13 April 2019

Si Prajurit Schweik yang Lebih Prajurit dari Prajurit


Judul: Prajurit Schweik (The Good Soldier Svejk)
Penulis: Jaroslav Hasek
Penerjemah: Djokolelono
Penerbit: Pustaka Jaya
Edisi: Ketiga, 2008
Tebal: 279 hal
ISBN: 978-079-419-106-4

”ORANG itu sambil melambai-lambaikan tongkatnya berkali-kali berseru di sepanjang jalan kota Praha: “Ke Belgrado! Ke Belgrado!”

Ia sering dibekap encok. Jalannya seringkali sempoyongan. Tapi ia adalah satu-satunya prajurit yang memiliki semangat patriotisme yang tulus. Namanya adalah Schweik, Josef Schweik, lengkapnya.

Walaupun seorang tentara, Schweik nyaris tidak pernah terjun di medan perang. Ia memang mengakui pernah ikut berperang membela tanah pertiwinya, Austria, tapi entah kapan, dan berapa lama hanya ia seorang yang tahu.

Kisah dimulai dari kedai minuman favorit Schweik yang bernama ”Botol”. Di situ ia berbincang-bincang dengan Palivek si pemilik kedai minuman. Tapi dasar Schweik yang dikenal sebagai orang yang terlampau lugu dan berterus terang: ia akhirnya banyak berkomentar tentang kematian Ferdinand anak kaisar Austria—yang mati ditembak entah oleh siapa saat hendak masuk ke mobilnya.

Tidak diduga omongannya yang ceplas ceplos ini menariknya ke dalam masalah serius. Ia dituduh merendahkan kekaisaran Austria. Bretschneider, seorang agen intel yang sehari-hari menyamar mendengar ucapannya, membawanya masuk ke kantor polisi. Bersama Palivek, Schweik dijebloskan ke dalam sel dengan tuduhan sebagai makar.

Prajurit Schweik adalah karangan Jaroslav Hasek—penulis Ceko— yang penuh gaya humor dan satir. Walaupun berlatar perang dunia, tidak ada satupun adegan Schweik mengangkat senjata di medan pertempuran. Sebaliknya, cerita karangan Hasek diisi dengan profil Schweik yang konyol, eksentrik, lugu, tapi juga baik hati.

Scwheik barangkali adalah antitesa tipikal prajurit perang dunia I yang seringkali digambarkan bertubuh proporsional, berani, dan dispilin. Sebaliknya, Schweik adalah prajurit yang bertubuh tambun, pendek, berusia uzur, dan seringkali tidak disiplin. Bahkan Schweik diceritakan ”lemah akal”. Ia mantan pasien rumah sakit jiwa yang diusir lantaran dinilai aneh dan tak biasa.

Setelah Schweik dibawa ke penjara dan diintrogasi, saat itulah namanya mulai tenar seantero dunia kepolisian dan militer. Ketulusan dan keterusterangan Schweik ketika menjawab pertanyaan-pertanyaan introgator intel kepolisian, malah membuatnya dipandang mempemainkan akal sehat. Bagaimana mungkin ada tersangka makar yang begitu terbuka dan jujur menjawab setiap pertanyaan yang diberikan kepadanya.

Saking jujurnya Schweik—karena itu juga ia lebih pas dikatakan tolol dan lugu—ia rela menandatangani surat pernyataan berkaitan dengan kesalahannya.

”Ada lagi yang harus kutandatangani? Atau mungkin aku akan dipanggil ke mari besok pagi?”

”Besok pagi kau akan dibawa ke pengadilan kriminal”

”Jam berapa, tuan? Begini. Aku tak ingin bangun kesiangan. Apa pun yang akan terjadi sehingga terlambat pergi ke pengadilan itu”

Begitulah Schweik, ketulusannya lebih mirip orang yang tak memiliki rasa was-was, curiga, bahkan prasangka. Caranya berpikir lempeng tanpa kekhawatiran sama sekali. Ia alih-alih menjadi prajurit yang sering diliputi rasa dongkol ketika diberikan perintah. Melainkan tanpa sedikit pun menolak melakukan permintaan dengan hati yang ringan.

Ia, dengan kata lain, tipikal prajurit yang lebih prajurit dari prajurit itu sendiri.

Judul asli Prajurit Schweik adalah The Good Soldier Svejk. Akan jelas dipahami, kebaikan prajurit Schweik di sini lebih menyerupai guyonan ala satir yang menyindir kemiliteran dan polah prajurit saat menghadapi laga peperangan. Kebaikan prajurit Schweik malah sebenarnya bukan sekadar kebaikan, tapi ya itu tadi, keluguan yang nyaris tanpa batas.

Bisa dibilang Prajurit Schweik bercerita tentang petualangan Schweik dar satu pos militer ke pos militer lainnya—yang sebenarnya bernasib sial walaupun ia sendiri tak menyadarinya. Ada kalanya ia ditempatkan di kamp militer tanpa kepastian perang, mendekam di dalam tahanan, menjadi bawahan pendeta Lukash, tukang bantu-bantu kompi, sampai harus menyusuri desa-desa dengan berjalan kaki tanpa mengenal arah tujuannya.

Ia juga mulai petualangannya menuju selatan bernama Budejovice, suatu daerah yang disebutkan sebagai ”garis depan” pertempuran. Tapi dasar Schweik yang tak tahu arah walaupun ia yakin arah yang ditujunya adalah tempat yang ia maksud, dalam perjalannya membuatnya banyak mengalami ”masalah”.

Petualangan Schweik mengingatkan saya kepada petualangan Don Quixote walaupun kisah keduanya berbeda. Satu hal yang mencolok dari keduanya adalah cara berpikir dua tokohnya; penuh humor, ketololan, dan gila.

Konon buku ini tidak tuntas ditulis Hasek karena ia lebih dulu mangkat. Walaupun begitu hal ini tidak menunjukkan kekurangan yang berarti. Sebaliknya, penceritaan Hasek benyak membalik aturan normatif yang selama ini dikenal di masyarakat.

Salah satu contoh adalah penggambaran Hasek berkaitan dengan moralitas prajurit yang seringkali menabrak idealitas kemiliteran. Beberapa atasan Schweik digambarkan sebagai atasan yang tukang mabuk, pendeta yang tidak paham agama, pejabat yang tak becus administrasi, sampai pasukan-pasukan yang lalai dalam tugas.

Menariknya, semua hal itu dituduhkan kepada diri Schweik sendiri. Di sinilah justru ketulusan patriotisme Schweik tidak mendapatkan tempat apalagi diapresiasi. Ia justru dituduh pembangkang dan menghindari tugas kemiliterannya.

Walaupun digambarkan penuh humor—Scwheik bahkan tentara yang banyak omong—cerita ini adalah bentuk kritisisme penulisnya demi membangkitkan semangat kebangsaan Ceko yang kala itu terlibat perang dunia.

Syahdan, setiap prajurit harus banyak belajar dari Schweik. Si tentara baik hati yang tulus mencintai negaranya. 

08 April 2019

Kota dan Kenangan


Pramoedya Ananta Toer
Sastrawan kenamaan Indonesia
Terkenal dengan Tetralogi Buru-nya
(Novel empat bagian yang menceritakan
sepak terjang Nasionalisme Indonesia)


KOTA mengikat waktu dan peristiwa, membentang sekaligus  menghubungkan interaksi; budaya, ekonomi, politik, kesehatan, dan pendidikan.

Sekali tempo, kota  tidak sekadar menjadi dunia objektif berdirinya megastruktur: gedung-gedung pencakar langit, jembatan megah, jalan raya, tugu-tugu raksasa, lapangan dan gedung pertunjukkan ramai.

Di waktu lain ia menjadi ruang subjektif warganya untuk menyaksikan, mengalami, dan merekam momen-momen interaktif dengan semua peristiwa dalam pengalaman berkotanya.

Dari sisi waktu, ruang subjektif tempat dunia ingatan manusia kota berpusat, sadar tidak sadar membentuk kenangan tertentu atas suatu pengalaman tertentu sejauh ia hidup dalam suatu wilayah tertentu di perkotaan.

Sudah mafhum bagi seseorang lama mengikat waktu di kota tertentu akan ikut membangun kenangan yang sulit dilupakan. Apalagi jika pengalaman itu berkaitan dengan pertumbuhan batin pribadi yang sedang tumbuh.

Pengalaman itu saya alami hampir satu dekade di kota Kupang, ibu kota Nusa Tenggara Timur. Selama hampir sepuluh tahun hidup di negeri nusa tenggara, saya demikian akrab dengan gedung-gedungnya, gerejanya, rumah sakitnya, masjidnya, angkutan umumnya, jalan rayanya, pasarnya, dan....

Kenangan kian sentimentil jika semua pengalaman berkota itu berhubungan dengan kegiatan pribadi: ruang kelas sekolah, halte mobil, perpustakaan, masjid, kolam berenang, pantai….

Di titik ini, kota mengalami eksternalisasi yang mengarah kepada pribadi penduduknya. Kota menjadi wadah,sumber, sekaligus referensi pengalaman dan nilai yang mempengaruhi warganya.

Sebaliknya bagi pribadi di dalamnya, kota menjadi medan yang menyediakan ruang internalisasi kebudayaannya, tradisinya, bahasanya, dialeknya, cara berpikirnya, pergaulannya.

Singkatnya kota menjadi entitas yang mengindividuasi pribadi penduduknya. Tidak ada penduduk kota yang keluar dari ciri-ciri perkotaannya.

Satu dekade bukan waktu singkat. Selama mengalami kota Kupang, sampai sekarang, kenangan atasnya masih melekat kuat dalam benak. Kenangan terhadapnya bukanlah peristiwa biasa oleh sebab berkaitan dengan unsur-unsur yang ikut membentuk kepribadian. Dia ikut sepanjang pertumbungan pribadi yang berkembang.

Apalagi kenangan atasnya terdiri dari penggalan peristiwa kerusuhan 98 yang saat itu merembes sampai ke kota Kupang.

Itulah sebabnya, kenangan demikian menjadi kesan mendalam yang bakal hidup terus menerus.

Zen RS dalam bukunya Jalan Lain ke Tulehu menggambarkan kenangan atas suatu peristiwa begitu lekat membentuk identitas seseorang. Melalui tokoh Gentur, novel ini mengetengahkan bagaimana konflik atas dasar identitas dapat kuat terpatri menjadi kenangan yang sewaktu-waktu muncul tak diduga-duga.

Kenangan dalam hal ini juga merupakan entitas yang sulit dikucilkan dari ruang bersama. Ia kuat hubungannya dengan hasrat, cita-cita, kekecewaan, trauma, penderitaan, kegelisahan dan rasa bersalah yang ikut dari orang lain.

Dengan kata lain, kenangan yang demikian subjektif pada dasarnya mengikutkan unsur keterlibatan banyak orang di dalamnya.

Kisah hidupku ditulis dan disusun juga oleh kisah hidup orang lain yang bertemu, mengenal, dan berhubungan denganku. Kisah-kisah yang saling bersilangan dan beririsan.” (Hal. 50).

Satu hal yang dapat ditarik dari karangan Zen RS ini adalah betapa kontrukstifnya kenangan dapat membangkitkan suatu pengalaman terdahulu. Secara kolektif, kenangan dapat dilihat kembali sebagai simpul yang berinteraksi sekaligus mengikat warganya kepada suatu pengalaman bersama.

Dengan kata lain, kenangan memiliki daya insulin untuk memperbaharui pengalaman baru yang semula dikoyak oleh konflik identitas, misalnya. Tidak bisa dimungkiri, kenangan kolektif adalah salah satu modal sosial yang penting jika ingin membangun kembali simpul sosial yang saling bertikai lantaran hilangnya kepercayaan di antaranya.

Hubungan kota dan warganya di sisi lain sangat bergantung jenis kekuasaan apa yang menghubungkannya. Kadang di waktu tak terduga, keduanya menjadi regang lantaran kekuasaan menjadi faktor pemisahnya.

Dalam kehidupan perkotaan modern, ketika kota kian eskalatif dan destruktif menampung cita-cita pembangunan, pertumbuhan, maupun perluasan, kenangan menjadi ikut rentan dan goyah. Hal itu dipengaruhi setidaknya juga oleh faktor bencana alam, penggusuran, ataupun pengusiran paksa.

Warga penyintas, yang tergusur, terusir, dan yang disingkirkan demikian genting bakal mengalami gangguan yang traumatis ketika mereka dialihkan dari mukim bertahun-tahun mereka. Sudah menjadi hukumnya, ketika ruang mukim lenyap maka akan ikut mempengaruhi pengalaman berkotanya yang lain pula.

Warga yang tersingkir dan terjauhkan sudah pasti dipaksa mengalami pengalaman baru dan asing pada lingkungan baru yang dihadapinya. Di kehidupan kedua inilah, kenangan menjadi semakin bernilai karena ia bukan sekadar ingatan yang mengandalkan dimensi ”rasional” manusia, melainkan jauh melibatkan unsur ”perasaan” warganya.

Kenangan karena itu sudah menjadi bagian organik dari kehidupan warganya. Ia tumbuh bersama aktivitas warga. Dibentuk melalui kegiatan-kegiatan sehari-hari yang menimbulkan kesan mendalam. Mulai dari aktifitas kumpul bersama, kerja bakti, rapat antar warga, jual beli, sampai beribadah bersama, kenangan bakal tercipta di dalamnya selama semua itu terjadi pada lingkungan yang spesifik dan permanen.

Hubungan kota dan kenangan dalam karya sastra ditemukan melalui narasi Pramoedya Ananta Toer melalui tulisannya yang berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Karya yang menapaktilasi kota-kota yang dilalui jalan raya Deandels ini apik menceritakan aspek-aspek historis, sosial ekonomi, dan sosial budaya yang terancam setelah dibangun jalan raya yang bersejarah ini.

Menariknya buku yang sebetulnya tidak juga disebut catatan perjalanan  itu, sedikit banyak mengangkat kekejaman Deandels berupa pembunuhan massal, termasuk bupati-bupati yang menolak memberikan sebagian lahan bagi penyediaan ruas jalan raya Pos. Bukan saja itu, tidak sedikit warga yang mati diserang kelelahan, kelaparan, dan terserang malaria.

Di bagian lain nampak Pram ikut menguarkan kenangan masa kecilnya di kota Blora-Rembang. Di sisi ini Pram mengekalkan kekuatan kenangannya bersamaan dengan aspek-aspek politis  yang ikut mengiringi pembangunan jalan ini.

Betapa pun kenangan bukanlah persoalan sederhana, hal ini menunjukkan bahwa kenangan dapat menjadi semacam kerinduan yang dekat dengan penderitaan—kenangan sering disebut nostalgia: kata yang asal usulnya dapat ditelusuri dari kata Yunani ”Nostos” yang berarti ”kembali pulang” dan ”Algos” yang berarti ”penderitaan”.

Mungkin ada benarnya, karya Pram ini suatu bentuk kerinduan terhadap kenangan masa kecilnya; itulah juga buku ini disebutkan sebagai catatan perjalanan (suatu pengalaman perjalanan).

Hubungan kota dan kenangan nampak menjadi semakin kuat seperti misal dalam lagu ”Hallo Bandung”. Kota Bandung, dalam lagu ini menjadi begitu sentimentil bagi penciptanya sehingga diabadikan di dalam lagu. Diketahui setelah kembali ke Batavia pasca menikah, Ismail Marzuki tergiang-giang dengan Bandung, tempatnya banyak menghabiskan waktu.

Bukan saja itu, dipengaruhi peristiwa bulan Maret 1949, ketika Inggris berupaya merebut kota Bandung, syair lagu ini digubah kembali menjadi patriotik dengan kemunculan lirik ”Sekarang telah menjadi lautan api, mari bung rebut kembali”.  Maksud lirik ini untuk membakar semangat pejuang yang saat itu melawan dengan cara sengaja membakar gedung-gedung di penjuru wilayah selatan kota Bandung sebelum mereka meninggalkan kota periangan itu.

Dalam lagu ini, kota dan kenangan identik dengan ”penderitaan” untuk merebut kembali apa yang pernah menjadi bagian hidup warganya.

Kenangan, dalam lagu ini, dengan kata lain menjadi elemen pengorbanan dan perlawanan yang mampu menggerakkan orang-orang ke dalam satu cita-cita bersama.

Kiwari semakin banyak kota tumbuh. Urbanisasi menjadi trend sehari-hari. Desa-desa hilang berganti kota-kota baru yang semakin hari semakin padat.

Demikian pula kenangan, semakin hari tumbuh bergantian dan mengisi ruang baru dalam benak manusia. Kota berganti, juga tumbuh, menyulap ruangnya menjadi semakin sempit. Itu berarti semakin banyak sudut kota yang berubah, bahkan hilang.

Tapi tidak dengan kenangan. Ia bertahan dan liat. Manusia hanya mampu mengingat. Mengenang sisa-sisa pengalamannya yang semakin lama diganti kenyaataan baru.

Ia hanya bisa bernostalgia: berjalan pulang sekaligus menderita mendekam rindu kembali.

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...