05 Maret 2019

Don Quixote, Buku, Imajinasi, dan Cinta



Judul : Petualangan Don Quixote
Penulis: Miguel de Cervantes
Penerjemah: Muajib
Penerbit: Immortal Publisher
Edisi: Pertama,  Agustus 2017
Tebal: 124 Halaman
ISBN: 978-602-6657-62-4



SIAPA tidak mengenal Don Quixote de La Mancha, tokoh ciptaan Miguel de Cervantes sastrawan Spanyol dalam novelnya yang terkenal: Petualangan Don Quixote. Figur lugu nan kocak yang mengemban misi pembebasan orang-orang tertindas karena berkhayal dirinya seorang ksatria. 

Dengan baju zirah perang abad pertengahan, ia berkelana menggunakan kuda kurus yang ia beri nama Rozinante. Bersama pembantunya yang berhasil ia yakinkan, mengikuti kemana kudanya melangkah, mereka mengembara layaknya ksatria dari satu titik entah ke titik entah lainnya.

Don Quixote awalnya bernama Alonzo Quinjano. Ia berkhayal sebagai seorang ksatria karena gila membaca dan terbius cerita petualangan ksatria pengembara. Berkat bacaannya itu ia seketika mengubah identitasnya dari seorang peladang menjadi seorang ksatria. Dimulai dari situlah Don Quixote hidup dalam imajinasi hasil bacaannya, dan memulai petualangan liarnya.

Di dunia nyata, hubungan imajinasi dengan buku-buku seperti Don Quixote juga dialami Mark David Chapman dan John Warnock Hinkley, Jr. Bahkan lebih berbahaya lagi. Berkat buku karangan J.D Salinger, The Cather in the Rye, terobsesi tokoh utama, keduanya melakukan pembunuhan.

19 April 1995 Gedung Federal Oklahoma Amerika Serikat hancur akibat ledakan truk berisi bom amoniak. Gedung itu diledakkan penganut nazisme di Amerika Serikat. Uniknya, peledakkan itu berdasarkan jalan cerita buku The Turner Diaries karya William L. Pierce. Dalam kasus ini, ternyata “bacaan wajib” pengikut nazisme itu  menjadi panduan teknis aksi peledakkan yang dimaksud.

Hubungan buku dengan imajinasi yang mengubah perilaku pembacanya juga terjadi di Jepang. Buku Issac Assimov trilogi Foundation menginspirasi sejumah orang membentuk Sekte Kiamat. Pengikut sekte ini melihat dunia nyata seperti Galaktic Empire, dunia dalam buku itu yang karut marut dipimpin pemerintahan busuk. Karena mandeg, korup, dan represif, para pemerintah di dunia ini mesti dienyahkan. Dengan buku ini sekte kiamat menggunakan aksi terorisme dan teror bom sebagai strategi “dakwahnya”.

Itu sisi negatif bagaimana buku menginspirasi dan mengisi alam imajinasi pembacanya. Buku memiliki dampak besar bagi hidup manusia. Ia jendela dunia yang memperpanjang indera dan benak manusia. 

Berkat buku si pembaca memiliki daya jangkau demikian luas. Keterbatasan indera teratasi daya jelajah pikiran seiring membaca teks. Teks menjadi konteks dalam benak –menjelma imajinasi. Tubuh pembaca semula disekat batas-batas fisik, bertransformasi melalui imajinasi yang bebas bergerak berkat hasil bacaannya.

Bagus Takwin, seorang psikolog, mendakukan dalam bukunya Psikologi Naratif Membaca Manusia Sebagai Kisah, buku adalah medium manusia untuk memenuhi beragam kebutuhan. Buku, melalui bahasa, mampu memperkaya cakrawala pembacanya. Dia menjadi sumber pengetahuan yang mengajak pembaca memasuki dunia ilmu yang tak terpemanai.

Bagus Takwin juga menambahkan kelebihan buku adalah potensinya menjalin keintiman dengan pembacanya. Dikatakan membaca buku merupakan kegiatan personal yang aktif karena pembaca secara mental mengizinkan dirinya memasuki dunia bacaan. 

Keintiman pembaca terhadap buku juga melibatkan tubuh dan juga perasaan. Inilah yang membuat setiap pembaca buku menemukan kepuasaan di tingkat kognitif, motorik, dan afeksi sekaligus.

Dalam cerita dan kasus di atas adalah contoh bagaimana keintiman atas buku-buku melahirkan imajinasi yang mengubah perilaku melalui tubuh dan perasaan. Terlepas dari sisi negatifnya, buku dalam peristiwa di atas menjadi “otak” perubahan yang membangkitkan inspirasi, imajinasi, dan tindakan.

Kiwari, setelah dibabarkan melalui beragam riset, Indonesia seolah-olah berlari mengejar ketertinggalan tingkat literasinya dari bangsa lain. 

Di SulSel sendiri sampai di pelosok, ibarat cendawan di musim hujan, bermunculan komunitas, perpustakaan desa, kelompok diskusi, lapakan buku, arisan buku, dan toko buku demi ikut menggalakkan gerakan literasi. Semua itu menandai terjadi keintiman terhadap buku-buku.

Tapi, sejauh ini jarang terdengar bermunculan Don Quixote-Don Quixote baru, yang terbius bacaan berimajinasi sebagai ksatria literasi. Bahkan, tidak juga muncul sekte-sekte baru demi menyebarkan agama literasi dengan teror buku. Atau orang seperti Mark David Chapman yang marah dan membunuh orang karena malas membaca buku. Semua itu mungkin belum cinta buku. Bukankah keintiman membutuhkan cinta?  


Telah tayang di Geotimes

04 Maret 2019

Spiritualitas Politik, Politik Spiritualitas



Niccolò Machiavelli. 
Dikenal sebagai Bapak Politik Modern yang bertujuan memisahkan 
agama dengan urusan kenegaraan. 
Gambar dilukis Santi di Tito, Opere di Niccolò Machiavelli, before 1782

Indonesia adalah negeri berpenduduk muslim terbesar di dunia. Walaupun demikian, bukan berarti Indonesia adalah negara agama. Tapi, bukan juga Indonesia adalah negara sekuler. Indonesia adalah negara yang khas. Ia lebih pantas disebut negara beragama.

Jumlah penduduk muslim di Indonesia sebanyak 222 juta jauh lebih besar dari Pakistan dan India yang hanya mencapai 195 juta dan 183. Jumlah penduduk muslim  yang besar ini adalah modal utama. 

Barangsiapa ingin mendapatkan legitimasi publik melalui agama pasti tahu mayoritas muslim adalah potensi. Tinggal bagaimana mengubah jumah menjadi kekuatan. Maka di situlah peran politik. Ia menjadi perangkat ilmunya. Menggiring agama keluar dari ruang privatnya.

Belakangan, dideterminasi politik, Islam menjadi agama yang paling sering melalukan show force di ruang publik. Orang-orang yang mengatasnamakan dirinya muslim seperti dibangunkan dari tidur panjangnya. Secara serempak agama dan politik kawin mawin di ruang publik. 

Tiba-tiba segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam mesti dibela dari kacamata politik. Umat Islam sudah lama menjadi korban. Begitu keyakinan umumnya.

Spiritualitas Politik

Umumnya spiritualitas diidentikan dengan agama. Pemahaman ini mendakukan bahwa nilai keruhanian agama itulah spiritualitas. Pengertian lain mengartikannya sebagai makna-makna di balik ritual agama. Ada juga yang mendefinisikan spiritualitas agama sebagai jantungnya agama yang membuat penganutnya memiliki arti lebih sebagai manusia.

Terlepas dari pergertian itu, agama tanpa spiritualitas hanyalah simbol-simbol belaka. Shalat tanpa spiritualitas hanya gerakan tanpa makna. Puasa tanpa spiritualitas hanya menahan dahaga tanpa arti. Bahkan haji tanpa spiritualitas hanya aktivitas rekreasi belaka. 

Betapa fundamennya spiritualitas agama bagi manusia sampai-sampai Teilhard de Chardin, seorang filsuf Prancis, menyebut “Kita bukanlah makhluk manusia yang memiliki pengalaman spiritual. Kita adalah makhluk spiritual yang menjalani pengalaman manusia.”

Belakangan bukan saja agama, politik juga mengandung nilai spiritualitas. Seperti agama, spiritualitas politik ditandai dari betapa bersemangatnya orang-orang mengejar kekuasaan. 

Kekuasaan dalam spiritualitas politik adalah magnet. Itulah sebabnya, tanpa spiritualitas politik, agenda-agenda politik menjadi kehilangan artinya. Mulai dari kampanye hingga diskusi warung kopi, menampakkan betapa spiritualitas politik begitu kuat menarik perhatian masyarakat. Yang paling terang bahkan ditemukan di dunia maya. Di sanalah para pelaku spiritualitas politik getol melakukan praktik-praktik agama politiknya.

Spiritualitas politik karena sudah seperti spiritualitas agama, alih-alih membuat orang tenggelam dalam kenikmatan spiritualitasnya, melainkan mengubah penganutnya sebagai manusia yang hiperaktif. Jika sebelumnya ia hanyalah orang biasa-biasa saja, setelah mencerap spiritualitas politik, ia berubah menjadi orang yang ikhlas mengkampanyekan calon pemimpinnya. 

Tidak jarang malah, lantaran takwanya kepada dunia politik, banyak cara dilakukan agar semua orang beriman laiknya dirinya.

Sangat gampang menemukan orang yang memiliki kedalaman spiritualitas politik. Pertama, imannya yang kuat terhadap politik elektoral. Hal ini dapat ditandai dari bagaimana ia mengatur hidupnya: tiada seinci pun yang ada dalam perilakunya terlepas dari lambaran politik. Kedua, baik di dunia nyata maupun dunia maya, ia akrab dengan atribut-atribut yang berhubungan dengan figur politiknya. 

Ketiga dan keempat, dapat dilihat dari akhlak politik dan lingkungan pergaulannya. Berturut-turut ia mudah gusar jika figur politiknya mendapatkan kritikan, dan selalu mengandalkan kekuatan massa yang ia atasnamakan umat.

Politik Spiritualitas

Tidak bisa dimungkiri fenomena umat Islam yang belakangan getol melakukan show force di ruang publik adalah orang-orang yang memiliki kedalaman spiritualitas politik. Tidak ada sejarah sebelumnya di mana ruang publik beralih fungsi menjadi ruang keagamaan yang dimonopoli oleh satu keyakinan. 

Tidak juga dalam dunia maya, belum ada referensi satu pun yang menunjukkan tingginya tensi politik di dalamnya. Itu semua tiada lain karena betapa dalamnya kecintaan warga kepada politik. Betapa politik sudah menjadi agama.

Sebaliknya, di saat bersamaan agama berubah menjadi politik. Jika agama politik menandai tingginya tingkat sipritualitas di dalamnya, sementara dalam agama yang berubah menjadi politik malah memperlihatkan menurunnya tingkat spritualitas. Peralihan ini ditengarai dari hilangnya semangat cinta damai antara sesama, dan juga saling menjaga sikap untuk tidak saling menyakiti.

Pupusnya nilai kebaikan dalam agama mesti dialamatkan kepada naiknya spiritualitas politik tadi. Orang-orang hanya karena berbeda pilihan politik malah memutuskan hubungan silaturahmi. Seketika kerukunan yang berasal dari kasih sayang ajaran agama kalah kuat dengan saling hujat dari ajaran politik. Singkatnya, karena hanya mengagung-agungkan politik, orang-orang malah melupakan esensi ajaran agamanya: ahlak.

Ahlak adalah buah spiritualitas agama. Sementara buah spiritualitas politik adalah perpecahan. Sulit rasanya memadukan agama dengan politik tanpa terjebak di dalam perpecahan. Kuncinya satu: Beragamalah dengan cara agama, berpolitiklah dengan cara politik. Jangan dibalik-balik.


Terbit di Tribun Timur 2 Maret 2019

Yang Lebih Buruk dari Hukuman Penjara 1.000 Tahun

Jujur saja, diam-diam  Anda  pernah menonton video-video Harun Yahya, yang namanya pernah santer disebut-sebut sebagai ilmuwan muslim. Suatu...