1990 tertanggal 12 Maret, Pemerintahan Brazil menetapkan 2,5 juta are kawasan di sekitar sungai amazon sebagai hutan suaka yang dilindungi dari penebangan, pembakaran dan pembukaan lahan. Tempat itu bernama Suaka Alam Chico Mendes.

Syahdan, seperti mahluk bernyawa lain, Chico Mendes sudah dahulu berpulang. Tapi seperti yang diucapkannya, perlawanannya tidak berhenti. Selalu ada pekerjaan warisan bagi orang-orang setelahnya.

---

[1] Perkataan Chico Mendes kepada Wilson Pinheiro di kala bermain kartu di suatu bar (24:43). Dalam The Burning Season

Daftar bacaan
  1. Sosiologi Perubahan Sosial. Piotr Sztompka.2008
  2. Lubang Hitam Kebudayaan. Hikmat Budiman.2006
  3. Bergerak Bersama Rakyat. Suharsih dan Ign Mahendra.2007
  4. http://www.republika.co.id/berita/koran/teraju/14/10/07/nd2h0a19-revolusi-payung, diakses pada Senin 10 November 2014


-Disampaikan pada LK 2 BEM FIS UNM Mei 2019

17 Mei 2019

Puasa dan Kuasa


Friedrich Wilhelm Nietzsche  
Filsuf Jerman dan seorang ahli ilmu filologi yang meneliti teks-teks kunopenyair dan komposer.  
Filsafat Nietzsche adalah filsafat cara memandang 'kebenaran' atau dikenal dengan istilah filsafat perspektivisme.
Nietzsche juga dikenal sebagai "sang pembunuh Tuhan" (dalam Also sprach Zarathustra).

PUASA adalah wahana manusia menjadi adimanusia. Cara manusia menyerupai sifat Tuhan: tidak makan dan tidak minum.

Itulah sebabnya puasa adalah ibadah yang tinggi derajatnya. Ia cara Tuhan mengajak manusia “merasakan” langsung dimensi ketuhanan. Caranya dengan memutus hubungan dari aktivitas yang mengikutkan hasrat libidinal manusia: makan, minum, seks, dengki, marah, dll. Ibarat Tuhan yang suci, melalui puasa, manusia diajak mensucikan dirinya dari godaan yang membuatnya ”kotor” dan hina.

Puasa juga merupakan ibadah personal. Berbeda dari salat misalnya, ibadah puasa tidak menampakkan langsung bentuk praktiknya. Salat ketika dilaksanakan memungkinkan banyak orang melihatnya. Sementara puasa, saking personalnya, selama ia dikerjakan dengan penuh komitmen, adalah rahasia  pelaku puasa dengan Tuhannya belaka.

Agama mengandung dua dimensi: eksoteris dan esoteris. Dimensi eksoteris agama adalah ”praktik” syariat yang dikerjakan manusia. Ia adalah aspek ”luaran” agama; tampakan lahiriah yang mewakili nilai agama melalui cara, model, bentuk, atau metode tertentu. Perbedaan tata cara menyembah tiap agama adalah contoh aspek ”luaran” yang  berpangkal dari pemahaman syariat yang berbeda-beda.

Kadang di suatu masjid ditemukan seseorang menangis ketika salat. Air matanya berlinang saat menundukkan kepalanya. Sehabis salat ia melanjutkan ibadahnya dengan berdoa. Sesekali ia sesenggukan masih menangis. Sementara tidak jauh dari tempatnya, jamaah yang lain nampak biasa-biasa saja melakukan salat. Jangankan bersedih, air mata yang mengalir di pipinya pun tak ada.

Dua orang di atas sama-sama melakukan rukun salat secara tertib. Dari takbir hingga mengucapkan salam. Namun hanya seseorang yang menangis dalam salatnya. Si abid yang menangis ini sedang “menghayati” pengalaman beribadahnya. Ia sedang merasakan dimensi “dalaman” salat. Tidak sekadar bergerak melaksanakan rukun salat, ia terhanyut di dalam spiritualitas salat. Jiwanya tergetar saking khusuknya. Orang yang menangis ini sesungguhnya sedang menyerap dimensi esoteris ibadah. Sementara jamaah yang sama sekali tidak menangis hanya bergerak di tataran eksoteris belaka.

Puasa karena tidak nampak pelaksanaannya—selain waktu menahan dan berbuka, bisa dilakukan dalam berbagai aktifitas. Puasa bisa dijalankan sambil bekerja di kantor, menarik becak, berjualan di pasar, atau sambil tidur-tiduran di rumah sekalipun. Bahkan puasa adalah ibadah yang unik karena bisa sekaligus dilaksanakan dalam ibadah lain. Sambil puasa seseorang masih dapat melaksanakan salat secara bersamaan. Berbeda misalnya, salat. Tidak mungkin pelaksanaan salat dirangkaikan sekaligus dengan ibadah haji.

Karena puasa adalah ibadah di dalam ibadah, ia sesungguhnya berkaitan erat dengan dimensi esoteris manusia. Tujuan puasa adalah penajaman dimensi kejiwaan manusia dari hasrat rendah ego. Selain menahan lapar dan dahaga, puasa melibatkan pengelolaan jiwa agar tidak terjebak ke dalam niat buruk dan jahat kebinatangan.

Tahun kedua Hijriah, di bulan Ramadan sepulang dari perang badar, Rasulullah mengingatkan para sahabat bahwa sesungguhnya mereka baru pulang dari perang kecil dan akan segera menghadapi perang besar. Sahabat yang heran bertanya: ”Perang besar apalagi yang akan kita hadapi, ya Rasulullah?” Nabi Muhammad SAW menjawab, “jihaadun nafsi (perang melawan hawa nafsu).”

Melalui narasi filosofis Nietzsche, filolog asal Jerman, manusia didakukan sebagai mahluk yang memendam hasrat berkuasa. Kata Nietzsche, niat beragama, berbudaya, berekenomi, dan berpolitik adalah wujud dari kehendak manusia untuk berkuasa. Jika ada representasi moral dari tindak tanduk perilaku manusia, kata Nietzsche, itu hanyalah topeng dalam rangka menguasai.

Dalam arena keseharian, kekuasaan gamblang dipraktikkan sehari-hari. Terkadang hawa nafsu menjadi sumber produksi kekuasaan. Di medsos orang bebas berkuasa mengatakan apa saja. Hasratnya untuk menguasai pikiran netizen ditampakkan dari kerajinannya bersilat lidah. Tidak jarang lidahnya menyakiti lebih tajam dari sebilah pedang.

Di mal-mal, uang menjadi alat kekuasaan paling destruktif menciptakan hasrat berbelanja tingkat tinggi. Era sekarang era masyarakat konsumsi. Begitu pendakuan ahli ilmu-ilmu sosial. Berbelanja menjadi trend dan praktik sehari-hari. Banyak orang berkuasa demi membeli sebanyak mungkin barang-barang. Aku berbelanja maka aku ada. Demikian keyakinan masyarakat berbelanja.

Di ruang publik, banyak bermunculan kelompok-kelompok sosial melaksanakan aksi protes. Tidak jarang demi kekuasaan mereka menguasai jalan raya hingga menimbulkan kemacetan. Akhirnya di jalan raya kekuasaan kelompok massa mau tidak mau berhadapan dengan kekuasaan pihak kepolisian demi menciptakan ketertiban umum.

Di tingkatan elit politik, kekuasaan adalah magnet. Kekuasaan dibicarakan dan tidak jarang malah diperebutkan. Tidak segan-segan, bahkan banyak elit politik memanfaatkan kekuasaan demi mempertahankan posisi dan kepentingannya. Kekuasaan di tingkatan elit adalah jenis kekuasaan yang melibatkan banyak pihak. Itulah sebabnya, kekuasaan di tingkatan elit paling banyak menyedot perhatian.

Singkatnya kekuasaan ada di mana-mana. Ia tampil dalam berbagai bentuk dan motivasi. Namun seperti perkataan Rasulullah di atas, tiada kekuasaan yang paling besar untuk ditundukkan selain hawa nafsu. Hawa nafsu-lah cikal bakal seseorang diikat ambisi kekuasaan. Oleh sebab itu ramadan adalah momen yang tepat untuk mendidik hasrat manusia dari hawa nafsu berkuasa. Memutus mata rantai kepentingan dan kepongahan. Mendudukkannya kembali di bawah terang cahaya ilahi.

---

Telah terbit sebelumnya di Tribun Timur edisi 15 Mei 2019

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...